![]() |
| Sumber gambar: |
Ditugaskan 40 hari 40 malam untuk menjaga pengantin, Centhini banyak mengalami pergolakan batin. Tak lain, karena wejangan Syekh Amongraga kepada istrinya, Niken Tambangraras, yang juga dikuping oleh Niken Centhini. Ini karena, setiap malam selama 40 hari, Centhini selalu menunggui pengantin di depan pintu kamar mereka. Terlelap pun, Centhini tetap di tempatnya, tak berpindah meski terkadang menginginkannya.
Wejangan Syekh Amongraga, membuat Centhini menyimpan banyak pertanyaan di kepala. Adat-istiadat, pandangan masyarakat Jawa terhadap relasi laki-laki dan perempuan, yang menempatkan perempuan sebagai barang atau sederajat dengan binatang piaraan, hanya sebagai penyenang laki-laki, digugatnya dalam diam. Ia diam, lantaran posisi dirinya sebagai centhi, pembantu yang tak memiliki hak memilih, sekalipun memilih dirinya sendiri. Tak ada waktu, selain untuk mengabdi pada bendaranya. Demikianlah kehidupan Centhini.
Selama tugas menunggui pengantin, Centhini banyak belajar. Sudah pernah saya tuliskan bukan? Bahwa Centhini dikatakan perawan kencur, anak wingi sore, yang belum bisa membuang ingus sendiri. Ia masih polos, terlebih soal kehidupan pengantin dan ilmu soal hidup serta mati. Hanya saja, siapa sangka, Centhini yang polos itu tajam pikirannya, tinggi rasa ingin tahunya, atau dalam istilah sekarang; kritis. Meski, tetap saja, apa yang ada dalam pikirannya tak semuanya dituangkan melalui suara, karena ia merasa ada batasan-batasan yang tak bisa dilanggar. Ia juga tahu akan posisinya, sebagai centhi, hingga tak ada keberanian untuk berpendapat di hadapan orang lain, terlebih bendaranya.
Ia polos tapi punya potensi. Tentu kamu pernah mendengar, bahwa mencipta lebih mudah daripada merubah. Membikin goresan di kanvas yang polos/bersih, tentu lebih mudah ketimbang merubah goresan yang sudah ada. Ini yang terjadi dalam diri Centhini. Ia polos dan punya kesempatan untuk membercaki kepolosannya dengan segenap pengetahuan yang meluncur dari mulut Syeikh Amongraga.
Setiap malam, selalu saja ada pertanyaan yang baru. Ia pun kebingungan sendiri, karena tak setiap pertanyaan memiliki jawaban. Bahkan, sekalipun ia memiliki jawaban, akan timbul pertanyaan baru. Centhini kian puyeng, dan bertanya-tanya soal pertanyaan dan jawaban. Tapi, tanpa terasa, Centhini yang polos kian mahir dalam berpikir filosofis. Ini juga yang membuat ia tajam pikir, peka terhadap realitas sekitar.
Barangkali inilah hakekat menuntut ilmu. Mengosongkan pikiran, menerima sekian yang didengar, lantas mengolahnya sendiri. Tidak hanya wejangan Syeikh Amongraga, manusia linuwih saja yang ia tampung. Ni Mbok Daya, centhi sekaligus orang tua Centhini, juga ia dengarkan. Tak ada batasan, berguru dengan priyayi maupun centhi, kacung. Dalam khazanah bahasa Arab, ada istilah 'lihat apa yang diucapkan, bukan siapa yang mengucapkan'. Ini yang barangkali diamalkan Centhini, meski mungkin ia tidak menyadari.
Wejangan demi wejangan berdesak-desakan dalam kepala. Yang tentu, butuh disalurkan. Dari wejangan ini pula, Centhini mulai mempertanyakan segala hal. Semangat yang ia bawa, adalah keadilan. Ia memegang wejangan Seikh Amongraga, yang mengatakan bahwa laki- laki dan perempuan sama derajatnya. Tak ada yang berhak memperalat satu di antara keduanya.
