Sunday, 25 March 2018
Memaknai Kebebasan
Aku rasa, orang dari manapun dan dari zaman apapun, merindukan yang namanya kebebasan. Kerinduan akan kebebasan pula yang menjadi spirit perjuangan manusia, dari waktu ke waktu. Bangsa Indonesia tidak mungkin akan bebas-merdeka, jika mereka tidak mengangankan kebebasan.
Kebebasan adalah spirit, yang bisa melepas belenggu apapun. Tapi, satu hal yang berlaku pada semua hal, tidak boleh melekat pada istilah apapun. Jika satu hal itu melekat, dampaknya jadi buruk. Satu hal yang aku maksud adalah ekstrem atau bisa juga diartikan berlebihan.
Kebebasan, jika telah ditegaskan posisinya dengan imbuhan ekstrim, tentu alamat kiamat bagi kemerdekaan. Kebebasan akan kehilangan nilainya. Pun, akan membawa malapetaka tiada berkesudahan bagi umat manusia.
Kalau menyimak Kahlil Gibran dalam Sang Nabi-nya, jika kita ingin bebas, tak perlu lah bicarakan kebebasan. Pembicaraan tentang kebebasan justru membuat diri kita tak bebas. Definisi adalah belenggu dari hakikat.
Tapi, aku rasa benar yang dikatakan Kahlil Gibran. Aku memaknai ungkapannya sebagai pesan untuk mencapai kebebasan yang sebenarnya tidak ada, tapi bisa dinikmati. Bahwa baiklah oleh sebagian orang, tidak perlu memaknai kebebasan, cukup merasakan kebebasan itu. Tapi bagi sebagian lainnya, perbincangan tentang kebebasan sampi membuat diri berpeluh dan juga merasa resah.
Aku termasuk golongan kedua, yang mencoba untuk membicarakan tentang kebebasan. Diriku yang lebih menggunakan logika dan sulit menggunakan rasa, perbincangan tentang kebebasan menjadi menarik.
Tiga batasan dalam kebebasan yang aku baca dari buku Fikih Tata Negara adalah: (1) kebebasan itu tidak menodai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk terhotmat, (2) tidak mengganggu hak orang lain, dan (3) tidak melawan aturan, baik aturan syariat ataupun hasil kesepakatan bersama, selama bernilai baik dan tidak bertentangan dengan syariat. (hal 57)
Aku coba meraba-raba pesan yang ingin disampaikan tiga batasan kebebasan tersebut. Yang pertama, otakku langsung tertuju pada praktik feminisme Barat, utamanya yang gemar telanjang dada sebagai bentuk ekspresi kebebasan. Bagiku yang lahir dan tumbuh di lingkungan dan kebudayaan Islam, ekspresi tersebut keterlaluan. Islam telah mengajarkan kepada perempuan untuk menutu bagian vital tersebut. Jangankan bertelanjang, terlihat gundukannya di balik bajunya saja dilarang. Dan inilah yang menurutku dikatakan "menodai harkat dan martabat manusia". Contoh lain belum aku temukan.
Yang kedua, ini jauh lebih mudah untuk mencerna. Kebebasan kita dibatasi dengan kebebasan orang lain. Bukan merupakan kebebasan jika ekspresi kita melanggar hak orang lain. Kita tak dibebaskan untuk menyakiti orang lain, karena orang lain berhak hidup aman.
Nah, yang ketiga, jauh lebih mudah untuk menemukan contohnya. Justru, contoh itu ada dalam diriku. Yaitu, kegemaran menerobos lampu merah, dan segera tancap gas jika lampu sudah kuning. Ini contoh paling sederhana, dalam pemaknaan "melawan aturan".
Yang jelas, jika memang kita memosisikan kebebasan untuk kepatuhan diri kepada Ilahi, tak perlu susah-susah mendefinisikan batasan-batasannya. Setiap ekspresi kebebasan yang itu sesuai dengan hati, sreg jika dilakukan, sudah cukup untuk menjadi rem dari kebebasan yang ekstrim. Nah, persoalannya, kita memang tahu di luar kepala aturan-aturan itu, tapi punya seribu dua cara pula untuk melanggar aturan itu. Yah, manusia... manusia... ya cukup ditertawakan saja.
Jogja 2018
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment