Thursday, 4 August 2016

Centhi Centhini


sumber gambar: m.pojokpitu.com

Meski sudah berkali-kali diceritakan, Centhini selalu menggoda saya menggerakkan jari-jari untuk mengetik. Saya jadi tak tahan untuk membayangkan, secantik-seanggun apakah Centhini itu? Meski centhi, pembantu, tapi tetap saja pesonanya tak kalah dengan bandaranya, Tambangraras. Bahkan, ketika perayaan pernikahan Bendaranya dengan Amongraga, dan Centhini juga ikut mendampingi serta dirias layaknya pengantin, para tamu mengira pengantinnya kembar. Tentu saja, bisa dipastikan, seelok apakah sosok ciptaan Tuhan ini (atau mungkin imajinasi masyarakat jawa?).

Tapi bukan itu, sebenarnya, yang membuat saya kagum. Okelah, sebagai laki-laki, saya punya dorongan suka kepada lawan jenis. Rasa suka saya juga kerap (bahkan selalu?) timbul dari paras ayu, kemudian menyusul laku yang menawan. Namun, yang terakhir inilah yang saya kagumi dari sosok Centhini.

Centhini, dari kelas sosial, jelas ia masuk kelas bawah, pembantu, tak punya hak memiliki dirinya sendiri. Dari segi umur (meski tak disebutkan umur berapa), ia masih dalam awal-awal masa pubertas, remaja labil. Selain itu, ia juga hidup dikelilingi perempuan bangkotan, yang kasar dan jorok serta ceplas ceplos omongannya.

Ia merupakan centhi, dari bendara Tambangraras dan Amongraga sebagai suaminya. Selain itu, ia juga centhi bagi Bendara Nyi Malarsih, ibunda Tambangraras.

Centhini diberi tugas oleh Nyi Malarsih untuk menunggui pengantin. Juga dipesan untuk menceritakan saresminya pengantin oleh perempuan bangkotan di dapur. Selain itu, ia juga dimintai bantuan oleh Suratin, lelaki kemayu yang ingin melamar Ni Sumbaling, centhi sekaligus teman Centhini. Ditambah, ia juga diminta untuk menjaga rahasia dari Amongraga.

Banyak hal yang ia dengar dari bilik pengantin tidak diceritakan kepada Nyi Malarsih saat diminta melapor. Juga apa yang menjadi keinginan Suratin melamar Sumbaling, tidak ia umbar-umbar. Bahkan, saat ia sampaikan niatan Suratin tersebut, dibalut dengan ungkapan candaan kepada Sumbaling, dan ditanggapi dengan penolakan, ia tak langsung mengatakan pada Suratin. Barangkali, takut patah hati.

Soal rahasia Amongraga yang akan meninggalkan istrinya, juga tidak ia ceritakan. Ini semata, dalam pandangan saya, bukan karena tugas. Melainkan, budi luhur Centhini yang mampu mengukur mana konsumsi pribadi dan mana konsumsi umum. Juga, mampu mengukur akibat yang terjadi, jika suatu hal ia katakan dengan jujur.

Dan kenapa juga banyak orang yang memberikan amanah kepada Centhini? Seperti Amongraga, Nyi Malarsih, Suratin, dan ibu-ibu dapur. Lihatlah,  Centhini mampu menjadi figur yang dipercaya lintas kelas; priyayi dan centhi atau pembantu. Tentu saja, sekali lagi, karena laku amanahnya.

Menjadi jelas, bahwa amanah tak kenal kelas sosial. Amanah akan semakin menumpuk ketika seseorang punya laku jujur dan dapat dipercaya. Tapi tunggu dulu, saya ingat, bahwa Centhini (meski centhi) juga punya posisi istimewa; sahabat Tambangraras, bendaranya. Ini artinya?

Jogja, 4 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...