Saturday, 13 August 2016

Keling


Keling; Lelaki Lusuh ‘Utusan’ Gusti Allah
Ada banyak cara yang digunakan Gusti Allah untuk memudahkan urusan hamba-Nya. Kerap juga cara-cara tersebut tak terduga. Sehingga seorang hamba merasa keheranan atau tidak percaya kalau kelimpahan rahmat sedang menimpanya. Inilah, min khaitsu la yahtasib-nya uluran tangan Gusti Allah.
Sebuah kisah, yang akan aku ceritakan ini benar-benar terjadi. Ini menimpa bapakku, beberapa hari setelah mondok enam hari di rumah sakit, lantaran gejala tipesnya yang kambuh. Dan inilah, menurut ukuranku, bukti dari min khaitsu la yahtasib-nya Gusti Allah.
Waktu itu, bapak berada di belakang rumah sedang mengurusi binatang ternak. Rumahku menghadap ke utara. Dari arah selatan muncul lelaki lusuh membawa singkong di pundaknya. Lantas bapak menanyakan untuk apa singkong dengan jumlah banyak itu. nggo ngurup udud karo sampeyan (Buat nukar rokok sama kamu) katanya.
Bapak kebingungan, karena dirinya juga punya banyak pohon singkong di sawah. Bapak menemui ibu untuk meminta pertimbangan. Kemudian, dengan saran ibu, lelaki lusuh itu, atau akrab disapa Keling, disarankan untuk menjual singkong ke warung sebelah rumahku.
Keling menurut, ia jual singkong ke warung sebelah rumahku. Hasil penjualannya, ia belikan rokok di warungku. Suatu hal yang ganjil menurut ukuranku, karena warung sebelah rumahku juga menyediakan rokok, kok Keling memilih beli rokok di warungku. Dari sini, bapak dan ibu sering berinteraksi dengan Keling. Interaksi ekonomi yang lambat laun menjadi bangunan persaudaraan yang unik.
***
Keling adalah laki-laki berambut panjang sebahu yang belum (tidak?) menikah. Aku taksir, umurnya mendekati 40-an tahun, terlihat dari rambutnya yang memutih. Silsilahnya aku tidak tahu. Aku mulai tak asing dengannya ketika sering melayani saat membeli rokok dan kopi. Ia memang tak bisa sehari pun pisah dari rokok dan kopi.
Tampilannya selalu lusuh, dengan memakai kaos dalam dan celana panjang. Komunikasinya kurang jelas, karena memang ada sedikit kelainan (menurut ukuranku). Pekerjaannya tak menentu. Yang kutahu, ia hanya mencari mlinjo di pekarangan-pekarang orang, kemudian di jual untuk ngurup rokok dan kopi. Entah selain itu, ia punya pekerjaan apalagi.
Ia berdomisili di dukuh sebelah, dipisahkan kali yang hanya akan ada airnya ketika musim hujan. Soal kondisi masyarakatnya, cukup memprihatinkan. Karena, secara ekonomi masih minim, terlebih agama. Banyak pemuda yang lahir dari daerahnya menjadi pemabuk, putus sekolah, dan persoalan ekonomi lainnya.
Sepintas aku hanya mengenali sosok Keling sebagai lelaki lajang pecinta rokok dan kopi. Pekerjaan apapun ia lakoni untuk menebus dua dewa (rokok dan kopi; sedikit patriarkhi) yang telah mengisi hatinya.
***
Di malam hari selepas Isya, bapak memberi makan sapi di kandangnya. Bapak keheranan, karena banyak daun pohon singkong tergeletak di makanan (istilah tempat makan sapi di kampungku). Bapak turunkan semua daun itu, karena sapinya tidak doyan. Ia ganti dengan damen (pohon padi).
Sudah menjadi kebiasaan, bapak menengok sapi-sapinya dua kali dalam semalam, bahkan tiga. Bapak dibuat terperanjat, ketika mendapati daun singkong yang sudah dibuang, kembali ada di makanan. Bapak tanyai ibu, ia tak merasa melakukannya. Maka tambah heran bapak dengan kejadian itu.
Dalam hati, bapak berujar, nanti kan ketahuan siapa pelakunya. Semenjak kejadian itu, hampir tiap hari sapi-sapi piaraan bapak ada yang mengurusi; memberi makan rumput atau daun singkong. Tentu, bapak merasa beban memelihara sapi menjadi ringan. Pernah suatu kali bapak berujar, bahwa bukan karena uang bapak memelihara sapi. Melainkan, kalau tidak memelihara sapi, tak punya pupuk kandang untuk tanamannya di sawah, karena bapak pada dasarnya petani. Dan adanya kejadian ajaib ini otomatis sangat disyukuri oleh bapak. Fisiknya yang sudah cengeng, sulit diajak kompromi untuk kerja berat, diringankan dengan tenaga gaib yang belum terpecahkan milik siapa.
Pelaku pemilik tenaga gaib baru terpecahkan setelah beberapa kali memberi makan sapi milik bapak. Ia dipergoki oleh ibu (kayaknya) sedang memberi makan sapi dengan rumput hasil sabitannya. Dari sini, terungkap bahwa Kelinglah yang membantu meringankan beban bapak.
Bapak berpesan kepada ibu, agar apapun yang diminta Keling, dikasih saja. Bapak merasa apa yang dilakukan Keling sangatlah membantu. Karena, bapak mengurusi sapinya sendirian, setelah aku dan adik laki-lakiku kuliah di Jogja. Ini, tanpa diminta, ada orang dengan suka rela membantu. Entah, siapa yang memberi kabar Keling soal kerepotan bapak memelihara sapi.
Pernah suatu kali Keling bercerita, rumput hasil sabitannya pernah ditawar oleh tetangga untuk dibeli. Ia menolak, dan mengatakan kalau rumput itu untuk bapak. Ia menolak bayaran! Sementara ia tak meminta imbalan apa-apa dari bapak. Logikaku mati seketika, memikirkan kelakuan Keling yang kelewat logis.
Keling, setahuku selama di rumah, tidak meminta apa-apa. Perasaan sudah dibantu yang membuat bapak dan ibu memberi imbalan rokok, kopi, atau pernah juga roti. Karena tiap kali Keling ke warung, selalu yang ia minta (baca: beli) Rokok Apache Kretek dan Kopi ABC Plus harga lima ratusan.
Sampai tulisan ini diketik, Keling masih saja membantu bapak memberi makan sapi-sapinya. Tadi yang terbaru,  Keling  masih tetap membawakan daun singkong meski sapi tidak doyan. Karena prinsipnya, bapak tidak memaksa Keling untuk mencari rumput. Apapun yang Keling berikan untuk sapi, bapak terima tanpa komentar negatif.
Di sebuah obrolan santai orang tua dengan anak, bapak mengungkap rasa syukurnya; ada orang yang peduli dengannya. Keling (barangkali) diutus Gusti Allah untuk meringankan beban hamba-Nya. Barangkali, di sekitarmu, ada juga utusan-utusan-Nya tanpa kamu sadari keberadaannya? Kan, siapa tahu!
Selesai ditulis saat Bapak akan mengambil bingkisan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (Bapak, sepertinya, jadi pengurus ranting), sementara aku masih ragu. (2/07/2016).
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...