Sunday, 20 May 2018

Cuma Membaca Danarto




Judul Buku      : Adam Ma’rifat
Penulis             : Danarto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : 112 halaman

Saya merasa putus asa membaca Adam Ma’rifat-nya Danarto. Putus asa dalam konteks memahami maksud dari tulisan belio. Dibaca serius, justru bikin kepala pusing dan mata berkunang-kunang.
Untungnya, Mahfud Ikhwan berbaik hati untuk memberikan pengantarnya. Darinya, saya mendapatkan dua opsi untuk membaca bukunya Danarto; serius atau cuek. Pertama, saya coba baca buku kumpulan cerpen ini dengan cukup serius, tapi hasilnya nol; malah bikin pusing kepala. Ilustrasi yang dibikin langsung oleh penulisnya juga tidak bisa saya pahami. Kedua atau akhirnya, saya memutuskan untuk membacanya dengan cuek; bukan untuk memahami, tapi sekadar menikmati saja.
Oh, ternyata ini karya Manikebuis ...
Saya mulai tertarik membaca sastra setelah melahap buku pinjaman berjudul Bumi Manusia tulisannya Pramudya Ananta (Mas)Toer. Dari Bumi Manusianya, saya mendapatkan ‘pesan moral’ bahwa nilai seseorang adalah pada keberaniannya. Bahwa perempuan, yang digambarkan melalui sosok Nyai Ontosoroh, juga memiliki daya upaya untuk berdikari. Haram bagi perempuan model Ontosoroh untuk hidup berkalang lelaki. Ini sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap pandangan arus utama, bahwa perempuan selalu dinomorduakan, atau dalam falsafah Jawa, dijadikan sebagai konco wingking (teman belakang) yang tugasnya hanya seputar area domestik; sumur, dapur, dan kasur.
Usai baca Bumi Manusia, saya merasa terpacu untuk mencari karya serupa. Dan dalam pencarian tersebut, saya menemukan dua aliran sastra yang tak bisa akur (medio 60-an), yaitu kelompok yang mempersembahkan sastra untuk tujuan politik, dan satunya mempersembahkan seni untuk seni; atau dalam istilah lain, sastra hanyalah alat untuk menyuarakan aspirasi kaum tertindas (proletar?) dan sastra yang meyakini bahwa bentuk adalah bagian dari isi juga.
Dan, Danarto termasuk pada golongan yang kedua. Keenam cerpen yang terangkum dalam Adam Ma’rifat, adalah cerpen yang bagi saya sulit dimengerti dan memang menampilkan bentuk yang eksperimental. Benar yang dikatakan Mahfud Ikhwan, bahwa bentuk (cerpen) dalam khazanah Danarto adalah bagian dari isi itu.
Dengan maksud hanya menikmati pun, saya masih belum bisa menikmati dengan senikmat-nikmatnya. Saya masih saja terganggu dengan bentuk cerpen yang disajikan Danarto. Satu cerpen yang cukup bisa membuatku terhibur adalah yang berjudul “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat.” Cerpen ini benar-benar bisa membuat saya tertawa, terlebih pada bagian percakapan Malaikat dan anak-anak yang bersuka cita, karena melihat Malaikat itu terjaring. Begitu juga ketika anak-anak itu menantang Malaikat untuk melepaskan diri, yang ternyata juga bisa melepaskan diri, dan membuat anak-anak itu menangis.
Satu hal lagi dalam cerpen ini yang membuat saya tertarik adalah, cara Jibril dalam menjernihkan pikiran anak-anak yang tengah belajar. Ia mematukkan layang-layang ke genting, lalu membuat genting ambruk dan menurunkan hujan melalui lubang atap tersebut, yang memaksa anak-anak sekolah dan gurunya keluar, pindah belajar ke bawah pohon di atas bukit.
Saya memahami ini sebentuk sindiran bagi persepsi arus utama mengenai belajar haru di ruang kelas. Sebaliknya, belajar tidak harus terbatas di runag kelas. Bahwa anak-anak kerap mengalami kejumudan berpikir dan berimajinasi, ketika mereka dikurung dalam gedung bergenting dan berbentuk segi empat. Sebaliknya, mereka (dan juga gurunya) justru bisa lebih leluasa dalam belajar, manakala berada di lingkungan terbuka, dekat dengan alam.
Masih berbicara soal anak-anak, bahwa mereka jauh lebih mudah percaya –ketimbang orang (yang mengaku) dewasa- kepada hal-hal yang secara logika mustahil. Ini dibuktikan dengan berbondong-bondongnya mereka (tanpa didampingi gurunya –karena belio terlalu realistis) untuk menyaksikan upaya seorang lelaki untuk menjaring malaikat. Rasa keingintahuan mereka pun menuai hasil, yakni bisa menyaksikan tertangkapnya malaikat, dan mereka merasa terhibur lalu kecewa.
Ah, ternyata saya juga tergoda untuk coba-coba memaknai cerpen Danarto ini.

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...