Wednesday, 10 August 2016
Sibuk
Tidak seperti hari biasa, semenjak pagi saya sudah memiliki aktivitas yang jelas; jemput tetangga di terminal. Ia, Rizal namanya. Mahasiswa baru UIN yang ke Jogja hanya untuk cek kesehatan dan mengumpulkan berkas-berkas.
Ia diterima di jurusan Pendidikan Matematika, fakultas Saintek, melalui jalur mandiri. Tanggal 18 bulan ini, ia akan opak (orientasi pengenalan akademik). Momentum balas dendam, pembulyan, atau sebatas menyeleksi mahasiswi cantik yang bisa dijadikan pacar, atau sebatas pemuas hasrat kelakian yang dibalut dengan ikatan cinta oleh senior atas juniornya.
"Mas, nanti sekalian cari kos, ya!" ujar Rizal pada saya, di tengah perjalanan menuju poliklinik UIN, untuk cek kesehatan. Saya tinggal ia, lalu saya berkunjung ke rumah seorang kawan, yang katanya mau habis masa sewa kos dan tidak mau perpanjang.
Selain Rizal, adik perempuan saya juga sedang cek kesehatan di UNY. Ia setahun di UPY tapi tidak krasan, dan dengan diam-diam coba daftar UNY jalur mandiri. Kabar baik, karena lolos seleksi dan hari ini minta dijemput di warung makan. Juga untuk menemani ia bayar kos yang dua hari lalu ia temukan bersama kawannya. Di daerah Samirono, depan FIK. Saya jemput ia pukul 12 siang.
Di sisi lain, saya ada janji dengan kawan organisasi, untuk membicarakan soal masa depan organisasi. Jam setengah 1. Namun karena masih menemani adik, saya undur jadi jam 1.
Dengan terpaksa, saya tinggal adik di kamar kos yang baru. Yang masih kotor berdebu. Untuk menemui kawan ini.
Sekira pukul 1, saya sampai tkp. Hanya sampai jam 3 saya berbincang dengan kawan organisasi, dan secara non-formal menyerahkan kepemimpinan pada mereka. Meski mereka tak mau dan merasa tak sanggup.
Belum lagi, sore ini juga ada seorang kawan yang butuh bantuan untuk menemani temannya yang berkunjung ke Jogja. Dua orang.
Ada 4 agenda sekaligus dalam sehari. Ini memang normal bagi saya, tapi sekaligus membuat badan lunglai. Meski demikian, hanya satu rasa yang bisa tercecap; kebahagiaan. Karena sekian lama, semenjak lebaran, saya rindu dengan kesibukan semacam ini. Kesibukan yang tak seincipun memberi kesempatan otak untuk berpikir macam-macam. Terlebih yang berbau keputusasaan akan masa depan dan hidup. Sibuk memang keren!
Jogja, 10 Agustus 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment