Wadah
Sebebas apapun Cak Nun, ia tetap punya wadah. Demikian yang disampaikan seorang kawan ketika sedang ngopi. Ini muncul lantaran saya bercerita soal kebimbangan saya dalam menentukan sikap; pilih masuk organisasi A atau B.
Tentu kamu masih ingat, bahwa manusia adalah 'tiga makhluk'. Makhluk individu, sosial, dan bertuhan. Praktik dari makhluk sosial, ya, wadah itu tadi. Tanpa wadah, mana mungkin seseorang bisa dengan mudah jadi pejabat. Jika menengok istilah populernya, wadah itu semacam kendaraan lah. Dengan kendaraan, kita bisa sampai tujuan dengan mudah.
Sama dalam kehidupan bermasyarakat. Bukan hanya pejabat saja yang butuh wadah partai politik, orang biasa juga perlu. Terlebih siapa pun yang punya misi kemanusiaan, misalnya, tentu butuh wadah yang kuat. Melalui wadah ini kelak cita-cita yang digantungkan bisa tercapai.
Di tingkat desa ada wadah untuk pemuda yang biasa diistilahkan 'karangtaruna'. Dalam beragama pun, ada wadahnya. Kalau di Indonesia, ada dua wadah besar, yaitu Nahdlotul Ulama dan Muhammadiyah. Meski ada wadah-wadah lain yang berkembang di Indonesia, tapi dua wadah ini yang mempunyai isi paling banyak. Bahkan sampai semacam ada perebutan politik dua wadah ini di beberapa institusi pendidikan dan pemerintahan.
Sebagai makhluk sosial butuh wadah, bukan? Di tataran SMA dan sederajat ada OSIS. Mahasiswa juga punya banyak wadah, baik intra maupun ekstra. Kita pun punya wadah yang namanya keluarga. Ini sebagai bukti sekaligus kebutuhan manusia akan wadah. Dengan wadah, segala urusan menjadi mudah; tentu tidak menafikan kualitas isi dari wadah tersebut.
Tentu akan lebih baik, jika kita memilih wadah diawali denga mempelajari terlebih dahulu wadah tersebut; dari tujuannya, karakteristiknya, hingga penerimaan masyarakan terhadap wadah tersebut. Jika langkah ini sudah selesai, barulah bisa dengan mantap mencebur ke wadah tersebut. Tapi mungkin ada juga orang yang mencebur ke wadah dahulu sambil belajar. Seperti halnya kita berislam ya barangkali; lahir dari rahim ibu muslimah lalu belajar keislaman.
Hanya PR selanjutnya, setelah kita memiliki wadah, bagaimana caranya melihat wadah lain setara dengan wadah kita. Artinya, sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Sehingga meski wadahnya berbeda, namun tetap bisa hidup berdampingan layaknya sendal jepit.
Semoga kita yang berwadah hijau, biru, putih, ataupun hitam, bisa saling berdampingan membentuk pelangi yang indah. Semoga!
Jogja, 1 Agustus 2016
Monday, 1 August 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment