![]() |
| sumber gambar: |
Butuh seharian panas-panasan di sawah untuk mengumpulkan Rp 40.000,-. Ini buruh tani laki-laki. Untuk perempuan, selisih lima ribu lebih rendah. Tentu saja, uang segitu tak cukup untuk biaya sehari-hari, terlebih jika punya anak yang sekolah.
Beberapa hari lalu, saya berkesempatan untuk ikut bercocok tanam di sawah. Waktu itu hari Jum'at. Ini kejadian di sawah bapak yang mempekerjakan dua lelaki tua untuk menanam kacang tanah. Saya dan adik dilibatkan untuk bekerja di sawah, karena bapak mengajar di SD. Liburan panjang anak-anaknya digunakan bapak untuk melatih anaknya untuk kerja.
Karena Jumat, jam kerja hanya sampai pukul 11, kemudian dilanjut setelah duhur, jam satu. Tapi waktu itu, bapak hanya memperkerjakan mereka berdua setengah hari. Sisanya akan diselesaikan sendiri.
Bukan bagian ini yang menarik. Saya melihat, dari komunikasi yang terjalin antar buruh tani. Menarik, karena umpatan dan segala hal yang terucap, penuh dengan misteri. Sampai saya tak bisa memahami makna dari ucapan mereka. Mereka saling balas dengan kode. Kerap juga, mereka melontarkan ujaran yang bernilai filosofis dan nasihat bijak.
Ada satu-dua ujaran yang sepertinya saya paham.
Awalnya, ujaran ini terlontar lantaran kondisi jalan di sekitar dusun sedang dalam pembangunan, maka tak bisa dilalui kendaraan. Semacam sumpah serapah lah.
"Ora ana dalan sing kepenak (nggak ada jalan yang enak)"
"Dalan anak ya kepenak (jalan anak ya enak)"
Paham, bukan? Itulah sepenggal obrolan dua buruh tani yang terekam saya saat menemani mereka bekerja di sawah.
Memang leluconnya berbau selangkangan. Tapi begitulah yang buruh tani lakukan untuk menghibur diri di tengah sergapan panas-letih karena sengatan matahari.
Jadi saya pikir, menarik untuk menggali musabab kebiasaan petani yang saling-serang dengan umpatan. Atau mungkin, sudah ada yang meneliti soal sastra petani (pesisir)? Mengingat begitu tinggi, dalam ukuran saya, nilai sastra yang terkandung di setiap ujaran mereka. Karena sangat disayangkan jika kekayaan local wisdom ini hilang tertiup angin.
Jogja,31 Juli 2016

No comments:
Post a Comment