Wednesday, 31 August 2016

Mencari Tuhan


Pagi sembari menunggu seorang kawan wisuda, iseng saya bacai buku karya Dosen UIN Suska Riau. Namanya, Perdamaian. Bukunya berjudul "Akidah: Implementasinya dalam Kehidupan Modern". Buku ini saya dapat dari hadiah seorang kenalan asal Pati, yang punya usaha percetakan.

Dari judulnya, tentu sudah bisa ditebak bahasan isinya mengarah ke mana. Dalam beberapa bab, yang membuat saya tertarik adalah bab soal pencarian Tuhan (dalam Islam disebut Allah).

Ada empat teori yang lahir dari perjalanan manusia dalam mencari Tuhan-nya, dzat metafisik yang memiliki kuasa di atas kuasa.

Pertama adalah teori KOSMOLOGI. Teori kosmologi memandang bahwa adanya alam semesta sebagai bukti bahwa Tuhan itu ada. Logikanya, setiap yang ada tentu ada yang mengadakan. Kelanjutan teori ini juga mengaitkan dengan sistem gerak, dimana sesuatu yang bergerak pasti ada yang menggerakkan. Gerakan ke-10, misalnya, digerakkan oleh penggerak 9, gerakan 9 oleh penggerak 8, dan seterusnya sampai pada penggerak terakhir yang tidak mungkin digerakkan, karena ia berdiri dan bergerak dengan tanpa batas, maka penggerak inilah yang oleh manusia disebut Tuhan.

Kedua, teori TELEOLOGI. Sebenarnya, kata Perdamaian dalam bukunya, teori teleologi sebagai kelanjutan dari kosmologi. Bahwa adanya sesuatu menunjukkan adanya kesengajaan dalam pengadaannya. Karena faktor kesengajaan ini, tentu, di setiap kejadian di alam semesta, mengandung maksud dan tujuan serta hikmah tertentu. Karenanya, hanya yang mengadakanlah yang paham maksud hakikinya sebuah penciptaan. Ia adalah Tuhan. Semenatara posisi manusia di sini, hanya meraba-raba dan berupaya sekeras mungkin untuk memahami (bukan mengetahui) hikmah, maksud, atau tujuan sesuatu diadakan/diciptakan. Oleh karena itu, pembuktian keberadaan Tuhan berdasar teori ini mengantar manusia pada rasa syukur atas apa yang diadakan Sang Kuasa.

Ketiga, teori ONTOLOGI. Memang, kata penulis buku, teori ini jarang sekali dipakai oleh orang awam. Hanya pemilir ulung dan filosof yang mampu menerapkan teori ini. Bahwa kesempurnaan sesuatu adalah sebagai pertanda adanya yang lebih sempurna, dan kesempurnaan yang lebih menunjukkan bukti wujudnya merupakan pijakan teori ini. Kesempurnaan di atas segala kesempurnaan, merujuk pada wujud Sang Maha Sempurna, Gusti Allah SWT (atau istilah universalnya; Tuhan).

Keempat atau terakhir, adalah teori MORAL. Bahwa wujud Tuhan dapat dibuktikan dalam jiwa manusia, sehingga manusia kenal kewajiban-kewajibannya. Penggagas teori ini adalah Immanuel Kant. Darimana seseorang dapat tunduk pada kebenaran seandainya timbangan kebenaran tidak ada pada jiwanya?

Lebih mudahnya, penulis buku mencontohkan kasus tentang kehidupan dua manusia (Si A dan Si B) dalam satu masa. Si A, misal, membunuh Si B, lalu Si A dapat hidup lama dan berjaya bahkan dapat beribadah dengan baik. Sementara Si B tidak bisa menambah amalannya, karena telah mati. Kasus ini, tentunya, tidak adil jika tak ada yang mengadakan pengadilan yang jujur dan adil, sehingga Si A mesti mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan Si B dapat menuntut tindakan Si A. Pembuat pengadilan itu (dalam islam disebut kampung akhirat; hari pembalasan) mestilah yang lebih mulia dan agung dari Si A dan Si B. Dialah, Tuhan Yang Maha Agung dan Bijak.

Tentu, masih banyak teori semacamnya yang dianut manusia untuk mencari kekuatan yang ada di luar diri manusia. Seperti, adanya fitrah bertuhan dan pengalaman hidup manusia selama hidupnya. Dalam sejarahnya, manusia secara alami merasa ada kekuatan besar di luar dirinya. Kekuatan yang mampu mendatangkan bencana sekaligus kemakmuran. Kekuatan tersebut lalu disimbolkan dengan Dewa-dewa atau semacamnya. Dan manusia, dengan segala keterbatasannya, merasa perlu bersandar pada dewa-dewa tersebut, atau kekuatan besar di luar dirinya. Petani punya (simbol) Dewi Sri. Kejawen punya Sang Hyang Widi, yang semuanya itu merujuk pada kekuatan (berdasar rasa manusia) di luar dirinya yang lebih dahsyat.

Demikian yang saya dapat dari membaca buku beliau Dosen UIN Suska Riau. Ia dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang secara keilmuan (harusnya) mumpuni untuk membicarakan persoalan akidah. Sehingga, saya rasa, tak ada salahnya saya bacai buku ini. Karena hidup adalah proses mencari. Dan membaca sebagai salah satu medianya. Bahkan, merupakan titah dari Sang Kuasa yang termuat dalam Kitab-Nya. Iqra!!! Iqra!!! Iqra!!! Bismirabbika alladzii khalaq!!

Sumber: Perdamaian. Akidah; Implementasinya dalam Kehidupan Modern. Solo: Pustaka Iltizam.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 29 August 2016

Dewasa


Di tahun 2014/2015, ada satu badan otonom tingkat fakultas yang cukup unik. Unik, karena kinerja dan dedikasi para anggotanya tak tercampuri politik golongan. Dikata unik juga karena, secara basis gerakan dan 'partai', mereka sangat kuat. Pimpinannya dari KeMPed. Koordinator Divisi A dari IMM, bahkan ketua komisariatnya. Koordinator Divisi B dari PMII. Dan seterusnya.

Saya, sebagai orang yang awam politik bedecak kagum. Baju mereka beragam, tapi setelah masuk badan otonom yang bergerak di bidang pers, sepakat untuk melepas semua baju itu, telanjang, kemudian mengenakan baju yang sama: pers mahasiswa.

Satu di antara 9+1 elemen jurnalisme, seorang jurnalis harus berpihak kepada kebenaran. Kebenaran yang mana? Kebenaran yang digali dengan proses jurnalistik yang sifatnya fungsional. Kebenaran, yang dibutuhkan masyarakat, bukan golongan tertentu terlebih pemodal. Jika bicara soal keberpihakan dalam konteks praktik pers umum, saya angkat tangan. Karena pemodallah dalang dari segala yang keluar dari pena para wartawan dan jurnalis. Saya lebih senang bicara untuk konteks pers mahasiswa. Pers yang diisi oleh mahasiswa, yang merupakan kaum idealis penuh Gebrakan.

Praktik pers mahasiswa yang saya maksud adalah yang sudah disebutkan di atas. Pers yang diisi oleh berbagai elemen penuh kepentingan, namun mampu melebur dan bersepakat untuk menyamakan persepsi serta memperjuangkan nilai yang sama. Tentu, mereka bukanlah orang biasa. Mereka bukan sebatas 'pengikut taklid' dari sebuah partai. Mereka berpikir!!!

Ini yang saya sebut sebagai 'laku dewasa'. Sesuai dengan definisi dewasa, yaitu mampu membedakan mana yang baik dan buruk, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa saja yang diamanahkan kepadanya. Bahwa melepaskan baju 'kepartaian' lalu mengenakan baju bersama bernama pers mahasiswa adalah sebuah pilihan. Namun, dari pilihan ini, akan tampak siapa yang mau berpikir dewasa dan tidak.

Salah satu elemen penyusun bangunan kedewasaan adalah tanggung jawab. Ini yang saya rasa cukup sulit diamalkan, bahkan saya (yang menulis tulisan ini) tak mampu mempraktikannya dengan baik. Banyak amanah yang belum saya amalkan, terlebih yang sifatnya etika-moral.

Saya melihat kolaborasi antara tanggung jawab dan melepas kepentingan 'partai' ada pada tubuh pers mahasiswa yang saya ceritakan di atas. Misalnya saja, salah seorang koordinator pernah berbincang dengan saya. Ia orang 'partai'. "Sebagai koord divisi A, saya memiliki tuntutan untuk banyak membaca dan belajar. Agar bisa menjawab (atau paling tidak memfasilitasi) segala kegelisahan anggota," katanya di ujung tahun 2015.

Tentu, menilai, memuja, atau mencemooh orang di luar diri kita terasa begitu mudah. Namun, itulah kebiasaan kita yang mampu membuat kita bahagia, meski sebagian terpuruk dengan capaian orang lain. Yang luput adalah, melihat potensi dalam diri yang terendam lumpur keegoisan. Tertutup rapat oleh kepentingan politik yang tak lain adalah stimulus dari lingkungan di luar kita.

Kita dicipta diberi kuasa untuk memilih. Memilih belajar dewasa atau tidak, itu hak setiap kita. Namun, jika hidup dalam satu payung dengan beberapa orang, seremeh apapun pilihan kita, akan mempengaruhi setiap individu yang terpayungi tersebut.

Mohon maaf jika apa yang saya tuliskan tidak sesistematis seperti tulisan para penulis opini, esai atau artikel semacamnya di koran. Ngapunten juga, jika siapapun kamu yang sudi membaca tulisan ini, sulit untuk memahami atau mungkin cepat merasa bosan. Karena saya bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.

Saya hanya berharap, tulisan ini tidak dibaca olehmu. Agar di suatu hari nanti tidak mempengaruhi keputusanmu. Kamu punya kuasa atas dirimu, dan masyarakat membutuhkanmu sebagai sebenar-benar dirimu (baca: manusia).

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 28 August 2016

Sebenarnya, tidak Sepenuhnya Salah Kalian


"Sebenarnya, tidak sepenuhnya salah kalian tidak bisa seradikal zaman kami. Angkatan kamilah yang gagal menyiapkan kader radikal, yang dengan lantang mengoyak kemapanan kampus dan birokrasinya," kata Lutfi, aktivis perempuan lintas UKM yang menyukai bidang seni, di satu waktu di warung kopi.

Tentu, kutipan yang saya ambil, tidak murni ucapannya. Karena lemahnya daya ingat saya, hingga hanya intinya sajalah yang sampai kini masih ingat.

Ungkapan tersebut terlontar di tahun 2015, saat saya baru hangat-hangatnya menjadi pimpinan. Ini sebagai respon dari sepinya kampus rakyat dari aksi-aksi mahasiswa. Juga sebagai respon minimnya komunikasi antar UKM atau LKM. Terlalu sibuk dengan urusan internal. Sebuah kemunduran yang luar biasa besar efeknya.

Kaderisasi yang gagal, ditambah kebijakan kampus yang kian mengikat, tak mampu banyak menghasilkan mahasiswa aktivis yang radikal. Jarang sekali ditemui, aktivis yang secara intelektual matang, sosialnya juga jalan.

Sekali lagi, ini bukan kesalahan dari angkatan kalian. Ini adalah produk kegagalan kaderisasi.

Namun, apakah rela kalian menyerahkan kemudi masa kini dan masa depan pada kegagalan kaderisasi? Memang, keradikalan diri akan lebih mudah terbentuk dari proses kaderisasi yang matang dan terukur. Namun, apakah kalian, sebagai mahasiswa yang (katanya) memegang kendali diri sendiri, tak mampu mengkader diri sendiri? Dengan banyak baca dan berdialektika bareng kawan-kawan yang radikal mungkin. Kan bisa dijadikan alternatif.

Jika cerita proses kaderisasi diri, malu saya. Saya adalah kader gagal dari sebuah organ ekstra. Sekaligus, kader gagal pula dari sebuah organ intra. Yang ekstra, tidak sesuai ekspektasi. Sementara yang intra, tidak memiliki sistem kaderisasi yang mapan. Jadi kesimpulannya, saya adalah kader gagal. Karenanya, saya coba mencari alternatif untuk membuat diri radikal. Karena sudah saya rasakan, hidup setengah akademis-aktivis-hedonis, adalah siksaan neraka di dunia.

Jogja, 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 26 August 2016

Untuk Dinda



Tahu kamu, dinda, kenapa abang hampir tiga semester tidak menyentuh makhluk menjijikan (istilah para aktivis penikmat kopi) yang bernama skripsi? Kenapa, setiap dinda bertanya soal aktivitas harian abang, selalu saja sama jawabannya: ngopi?

Begini, dinda, abang ceritakan sedikit pengalaman menjadi mahasiswa yang memiliki kemampuan pas-pasan dalam bidang akademik, dan setengah (hati) berorganisasi. Abang bukan akademis, juga bukan aktivis ataupun organisatoris. Tetap, abang mahasiswa yang sebelum dibebani tugas makalah oleh dosen, terlebih dahulu dijadikan boneka mainan penghibur senior, sama sepertimu dulu. Abang juga mahasiswa yang ketika dibentak diam seketika, ketika baju abang masih seperti tahi cicak, putih-hitam. Abang sama sekali tidak mengalami perubahan yang berarti.

Dinda, tiga tahun abang hidup berorganisasi. Tapi, sampai tahun ketigapun, abang belum bisa memahami dirimu, dinda. Apa yang kamu mau dan apa saja yang kamu senangi, sama sekali belum abang hafal. Abang hanya tahu, bahwa dinda adalah mahasiswa, yang geram dengan kelakuan dosen yang semena-mena. Merasa selalu dipermainkan dosen tapi tak memiliki tangan yang cukup kuat untuk menampar pipi mereka. Tapi, dinda, memang begitulah hidup seorang mahasiswa di kampus kita tercinta.

Sebatas itu, dinda, yang abang tahu tentang kamu. Tiga tahun hidup berorganisasi, tak mampu menjawab teka-teki yang terselip dari kedipan matamu, tetesan air matamu, dan jeritan hatimu yang begitu lirih tapi memekakkan telinga. Sudah berapa tahun, sih, kamu kok nggak peka-peka, katamu pada abang berkali-kali.

Dinda, abang juga bingung kenapa dalam beberapa hal abang belum bisa sepeka dirimu. Entah apa yang salah dengan abang. Tapi, dinda, tahukah dirimu, ketika abang melihat ibu-ibu rembang jatuh sempoyongan dipukul Anjing penjaga Semen, jatuh air mata abang. Gemuruh dalam dada abang, begitu terasa dan cukup berhasil membuat kepala abang panas oleh darah yang mendidih. Asu, kata abang dalam hati (meski dalam lingkungan abang, kata asu adalah saru). Hati abang juga terasa tersayat-sayat ketika menyaksikan film dokumenter 'Alkinemokiye', jasad-jasad orang papua yang tertembus peluru misterius. Juga aksi demonstrasi mereka yang disambut berondongan peluru aparat, yang membuat beberapa orang berdarah-darah. Ditembaki, layaknya binatang. Dinda, abang sakit melihat itu semua. Dan lagi-lagi, tangan kurus ini tak mampu berbuat banyak, selain mengganti DP BBM atau share tautan di fb, sebagai bentuk solidaritas. Dinda, kenapa, abang tetap tak bisa peka denganmu? Bukankah solidaritas yang abang lakukan, tak lain merupakan efek samping dari kepekaan? Peka seperti apa, dinda, yang kau tuntut muncul pada diri abang?

Dinda, tiga tahun berorganisasi, abang belum bisa memaknai peka yang kamu maksudkan. Abang belum mampu, menyunggingkan bibirmu barang setengah senti, karena dorongan rasa hangat dari dalam hati. Hanya saja, dinda, abang belajar satu hal yang (menurut ukuran abang) mahal harganya. Yaitu: perjuangan.

Perjuangan, dinda. Perjuangan yang butuh banyak pengorbanan. Memang dalam pandanganmu, abang seperti orang bodoh yang mengurusi urusan orang lain. Sementara urusan sendiri, terbengkelai dan sama sekali tak tersentuh. Tapi, perlu dicatat, dinda, bahwa abang tak mengatakan sudah mampu berkorban untuk sebuah perjuangan. Karena, masih katamu, abang adalah pengecut yang tak mampu berkorban untuk sebuah komitmen. Komitmen yang sudah lahir lebih dari tiga tahun. Bahkan, lebih tua dari umur abang di organisasi.

Tapi entah kenapa, dinda, abang merasa arti 'perjuangan' begitu berarti dalam hidup abang. Kata yang baru abang kenal di ujung umur tiga tahun abang di organisasi. Bukan perjuangan yang kamu harapkan, dinda, sama sekali bukan. Ini lebih besar.

