Saturday, 6 August 2016

Semedi


Ada pertanyaan, kenapa orang terdahulu memiliki kesaktian atau daya linuwih, terutama orang-orang Jawa? Tokoh Wali Songo misal, yang dalam cerita-cerita masyarakat bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan orang. Juga pujangga Jawa kuno semacam Ranggawarsito, yang seolah bisa meramal masa depan dan sudah banyak yang menjadi kenyataan (entah karena otak atik gatuk atau memang benar adanya demikian).

Adalah Syeikh Amongraga, anak pertama Sunan Giri yang melalui pengembaraan panjang, mendapat ilmu segala macam. Utamanya, ilmu olah batin dan hidup serta mati. Awalnya bernama Jayengresmi, Jaya ing saresmi yang artinya jago di atas ranjang (saresmi=senggama), berubah menjadi Amongraga, yang artinya kurang lebih orang yang mampu momong raganya, mengendalikan diri.

Kerap sekali dalam cerita pengembaraannya, Amongraga mampir dan menetap di goa ataupun puncak gunung berhari-hari. Ketakjuban dari segala keindahan alam dan makhluk-Nya, ia respon dengan rasa syukur tiada henti. Ketika dalam perjalanan menemukan Wit Ringin Sungsang (pohon beringin bersilang), ia berhenti dan mengamati 5 burung yang bertengger diatasnya, dan seolah ada sabda yang terbawa kicauan burung tersebut. Ia mampu mendengar alam, karena telah menyatu dengan alam.

Ditemani dua santrinya, Amongraga terus berkelana, mencari kedua adiknya setelah 40 hari bersama istrinya, Tambangraras.

Pengelanaan yang sarat dengan menjelajah alam, membuat Amongraga dewasa dan kian bijak. Bahkan menjadi manusia linuwih, yang banyak ilmunya. Utamanya, karena dia sudah mempelajari Islam, ilmu soal syariat, tarikat, Hakikat, dan makrifat.

Melalui semedi, laku priatin di tempat sunyi, membuat orang jawa kuno tajam pikirnya, peka perasaannya dan luas wawasannya. Ini yang lambat laun hilang di dalam diri kita. Slogan timw is money berhasil menggerus kita dari identitas jawanya, semedi/merenung/kontemplasi, memahami alam. Malahan, kini goa dan gunung hanya dijadikan asesoris pelengkap backgound foto agar lebih indah. Padahal, dua tempat ini dulu menjadi tempat 'sakral' yang sangat dijaga kesuciannya. Kini, sampah berserakan di dua tempat ini, oleh generasi muda yang entah tahu atau tidak, sadar atau tidak, kian hari merusak lingkungan. Dan tentu, membuat alam murka.

Jogja, 6 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...