Monday, 1 August 2016

Jenggot


sumber gambar: mbahpaijan.com

Sewaktu MTs sampai MA, saya memiliki ketertarikan dalam hal ajaran agama Islam, terlebih yang berkaitan dengan fiqih. Oleh guru, khususnya sewaktu MA, saya dan teman-teman selalu diingatkan; supaya menanyakan dalil di setiap ucapan seseorang, yang berkaitan dengan agama dan praktiknya. Termasuk dari segi penampilan, yang masih teringat sampai sekarang adalah soal jenggot dan celana cungklang. Dalam penjelasan para guru, sunnah hukumnya memelihara jenggot, sementara celana cungklang bagian dari upaya untuk mempraktikkan sebuah hadits.

Saya mengakui, semangat yang diajarkan oleh para guru tinggi nilai luhurnya; mengamalkan apa yang diajarkan agama.

Namun, semenjak saya berada di Jogja, ada banyak benturan yang saya rasa. Saya juga jadi tahu, bahwa secara sederhana, ada pandangan yang melihat hadist secara normatif-tekstual dan historis-kontekstual.

Ini yang membikin benturan dalam diri. Karena awalnya, saya hanya tahu bahwa apa yang disebut teks hadits, itulah yang harus diamalkan. Dan ternyata, untuk mengamalkan sebuah hadits, ada tinjauan yang perlu diperhatikan, yaitu dari aspek historis atau asbabul khurujnya. Dalam kasus memelihara jenggot, adalah bertujuan untuk menyelisihi orang Yahudi; yang memelihara kumis. Jika diibaratkan, jenggot itu abunya, sementara 'semangat menyelisihi' adalah apinya. Pertanyaannya; kita mau ambil apinya atau abunya?

Ada cerita, bahwa seorang kiai diterima di beberapa negara Asing lantaran penampilannya yang universal. Sebaliknya, orang dengan berjenggot, disangka teroris yang membuat ia sulit diterima. Memang, soal citra teroris yang dilambangkan dengan jenggot dan celana cungklang, merupakan bentukan dari Amerika; mencipta islamphobia dan mengidentikan islam sama degan terorisme.

Ada juga seorang kawan yang dipanggil ustadz lantaran wajahnya yang ditumbuhi brewok. Meski, sejauh yang saya ketahui, ia soal agama tak begitu kental (ini berdasar pengakuan dirinya). Bermodal brewok, ia dipanggil ustadz. Bukankan kemuliaan orang diukur dari tingkat ketakwaannya bukan selebat apa jenggotnya?

Saya bukan ahli hadits, terlebih tafsir al-Qur'an. Saya hanya coba menyikapi hadits sesuai dengan pengalaman beragama saya. Ini hanya muncul dari buah pikir sederhana saya, hasil persinggungan saya dengan beberapa kawan dari berbagai latar belakang.

Jadi jika kamu bertanya; dalilnya apa kamu menulis ini? Tentu saya tidak bisa menunjukkan.

Jogja, 1 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...