Wednesday, 17 August 2016

Jamaah Shalat Maghrib


Jamaah Shalat Maghrib Jadi Banyak
Jamaah Shalat Maghrib hari ini yang terbanyak. Ujar laki-laki berkumis lebat, setelah masuk ke shaf paling depan. Imam shalat baru saja selesai menertibkan jamaahnya. Dan beberapa jamaah masih terkagum-kagum dengan jumlah jamaah yang mbludak. Terdengar juga dari shaf belakang, seorang laki-laki berujar; ini kayak mau tarawih saja. Sementara itu, anak-anak kecil bersorak sorai, kegirangan, di halaman masjid. Adapun jamaah perempuan, ada sebagian yang masih asyik bercengkerama. Sebagian lagi tak kedengaran suaranya, barangkali sedang fokus untuk berjamaah.
***
Rabu 29 Juni 2016, masjid (musholah) di kampungku  begitu ramai dipadati orang tua-muda, laki-perempuan, dan anak kecil. Kira-kira jam 5 sore lebih seperempat mereka sudah kumpul di masjid. Kotakan putih tertata rapi di teras masjid. Sebelah utara masjid berdiri sederhana perpustakaan sekolah dasar. Di terasnya juga, kotak-kotak putih tertata rapi. Ada juga bergelas-gelas es buah. Sementara kaum bapak, menanti dengan sabar, duduk tak jauh dari kotakan-kotakan itu.
Radio yang diputar masih berisi nyanyian-nyayian islami. Pertanda, waktu berbuka belum tiba tapi barang sebentar menunggu pasti datang juga. Karena nyanyian-nyanyian itu sebagai pertanda waktu berbuka akan tiba.
Kaum laki-perempuan, tua-muda menanti dengan menelan ludahnya sendiri, melihat gelas es buah yang mengembun. Menanti waktu berbuka yang tinggal beberapa menit saja. Bunyi sirine menandakan waktu buka telah tiba, dan segera es buah dan nasi kotak yang tersedia, dilahap. Keramaian yang sebentar tadi terdengar, hilang. Diganti dengan suara kerongkongan yang kemasukan es buah dan air teh hangat yang tersedia. Bunyi sirine telah berhenti, tak langsung disambung kumandang adzan.
Tanpa komando, kaum laki-laki menempati teras perpustakaan. Sementara ibu-ibu serta anaknya di teras masjid. Sambil bercengkerama, sambil menikmati hidangan berbuka bersama. Tak ada yang protes dengan menunya, karena cukup mewah untuk ukuran orang desa; nasi, daging ayam, mie campur kol, dan jeruk sebagai hidangan penutup. Tentu makanan semacam ini hanya bisa ditemukan di resepsi-resepsi pernikahan atau khitanan. Selain itu, jarang.
Yang membawa anak, menyuapi anaknya. Remaja berkumpul dengan remaja, dan sebagian lagi menyebar, mencari tempat yang nyaman untuk makan.
Masyarakat patut berterima kasih dengan keluarga yang menyediakan menu buka bersama secara cuma-cuma. Mereka lima bersaudara yang masing-masing telah berkeluarga dan mempunyai anak. Kebetulan, letak rumahnya pun berdekatan. Jika diamati, para tetanggaku tak lain adalah keluarga besarku, meski secara keturunan jauh. Lima saudara tersebut juga masih memiliki pertautan saudara denganku, dari jalur nenek. Orang tua mereka, kakak beradik dengan nenekku dari pihak bapak yang di tahun 2006 dipanggil Yang Maha Kuasa.
100 boks nasi mereka siapkan untuk para tetangga, dengan es buah dan teh manis sebagai hidangan pembuka. Meski sehari sebelumnya sudah diumumkan lewat pengeras suara masjid, tapi tetap 100 boks nasi itu tak habis.
***
Jamaah Shalat Maghrib tetap mengangkat kedua tangannya, takbir, dengan rasa heran yang masih bergelayut. Yang biasanya satu shaf, kala itu bisa mencapai tiga shaf. Tak seperti biasanya, suasana di dalam masjid tak ramai. Mungkin karena anak-anak kecil bermain di halaman masjid, jadi tak seramai biasanya. Jamaah pun bubar seusai shalat maghrib, dan sebagian membawa boks nasi yang masih tersisa. Kembali, mushola lenggang.
***
Jika kamu bertanya apa hikmahnya menuliskan sepenggal kisah masyarakat desa, tentu akan aku jawab: begini, coba dengarkan (baca: baca) dulu uraianku di bawah ini!  
Ada beberapa poin yang menurut ukuranku cukup menarik di sini.
Pertama, kesadaran masyarakat untuk saling berbagi. Kamu bayangkan saja, ini kali pertama setelah dua tahun dibangun masjid, dan puluhan tahun melewati ramadhan, ada acara buka bersama. Sebenarnya tahun lalu ada, tapi tidak semeriah tahun ini. Dulu perseorangan, namun sekarang ditanggung lima keluarga. Buka bersama ini kali kedua selama ramadhan.
Ceritanya, dulu waktu aku masih ingusan, kampuku ini tempatnya para pemabok, penjudi, dan pencuri. Sementara pantai 3 km di selatan rumahku, kerap dijadikan istana untuk mesum. Kehidupan masyarakat pun pas-pasan. Tingkat pendidikan rendah. Banyak anak baru tamat sekolah menengah pertama, pergi ke Bandung atau Jakarta untuk kerja. Ada juga, remaja gadis umuran SMP dan SMA yang kedapatan hamil sebelum lulus. Tentu, banyak pasangan belia di kampungku.
Tingkat ekonomi rendah, berdampak pada pendidikan yang tak terjangkau. Untuk makan saja susah, apalagi menyekolahkan anak. Lagi-lagi, efek kapitalisme pendidikan begitu terasa. Terlebih, sebelum ada kebijakan BOS, oh, betapa menderitanya.
Beberapa tetanggaku, sepulang sekolah langsung mengembala kambing di dekat pantai. Sebagian mencari rumput. Mereka perempuan, bukan laki-laki. Mau berdagang emansipasi di sini? Tak laku. Entah nasib perempuan itu kini seperti apa. Sebatas pengetahuanku, mereka bekerja di kota.
Tapi, penderitaan tempo dulu itu terbayarlah sudah hari ini. Anak-anak putus sekolah yang merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah, pulang dengan rezeki melimpah. Rumah-rumah gedeg, diganti tembok. Sawah-sawah di depan rumahku, ditumbuhi beberapa bangunan rumah. Dilihat kasat mata, makmur, bukan?
Hanya saja, sebagaimana kata kakak kelasku ketika mengiming-imingiku agar masuk LIPIA (sekolah tinggi Islam di Jakarta, di naungi langsung oleh pemerintah Mesir, setahuku), bahwa kampungku ini gersang sekali. Bukan tanahnya, melainkan hati masyarakat. Memang benar, sampai sekarang, pendidikan agama di kampungku masih minim. Hanya saja, bedanya, kini kepedulian masyarakat akan pendidikan agama kian tebal. Pengajian-pengajian yang diselenggarakan di masjid, sepertinya membuahkan hasil. Ada juga sebagian orang mendatangi bapak, untuk bertanya soal agama. Kalau tidak tahu, bapak akan bertanya ke orang yang lebih tahu soal agama. Begitu adanya.
Aku pikir, hal-hal semacam itu yang membuat masyarakat kini memiliki kepedulian tinggi. Mau berbagi dengan sesama, walau beberapa kali aku dengar, alasannya karena iming-iming pahala yang besar. Tapi siapa tahu ada maksud terselubung dari mereka; misalnya memang benar-benar karena ingin berbagi. Hanya saja mereka tutupi dengan alasan mencari pahala? Kan, siapa tahu.
Kedua, kerukunan. Lima keluarga ini, menarik untuk dijadikan teladan. Tentu banyak hikayat yang menceritakan perebutan warisan dengan saudara kandung. Tak jauh-jauh, di kampungku saja ada kasus semacam itu. Lagi-lagi, himpitan ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Juga keserakahan.
Tapi ini, lima keluarga, bisa akur. 100 boks nasi, dibagi 5. Jadi masing-masing keluarga menyediakan 20 boks nasi. Aku rasa, alasan karena untuk meringankan beban masing-masing keluarga kurang tepat. Ini lebih dari persoalan ekonomi. Tapi merekatkan ukhuwah Islamiyah itu yang terpenting. Karena dalam pembagian itu, pastilah ada komunikasi. Komunikasi, di manapun, menjadi sebab hancur-tidaknya sebuah bangunan.
Mereka berlima memang cerdas dalam penglihatanku. Soal siapa yang menginisiasi, biarlah jadi rahasia ilahi. Yang jelas, upaya mereka bisa dinikmati banyak orang, dan satu-dua orang merasa kagum dengan gebrakannya. Setelah ini, ada satu agenda buka bersama lagi. Entah karena terinspirasi mereka atau tidak, agenda buka bersama yang akan datang, juga dengan model yang sama; patungan.
Ketiga atau terakhir, berkat agenda buka bersama ini, jamaah shalat manghrib bertambah banyak.
Tiga alasan ini yang mendorongku untuk menulis kisah mereka.

Selesai ditulis di ruang tamu, sekitar pukul 09.22 WIB pagi. (30/06/2016).
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...