Hikayat Teh Gelas di Kampungku
Teh Gelas, tentu kamu tak asing dengan merk ini. Teh kemasan yang belakangan mampu memikat hati masyarakat, setidaknya masyarakat di kampungku. Entah apa sebab, teh manis atau es teh di warung tergeser dengan produk kapitalis yang satu ini. Sekarang banyak sekali, baik muda maupun tua, pergi ke warung (karena di rumah saya ada warung klontong dan menyediakan minuman teh Teh Gelas) untuk mencari Teh Gelas. Per gelas dijual dengan harga Rp 1.000,-.
Ada produk lain yang juga menjadi primadona masyarakat. Aku, sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas juga menjadi penikmatnya; Minuman teh serbuk Tea Jus. Aku kira, Tea Jus mulai booming ketika aku masih sekolah menengah. Tea Jus memperkenalkan produknya, dengan pilihan rasa gula batu dan melati (kemudian berkembang menjadi rasa lemon, apel, dsb); seingatku. Sampai sekarang, ada salah satu tetanggaku, yang dalam pertumbuhannya tak bisa lepas dari Tea Jus rasa gula batu atau melati. Jika datang ke warungku untuk beli es, tapi tak ada Tea Jus, ia mengurungkan niat untuk membeli.
Memang dari pengamatan sederhanaku, pernah dulu menjadi primadona masyarakat minuman dalam kemasan rasa jeruk Ale-Ale. Yang kemudian berkembang menjadi rasa anggur dsb. Sementara minuman serbuk, masih dikuasai merk Marimas. Lagi-lagi, dulu aku juga sempat menjadi penikmatnya.
Mengenai Teh Gelas dan Tea Jus, memang tak boleh dianggap enteng. Entah strategi marketing apa yang mereka berdua pakai. Beberapa kali aku melihat iklan di stasiun televisi, tampak juga iklan dua produk tersebut. Iklan mulai hilang dari TV, setelah mereka berhasil mengisi pilihan hati masyarakat ketika ingin menikmati teh.
Miris memang, karena dari segi kualitas sangat jauh dengan teh buatan sendiri. Dari segi rasa dan aroma, tentu unggul teh racikan sendiri. Terlebih teh khas Angkringan, yang airnya diseduh dengan bahan bakar arang, memiliki aroma dan rasa luar biasa. Teh Gelas dan Tea Jus kalah jauh.
Dua produk ini, barangkali, bisa menguasai pasar karena beberapa alasan:
Pertama, strategi marketing. Berbekal modal, pemilik merk dagang Teh Gelas (OT) dan Tea Jus (Wings Food) menggencarkan iklan di televisi. Alasan kenapa mereka memilih tv, tentu karena lekat dengan kehidupan masyarakat. Tapi, aku kira, ini lebih terasa dampaknya di pedesaan. Masyarakat pedesaan memilih tv sebagai media berlibur, setelah seharian bekerja di sawah, ladang, hutan, kantor ataupun sebagai kuli panggul di pasar.
Secara psikologis, katanya, suatu hal yang ditampilkan berkali-kali, akan masuk ke dalam alam bawah sadar. Demikian halnya dengan iklan dua produk di atas. Masyarakat, yang ditontonkan dengan iklan dua produk tersebut, secara tidak sadar menjadi konsumen setianya. Minuman teh dalam benaknya, hanya ada dua; Tea Jus dan Teh Gelas. Padahal, sebelum dua produk ini menguasai pasar melalui pertelevisian, masyarakat desa lekat sekali dengan teh made in dewe. Yang tentu lebih murah, meski harus repot dulu untuk menyajikan secangkir teh; merebus air, mencampurkan gula dan teh. Lagi-lagi, karena marketing dua produk tersebut di atas, yang membuat masyarakat enggan untuk repot bikin minuman teh sendiri. Juga barangkali memang budaya masyarakat yang kian menuntut instan dalam segala hal.
Kedua, kemasan yang menarik. Coba saja kamu perhatikan, kemasan dua produk yang aku ceritakan ini. Tentu menarik. Didesain dengan pernak-pernik animasi, menjadikan produk terlihat elegan. Terlebih ada merknya. Jauh lebih (terlihat) elegan dibanding teh buatan sendiri; yang tak bermerek itu.
Jika dikalkulasi, bisalah kita kira-kira. Ongkos untuk wadahnya saja sudah bisa menembus 50% harga produk, aku kira. Belum lagi nanti ongkos karyawan dan transportasi. Jika demikian, kualitas teh macam apa yang dijual? Atau jangan-jangan kita hanya membeli wadahnya saja, berbonus isi yang tak seberapa? Ah, lucunya kita ini.
Ketiga, berlabel halal dan terverifikasi oleh BPOM. Ini yang menjadi andalan mereka, untuk mengambil hati dan kepercayaan masyarakat muslim dan pecinta kesehatan. Dengan label halal, dua produk tersebut (khususnya Teh Gelas) berhasil meringsek masuk ke masjid, menjadi menu utama takjil setelah tarawih (ini yang terjadi di masjid/langgar dukuhku). Kurang ajar memang, karena keberadaan Teh Gelas ini menggeser takjil khas ramadhan, yaitu Kopyor (semacam kolak). Secara historis, kopyor sudah ada puluhan tahun yang lalu. Ini sudah sekitar dua-tiga tahun, kopyor hilang di majlis tarawih. Digantikan Teh Gelas.
Bagi pecinta kesehatan, barangkali verifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan menjadi pertimbangan serius untuk memilih santapan. Maka verifikasi BPOM di Teh Gelas dan Tea Jus, meyakinkan masyarakat tipe ini. Padahal, jika diamati, label BPOM tak menjamin produk itu sehat. Terbukti, beberapa kasus di daerahku, setelah minum Teh Gelas, anak usia balita (kira-kira) batuk-batuk. Apa tak salah ini BPOM meluluskan produk ini?
Label halal, hanya bisa dimiliki produk berduit gede. Untuk kalangan kecil, mana bisa membayar MUI untuk memberi stempel halal. Padahal, kopyor yang sama sekali tidak berlabel halal, terlebih diverifikasi BPOM, selama berpuluh-puluh tahun tak pernah memakan korban. Kalaupun ada, paling-paling korban lidah kepanasan, karena kopyor memang mantap disantap di waktu masih panas atau anget.
Tapi mau bagaimana lagi, suara rakyat adalah suara tuhan. Dan suara tuhan sudah dibeli korporasi. Pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya, dan hancur pada saatnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menggeser dua produk tersebut dari singgasananya. Entah produk rakyat setempat, maupun korporasi lain yang lebih hebat. Aku hanya tinggal menanti saja.
Tuesday, 16 August 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment