Ditulis tahun 1992 oleh novelis legendaris, Fredy S, Novel "Bukan Permainan Sandiwara" menarik sekali untuk dibaca. Dalam merdeka.com diceritakan bahwa Fredy S meninggal pada Januari 2015 karena stroke. Awal karier kepenulisannya, sekira tahun 1980-an. Beberapa tulisannya juga diterjemahkan dalam bahasa Singapura dan Malaysia. Fredy S, dikenal dengan novelis yang sukanya membidik cerita erotis dan dewasa. Namun, kariernya dalam kepenulisan berakhir dan pindah ke perfilman ketika internet sudah mulai masuk Jakarta. Sebenarnya, Freddy S asli Semarang, namun berkat hasil penjualan novelnya, ia boyong ke Jakarta bersama istrinya. Ia punya empat anak, dan menginginkan empat-empatnya jadi pegawai kantoran, tidak seperti ayahnya yang seniman.
Oke, sesuai rencana awal saya untuk membedah novel "Bukan Permainan Sandiwara". Novel ini selesai saya baca sekira 12 jam setelah saya pinjam dari kawan. Tebalnya 192 halaman.
Ada dua tokoh utama yang cukup kuat karakternya. Tokoh tersebut adalah suami istri yang hidup pas-pasan, terlebih ketika sang suami di-PHK lantaran menjual bahan baku di pabriknya secara ilegal. Sang suami, namanya Dicky. Sementara istrinya, Tanti.
Melihat suaminya menganggur dan tak lekas mencari pekerjaan, Tanti tak bisa menahan diri untuk tidak bekerja. Tanti orangnya cantik, seksi, dan idaman para lelaki. Karena anugerah inilah, Dicky khawatir jika istrinya kerja di luar rumah. Khawatir tergoda atau menggoda lelaki lain yang lebih mapan.
Konflik mulai muncul ketika Tanti mendapat kerja kantoran. Sementara suaminya masih tetap menganggur. Tanti, di gaji pertamanya mengajak Dicky makan dan menonton bioskop (film Barat). Karena rasa sayangnya pada suami, sesampai di rumah Tanti memberikan servis luar biasa.
Saya tertarik dengan karakter Dicky yang sangat membenci hal-hal yang berbau Barat: tentu, ini merujuk ke Eropa khususnya Amerika. Ia, ketika diajak nonton film barat oleh istrinya, malah hampir tertidur. Ini sebagai perlawanan Dicky kepada istrinya. Karena, semenjak istrinya punya pekerjaan, kendali rumah tangga seakan berpindah ke istrinya. Yang punya uang pegang kendali. Sebagai bentuk protes, Dicky juga mulai suka berbaur di tempat judo dan lokalisasi. Ia tak sudi, memakan uang hasil keringat istrinya. Inilah, keegoisan Dicky. Semenjak istrinya kerja, tak bisa sama sekali Dicky berpikir positif. Selalu saja, kecurigaan yang muncul, meski niat istri untuk meringankan beban suaminya.
Dicky mulai jarang pulang. Ia meninggalkan istri tanpa kepastian status. Menceburkan diri ke lokalisasi. Menipu, merampok, menodong orang-orang untuk sekadar membeli wanita, yang bernama Marry. Ia pilih Marry dari sekian wanita, karena kesintalan tubuhnya. Ia nikmati malam-malam bersama Marry. Hingga ia baca artikel di koran tentang AIDS, barulah berhenti menyewa pelacur. Seakan birahinya rontok seketika lantaran takut dengan AIDS, penyakit yang belum ditemukan obatnya.
Ia, setelah menodong nasabah bank dan membawa kabur motor tukang ojek, hidupnya glamaur. Mengontrak rumah elite dan menyewa sedan beberapa bulan, lalu memasang iklan di koran di bagian biro jodoh. Ia menyadari, bahwa sebagai laki-laki butuh pendamping perempuan. Ia normal dan tak bisa hidup tanpa perempuan.
Dari iklan yang ia pasang, 5 surat balasan ia dapat. Namun hanya tiga surat yang ia ladeni; dari Lia, Putri, dan Anti. Ia kecewa berat ketika mengetahui bahwa Lia wanita panggilan kelas elite. Kegeramannya memuncak setelah ia tahu bahwa Lia kerap melayani bule. Ia tinggalkan Lia di hotel berbintang dalam keadaan telanjang dan terikat.
Perempuan kedua adalah Putri. Orangnya bersahaja dan kalem, namun punya adik selusin dan hidup bersama orang tua setelah menjanda. Kecewa juga Dicky, mendapati dirinya ditipu Putri. Ia pun tinggalkan Putri.
Sementara perempuan ketiga, Anti tak lain adalah Tanti, istrinya yang ditinggal. Mereka berdua, bertemu di sebuah hotel. Terkejut sekaligus senang, mendapati istringa kembali ke pelukan. Terlebih, ketika tahu bahwa sang istri masih suci, tidak pernah tersentuh lelaki lain sebagaimana yang ia tuduh-tuduhkan. Istrinya setia menunggu sang suami.
Tanti kagum dengan kekayaan suaminya. Ia tak tahan untuk bertanya asal harta tersebut. Dengan sedikit ragu, Dicky menceritakan bahwa semua hartanya, adalah hasil merampok.
Tanti yang ingin kehidupan rumah tangganya baik-baik saja, meyakinkan suami untuk menyerahkan diri ke polisi. Tanti berjanji, selama di penjara ia akan rutin jenguk suaminya. Dan demikianlah akhir ceritanya. Happy ending...
Jogja,2016
Friday, 2 September 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment