Judul Buku : Adam Ma’rifat
Penulis : Danarto
Penerbit : Basabasi
Cetakan : I, November 2017
Tebal : 112 halaman
Untungnya, Mahfud
Ikhwan berbaik hati untuk memberikan pengantarnya. Darinya, saya mendapatkan
dua opsi untuk membaca bukunya Danarto; serius atau cuek. Pertama, saya coba
baca buku kumpulan cerpen ini dengan cukup serius, tapi hasilnya nol; malah
bikin pusing kepala. Ilustrasi yang dibikin langsung oleh penulisnya juga tidak
bisa saya pahami. Kedua atau akhirnya, saya memutuskan untuk membacanya dengan
cuek; bukan untuk memahami, tapi sekadar menikmati saja.
Oh, ternyata ini
karya Manikebuis ...
Saya mulai
tertarik membaca sastra setelah melahap buku pinjaman berjudul Bumi Manusia
tulisannya Pramudya Ananta (Mas)Toer. Dari Bumi Manusianya, saya mendapatkan
‘pesan moral’ bahwa nilai seseorang adalah pada keberaniannya. Bahwa perempuan,
yang digambarkan melalui sosok Nyai Ontosoroh, juga memiliki daya upaya untuk
berdikari. Haram bagi perempuan model Ontosoroh untuk hidup berkalang lelaki.
Ini sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap pandangan arus utama, bahwa
perempuan selalu dinomorduakan, atau dalam falsafah Jawa, dijadikan sebagai konco
wingking (teman belakang) yang tugasnya hanya seputar area domestik; sumur,
dapur, dan kasur.
Usai baca Bumi
Manusia, saya merasa terpacu untuk mencari karya serupa. Dan dalam pencarian
tersebut, saya menemukan dua aliran sastra yang tak bisa akur (medio 60-an),
yaitu kelompok yang mempersembahkan sastra untuk tujuan politik, dan satunya
mempersembahkan seni untuk seni; atau dalam istilah lain, sastra hanyalah alat
untuk menyuarakan aspirasi kaum tertindas (proletar?) dan sastra yang meyakini
bahwa bentuk adalah bagian dari isi juga.
Dan, Danarto
termasuk pada golongan yang kedua. Keenam cerpen yang terangkum dalam Adam
Ma’rifat, adalah cerpen yang bagi saya sulit dimengerti dan memang
menampilkan bentuk yang eksperimental. Benar yang dikatakan Mahfud Ikhwan,
bahwa bentuk (cerpen) dalam khazanah Danarto adalah bagian dari isi itu.
Dengan maksud
hanya menikmati pun, saya masih belum bisa menikmati dengan senikmat-nikmatnya.
Saya masih saja terganggu dengan bentuk cerpen yang disajikan Danarto. Satu
cerpen yang cukup bisa membuatku terhibur adalah yang berjudul “Mereka Toh
Tidak Mungkin Menjaring Malaikat.” Cerpen ini benar-benar bisa membuat saya
tertawa, terlebih pada bagian percakapan Malaikat dan anak-anak yang bersuka cita,
karena melihat Malaikat itu terjaring. Begitu juga ketika anak-anak itu
menantang Malaikat untuk melepaskan diri, yang ternyata juga bisa melepaskan
diri, dan membuat anak-anak itu menangis.
Satu hal lagi
dalam cerpen ini yang membuat saya tertarik adalah, cara Jibril dalam
menjernihkan pikiran anak-anak yang tengah belajar. Ia mematukkan layang-layang
ke genting, lalu membuat genting ambruk dan menurunkan hujan melalui lubang
atap tersebut, yang memaksa anak-anak sekolah dan gurunya keluar, pindah belajar
ke bawah pohon di atas bukit.
Saya memahami ini
sebentuk sindiran bagi persepsi arus utama mengenai belajar haru di ruang
kelas. Sebaliknya, belajar tidak harus terbatas di runag kelas. Bahwa anak-anak
kerap mengalami kejumudan berpikir dan berimajinasi, ketika mereka dikurung
dalam gedung bergenting dan berbentuk segi empat. Sebaliknya, mereka (dan juga
gurunya) justru bisa lebih leluasa dalam belajar, manakala berada di lingkungan
terbuka, dekat dengan alam.
Masih berbicara
soal anak-anak, bahwa mereka jauh lebih mudah percaya –ketimbang orang (yang
mengaku) dewasa- kepada hal-hal yang secara logika mustahil. Ini dibuktikan
dengan berbondong-bondongnya mereka (tanpa didampingi gurunya –karena belio
terlalu realistis) untuk menyaksikan upaya seorang lelaki untuk menjaring
malaikat. Rasa keingintahuan mereka pun menuai hasil, yakni bisa menyaksikan
tertangkapnya malaikat, dan mereka merasa terhibur lalu kecewa.
Ah, ternyata saya
juga tergoda untuk coba-coba memaknai cerpen Danarto ini.

No comments:
Post a Comment