Friday, 26 August 2016

Untuk Dinda



Tahu kamu, dinda, kenapa abang hampir tiga semester tidak menyentuh makhluk menjijikan (istilah para aktivis penikmat kopi) yang bernama skripsi? Kenapa, setiap dinda bertanya soal aktivitas harian abang, selalu saja sama jawabannya: ngopi?

Begini, dinda, abang ceritakan sedikit pengalaman menjadi mahasiswa yang memiliki kemampuan pas-pasan dalam bidang akademik, dan setengah (hati) berorganisasi. Abang bukan akademis, juga bukan aktivis ataupun organisatoris. Tetap, abang mahasiswa yang sebelum dibebani tugas makalah oleh dosen, terlebih dahulu dijadikan boneka mainan penghibur senior, sama sepertimu dulu. Abang juga mahasiswa yang ketika dibentak diam seketika, ketika baju abang masih seperti tahi cicak, putih-hitam. Abang sama sekali tidak mengalami perubahan yang berarti.

Dinda, tiga tahun abang hidup berorganisasi. Tapi, sampai tahun ketigapun, abang belum bisa memahami dirimu, dinda. Apa yang kamu mau dan apa saja yang kamu senangi, sama sekali belum abang hafal. Abang hanya tahu, bahwa dinda adalah mahasiswa, yang geram dengan kelakuan dosen yang semena-mena. Merasa selalu dipermainkan dosen tapi tak memiliki tangan yang cukup kuat untuk menampar pipi mereka. Tapi, dinda, memang begitulah hidup seorang mahasiswa di kampus kita tercinta.

Sebatas itu, dinda, yang abang tahu tentang kamu. Tiga tahun hidup berorganisasi, tak mampu menjawab teka-teki yang terselip dari kedipan matamu, tetesan air matamu, dan jeritan hatimu yang begitu lirih tapi memekakkan telinga. Sudah berapa tahun, sih, kamu kok nggak peka-peka, katamu pada abang berkali-kali.

Dinda, abang juga bingung kenapa dalam beberapa hal abang belum bisa sepeka dirimu. Entah apa yang salah dengan abang. Tapi, dinda, tahukah dirimu, ketika abang melihat ibu-ibu rembang jatuh sempoyongan dipukul Anjing penjaga Semen, jatuh air mata abang. Gemuruh dalam dada abang, begitu terasa dan cukup berhasil membuat kepala abang panas oleh darah yang mendidih. Asu, kata abang dalam hati (meski dalam lingkungan abang, kata asu adalah saru). Hati abang juga terasa tersayat-sayat ketika menyaksikan film dokumenter 'Alkinemokiye', jasad-jasad orang papua yang tertembus peluru misterius. Juga aksi demonstrasi mereka yang disambut berondongan peluru aparat, yang membuat beberapa orang berdarah-darah. Ditembaki, layaknya binatang. Dinda, abang sakit melihat itu semua. Dan lagi-lagi, tangan kurus ini tak mampu berbuat banyak, selain mengganti DP BBM atau share tautan di fb, sebagai bentuk solidaritas. Dinda, kenapa, abang tetap tak bisa peka denganmu? Bukankah solidaritas yang abang lakukan, tak lain merupakan efek samping dari kepekaan? Peka seperti apa, dinda, yang kau tuntut muncul pada diri abang?

Dinda, tiga tahun berorganisasi, abang belum bisa memaknai peka yang kamu maksudkan. Abang belum mampu, menyunggingkan bibirmu barang setengah senti, karena dorongan rasa hangat dari dalam hati. Hanya saja, dinda, abang belajar satu hal yang (menurut ukuran abang) mahal harganya. Yaitu: perjuangan.

Perjuangan, dinda. Perjuangan yang butuh banyak pengorbanan. Memang dalam pandanganmu, abang seperti orang bodoh yang mengurusi urusan orang lain. Sementara urusan sendiri, terbengkelai dan sama sekali tak tersentuh. Tapi, perlu dicatat, dinda, bahwa abang tak mengatakan sudah mampu berkorban untuk sebuah perjuangan. Karena, masih katamu, abang adalah pengecut yang tak mampu berkorban untuk sebuah komitmen. Komitmen yang sudah lahir lebih dari tiga tahun. Bahkan, lebih tua dari umur abang di organisasi.

Tapi entah kenapa, dinda, abang merasa arti 'perjuangan' begitu berarti dalam hidup abang. Kata yang baru abang kenal di ujung umur tiga tahun abang di organisasi. Bukan perjuangan yang kamu harapkan, dinda, sama sekali bukan. Ini lebih besar.

Dinda, boleh kamu bilang abang ini bodoh. Tolol, masih mengurusi sesuatu yang tidak ada timbal balik, dalam hal manfaat, bagi abang. Tapi tolong, sekali lagi tolong, jangan kamu sepelekan apa yang abang perjuangkan. Memang abang tak berhasil menerjemahkan perjuangan ini dengan bahasa yang kamu pahami. Karena memang abang tak mahir. Tapi, percayalah, dinda, apa yang abang perjuangkan, secara tidak langsung berdampak positif bagi kehidupan kamu dan abang juga.

Abang teringat seorang kawan, dinda. Ia mengatakan bahwa dosennya pernah bilang tentang dirinya di ruang perkuliahan: ini nih, aktivis sesungguhnya. Memperjuangkan apa yang diyakini benar.

Dinda, sudah jelas, bukan? Itu perkataan dosen, loh, meski bisa jadi sebatas pencitraan atau semacamnya. Tapi coba dipikir! Orang berjuang, tentu paham dengan yang diperjuangkan. Begitu juga dengan abang, dinda. Dalam benak dan rasa, apa yang diperjuangkan abang sudah benar. Karena benar, maka abang perjuangkan mati-matian.

Dinda, bagaimanapun juga kamu punya andil besar dalam segala keputusan abang. Dan perjuangan abang yang mati-matian ini, kamu tanggapi dengan rasa geram dan tak terima. Kamu tanggapi dengan sinis. Malahan, kamu menyalahkan abang karena telah mengorbankan banyak waktumu untuk perjuangkan apa yang abang yakini benar. Dengan menahan agar mata tak menetes airnya, kamu berucap: gara-gara kamu, aku sia-siakan dua semesterku hanya untuk menunggumu. Sekarang aku baru sadar.

Abang berjuang, tapi kamu, dinda, mematahkannya. Tapi, abang tak bakal tega menyalahkanmu, dinda. Karena bagaimanapun, abang yang salah, karena tak mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya, utamanya kamu. Bahkan, hanya jadi kerikil yang kerap menjadi sandungan. Juga, karena ketidakmampuan abang menggerakkan kaki dan tangan, sehingga membuat tubuh tak seimbang, atau dalam istilahmu: bagai telur di ujung tanduk.

Akhirul kalam, dinda, abang hanya ingin jujur: bahwa abang akan lanjutkan perjuangan ini. Hanya saja, perjuangan mana yang layak diperjuangkan? Biarah itu jadi PR abang, kamu tidur manis saja sana, dan cepat usap air mata yang merembes dari ujung bola matamu. Jangan cengeng!!!!

Jogja, 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...