Dinda, boleh kamu bilang abang ini bodoh. Tolol, masih mengurusi sesuatu yang tidak ada timbal balik, dalam hal manfaat, bagi abang. Tapi tolong, sekali lagi tolong, jangan kamu sepelekan apa yang abang perjuangkan. Memang abang tak berhasil menerjemahkan perjuangan ini dengan bahasa yang kamu pahami. Karena memang abang tak mahir. Tapi, percayalah, dinda, apa yang abang perjuangkan, secara tidak langsung berdampak positif bagi kehidupan kamu dan abang juga.

Abang teringat seorang kawan, dinda. Ia mengatakan bahwa dosennya pernah bilang tentang dirinya di ruang perkuliahan: ini nih, aktivis sesungguhnya. Memperjuangkan apa yang diyakini benar.

Dinda, sudah jelas, bukan? Itu perkataan dosen, loh, meski bisa jadi sebatas pencitraan atau semacamnya. Tapi coba dipikir! Orang berjuang, tentu paham dengan yang diperjuangkan. Begitu juga dengan abang, dinda. Dalam benak dan rasa, apa yang diperjuangkan abang sudah benar. Karena benar, maka abang perjuangkan mati-matian.

Dinda, bagaimanapun juga kamu punya andil besar dalam segala keputusan abang. Dan perjuangan abang yang mati-matian ini, kamu tanggapi dengan rasa geram dan tak terima. Kamu tanggapi dengan sinis. Malahan, kamu menyalahkan abang karena telah mengorbankan banyak waktumu untuk perjuangkan apa yang abang yakini benar. Dengan menahan agar mata tak menetes airnya, kamu berucap: gara-gara kamu, aku sia-siakan dua semesterku hanya untuk menunggumu. Sekarang aku baru sadar.

Abang berjuang, tapi kamu, dinda, mematahkannya. Tapi, abang tak bakal tega menyalahkanmu, dinda. Karena bagaimanapun, abang yang salah, karena tak mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya, utamanya kamu. Bahkan, hanya jadi kerikil yang kerap menjadi sandungan. Juga, karena ketidakmampuan abang menggerakkan kaki dan tangan, sehingga membuat tubuh tak seimbang, atau dalam istilahmu: bagai telur di ujung tanduk.

Akhirul kalam, dinda, abang hanya ingin jujur: bahwa abang akan lanjutkan perjuangan ini. Hanya saja, perjuangan mana yang layak diperjuangkan? Biarah itu jadi PR abang, kamu tidur manis saja sana, dan cepat usap air mata yang merembes dari ujung bola matamu. Jangan cengeng!!!!

Jogja, 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 23 August 2016

Ambisi


Ini soal ambisi pribadi. Positif saya kira. Karena, ambisi yang saya gebu-gebukan tak lain hanyalah untuk perbaikan. Perbaikan rumah yang sebagian tiangnya keropos. Juga banyak lantai yang keramiknya sudah pecah-pecah. Dindingnya, sebagian retak.

Saya dengan polosnya, menyalahkan kepala keluarga yang kurang becus dalam merawat rumah. Dan karena itu, saya merasa perlu menggantikannya. Saya butuh dukungan untuk menjadi kepala keluarga, dengan jalan menemui kepala keluarga tersebut. Juga dukungan anggota keluarga, untuk menjadikan saya kepalanya. Dengam begitu, saya bisa memperbaiki segala kerusakan yang ada di bangunan rumah tersebut.

Saya butuh ahli kayu. Dan ahli kayu butuh kawan untuk mengerjakan tugasnya. Ahli keramik, juga sangat saya butuhkan. Tukang cet dan tambal dinding, saya pilih sesuai kapasitas mereka (dalam ukuran saya). Sehingga harapan untuk memperbaiki rumah tercapai.

Di waktu momentum pemilihan pengganti kepala keluarga, terpilihlah saya. Tentu, ini menjadi satu jalan menuju perbaikan. Tergambar, meski samar, rumah idaman yang bebas kropos, retak, dan pecah. Istana indahlah yang ada dalam benak.

Tukang kayu, keramik, dan dinding sudah terkumpul. Alat-alatpun sudah siap. Tinggal menunggu intruksi dari saya.

Persoalan muncul ketika intruksi yang saya berikan tidak jelas. Memang saya menyampaikan kalau tiang, keramik, dan dinding rumah perlu diperbaiki. Juga sudah saya sampaikan bahan untuk perbaiki tiang, keramik, dan dinding. Hanya saja, modal untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut tidak cukup. Jika si tukang minta tambahan bahan, saya hanya bisa berkata: silahkan cari sendiri! Ini juga sebagai apologi saya. Saya tidak bisa sediakan bahan full.

Kian lama saya intruksikan untuk memperbaiki rumah. Malahan, kian kentara kerusakannya. Bukan hanya bahan yang tidak terpenuhi, tiang, dinding, dan keramikpun kian rusak. Harapan untuk memiliki rumah ideal, nihil tanpa realisasi. Upaya ke situ ada, tapi tangan tak sampai untuk sampai pada asa yang saya gantung. Malahan, makin parah seiring umur yang kian berkurang. Belum lagi, tuntutan untuk segera melengkapi perabot rumah. Hanya bisa membikin pusing.

Berbagai saran dan kritik kerap saya dengar. Bahkan tak jarang, saya yang memintanya. Demi kebaikan rumah yang sedang saya perbaiki. Namun lagi-lagi, tangan tak sampai untuk mengintruksikan tukang perbaiki rumah.

Frustasi saya rasakan tiap hari. Bangun tidur, teringat ketidakbecusan diri. Juga persoalan rumah yang belum direnovasi tiang, keramik, dan dindingnya. Seolah menjadi mimpi buruk, meneror setiap tidur saya. Saat terjaga, mimpi hilang diganti lamunan yang amburadul. Pesimisme juga lambat laun merambat sampai ke ulu hati. Sungguh berat perbaiki rumah yang sudah terlanjut cacat. Mending robohkan, lalu cari lahan untuk ditanami rumah baru.

Mengiringi mimpi buruk dan lamunan pesimistis, instropeksi diri. Merasa bahwa diri tak pantas jadi kepala keluarga, lebih cocok jadi tukang kayu, perbaiki tiang. Tak ahli di bidang keramik dan perdindingan.

Tapi bubur sudah mulai basi. Keahlian pertukang-kayuan saya lama tak diasah. Terlalu fokus pada kerja kepala keluarga, sebagai mandor dari kinerja para tukang. Tanpa ada keahlian, untuk memandori para tukang. Juga memilih bahan yang berkualitas, saya tidak bisa.

Sebagai kepala keluarga, seharusnya sudah saatnya pensiun. Diganti kepala keluarga yang berjiwa muda. Untuk bisa memperkokok tiang keropos. Mengecat dan menambal dinding. Juga mengganti keramik yang pecah dengan baru.

Itu yang saya harapkan. Itu ambisi saya. Mencari orang yang mampu menggantikan saya sebagai kepala keluarga. Memperbaiki tiang, keramik, dan dinding yang cacat. Hanya saja, hingga kini belum menemukan. Ada beberapa yang cukup pantas jadi kepala keluarga, tapi tak mau mereka. Semakin pusing kepala saya, sambil coba semangati diri untuk tetap berpikir bahwa: setiap masalah ada jalan keluarnya, dan dalam sebuah keinginan atau ambisi dan kemauan selalu ada jalan.

Siapapun kalian, yang mau jadi kepala keluarga, perlu dipertimbangkan beberapa poin ini: (1) tidak cengeng, (2) berani berjuang, (3) krearif dan peduli, (4) wawasan luas dan manajemen baik. Dengan demikian, bangunan rumah akan bagus. Bisa ditempati dengan nyaman dan membuat daya jual rumah tinggi. Anggota keluarga, juga bisa menikmati kondisi rumah yang kondusif.

Hanya saja kekhawatiran saya, tak ada yang mau bersedia jadi kepala keluarga. Karena tanpa kepala, tubuh tak mungkin bergerak. Bahkan yang saya takutkan, rumah akan roboh jika tidak segera direfresh kepala keluarganya. Karena hanya kepalalah, yang mampu menggerakkan si tukang kayu, keramik, dan dinding untuk bekerja sesuai kapasitas mereka.

Tapi bagaimanapun kondisi rumah saat ini, saya tetap bersyukur dan masih ada asa untuk perbaikan. Juga harapan perbaikan untuk rumah di masa yang akan datang. Karena, meski saya kepala keluarga, adalah ngontrak. Sewaktu bisa digeser atau tergeser. Tinggal menunggu waktu.

Sampai kapanpun juga, perbaikan dalam segala sudut rumah, menjadi asa saya yang oleh penerus akan dipikul di pundak. Selamat pagi, ambisi!


