Wednesday, 3 August 2016
Perubahan
Jika kamu bertanya apa di dunia ini yang tidak berubah? Tentu, hanya satu jawaban yang mungkin kamu dapat; perubahan. Ya, perubahan itulah yang selalu tetap dalam koridornya.
Cukup sulit memang, mengidentifikasi perubahan diri. Karena pada dasarnya, orang lainlah yang mampu menilai apa saja yang terjadi dalam diri saya (dan kita). Soal ketakwaanpun, tentu orang muslim mafhum dengan istilah ini, hanya Allah lah yang mampu menilai; bukan kita. Kita hanya bisa menerka-nerka saja, dengan beberapa pertanda yang muncul dalam diri.
Juga sudah menjadi karakternya manusia, yang mudah menilai orang lain daripada diri sendiri. Lebih gampang mengamati (niteni) lingkungan diluar diri daripada berupaya untuk instropeksi diri. Ini manusiawi, dan hanya orang-orang yang telah menjalani laku tertentu yang bisa mengendalikan sisi kemanusiawian ini.
Saya termasuk orang yang kurang mampu menilai diri. Sehingga, yang akan saya ceritakan ini adalah perihal hidup orang lain. Entah 'orang lain' di sini ada atau tidak di dunia nyata. Karena kejadiannya pada abad ke-18. Satu-satunya bukti untuk menguatkan keberadaan orang ini, ya catatan sejarah yang terangkum dalam Serat Centhini.
Centhini, digambarkan sebagai remaja gadis yang masih polos. Ia adalah centhi, pembantu, di salah satu keluarga priyayi di Desa Wanamarta. Entah apa sebabnya, Centhini yang ditugaskan untuk mendampingi anak priyayi tersebut, Tambangraras, justru seolah menjadi saudaranya sendiri. Antara centhi dan bendara (majikan) tak ada sekat sama sekali. Bahkan diceritakan, Bendara Tambangraras tidak bisa jauh dari Centhini, sekalipun sudah bersuami Syeik Amongraga, anak tertua Sunan Giri.
Ceritanya, Centhini ditugaskan untuk selalu mendampingi pengantin baru, Tambangraras dan Amongraga. Setiap malam, ia menunggui pengantin di luar, di samping pintu kamar pengantin.
Ia juga mendapat tugas dari mertua pengantin, Nyi Malarsih, untuk mengamati kejadian yang ada dalam bilik pengantin, khususnya pada bagian saresmi (persenggamaan). Selain Nyi Malarsih, para ibu di dapur juga selalu menunggu kabar soal robeknya selaput dara Tambangraras.
Padahal, sudah saya katakan tadi, Centhini sama sekali tidak tahu menahu soal pengantin dan segala hal yang dilakukan. Ia hanya mengiyakan tanpa tau apa yang diiyakan. Dalam dadanya, hanya ada pengabdian seorang centhi pada bendaranya.
Setiap malam ketika pengantin masuk kamar, ia selalu menajamkan telinganya, untuk merekam segala hal yang terjadi di dalam. Ia mengintip dengan telinga. Karena, oleh Nyi Malarsih dan para ibu yang menitip tugas, robeknya selaput dara ditandai dengan rintihan atau erangan dari pengantin perempuan. Ini yang ditunggu-tunggu Centhini, meski tak tahu untuk apa ia menunggu momen tersebut, selain untuk dilaporkan.
Tapi, malam silih berganti tidak pernah Centhini mendengar tanda-tanda tersebut. Bahkan, ia dibingungkan sekaligus dicerahkan dengan wejangan Amongraga pada istrinya. Tiap malam, yang ia dengar adalah ajaran-ajaran Islam dan kebijakan hidup. Hingga sampai bosan ia mendengarkan.
Lambat laun, ia mulai memiliki pandangan yang berbeda. Ia telah menjadi murid gelap Syeikh Amongraga, yang oleh masyarakat Desa Wanamarta dianggap manusia linuwih, punya kelebihan.
Kepolosan Centhini, kian terbercaki dengan ajaran-ajaran Amongraga. Ia juga jadi kerap menilai dan menyimpulkan segala fenomena di sekitar. Ia juga jadi mafhum, bahwa pernikahan memiliki tujuan untuk meneruskan keturunan. Peristiwa 'sobek perawan' mulai ia pertanyakan kenapa menjadi pusat perhatian.
Centhini juga mulai mengkhawatirkan masa depannya. Ia tak bisa bayangkan kelak ketika sudah berkeluarga. Akankah kehidupannya seperti pasangan pengantin yang ia tunggui?
Hingga pertentangan soal kelas; apakah Centhini yang seorang pembantu, bisa naik kelas sosial menjadi permaisuri atau diperistri oleh lelaki di atas strata sosialnya? Bolehkah seorang centhi memilih?
Itu semua menggelayut dalam pikirannya. Hingga relasi kuasa juga ia pertanyakan; bolehkan istri memilih suami? Atau apakah mungkin istri bisa memakai suami, maksudnya memiliki kuasa dalam urusan ranjang? Istri bukan hanya diperlakukan sebagai pusaka, barang berharga maupun alat yang bisa dibuang, diganti, bahkan diperjual belikan. Gejolak batin Centhini yang polos itu kian menjadi. Atau jangan-jangan, Centhini sudah beranjak dewasa?
Ia berubah dan akan terus berubah. Keraguan dan kegelisahan yang Centhini rasakan menimbulkan beragam pertanyaan. Sementara pertanyaan, selalu menuntut jawaban, meski tak semua terpuaskan. Namun, berangkat dari pertanyaan (muncul dari keingintahuan) perubahan itu terbit. Terbit-tenggelam dalam diri Centhini.
Banyak penafsiran soal Centhini, dan tentu selalu disesuaikan dengan zaman. Sebagaimana sinetron Centhini dalam salah satu stasiun TV swasta (yang tidak mendidik sama sekali, menurut saya), tentu jauh berbeda dengan yang ada di Serat Centhini Abad ke-18.
Tapi yang jelas, sekecil apapun dampaknya, keberadaan Serat Centhini sangat berpengaruh bagi kehidupan bangsa. Kenapa? Karena Serat Centhini menceritakan soal adat-budaya orang jawa tempo dulu, yang tentu mengambil bagian penting dalam perkembangan peradaban Indonesia yang jawasentris ini.
Sumber bacaan: Wirodono, Sunardian. 2009. Centhini; Sebuah Novel Panjang. Yogyakarta: Diva Press.
Jogja, 3 Agustus 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment