Monday, 22 August 2016

Pers Mahasiswa


Mendengar namanya saja sudah bikin bergetar hati saya. Pers mahasiswa! Tentu tersemat kata keren, joss, luar biasa, dan sebagainya pada para pegiat pers mahasiswa. Merekalah, para jurnalis mahasiswa. Orang-orang yang berkomitmen tinggi untuk mengawal segala kebijakan kampus dan mahasiswa. Mereka ada untuk keadilan.

Ingat? Mereka ada untuk keadilan. Amboi, betapa berat tugas yang dibebankan mereka. Keadilan, mereka tegakkan dengan goresan pena. Pena yang dalam sejarahnya, berlumuran darah. Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, mati karena penanya. Tirto Adhi Soerjo, diasingkan dan dihapus dari ingatan sejarah, karena pena tajamnya. Sehari sebelum kemerdekaan RI ke-71, dua wartawan medan babak belur karena penanya. Berat bukan jadi mereka? Jurnalis (mahasiswa). Karena keadilanlah yang mereka tegakkan. Dan, selalu, keadilan butuh tumbal. Ini yang menjadi alasan saya, untuk mengatakan bahwa jurnalis mahasiswa adalah keren, joos, luar biasa. Berperang melawan ketidakadilan, pasang badan taruhan nyawa.

Mereka keren, joos, dan luar biasa. Tentu hanya orang dengan komitmen tinggi yang memilih jalan ini. Jalan perjuangan menjadi jurnalis mahasiswa. Sebagaimana yang dialami Benfa, jurnalis pers mahasiswa Natas Universitas Sanata Dharma beberapa waktu lalu, yang diintimidasi karena ke-Indonesia Timur-an dia saat meliput aksi kepolisian yang mengepung asrama Papua. Ada juga jauh sebelum Benfa, kasus jurnalis mahasiswa karena ke-bidikmisi-annya, dihina dan direndahkan dosen karena kritikannya ke kampus. Bahkan dibilang kira-kira begini: sudahlah, kamu itu kan miskin, bidikmisi, mbok ya diam saja!!

Ini kan artinya, jalan jurnalis mahasiswa tak lain jalan terjal penuh onak-duri. Karena komitmennya menegakkan keadilan. Keberaniannya jujur pada publik, memberitakan suatu realitas lapangan tanpa diplintir layaknya kelakuan wartawan media mainstream. Juga karena komitmen dan kejujurannya ini, banyak pihak yang merasa terganggu. Penguasa (kampus) kebakaran jenggot, robek gendang telinganya. Dengan tangan besinya, ia pukul jurnalis mahasiswa, dari segala lini: pendanaan, ijin terbit, intimidasi, dst.

Yang saya ceritakan tadi, bung, semata realita yang saya lihat menimpa pers mahasiswa. Pers yang sudah cukup mapan dari segi manajemen dan bekal kejurnalistikkannya. Yang sudah punya komitmen tinggi untuk mengabdi pada idealisme yang berselimut keadilan.

Lah, trus pers mahasiswa yang mati segan hidup tak mampu? Anggota bisa kumpul di warung kopi tak habis jari sebelah tangan saja sudah bersyukur. Ada berita kegiatan di portal online, satu minggu satu karya saja, sudah prestasi. Bisa saling curhat masalah pribadi, prestasi sekali. Jika memang sudah demikian halnya, jangan salahkan ibu mengandung, atau  diri sendiri yang kurang beruntung. Tapi salahkanlah kampus yang dengan kebijakannya, sangat mengungkung dan kurang mendukung. Juga silahkan, salahkan saja para punggawa yang tak becus mengurus kader. Namun lagi-lagi, nasi sudah menjadi tahi. Ketidakbecusan para punggawa, ke-ironis-an kampus, mau disikapi seperti apa olehmu? Kecam? Salahkan? Atau tinggalkan? Itu pilihan! Yang jelas, ketidakbecusan para punggawa memang upaya maksimal yang mereka lakukan untuk meminimalisir ketidakbecusan mereka. Upaya maksimal untuk menyiapkan kader yang tahan banting dan punya semangat berkarya. Silahkan saja mereka salahkan, tapi ingat, kalian adalah kader mereka! Semangat menegakkan keadilan, kini ada di pundak kalian. Apa kalian akan diam saja?

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...