Sekira pukul 2 sore saya selesai membaca Novel Centhini 2: Perjalanan Cinta karya Gangsar R. Hayuaji, seorang penulis sastra dan esai-seni yang sudah bergelut dengan tulisan semenjak tahun 1987. Track Record ini, tentu saja menjadi salah satu alasan saya tertarik membaca karyanya. Dan memang menarik saat saya mulai membacai goresan penanya.
Ada beberapa plot cerita besar yang barangkali bisa diklasifikasikan berdasarkan tokoh-tokoh yang terkait di dalamnya. Pertama, soal permenungan Tambangraras selama satu tahun dua pulan di peraduan, lantaran ditinggal oleh kekasih hatinya, Syeikh Amongraga. Kedua, pengembaraan Syeikh Amongraga beserta santrinya, Jamal dan Jamil. Ketiga, pengembaraan kedua adik Amongraga, Jayengsari dan Rancangkapti, ditemani Buras. Keempat, kebegalan Cebolang yang penghabisan dalam pengembaraan. Kelima, kembalinya Cebolang pada Ayahnya, Syeikh Akhadiat, lantaran hatinya yang mulai sadar betapa hina dirinya. Keenam, berkumpulnya tiga saudara kandung, Amongraga, Jayengsari, dan Rancangkapti serta bertemunya Tambangraras dengan suaminya. Ketujuh, sad ending.
Pertama permenungan Tambangraras yang memilukan. Ia sama sekali tak mau merawat badannya, sehingga kurus, terlebih gaun yang dipakainya tak pernah ganti. Tal pernah keluar dari kamar, hanya berbaring di ranjang dan membisu. Sesekali saja berbincang dengan abdi setianya, Centhini. Tapi justru dari perbincangan ini, terbesit dalam benak Tambangraras untuk mengembara, mencari suaminya, Amongraga. Terlebih, kesediaan Centhini untuk menemaninya, mempertebal tekad. Hingga ia bangkit dari keterpurukan dan kembali mau merawat tubuhnya. Di tengah malam yang pekat, ia merencanakan keberangkatan mengembara dengan Centhini, dengan memakai pakaian laki-laki milik suaminya. Sebelum fajar menyingsing, mereka berdua minggat dari singgasananya.
Soal pengembaraan Amongraga dan dua santrinya, berkutat pada gunung, hutan, dan persinggahan. Meski tujuan awal mencari dua adiknya, tapi dalam pengembaraan ia seolah terlena dengan segenap ilmu pengetahuan yang ia dapat. Amongraga dikisahkan sebagai orang yang memiliki kemampuan memahami percakapan hewan, sebagai Anglingdharma dan Nabi Sulaiman. Di kala ia tengan semadi, berkumpul beberapa jenis burung mempercakapkan dirinya. Ada dua jenis burung yang berkomentar bahwa Amongraga tidak lain hanyalah suami pengecut yang meninggalkan istrinya. Komentar tersebut membuat Amongraga berpikir dan menilai-nilai keputusannya. Jika tak tekun, tentu bosan mengikuti pengembaraan Amongraga, karena hanya berkutat pada pertapaan di gunung, goa, hutan, lalu singgah ke gubuk seseorang, sesekali bertemu sang guru. Tak ada yang baru. Maka wajar jika penceritaannya disingkat.
Sementara pengembaraan dua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti ditemani Buras, juga tidak jauh beda dengan Amongraga. Hutan, gunung, rumah 'tokoh agama' sebagai latar belakangnya. Puncaknya, mereka berdua diangkat sebagai anak oleh Syeikh Akhadiat, pemilik Padepokan dan memiliki banyak santri.
Lalu soal Cebolang, ceritanya disingkat pendek sekali. Barangkali karena ceritanya berbau porno, sebagaimana dalam serat Centhini jilid V, sehingga dipangkas. Atau mungkin karena sudah disiapkan edisi khusus mengisahkan pejalanan Cebolang. Dalam novel ini dikisahkan pertaubatan Cebolang, yang mengantarkan dirinya untuk pulang. Sesampai di rumah, ia dikejutkan dengan adanya gadis ayu yang sedang mencuci baju, mengaku sebagai anak Syeikh Akhadiat. Bertemu dengan Sang Ayah dan Ibu, ia mohon ampun. Diiringi derai air mata, anak dan orangtua diliputi kabut kebahagiaan. Hingga Cebolang meminta pada ayahnya untuk memetikkan mawar di desanya, yang tak lain adalah Rancangkapti, untuk dijadikan sebagai istri.
Beberapa hari setelah pernikahan, Jayengresmi, Rancangkapti, dan suaminya Syeikh Agungrimang, nama pemberian Akhadiat pada anaknya untuk mengganti Cebolang, meminta diri untuk mencari Amongraga.
Di lain tempat, Tambangraras beserta Centhini melewati berbagai hutan untuk mencari Amongraga. Hingga di tlatah Wanataka, ia melihat tiga sosok lelaki sedang berbincang di bawah pohon, yang tak lain adalah suaminya ditemani Jamal dan Jamil. Bertemulah sepasang merpati yang telah lama berpisah, diwarnai tangis bahagia.
Mereka lalu melanjutkan ke Tanjung Bang, dan tanpa diduga bertemulah dengan dua adiknya ditemani Buras. Amongraga, Jayengsari, dan Rancangkapti serta suaminya, ditemani Buras berbincang di gubug. Dan atas permintaan Amongraga, Centhini dijodohkan dengan Buras.
Sang Kelana telah sampai tujuan. Centhini terkungkung dalam rumah tangganya dengan Buras, meski tidak mencintainya. Sementara Amongraga dan Tambangraras berubah menjadi ulat, lalu disantap Sultan Agung dan permaisurinya. Kalau kata Pram, hal semacam 'manusia berubah menjadi ulat' merupakan kehati-hatian pujangga dalam melukiskan sebuah kejadian. Itu hanyalah simbol, yang sengaja disamarkan maknanya oleh pujangga kerajaan jawa.
Dan Jayengsari, Rancangkapti dan Syeikh Agungrimang, entah seperti apa perjalanan pengembaraanya. Nantikan saja novel selanjutnya, dengan penulis yang sama, Gangsar R. Hayuaji.
Jogja, 8 Agustus 2016
Monday, 8 August 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment