Monday, 1 August 2016

Ada-ada Saja


sumber gambar: id.gofreedownload.net

Ada saatnya seseorang mengalami kejenuhan dalam menjalankan rutinitasnya. Juga, seolah kehilangan arah dalam hidupnya. Kejenuhan dan rasa kehilangan arah, membentuk rasa takut akan masa depan. Tentu saja, saya merasa, ini sungguh bahaya jika tidak segera dicarikan solusinya.

Ada lagi, yang namanya lelah. Lelah, karena merasa diri berjuang sendiri. Tenaga terkuras habis, sudah terlanjur mengorbankan suatu hal untuk hal yang digelutinya. Tapi dalam perjalanan, satu per satu tumbang. Akhirnya, rasa lelah melahirkan kekecewaan. Dan kekecewaan mengikat kuat kaki untuk melangkah dan kerap juga mengikis kepedulian.

Ada juga, yang namanya minder. Minder, kadang muncul lantaran diri merasa tak kuasa melakukan sebuah hal. Merasa diri kerdil, di hadapan seseorang. Minder, kerap membuat korbannya menjadi anti sosial yang juga mendatangkan kesepian.

Ada lagi, yang namanya frustasi. Ini terjadi karena beban yang overload, sehingga membuat otak tak bisa berpikir, mentok. Frustasi, membuat korbannya kehilangan semangat. Selalu muram dan hilang kecerahan dalam wajahnya. Frustasi, jika dibiarkan, bisa mendatangkan rasa stres dan bahkan gila.

Ada lagi, yang namanya merasa bersalah. Perasaan bersalah bisa tumbuh, ketika seorang membuat laku yang tak sesuai dengan harapan siapapun yang berharap padanya. Rasa bersalah ini, kemudian menimbulkan efek kepada pelakunya, menjadi pribadi yang minder.

Yang paling berbahaya, dan sepertinya ini adalah induk dari segala hal negatif, adalah rasa malas. Rasa malas biasanya muncul lantaran tak ada kejelasan dalam hidup seseorang. Rasa malas juga yang merusak harapan seseorang. Malas bersosial, jadi anti sosial. Malas mencari jadi kehilangan arah. Malas belajar jadi minder bertemu orang yang dirasa lebih pandai. Dan lain sebagainya.

Ada juga, yang namanya rasa sombong. Rasa sombong ini bisa bercokol dalam diri lantaran pandangan diri pada orang lain lebih rendah. Tidak bisa melihat setara. Sombong juga sangat ampuh untuk menyingkirkan orang lain dari samping kanan-kiri depan-belakang kita. Karena sombong kerap melahirkan penghinaan, yang tentu akan menimpa orang-orang di sekitar. Wajar jika ada yang mengatakan, entah hadits, kata mutiara, maupun ayat al-Qur'an (saya lupa) bahwa selama ada rasa sombong dalam hati seseorang, surga najis untuknya. Sombong dekat maknanya dengan arogan. Atau bahkan sebagian orang mengistilahkan sombong dengan arogan.

Ada juga yang namanya fanatik. Fanatik itu, ya eksklusif. Melihat diri atau kelompoknya paling benar. Sementara di luar diri dan kelompoknya salah semua. Ada juga yang membagi fanatik menjadi dua; fanatik ke dalam dan ke luar. Dan yang saya jelaskan di depan tadi, merujuk ke pengertian fanatik ke luar. Fanatik ke dalam justru dianjurkan, sebagai bentuk kesetiaan mungkin ya. Makanya ada istilah; gigitlah (ajaran agama) dengan gigi gerahammu.

Fanatik bisa menimpa kaum berjenggot-celana cungklang, bersaruh-peci, maupun kaum muslim perkotaan. Fanatik juga tidak melulu soal agama, fans club bola, suku, dan sebagainya juga bisa ditumbuhi rasa fanatik. Dalam hal berkeyakinan dan beragama, fanatik sangat berbahaya. Bisa membuat nyawa seseorang melayang, hanya karena dianggap sesat lantaran bertentangan dengan kepercayaannya.

Ada juga yang namanya 'kaku'. Kaku itu tidak lentur, fleksibel, jadi tidak bisa melebur dengan lingkungan yang berbeda dengan apa yang dianutnya. Tentu ini menyulitkan diri, dan membuat diri tersingkir dari kehidupan masyarakat.

Yang terlalu fleksibel juga ada, sehingga terkesan tidak punya identitas. Ini juga tidak baik, karena bisa merusak diri.

Ada lagi, yang namanya 'sungkan'. Ini biasa terjadi karena komunikasi yang minim, relasi senioritas-junioritas, feodalisme, atau bahkan menjadi anak/cucu emas, sehingga sungkan dengan anak/cucu yang lain. Soal baik atau buruk, tentu ini tergantung konteks. Terkadang, sungkan menjadikan diri dihiasi unggah-ungguh; artinya positif lah. Tapi kerap juga, rasa sungkan ini yang membuat diri sulit berkembang. Mau ngobrol sungkan. Minta bantuan sungkan. Lantas, bagaimana mau berkembang? Wong tidak ada silaturahmi wawasan dengan orang lain.

Ada lagi, yang namanya egois. Egois itu mementingkan diri sendiri. Egois ini juga yang kadang membikin orang jadi serakah. Coba saja kamu amati, pejabat yang korup itu apa sebabnya? Mementingkan diri sendiri bukan? Dan mengorbankan rakyat. Ini kan definisi egois. Tapi, saya rasa egois ini berbeda dengan keras kepala. Keras kepala ini bisa bermakna baik. Misalnya saja keras kepala dalam menjalankan apa yang diyakini benar. Tentu, keras kepala ini menjadi energi seseorang untuk meraih tujuannya. Tapi keras kepala juga bisa membuat sebuah komunitas pecah.

Dan yang terakhir, semua tergantung pada sudut pandang kita. Dan setiap sudut pandang, selalu diwarnai oleh pengalaman hidup seseorang. Hanya saja, di sela saling silang sudut pandang, ada nilai universal yang diamini oleh semua orang.

Jogja, 1 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...