Tuesday, 23 August 2016

Ambisi


Ini soal ambisi pribadi. Positif saya kira. Karena, ambisi yang saya gebu-gebukan tak lain hanyalah untuk perbaikan. Perbaikan rumah yang sebagian tiangnya keropos. Juga banyak lantai yang keramiknya sudah pecah-pecah. Dindingnya, sebagian retak.

Saya dengan polosnya, menyalahkan kepala keluarga yang kurang becus dalam merawat rumah. Dan karena itu, saya merasa perlu menggantikannya. Saya butuh dukungan untuk menjadi kepala keluarga, dengan jalan menemui kepala keluarga tersebut. Juga dukungan anggota keluarga, untuk menjadikan saya kepalanya. Dengam begitu, saya bisa memperbaiki segala kerusakan yang ada di bangunan rumah tersebut.

Saya butuh ahli kayu. Dan ahli kayu butuh kawan untuk mengerjakan tugasnya. Ahli keramik, juga sangat saya butuhkan. Tukang cet dan tambal dinding, saya pilih sesuai kapasitas mereka (dalam ukuran saya). Sehingga harapan untuk memperbaiki rumah tercapai.

Di waktu momentum pemilihan pengganti kepala keluarga, terpilihlah saya. Tentu, ini menjadi satu jalan menuju perbaikan. Tergambar, meski samar, rumah idaman yang bebas kropos, retak, dan pecah. Istana indahlah yang ada dalam benak.

Tukang kayu, keramik, dan dinding sudah terkumpul. Alat-alatpun sudah siap. Tinggal menunggu intruksi dari saya.

Persoalan muncul ketika intruksi yang saya berikan tidak jelas. Memang saya menyampaikan kalau tiang, keramik, dan dinding rumah perlu diperbaiki. Juga sudah saya sampaikan bahan untuk perbaiki tiang, keramik, dan dinding. Hanya saja, modal untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut tidak cukup. Jika si tukang minta tambahan bahan, saya hanya bisa berkata: silahkan cari sendiri! Ini juga sebagai apologi saya. Saya tidak bisa sediakan bahan full.

Kian lama saya intruksikan untuk memperbaiki rumah. Malahan, kian kentara kerusakannya. Bukan hanya bahan yang tidak terpenuhi, tiang, dinding, dan keramikpun kian rusak. Harapan untuk memiliki rumah ideal, nihil tanpa realisasi. Upaya ke situ ada, tapi tangan tak sampai untuk sampai pada asa yang saya gantung. Malahan, makin parah seiring umur yang kian berkurang. Belum lagi, tuntutan untuk segera melengkapi perabot rumah. Hanya bisa membikin pusing.

Berbagai saran dan kritik kerap saya dengar. Bahkan tak jarang, saya yang memintanya. Demi kebaikan rumah yang sedang saya perbaiki. Namun lagi-lagi, tangan tak sampai untuk mengintruksikan tukang perbaiki rumah.

Frustasi saya rasakan tiap hari. Bangun tidur, teringat ketidakbecusan diri. Juga persoalan rumah yang belum direnovasi tiang, keramik, dan dindingnya. Seolah menjadi mimpi buruk, meneror setiap tidur saya. Saat terjaga, mimpi hilang diganti lamunan yang amburadul. Pesimisme juga lambat laun merambat sampai ke ulu hati. Sungguh berat perbaiki rumah yang sudah terlanjut cacat. Mending robohkan, lalu cari lahan untuk ditanami rumah baru.

Mengiringi mimpi buruk dan lamunan pesimistis, instropeksi diri. Merasa bahwa diri tak pantas jadi kepala keluarga, lebih cocok jadi tukang kayu, perbaiki tiang. Tak ahli di bidang keramik dan perdindingan.

Tapi bubur sudah mulai basi. Keahlian pertukang-kayuan saya lama tak diasah. Terlalu fokus pada kerja kepala keluarga, sebagai mandor dari kinerja para tukang. Tanpa ada keahlian, untuk memandori para tukang. Juga memilih bahan yang berkualitas, saya tidak bisa.

Sebagai kepala keluarga, seharusnya sudah saatnya pensiun. Diganti kepala keluarga yang berjiwa muda. Untuk bisa memperkokok tiang keropos. Mengecat dan menambal dinding. Juga mengganti keramik yang pecah dengan baru.

Itu yang saya harapkan. Itu ambisi saya. Mencari orang yang mampu menggantikan saya sebagai kepala keluarga. Memperbaiki tiang, keramik, dan dinding yang cacat. Hanya saja, hingga kini belum menemukan. Ada beberapa yang cukup pantas jadi kepala keluarga, tapi tak mau mereka. Semakin pusing kepala saya, sambil coba semangati diri untuk tetap berpikir bahwa: setiap masalah ada jalan keluarnya, dan dalam sebuah keinginan atau ambisi dan kemauan selalu ada jalan.

Siapapun kalian, yang mau jadi kepala keluarga, perlu dipertimbangkan beberapa poin ini: (1) tidak cengeng, (2) berani berjuang, (3) krearif dan peduli, (4) wawasan luas dan manajemen baik. Dengan demikian, bangunan rumah akan bagus. Bisa ditempati dengan nyaman dan membuat daya jual rumah tinggi. Anggota keluarga, juga bisa menikmati kondisi rumah yang kondusif.

Hanya saja kekhawatiran saya, tak ada yang mau bersedia jadi kepala keluarga. Karena tanpa kepala, tubuh tak mungkin bergerak. Bahkan yang saya takutkan, rumah akan roboh jika tidak segera direfresh kepala keluarganya. Karena hanya kepalalah, yang mampu menggerakkan si tukang kayu, keramik, dan dinding untuk bekerja sesuai kapasitas mereka.

Tapi bagaimanapun kondisi rumah saat ini, saya tetap bersyukur dan masih ada asa untuk perbaikan. Juga harapan perbaikan untuk rumah di masa yang akan datang. Karena, meski saya kepala keluarga, adalah ngontrak. Sewaktu bisa digeser atau tergeser. Tinggal menunggu waktu.

Sampai kapanpun juga, perbaikan dalam segala sudut rumah, menjadi asa saya yang oleh penerus akan dipikul di pundak. Selamat pagi, ambisi!


Jogja, 22 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...