Wednesday, 3 August 2016
Centhi (dapur)
Katanya budaya Jawa sangat kental dengan sistem feodal. Itu yang saya tahu dari buku dan ujaran mulut akademisi serta aktipis, yang menghendaki sistem egaliter.
Saya, hanya memiliki satu rujukan untuk tulisan ini. Inipun, belum saya baca sampai selesai. Terlebih memahami!
Lagi-lagi merujuk ke cerita Centhini, pembantu setia yang dekat dengan majikan. Ia pembantu polos, yang hidup di tengah-tengah para pembantu tukang gosip. Mereka semua perempuan.
Saya ceritakan saja keseharian para centhi, pembantu perempuan, dalam menjalankan tugasnya; di bagian dapur.
Di sela keterampilan tangannya dalam meracik menu makanan, tak luput mulut ikut komat kamit. Saling ejek tidak terhindarkan. Bahkan, terkesan sangat vulgar. Sepintas memang terlihat jorok, karena pembicaraannya tak bisa lepas dari selangkangan. Seolah, selangkangan dan bilik pengantin adalah satu-satunya hal yang menarik untuk dijadikan bahan obrolan.
Ini terjadi ketika seorang priyayi ngunduh mantu, yang dirayakan secara besar-besaran. Para perempuan desa, dimintai bantuan untuk mengurus soal domestik; dapur, sumur, dan kasur (membersihkan sprei maksudnya).
Namun, pusat dari pertemuan para perempuan ini adalah dapur. Hanya di dapur, mereka bisa guyon lepas. Tentu saja, guyon lepas ini tidak bisa jauh-jauh dari soal pengantin dan ranjang.
Mulai dari burung suami yang kurang perkasa, mudah loyo, kurang jago main, dan sebagainya. Itu semua menjadi bumbu penyedap obrolan di dapur. Ini memang jorok, tapi saya melihat ada keharmonisan yang terbangun di antara mereka. Meski, mungkin, melanggar unggah-unggung jawa.
Ada semacam kebebasan dalam diri mereka. Tanpa ada yang melarang, seolah keharmonisan itu muncul dari 'kejorokan'. Sebenarnya, menurut saya, soal selangkangan bukanlah hal yang jorok. Karena sama dengan makan-minum, selangkangan juga untuk pemenuhan biologis. Akan jorok ketika obrolan tersebut disertai dengan tindakan.
Yang jelas, bagi saya, kerap hubungan harmonis itu muncul dari obrolan yang tidak 'beretika'. Dan soal perempuan jawa tempo dulu, untuk mengusir rasa penat ya dengan obrolan semacam itu.
Sementara perempuan bekerja mengepulkan asap di dapur, yang laki-laki mengepulkan asap rokok di depan rumah, pendopo. Itulah citra perempuan tempo dulu, yang termuat dalam Novel Centhini karya Sunardian Wirodono.
Jogja, 3 Agustus 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment