![]() |
| Sumber gambar: |
Dalam dunia pewayangan, Semar dan Togog merupakan utusan dewa yang tinggal di bumi. Mereka memiliki tugas mulia, sebagai penyeimbang. Mulia, meski mau tidak mau harus ada satu pihak di sisi gelap, dan lainnya di sisi terang. Dengan begitu, dunia akan tetap seimbang.
Ceritanya, kedua tokoh yang akan saya ceritakan ini, utusan dari khayangan Jonggring Saloka, Kahendran (istana para dewa). Mereka berdua merupakan buah cinta dari Sang Hyang Wenang dengan Dewi Wirandi. Dilahirkan dalam bentuk sebutir telur yang indah rupanya. Waktu pecah, terdapat empat lapis, dan dua lapis di antaranya adalah Semar dan Togog.
Semar dengan nama asli Sang Hyang Ismaya, lahir dari putih telur. Oleh ayahnya, Semar ditugaskan untuk mendampingi ksatria, untuk memberantas kejahatan di bumi.
Togog dengan nama asli Antaga merupakan bagian kulit terluar dari telur. Ia memiliki kecenderungan pada materi, sehingga ditugaskan ayahnya untuk mendampingi para raja yang tamak. Di bawah pengaruh Togog, seorang raja bisa membantai rakyatnya.
Soal fisik, Semar digambarkan sebagai orang berperut buncit, sementara Togog bermulut lebar. Ini lantaran kompetisi kedua tokoh ini untuk menelan Bumi. Togog menelan bumi, dengan melebarkan mulutnya semaksimal mungkin, hingga tidak bisa ditutup kembali. Jadilah mulut lebar. Sementara Semar, menelan bumi dan tersangkut di perut. Jadilah perutnya buncit.
Semar punya anak namanya Petruk, Gareng, Bagong. Ditemani tiga anak ini, ia mendidik para ksatriya untuk melewati segala rintangan hidup. Sementara Togong didampingi Bilung atau mBilung, yang tak lain merupakan Jelmaan dari selaput kulit telur.
Ada juga versi cerita yang menuturkan, bahwa Semar dan Togoglah sutradara sekaligus pemain sandiwara di dunia ini. Mereka telah kompromi untuk menjalankan tugas masing-masing; sebagai penabur kebaikan dan keburukan.
Saya sendiri kebingungan ketika membaca cerita soal Semar dan Togog. Karena banyak penafsiran. Ini wajar, karena cerita dituturkan dalam bentuk lisan, kemudian berkembang menggunakan media gambar (wayang?) dan tulisan. Tentu, perjalanan tiga tangga tersebut tak luput dari kekeliruan.
Tapi yang jelas, perlu sekali generasi muda mempelajari khasanah kebudayaan jawa (untuk orang Jawa), sebagai identitas diri. Kisah pewayangan yang mulai ditinggalkan generasi milenium, perlu digaungkan lagi. Jika tak cukup dengan media tulisan untuk menarik minat generasi muda, perlu dicoba melalui media audio-visual; film. Ini pasti menarik.
Dan terakhir, yang cukup membuat saya mati kutu, adalah sepenggal 'kata bijak' yang mengatakan bahwa 'manusia yang cepat mengemukakan gagasan, akan lambat untuk mewujudkannya'. Jadi, siapapun yang kebalikan dari 'kata bijak' tersebut, tentu dengan mudah mewujudkan gagasan ini.
Sumber bacaan: Werdonyo, RW Yudo Wiryo. 2013. Dari Sastra Carita Menjadi Sastra Cetha. Yogyakarta: Kepel Press.
Jogja, 2 Agustus 2016

No comments:
Post a Comment