Thursday, 11 August 2016
Mangir Wanabaya
Diceritakan bahwa pujangga jawa terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengisahkan suatu kejadian. Dengan simbol-simbol, pujangga jawa, khususnya yang masuk dalam lingkaran Keraton atau Kerajaan, seolah menyamarkan fakta sejarah menjadi cerita dongeng. Ini karena sejarah merupakan milik sang pemenang. Kejadian-kejadian yang sekiranya mengancam kekuasaan, tentu akan dimusnahkan, dihapus dari catatan sejarah. Atau kalau tidak, ditulis dengan simbol-simbol yang sulit dipahami. Bahkan, sebagaimana yang kita temui, kisah-kisah kerajaan Jawa tidak bisa dilogika.
Demikian dengan catatan sejarah soal keberadaan 'kerajaan kecil' Mangir, yang dipimpin Wanabaya, yang oleh Mataram dicaplok dengan berbagai cara. Mangir memang terkenal dengan siasat perang yang unggul. Bisa menghancurkan pertahanan musuh menjadi porak poranda.
Sehingga, Mataram merasa khawatir. Waktu itu Mataram dipimpin oleh Panembahan Senopati dan memiliki putri bernama Pambayun. Penasehatnya, Ki Juru Martani namanya. Oleh Pram, Ki Juru Martani bahkan disebut semacam Machievilli, tokoh yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaan. Dikatakan demikian, karena atas saran Juru Martani, Mataram.berhasil kuasai Mangir.
Dengan mengirim Pambayun sebagai ronggeng, untuk menghibur warga Mangir. Terpikat dengan kecantikan Pambayun, Wanabaya memetik ia sebagai istrinya. Hingga suatu saat, Pambayun menceritakan jati dirinya, yang membuat Wanabaya murka.
Mulai dari plot cerita ini, ada dua versi penceritaannya. Pertama mengatakan bahwa setelah Wanabaya dan Pambayun menikah, dan Wanabaya tahu jati diri istrinya, ia diminta menemui mertuanya (yang tak lain musuhnya) dengan syarat tidak boleh membawa pasukan.
Versi Pram, mengatakan bahwa Wanabaya membawa sedikit pasukan menemui mertuanya. Sampai tempat, melakukan perlawanan lantaran diserah secara pecundang oleh pasukan Mataram. Lalu Wanabaya mati di tangan Panembahan Senopati dengan tusukan keris ke lambungnya. Cinta Pambayun pada suaminya, mendorong ia untuk bunuh diri.
Versi kedua, dalam Centhini 3, dikisahkan bahwa Wanabaya menyanggupi undangan mertuanya. Ia sungkem di bawah kaki mertuanya, lalu oleh mertua, kepalanya dihantamkan ke batu. Bocorlah kepalanya dan darah dengan derasnya mengalir. Matilah Mangir Wanabaya.
memang sering terjadi dalam cerita jawa berbagai versi cerita, karena dituturkan dari generasi ke generasi. Hingga banyak kemungkinan terjadi penambahan dan pengurangan. Kepentingan politik penyusunan sejarah juga sangat mewarnai plot cerita, toko dan karakter cerita. Dalam cerita Wanabaya, Baru Klinting disebut-sebut sebagai pusaka (benda mati) yang sakti. Namun dalam versi lain, Baruklinting disebut sebagai tangan kanannya Wanabaya, yang memiliki keahlian perang. Demikianlah, karena sejarah adalah milik sang pemenang.
Jogja, 11 Agustus 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment