Friday, 12 August 2016

Mencari



Ini soal Cebolang, putra semata wayang Ki Akhadiat, seorang tokoh agama yang memiliki banyak santri. Cebolang dikenal bengal, tidak memperlihatkan dirinya sebagai anak kyai. Kebengalan ini pula, yang mengantarkannya dalam pengembaraan penuh warna dan gejolak batin.

Cebolang dikenal sebagai ahli sulap yang rupawan. Dijamin, tiap perempuan yang melihat tampangnya, akan jatuh cinta. Katanya, ia jelmaan Dewa Samba.

Dalam pengembaraannya, diwarnai dengan gejolak. Terutama, nafsu badani yang tidak bisa dikendalikan. Ia, setiap kali melihat perempuan, kelakiannya tumbuh. Bahkan di beberapa plot cerita dalam Serat Centhini, ia diam-diam bermain perempuan. Berbekal ketampanan dan sedikit uang, puluhan perempuan ia jamah.

Entah apa yang membuat Cebolang tiba-tiba berubah. Dari yang haus seks, menjadi pertapa yang kerap menyendiri, mencari petilasan manusia linuwih, naik-turun gunung, membelah lebatnya hutan, dan menyepi di goa-goa. Semua Cebolang lakukan untuk mendapat ketentraman hidup.

Yang membuat saya heran, di tengan jalan pertapaannya, kadang ia selingi dengan pemenuhan hawa nafsu. Sebagaimana ketika singgah di salah satu rumah wanita umur 40an. Ia melakukan persetubuhan dua kali. Satu kemauan si wanita, sisanya hasrat Cebolang. Ini yang membuat pengembaraan Cebolang penuh warna.

Berbeda dengan pengembaraan Amongraga yang lebih didominasi nilai-nilai religius-transedental. Cebolang, lebih berwarna pengembaraannya. Ilmu pngetahuan yang ia cecap dari setiap guru yang ia temui dalam perjalanan, tak hanya soal agama. Soal arsitek rumah Jawa, pesugihan, tipe wanita, cara bersenggama, dan sebagainya. Lebih berwarna dan cukup menarik bagi siapapun yang sedang belajar budaya jawa. Meski, sifatnya sebagai pengantar. Karena, kebudayaan jawa yang terkandung dalam kisah Cebolang ini hanyalah diceritakan sepintas lalu. Juga kisah-kisah kerajaan dan pewayangan, mewarnai pengembaraan Cebolang.

Berpuluh-puluh kali Cebolang menikmati tubuh wanita. Hingga ia  bertemu dengan Rancangkapti, adik bungsu Amongraga, yang kemudian dipersunting. Tentu saja, setelah Cabolang punya bekal untuk membangun rumah tangga dan menyelami samudra kehidupan. Bukan materi, melainkan bekal ilmu pengetahuan. Dan kunci sebuah pengetahuan dikatakan ilmu, ketika sudah diamalkan. Tanpa diamalkan sia-sia ilmu itu kita pelajari. Hingga soal teori tentang persenggamaan, oleh Cebolang pun diamalkan, jauh sebelum menjadi suami Rancangkapti.

Cerita ini saya kutip dari Novel Centhini 3: Malam Ketika Hujan terbitan Diva Press, ditulis Sastrawan asal Cilacap,Gangsar R. Hayuaji.

Jogja, 12 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...