Jogja, 22 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 22 August 2016

Pers Mahasiswa


Mendengar namanya saja sudah bikin bergetar hati saya. Pers mahasiswa! Tentu tersemat kata keren, joss, luar biasa, dan sebagainya pada para pegiat pers mahasiswa. Merekalah, para jurnalis mahasiswa. Orang-orang yang berkomitmen tinggi untuk mengawal segala kebijakan kampus dan mahasiswa. Mereka ada untuk keadilan.

Ingat? Mereka ada untuk keadilan. Amboi, betapa berat tugas yang dibebankan mereka. Keadilan, mereka tegakkan dengan goresan pena. Pena yang dalam sejarahnya, berlumuran darah. Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, mati karena penanya. Tirto Adhi Soerjo, diasingkan dan dihapus dari ingatan sejarah, karena pena tajamnya. Sehari sebelum kemerdekaan RI ke-71, dua wartawan medan babak belur karena penanya. Berat bukan jadi mereka? Jurnalis (mahasiswa). Karena keadilanlah yang mereka tegakkan. Dan, selalu, keadilan butuh tumbal. Ini yang menjadi alasan saya, untuk mengatakan bahwa jurnalis mahasiswa adalah keren, joos, luar biasa. Berperang melawan ketidakadilan, pasang badan taruhan nyawa.

Mereka keren, joos, dan luar biasa. Tentu hanya orang dengan komitmen tinggi yang memilih jalan ini. Jalan perjuangan menjadi jurnalis mahasiswa. Sebagaimana yang dialami Benfa, jurnalis pers mahasiswa Natas Universitas Sanata Dharma beberapa waktu lalu, yang diintimidasi karena ke-Indonesia Timur-an dia saat meliput aksi kepolisian yang mengepung asrama Papua. Ada juga jauh sebelum Benfa, kasus jurnalis mahasiswa karena ke-bidikmisi-annya, dihina dan direndahkan dosen karena kritikannya ke kampus. Bahkan dibilang kira-kira begini: sudahlah, kamu itu kan miskin, bidikmisi, mbok ya diam saja!!

Ini kan artinya, jalan jurnalis mahasiswa tak lain jalan terjal penuh onak-duri. Karena komitmennya menegakkan keadilan. Keberaniannya jujur pada publik, memberitakan suatu realitas lapangan tanpa diplintir layaknya kelakuan wartawan media mainstream. Juga karena komitmen dan kejujurannya ini, banyak pihak yang merasa terganggu. Penguasa (kampus) kebakaran jenggot, robek gendang telinganya. Dengan tangan besinya, ia pukul jurnalis mahasiswa, dari segala lini: pendanaan, ijin terbit, intimidasi, dst.

Yang saya ceritakan tadi, bung, semata realita yang saya lihat menimpa pers mahasiswa. Pers yang sudah cukup mapan dari segi manajemen dan bekal kejurnalistikkannya. Yang sudah punya komitmen tinggi untuk mengabdi pada idealisme yang berselimut keadilan.

Lah, trus pers mahasiswa yang mati segan hidup tak mampu? Anggota bisa kumpul di warung kopi tak habis jari sebelah tangan saja sudah bersyukur. Ada berita kegiatan di portal online, satu minggu satu karya saja, sudah prestasi. Bisa saling curhat masalah pribadi, prestasi sekali. Jika memang sudah demikian halnya, jangan salahkan ibu mengandung, atau  diri sendiri yang kurang beruntung. Tapi salahkanlah kampus yang dengan kebijakannya, sangat mengungkung dan kurang mendukung. Juga silahkan, salahkan saja para punggawa yang tak becus mengurus kader. Namun lagi-lagi, nasi sudah menjadi tahi. Ketidakbecusan para punggawa, ke-ironis-an kampus, mau disikapi seperti apa olehmu? Kecam? Salahkan? Atau tinggalkan? Itu pilihan! Yang jelas, ketidakbecusan para punggawa memang upaya maksimal yang mereka lakukan untuk meminimalisir ketidakbecusan mereka. Upaya maksimal untuk menyiapkan kader yang tahan banting dan punya semangat berkarya. Silahkan saja mereka salahkan, tapi ingat, kalian adalah kader mereka! Semangat menegakkan keadilan, kini ada di pundak kalian. Apa kalian akan diam saja?

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 21 August 2016

Mati yang Menghidupkan


Mati yang Menghidupkan
Selasa, 26 Juli 2016, di sore hari. Bebek yang jumlahnya Sembilan hanya pulang ke kandang tiga ekor. Itupun, dua diantaranya lumpuh. Ini membuat bapak dan ibu gelisah. Utamanya bapak, ia sehabis maghrib membawa senter, keliling lewat belakang pekarangan rumah para tetangga untuk mencari enam bebek yang hilang. Dalam bayangan saya, pasti tiap kali berpapasan dengan tetangga, ia akan ditanya sekaligus bertanya dan menjawab bahwa dirinya sedang mencari bebek.
Bermenit-menit mengusahakan cari bebek, bapak tak membuahkan hasil. Lesu bapak pulang ke rumah, meski belum surut keinginan untuk mencarinya.
Rabu, 27 Juli 2016, seusai bapak pulang dari sekolah. Ada saudara berkunjung ke rumah untuk berbincang dengan ibu. Ia mengatakan bahwa ada bebek di samping rumahnya, siapa tahu milik bapak. Ia ceritakan kepada ibu, lalu diulang ke bapak. Entah apa yang membuat bapak seakan tak rela bebeknya hilang, ia setelah melepas seragam sekolah, langsung menuju tempat yang ditunjukan saudaranya.
Dengan diiringi dua anak kecil seumuran 3-5 tahun, bapak mencari-cari bebeknya. Dan hasilnya; nihil. Sampai sini, sudah tidak ada harapan lagi bebeknya kembali. Sudah menyerahkan pada nasib, bahwa dalam pikirnya, bebek yang enam itu lumpuh entah di pekarangan siapa, lalu mati secara massal.
Kamis, 28 Juli 2016, di pagi hari. Waktu itu bapak sudah berangkat sekolah dan ibu ke pasar. Saya iseng menengok tiga bebek yang ada di kandang. Satu dari dua bebek yang lumpuh, sudah tergeletak kaku dengan mata terpejam. Saya coba sentuh menggunakan ujung kayu, dan tidak menunjukkan tanda kehidupan. Tumbanglah bebek tersebut.
Kebetulan, ada pacul tak jauh dari kandang. Saya mencari tanah pekarangan untuk membumikan jasad kaku seekor bebek. Ketemu, saya gali tanah di antara pohon jambu biji dan pohon pisang. Pikir saya, agar ketika jasad bebek tersebut busuk, bisa menjadi pupuk pohon di sekitarnya. Agar kematiannya tidak sia-sia (memang tak ada mati yang sia-sia).
Sekira 40 cm saya gali lubang tersebut. Saya ambil jasad bebek di kandang menggunakan cangkul dan saya masukkan ke lubang. Posisinya, kepala berada di sebelah timur. Sepintas saya ingat apa yang dikatakan Dr. Dzakir Naik, pendakwah asal India saat membandingkan upacara pemakaman orang Muslim dan salah satu agama (kepercayaan) di Hindia. Di Hindia, orang mati dibakar sebagai bentuk ritual pemakaman. Yang tentu membutuhkan kayu bakar banyak dan polusi yang dihasilkan juga mengganggu. Berbeda dengan Islam, yang mengajarkan untuk mengubur jasad di tanah. Sebagaimana dikisahkan Qobil mengubur saudaranya, Habil, dengan petunjuk burung gagak yang mengubur lawan tarungnya karena tewas.
Pemakaman dengan media tanah adalah ramah lingkungan. Tidak menimbulkan polusi dan membutuhkan biaya yang tidak terlalu besar; kecuali di kota yang harus membeli lahan kubur.
Ini yang membuat saya mantap untuk mengubur jasad bebek. Karena jasadnya yang membusuk, akan menyuburkan tanaman di sekitarnya. Mati tapi menumbuhkan spesies lain.
Tak sampai satu jam berselang, bebek yang lain juga mati kaku. Saya panggil adik untuk mengubur jasad bebek tersebut. Ia memilih lokasi di dekat pohon pisang.
Baru saja dikubur, ayam beserta anak-anaknya mengais-ngais gundukan tanah kubur. Ini sebagai bukti, bahwa dari hasil galian dan urugan untuk membumikan jasad bebek, ada sumber makanan hewan lain; ayam. Jasad bebek, bisa memberi makan ayam betina satu beserta anak-anaknya. Coba bayangkan jika bebek itu dibakar; mungkinkah ada ayam atau hewan lain yang mendekat?
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 17 August 2016