Dalam budaya Jawa memang kental sekali sistem patriarkhi; laki-laki di atas perempuan, dalam hal kuasa. Centhini menggugat ini. Meski, dalam diam. Ia menggugat, meski belum bisa secara vulgar. Ini wajar, karena ia sangat diwarnai didikan jawa (didikan centhi) yang tidak berhak atas tubuhnya sendiri. Semakin baik pengabdian seorang centhi, semakin mulialah ia. Itulah kehidupan seorang centhi.
Apakah centhi tak berhak memilih pendamping hidup? Begitu yang dipikir Centhini. Dan pikiran semacam ini, dirasa tabu waktu itu.
Gugatan demi gugatan dipendam dalam-dalam oleh Centhini. Meski, gugatan ini lambat laun membikin Centhini kian berani. Terlebih, Centhini mendapat tempat istimewa; menemani (dan mengintip) pengantin. Ini karena hubungannya dengan bandara Tambangraras yang seolah saudara sendiri.
Di akhir-akhir menuju malam ke-40, beberapa kali Centhini ditemui Seikh Amongraga setelah ia membuai istrinya agar tidur. Berdua saja, Centhini dengan Syeikh Amongraga, membicarakan soal yang sangat rahasia. Ia diceritai, bahwa suatu saat, Syeikh Amongraga akan minggat dari pelukan istrinya, dari desanya, Wanamarta. Ia minggat, untuk berkelana mencari kedua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti, yang menjadi buron Mataram.
Mendengar cerita tersebut, Centhini gelisah. Bimbang antara menceritakan ke orang lain atau tidak. Di satu sisi, ia diminta Seikh Amongraga untuk merahasiakan dan menceritakan di saat yang tepat. Tapi di sisi lain, tak kuasa kiranya Centhini jika melihat bendaranya ditinggal suaminya. Tentu akan sedih sekali, karena bendaranya itu telah beberapa kali menolak lelaki yang melamarnya, hingga dilewati oleh kedua adiknya menikah, Jayengwesthi dan Jayengraga. Bendaranya itu menunggu sosok lelaki yang alim, dan jatuhlah pilihannya pada Syeikh Amongraga, sang pengelana antah berantah yang awalnya bernama Jayengresmi. Tentu saja, bendaranya itu sangat mencintai suaminya. Sungguh-sungguh cinta.
Hingga di malam ke-40, tepatnya di tengah malam, Syeikh Amongraga pamit untuk minggat, meski oleh istrinya tak diizinkan. Karenanya, Syeikh Amongraga menunggu istrinya tidur, dan kemudian pergi saat pagi menjelang fajar.
Dan saat Tambangraras terjaga, ia sudah tak mendapati suaminya di sisinya lagi. Tentu saja, ia terpukul dan pingsan. Mendadak, warga desa Wanamarta terguncang perasaannya, dan turut menangis merasakan kepedihan Tambangraras ditinggal suaminya.
Centhini, yang tak lain adalah 'belahan jiwa' Tambangraras, kecewa dengan keputusan suami bendaranya untuk pergi. Ia bahkan menyamakan Syeikh Amongraga, manusia linuwih, seperti laki-laki pada umumnya. Tak mengerti perasaan perempuan. Hanya mementingkan kepentingan sendiri, sekalipun meninggalkan istri.
Hanya saja, saya jadi tak tahan untuk bertanya; penting manakah, meninggalkan istri untuk mencari adik-adik kandungnya, atau tetap bersama istri, melupakan adik-adik kandungnya? Atau, mengutip pertanyaan Centhini, kenapa Syeikh Amongraga tak terus terang saja, meminta bantuan warga Wanamarta untuk mencari adiknya? Tentu saja, barangkali, karena Syeikh Amongraga tak ingin terjadi apa-apa pada warga Wanamarta.
Tapi apapun alasan Syeikh Amongraga, tetap di mata Centhini; Amongraga sama seperti lelaki lainnya, egois!!
Sumber bacaan: Wirodo, Sunardian. 2009. Centhini; Sebuah Novel Panjang. Yogyakarta: Diva Press.
Jogja, 4 Agustus 2016

No comments:
Post a Comment