Jamaah Shalat Maghrib


Jamaah Shalat Maghrib Jadi Banyak
Jamaah Shalat Maghrib hari ini yang terbanyak. Ujar laki-laki berkumis lebat, setelah masuk ke shaf paling depan. Imam shalat baru saja selesai menertibkan jamaahnya. Dan beberapa jamaah masih terkagum-kagum dengan jumlah jamaah yang mbludak. Terdengar juga dari shaf belakang, seorang laki-laki berujar; ini kayak mau tarawih saja. Sementara itu, anak-anak kecil bersorak sorai, kegirangan, di halaman masjid. Adapun jamaah perempuan, ada sebagian yang masih asyik bercengkerama. Sebagian lagi tak kedengaran suaranya, barangkali sedang fokus untuk berjamaah.
***
Rabu 29 Juni 2016, masjid (musholah) di kampungku  begitu ramai dipadati orang tua-muda, laki-perempuan, dan anak kecil. Kira-kira jam 5 sore lebih seperempat mereka sudah kumpul di masjid. Kotakan putih tertata rapi di teras masjid. Sebelah utara masjid berdiri sederhana perpustakaan sekolah dasar. Di terasnya juga, kotak-kotak putih tertata rapi. Ada juga bergelas-gelas es buah. Sementara kaum bapak, menanti dengan sabar, duduk tak jauh dari kotakan-kotakan itu.
Radio yang diputar masih berisi nyanyian-nyayian islami. Pertanda, waktu berbuka belum tiba tapi barang sebentar menunggu pasti datang juga. Karena nyanyian-nyanyian itu sebagai pertanda waktu berbuka akan tiba.
Kaum laki-perempuan, tua-muda menanti dengan menelan ludahnya sendiri, melihat gelas es buah yang mengembun. Menanti waktu berbuka yang tinggal beberapa menit saja. Bunyi sirine menandakan waktu buka telah tiba, dan segera es buah dan nasi kotak yang tersedia, dilahap. Keramaian yang sebentar tadi terdengar, hilang. Diganti dengan suara kerongkongan yang kemasukan es buah dan air teh hangat yang tersedia. Bunyi sirine telah berhenti, tak langsung disambung kumandang adzan.
Tanpa komando, kaum laki-laki menempati teras perpustakaan. Sementara ibu-ibu serta anaknya di teras masjid. Sambil bercengkerama, sambil menikmati hidangan berbuka bersama. Tak ada yang protes dengan menunya, karena cukup mewah untuk ukuran orang desa; nasi, daging ayam, mie campur kol, dan jeruk sebagai hidangan penutup. Tentu makanan semacam ini hanya bisa ditemukan di resepsi-resepsi pernikahan atau khitanan. Selain itu, jarang.
Yang membawa anak, menyuapi anaknya. Remaja berkumpul dengan remaja, dan sebagian lagi menyebar, mencari tempat yang nyaman untuk makan.
Masyarakat patut berterima kasih dengan keluarga yang menyediakan menu buka bersama secara cuma-cuma. Mereka lima bersaudara yang masing-masing telah berkeluarga dan mempunyai anak. Kebetulan, letak rumahnya pun berdekatan. Jika diamati, para tetanggaku tak lain adalah keluarga besarku, meski secara keturunan jauh. Lima saudara tersebut juga masih memiliki pertautan saudara denganku, dari jalur nenek. Orang tua mereka, kakak beradik dengan nenekku dari pihak bapak yang di tahun 2006 dipanggil Yang Maha Kuasa.
100 boks nasi mereka siapkan untuk para tetangga, dengan es buah dan teh manis sebagai hidangan pembuka. Meski sehari sebelumnya sudah diumumkan lewat pengeras suara masjid, tapi tetap 100 boks nasi itu tak habis.
***
Jamaah Shalat Maghrib tetap mengangkat kedua tangannya, takbir, dengan rasa heran yang masih bergelayut. Yang biasanya satu shaf, kala itu bisa mencapai tiga shaf. Tak seperti biasanya, suasana di dalam masjid tak ramai. Mungkin karena anak-anak kecil bermain di halaman masjid, jadi tak seramai biasanya. Jamaah pun bubar seusai shalat maghrib, dan sebagian membawa boks nasi yang masih tersisa. Kembali, mushola lenggang.
***
Jika kamu bertanya apa hikmahnya menuliskan sepenggal kisah masyarakat desa, tentu akan aku jawab: begini, coba dengarkan (baca: baca) dulu uraianku di bawah ini!  
Ada beberapa poin yang menurut ukuranku cukup menarik di sini.
Pertama, kesadaran masyarakat untuk saling berbagi. Kamu bayangkan saja, ini kali pertama setelah dua tahun dibangun masjid, dan puluhan tahun melewati ramadhan, ada acara buka bersama. Sebenarnya tahun lalu ada, tapi tidak semeriah tahun ini. Dulu perseorangan, namun sekarang ditanggung lima keluarga. Buka bersama ini kali kedua selama ramadhan.
Ceritanya, dulu waktu aku masih ingusan, kampuku ini tempatnya para pemabok, penjudi, dan pencuri. Sementara pantai 3 km di selatan rumahku, kerap dijadikan istana untuk mesum. Kehidupan masyarakat pun pas-pasan. Tingkat pendidikan rendah. Banyak anak baru tamat sekolah menengah pertama, pergi ke Bandung atau Jakarta untuk kerja. Ada juga, remaja gadis umuran SMP dan SMA yang kedapatan hamil sebelum lulus. Tentu, banyak pasangan belia di kampungku.
Tingkat ekonomi rendah, berdampak pada pendidikan yang tak terjangkau. Untuk makan saja susah, apalagi menyekolahkan anak. Lagi-lagi, efek kapitalisme pendidikan begitu terasa. Terlebih, sebelum ada kebijakan BOS, oh, betapa menderitanya.
Beberapa tetanggaku, sepulang sekolah langsung mengembala kambing di dekat pantai. Sebagian mencari rumput. Mereka perempuan, bukan laki-laki. Mau berdagang emansipasi di sini? Tak laku. Entah nasib perempuan itu kini seperti apa. Sebatas pengetahuanku, mereka bekerja di kota.
Tapi, penderitaan tempo dulu itu terbayarlah sudah hari ini. Anak-anak putus sekolah yang merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah, pulang dengan rezeki melimpah. Rumah-rumah gedeg, diganti tembok. Sawah-sawah di depan rumahku, ditumbuhi beberapa bangunan rumah. Dilihat kasat mata, makmur, bukan?
Hanya saja, sebagaimana kata kakak kelasku ketika mengiming-imingiku agar masuk LIPIA (sekolah tinggi Islam di Jakarta, di naungi langsung oleh pemerintah Mesir, setahuku), bahwa kampungku ini gersang sekali. Bukan tanahnya, melainkan hati masyarakat. Memang benar, sampai sekarang, pendidikan agama di kampungku masih minim. Hanya saja, bedanya, kini kepedulian masyarakat akan pendidikan agama kian tebal. Pengajian-pengajian yang diselenggarakan di masjid, sepertinya membuahkan hasil. Ada juga sebagian orang mendatangi bapak, untuk bertanya soal agama. Kalau tidak tahu, bapak akan bertanya ke orang yang lebih tahu soal agama. Begitu adanya.
Aku pikir, hal-hal semacam itu yang membuat masyarakat kini memiliki kepedulian tinggi. Mau berbagi dengan sesama, walau beberapa kali aku dengar, alasannya karena iming-iming pahala yang besar. Tapi siapa tahu ada maksud terselubung dari mereka; misalnya memang benar-benar karena ingin berbagi. Hanya saja mereka tutupi dengan alasan mencari pahala? Kan, siapa tahu.
Kedua, kerukunan. Lima keluarga ini, menarik untuk dijadikan teladan. Tentu banyak hikayat yang menceritakan perebutan warisan dengan saudara kandung. Tak jauh-jauh, di kampungku saja ada kasus semacam itu. Lagi-lagi, himpitan ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. Juga keserakahan.
Tapi ini, lima keluarga, bisa akur. 100 boks nasi, dibagi 5. Jadi masing-masing keluarga menyediakan 20 boks nasi. Aku rasa, alasan karena untuk meringankan beban masing-masing keluarga kurang tepat. Ini lebih dari persoalan ekonomi. Tapi merekatkan ukhuwah Islamiyah itu yang terpenting. Karena dalam pembagian itu, pastilah ada komunikasi. Komunikasi, di manapun, menjadi sebab hancur-tidaknya sebuah bangunan.
Mereka berlima memang cerdas dalam penglihatanku. Soal siapa yang menginisiasi, biarlah jadi rahasia ilahi. Yang jelas, upaya mereka bisa dinikmati banyak orang, dan satu-dua orang merasa kagum dengan gebrakannya. Setelah ini, ada satu agenda buka bersama lagi. Entah karena terinspirasi mereka atau tidak, agenda buka bersama yang akan datang, juga dengan model yang sama; patungan.
Ketiga atau terakhir, berkat agenda buka bersama ini, jamaah shalat manghrib bertambah banyak.
Tiga alasan ini yang mendorongku untuk menulis kisah mereka.

Selesai ditulis di ruang tamu, sekitar pukul 09.22 WIB pagi. (30/06/2016).
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 16 August 2016

Hikayat Teh Gelas


Hikayat Teh Gelas di Kampungku
Teh Gelas, tentu kamu tak asing dengan merk ini. Teh kemasan yang belakangan mampu memikat hati masyarakat, setidaknya masyarakat di kampungku. Entah apa sebab, teh manis atau es teh di warung tergeser dengan produk kapitalis yang satu ini. Sekarang banyak sekali, baik muda maupun tua, pergi ke warung (karena di rumah saya ada warung klontong dan menyediakan minuman teh Teh Gelas) untuk mencari Teh Gelas. Per gelas dijual dengan harga Rp 1.000,-.
Ada produk lain yang juga menjadi primadona masyarakat. Aku, sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas juga menjadi penikmatnya; Minuman teh serbuk Tea Jus. Aku kira, Tea Jus mulai booming ketika aku masih sekolah menengah. Tea Jus memperkenalkan produknya, dengan pilihan rasa gula batu dan melati (kemudian berkembang menjadi rasa lemon, apel, dsb); seingatku. Sampai sekarang, ada salah satu tetanggaku, yang dalam pertumbuhannya tak bisa lepas dari Tea Jus rasa gula batu atau melati. Jika datang ke warungku untuk beli es, tapi tak ada Tea Jus, ia mengurungkan niat untuk membeli.
Memang dari pengamatan sederhanaku, pernah dulu menjadi primadona masyarakat minuman dalam kemasan rasa jeruk Ale-Ale. Yang kemudian berkembang menjadi rasa anggur dsb. Sementara minuman serbuk, masih dikuasai merk Marimas. Lagi-lagi, dulu aku juga sempat menjadi penikmatnya.
Mengenai Teh Gelas dan Tea Jus, memang tak boleh dianggap enteng. Entah strategi marketing apa yang mereka berdua pakai. Beberapa kali aku melihat iklan di stasiun televisi, tampak juga iklan dua produk tersebut. Iklan mulai hilang dari TV, setelah mereka berhasil mengisi pilihan hati masyarakat ketika ingin menikmati teh.
Miris memang, karena dari segi kualitas sangat jauh dengan teh buatan sendiri. Dari segi rasa dan aroma, tentu unggul teh racikan sendiri. Terlebih teh khas Angkringan, yang airnya diseduh dengan bahan bakar arang, memiliki aroma dan rasa luar biasa. Teh Gelas dan Tea Jus kalah jauh.
Dua produk ini, barangkali, bisa menguasai pasar karena beberapa alasan:
Pertama, strategi marketing. Berbekal modal, pemilik merk dagang Teh Gelas (OT) dan Tea Jus (Wings Food) menggencarkan iklan di televisi. Alasan kenapa mereka memilih tv, tentu karena lekat dengan kehidupan masyarakat. Tapi, aku kira, ini lebih terasa dampaknya di pedesaan. Masyarakat pedesaan memilih tv sebagai media berlibur, setelah seharian bekerja di sawah, ladang, hutan, kantor ataupun sebagai kuli panggul di pasar.
Secara psikologis, katanya, suatu hal yang ditampilkan berkali-kali, akan masuk ke dalam alam bawah sadar. Demikian halnya dengan iklan dua produk di atas. Masyarakat, yang ditontonkan dengan iklan dua produk tersebut, secara tidak sadar menjadi konsumen setianya. Minuman teh dalam benaknya, hanya ada dua; Tea Jus dan Teh Gelas. Padahal, sebelum dua produk ini menguasai pasar melalui pertelevisian, masyarakat desa lekat sekali dengan teh made in dewe. Yang tentu lebih murah, meski harus repot dulu untuk menyajikan secangkir teh; merebus air, mencampurkan gula dan teh. Lagi-lagi, karena marketing dua produk tersebut di atas, yang membuat masyarakat enggan untuk repot bikin minuman teh sendiri. Juga barangkali memang budaya masyarakat yang kian menuntut instan dalam segala hal.
Kedua, kemasan yang menarik. Coba saja kamu perhatikan, kemasan dua produk yang aku ceritakan ini. Tentu menarik. Didesain dengan pernak-pernik animasi, menjadikan produk terlihat elegan. Terlebih ada merknya. Jauh lebih (terlihat) elegan dibanding teh buatan sendiri; yang tak bermerek itu.
Jika dikalkulasi, bisalah kita kira-kira. Ongkos untuk wadahnya saja sudah bisa menembus 50% harga produk, aku kira. Belum lagi nanti ongkos karyawan dan transportasi. Jika demikian, kualitas teh macam apa yang dijual? Atau jangan-jangan kita hanya membeli wadahnya saja, berbonus isi yang tak seberapa? Ah, lucunya kita ini.
Ketiga, berlabel halal dan terverifikasi oleh BPOM. Ini yang menjadi andalan mereka, untuk mengambil hati dan kepercayaan masyarakat muslim dan pecinta kesehatan. Dengan label halal, dua produk tersebut (khususnya Teh Gelas) berhasil meringsek masuk ke masjid, menjadi menu utama takjil setelah tarawih (ini yang terjadi di masjid/langgar dukuhku). Kurang ajar memang, karena keberadaan Teh Gelas ini menggeser takjil khas ramadhan, yaitu Kopyor (semacam kolak). Secara historis, kopyor sudah ada puluhan tahun yang lalu. Ini sudah sekitar dua-tiga tahun, kopyor hilang di majlis tarawih. Digantikan Teh Gelas.
Bagi pecinta kesehatan, barangkali verifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan menjadi pertimbangan serius untuk memilih santapan. Maka verifikasi BPOM di Teh Gelas dan Tea Jus, meyakinkan masyarakat tipe ini. Padahal, jika diamati, label BPOM tak menjamin produk itu sehat. Terbukti, beberapa kasus di daerahku, setelah minum Teh Gelas, anak usia balita (kira-kira) batuk-batuk. Apa tak salah ini BPOM meluluskan produk ini?
Label halal, hanya bisa dimiliki produk berduit gede. Untuk kalangan kecil, mana bisa membayar MUI untuk memberi stempel halal. Padahal, kopyor yang sama sekali tidak berlabel halal, terlebih diverifikasi BPOM, selama berpuluh-puluh tahun tak pernah memakan korban. Kalaupun ada, paling-paling korban lidah kepanasan, karena kopyor memang mantap disantap di waktu masih panas atau anget.
Tapi mau bagaimana lagi, suara rakyat adalah suara tuhan. Dan suara tuhan  sudah dibeli korporasi. Pada akhirnya, semua akan indah pada waktunya, dan hancur pada saatnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menggeser dua produk tersebut dari singgasananya. Entah produk rakyat setempat, maupun korporasi lain yang lebih hebat. Aku hanya tinggal menanti saja.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 15 August 2016

Kamasutra Jawa


Iseng mencari bacaan untuk melepas sepi. Ketemu, buku Kamasutra Jawa karya Rektor Institute Budaya (ISBUJA) Jogja, Purwadi. Ini buku terbit Maret 2004.

Sepintas, terlihat dari judulnya bahwa buku ini pyur bahas soal seks. Namun, setelah melihat daftar isinya, dipaparkan silsilah penguasa di Kerajaan Surakarta. Ini menyangkut pemrakarsa ensiklopedi Jawa yang fenomenal, Serat Centhini. Ia disusun Adipati Anom Amengkunegara yang berganti, setelah menjadi raja, menjadi Paku Buwana V. Dari daftar isi yang saya baca, sudah bisa ditebak bahwa buku ini mengacu pada serat Centhini, untuk mendokumentasikan kamasutra Jawa.

Sebagaimana pernah saya tulis dalam blog ini, bahwa Serat Centhini erat kaitannya dengan kehidupan orang Jawa, termasuk soal seksualitas yang sangat tabu. Namun, ketabuan ini oleh Paku Buwana V dijadikan daya tarik karya tulisnya. Ia, memerintahkan pada team penyusun Serat Centhini (Kyai Ngabehi Rangga Sutrasna, Kyai Ngabehi Yasadipura II, dan Kyai Ngabehi Sastradipura) untuk menyelipkan adegan asmara di sela-sela cerita. Dengan pertimbangan, agar pembaca tidak merasa bosan.

Serat Centhini disebut ensiklopedi Jawa karena memuat segala hal yang ada dan terjadi di tanah Jawa. Dengan tiga anggota penyusun yang oleh Paku Buwono (PB) V ditugaskan menyusuri seluruh tanah jawa dan Makkah lalu menulisnya. Ini terjadi pada tahun 1814 M, setelah pada 1808 M ayahnya, PB IV memberikan pada putra mahkotanya sebuah buku.

Namun dalam perkembangannya, Serat Centhini yang 12 jilid, hanya 5 jilid yang sampai kini terjaga rapi, bahkan diterjemakan UGM. 5 jilid tersebut mulai dari jilid V, VI, VII, VIII, IX. Ini karena di dalamnya mengandung adegan seks di ranjang orang Jawa yang bersumber dari Keraton. (Saya jadi ingat beberapa hari lalu, ada mie berkemasan bikini asal Bandung, yang bikin pemerintah kebakaran jenggot. Ini sekaligus sebagai salah satu indikasi bahwa masyarakat kita lebih tertarik pada seputar selangkangan).

Saya melihat penyusun Serat Centhini taji pikirnya. Mampu mempersembakan karya ensiklopedi yang dikenal sampai saat ini (meski orang mengenalnya sebagai seks ala Jawa).

Jadi tidak banyak yang saya katakan, selain acungan jempol 4 untuk penulisnya, Paku Buwana V beserta team penyusunnya. Semoga karya ini bisa menjadi tiket untuk menenggak anggur di Khayangan sana.

Sudah-sudah, saya mau lanjut baca dulu.

Sumber bacaan: Purwadi. 2004. Kamasutra Jawa. Yogya: Diva Press

Jogja, 15 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 13 August 2016

Keling


Keling; Lelaki Lusuh ‘Utusan’ Gusti Allah
Ada banyak cara yang digunakan Gusti Allah untuk memudahkan urusan hamba-Nya. Kerap juga cara-cara tersebut tak terduga. Sehingga seorang hamba merasa keheranan atau tidak percaya kalau kelimpahan rahmat sedang menimpanya. Inilah, min khaitsu la yahtasib-nya uluran tangan Gusti Allah.
Sebuah kisah, yang akan aku ceritakan ini benar-benar terjadi. Ini menimpa bapakku, beberapa hari setelah mondok enam hari di rumah sakit, lantaran gejala tipesnya yang kambuh. Dan inilah, menurut ukuranku, bukti dari min khaitsu la yahtasib-nya Gusti Allah.
Waktu itu, bapak berada di belakang rumah sedang mengurusi binatang ternak. Rumahku menghadap ke utara. Dari arah selatan muncul lelaki lusuh membawa singkong di pundaknya. Lantas bapak menanyakan untuk apa singkong dengan jumlah banyak itu. nggo ngurup udud karo sampeyan (Buat nukar rokok sama kamu) katanya.
Bapak kebingungan, karena dirinya juga punya banyak pohon singkong di sawah. Bapak menemui ibu untuk meminta pertimbangan. Kemudian, dengan saran ibu, lelaki lusuh itu, atau akrab disapa Keling, disarankan untuk menjual singkong ke warung sebelah rumahku.
Keling menurut, ia jual singkong ke warung sebelah rumahku. Hasil penjualannya, ia belikan rokok di warungku. Suatu hal yang ganjil menurut ukuranku, karena warung sebelah rumahku juga menyediakan rokok, kok Keling memilih beli rokok di warungku. Dari sini, bapak dan ibu sering berinteraksi dengan Keling. Interaksi ekonomi yang lambat laun menjadi bangunan persaudaraan yang unik.
***
Keling adalah laki-laki berambut panjang sebahu yang belum (tidak?) menikah. Aku taksir, umurnya mendekati 40-an tahun, terlihat dari rambutnya yang memutih. Silsilahnya aku tidak tahu. Aku mulai tak asing dengannya ketika sering melayani saat membeli rokok dan kopi. Ia memang tak bisa sehari pun pisah dari rokok dan kopi.
Tampilannya selalu lusuh, dengan memakai kaos dalam dan celana panjang. Komunikasinya kurang jelas, karena memang ada sedikit kelainan (menurut ukuranku). Pekerjaannya tak menentu. Yang kutahu, ia hanya mencari mlinjo di pekarangan-pekarang orang, kemudian di jual untuk ngurup rokok dan kopi. Entah selain itu, ia punya pekerjaan apalagi.
Ia berdomisili di dukuh sebelah, dipisahkan kali yang hanya akan ada airnya ketika musim hujan. Soal kondisi masyarakatnya, cukup memprihatinkan. Karena, secara ekonomi masih minim, terlebih agama. Banyak pemuda yang lahir dari daerahnya menjadi pemabuk, putus sekolah, dan persoalan ekonomi lainnya.
Sepintas aku hanya mengenali sosok Keling sebagai lelaki lajang pecinta rokok dan kopi. Pekerjaan apapun ia lakoni untuk menebus dua dewa (rokok dan kopi; sedikit patriarkhi) yang telah mengisi hatinya.
***
Di malam hari selepas Isya, bapak memberi makan sapi di kandangnya. Bapak keheranan, karena banyak daun pohon singkong tergeletak di makanan (istilah tempat makan sapi di kampungku). Bapak turunkan semua daun itu, karena sapinya tidak doyan. Ia ganti dengan damen (pohon padi).
Sudah menjadi kebiasaan, bapak menengok sapi-sapinya dua kali dalam semalam, bahkan tiga. Bapak dibuat terperanjat, ketika mendapati daun singkong yang sudah dibuang, kembali ada di makanan. Bapak tanyai ibu, ia tak merasa melakukannya. Maka tambah heran bapak dengan kejadian itu.
Dalam hati, bapak berujar, nanti kan ketahuan siapa pelakunya. Semenjak kejadian itu, hampir tiap hari sapi-sapi piaraan bapak ada yang mengurusi; memberi makan rumput atau daun singkong. Tentu, bapak merasa beban memelihara sapi menjadi ringan. Pernah suatu kali bapak berujar, bahwa bukan karena uang bapak memelihara sapi. Melainkan, kalau tidak memelihara sapi, tak punya pupuk kandang untuk tanamannya di sawah, karena bapak pada dasarnya petani. Dan adanya kejadian ajaib ini otomatis sangat disyukuri oleh bapak. Fisiknya yang sudah cengeng, sulit diajak kompromi untuk kerja berat, diringankan dengan tenaga gaib yang belum terpecahkan milik siapa.
Pelaku pemilik tenaga gaib baru terpecahkan setelah beberapa kali memberi makan sapi milik bapak. Ia dipergoki oleh ibu (kayaknya) sedang memberi makan sapi dengan rumput hasil sabitannya. Dari sini, terungkap bahwa Kelinglah yang membantu meringankan beban bapak.
Bapak berpesan kepada ibu, agar apapun yang diminta Keling, dikasih saja. Bapak merasa apa yang dilakukan Keling sangatlah membantu. Karena, bapak mengurusi sapinya sendirian, setelah aku dan adik laki-lakiku kuliah di Jogja. Ini, tanpa diminta, ada orang dengan suka rela membantu. Entah, siapa yang memberi kabar Keling soal kerepotan bapak memelihara sapi.
Pernah suatu kali Keling bercerita, rumput hasil sabitannya pernah ditawar oleh tetangga untuk dibeli. Ia menolak, dan mengatakan kalau rumput itu untuk bapak. Ia menolak bayaran! Sementara ia tak meminta imbalan apa-apa dari bapak. Logikaku mati seketika, memikirkan kelakuan Keling yang kelewat logis.
Keling, setahuku selama di rumah, tidak meminta apa-apa. Perasaan sudah dibantu yang membuat bapak dan ibu memberi imbalan rokok, kopi, atau pernah juga roti. Karena tiap kali Keling ke warung, selalu yang ia minta (baca: beli) Rokok Apache Kretek dan Kopi ABC Plus harga lima ratusan.
Sampai tulisan ini diketik, Keling masih saja membantu bapak memberi makan sapi-sapinya. Tadi yang terbaru,  Keling  masih tetap membawakan daun singkong meski sapi tidak doyan. Karena prinsipnya, bapak tidak memaksa Keling untuk mencari rumput. Apapun yang Keling berikan untuk sapi, bapak terima tanpa komentar negatif.
Di sebuah obrolan santai orang tua dengan anak, bapak mengungkap rasa syukurnya; ada orang yang peduli dengannya. Keling (barangkali) diutus Gusti Allah untuk meringankan beban hamba-Nya. Barangkali, di sekitarmu, ada juga utusan-utusan-Nya tanpa kamu sadari keberadaannya? Kan, siapa tahu!
Selesai ditulis saat Bapak akan mengambil bingkisan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (Bapak, sepertinya, jadi pengurus ranting), sementara aku masih ragu. (2/07/2016).
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 12 August 2016

Mencari



Ini soal Cebolang, putra semata wayang Ki Akhadiat, seorang tokoh agama yang memiliki banyak santri. Cebolang dikenal bengal, tidak memperlihatkan dirinya sebagai anak kyai. Kebengalan ini pula, yang mengantarkannya dalam pengembaraan penuh warna dan gejolak batin.

Cebolang dikenal sebagai ahli sulap yang rupawan. Dijamin, tiap perempuan yang melihat tampangnya, akan jatuh cinta. Katanya, ia jelmaan Dewa Samba.

Dalam pengembaraannya, diwarnai dengan gejolak. Terutama, nafsu badani yang tidak bisa dikendalikan. Ia, setiap kali melihat perempuan, kelakiannya tumbuh. Bahkan di beberapa plot cerita dalam Serat Centhini, ia diam-diam bermain perempuan. Berbekal ketampanan dan sedikit uang, puluhan perempuan ia jamah.

Entah apa yang membuat Cebolang tiba-tiba berubah. Dari yang haus seks, menjadi pertapa yang kerap menyendiri, mencari petilasan manusia linuwih, naik-turun gunung, membelah lebatnya hutan, dan menyepi di goa-goa. Semua Cebolang lakukan untuk mendapat ketentraman hidup.

Yang membuat saya heran, di tengan jalan pertapaannya, kadang ia selingi dengan pemenuhan hawa nafsu. Sebagaimana ketika singgah di salah satu rumah wanita umur 40an. Ia melakukan persetubuhan dua kali. Satu kemauan si wanita, sisanya hasrat Cebolang. Ini yang membuat pengembaraan Cebolang penuh warna.

Berbeda dengan pengembaraan Amongraga yang lebih didominasi nilai-nilai religius-transedental. Cebolang, lebih berwarna pengembaraannya. Ilmu pngetahuan yang ia cecap dari setiap guru yang ia temui dalam perjalanan, tak hanya soal agama. Soal arsitek rumah Jawa, pesugihan, tipe wanita, cara bersenggama, dan sebagainya. Lebih berwarna dan cukup menarik bagi siapapun yang sedang belajar budaya jawa. Meski, sifatnya sebagai pengantar. Karena, kebudayaan jawa yang terkandung dalam kisah Cebolang ini hanyalah diceritakan sepintas lalu. Juga kisah-kisah kerajaan dan pewayangan, mewarnai pengembaraan Cebolang.

Berpuluh-puluh kali Cebolang menikmati tubuh wanita. Hingga ia  bertemu dengan Rancangkapti, adik bungsu Amongraga, yang kemudian dipersunting. Tentu saja, setelah Cabolang punya bekal untuk membangun rumah tangga dan menyelami samudra kehidupan. Bukan materi, melainkan bekal ilmu pengetahuan. Dan kunci sebuah pengetahuan dikatakan ilmu, ketika sudah diamalkan. Tanpa diamalkan sia-sia ilmu itu kita pelajari. Hingga soal teori tentang persenggamaan, oleh Cebolang pun diamalkan, jauh sebelum menjadi suami Rancangkapti.

Cerita ini saya kutip dari Novel Centhini 3: Malam Ketika Hujan terbitan Diva Press, ditulis Sastrawan asal Cilacap,Gangsar R. Hayuaji.

Jogja, 12 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 11 August 2016

Mangir Wanabaya



Diceritakan bahwa pujangga jawa terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengisahkan suatu kejadian. Dengan simbol-simbol, pujangga jawa, khususnya yang masuk dalam lingkaran Keraton atau Kerajaan, seolah menyamarkan fakta sejarah menjadi cerita dongeng. Ini karena sejarah merupakan milik sang pemenang. Kejadian-kejadian yang sekiranya mengancam kekuasaan, tentu akan dimusnahkan, dihapus dari catatan sejarah. Atau kalau tidak, ditulis dengan simbol-simbol yang sulit dipahami. Bahkan, sebagaimana yang kita temui, kisah-kisah kerajaan Jawa tidak bisa dilogika.

Demikian dengan catatan sejarah soal keberadaan 'kerajaan kecil' Mangir, yang dipimpin Wanabaya, yang oleh Mataram dicaplok dengan berbagai cara. Mangir memang terkenal dengan siasat perang yang unggul. Bisa menghancurkan pertahanan musuh menjadi porak poranda.

Sehingga, Mataram merasa khawatir. Waktu itu Mataram dipimpin oleh Panembahan Senopati dan memiliki putri bernama Pambayun. Penasehatnya, Ki Juru Martani namanya. Oleh Pram, Ki Juru Martani bahkan disebut semacam Machievilli, tokoh yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaan. Dikatakan demikian, karena atas saran Juru Martani, Mataram.berhasil kuasai Mangir.

Dengan mengirim Pambayun sebagai ronggeng, untuk menghibur warga Mangir. Terpikat dengan kecantikan Pambayun, Wanabaya memetik ia sebagai istrinya. Hingga suatu saat, Pambayun menceritakan jati dirinya, yang membuat Wanabaya murka.

Mulai dari plot cerita ini, ada dua versi penceritaannya. Pertama mengatakan bahwa setelah Wanabaya dan Pambayun menikah, dan Wanabaya tahu jati diri istrinya, ia diminta menemui mertuanya (yang tak lain musuhnya) dengan syarat tidak boleh membawa pasukan.

Versi Pram, mengatakan bahwa Wanabaya membawa sedikit pasukan menemui mertuanya. Sampai tempat, melakukan perlawanan lantaran diserah secara pecundang oleh pasukan Mataram. Lalu Wanabaya mati di tangan Panembahan Senopati dengan tusukan keris ke lambungnya. Cinta Pambayun pada suaminya, mendorong ia untuk bunuh diri.

Versi kedua, dalam Centhini 3, dikisahkan bahwa Wanabaya menyanggupi undangan mertuanya. Ia sungkem di bawah kaki mertuanya, lalu oleh mertua, kepalanya dihantamkan ke batu. Bocorlah kepalanya dan darah dengan derasnya mengalir. Matilah Mangir Wanabaya.

memang sering terjadi dalam cerita jawa berbagai versi cerita, karena dituturkan dari generasi ke generasi. Hingga banyak kemungkinan terjadi penambahan dan pengurangan. Kepentingan politik penyusunan sejarah juga sangat mewarnai plot cerita, toko dan karakter cerita. Dalam cerita Wanabaya, Baru Klinting disebut-sebut sebagai pusaka (benda mati) yang sakti. Namun dalam versi lain, Baruklinting disebut sebagai tangan kanannya Wanabaya, yang memiliki keahlian perang. Demikianlah, karena sejarah adalah milik sang pemenang.

Jogja, 11 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 10 August 2016

Sibuk



Tidak seperti hari biasa, semenjak pagi saya sudah memiliki aktivitas yang jelas; jemput tetangga di terminal. Ia, Rizal namanya. Mahasiswa baru UIN yang ke Jogja hanya untuk cek kesehatan dan mengumpulkan berkas-berkas.

Ia diterima di jurusan Pendidikan Matematika, fakultas Saintek, melalui jalur mandiri. Tanggal 18 bulan ini, ia akan opak (orientasi pengenalan akademik). Momentum balas dendam, pembulyan, atau sebatas menyeleksi mahasiswi cantik yang bisa dijadikan pacar, atau sebatas pemuas hasrat kelakian yang dibalut dengan ikatan cinta oleh senior atas juniornya.

"Mas, nanti sekalian cari kos, ya!" ujar Rizal pada saya, di tengah perjalanan menuju poliklinik UIN, untuk cek kesehatan. Saya tinggal ia, lalu saya berkunjung ke rumah seorang kawan, yang katanya mau habis masa sewa kos dan tidak mau perpanjang.

Selain Rizal, adik perempuan saya juga sedang cek kesehatan di UNY. Ia setahun di UPY tapi tidak krasan, dan dengan diam-diam coba daftar UNY jalur mandiri. Kabar baik, karena lolos seleksi dan hari ini minta dijemput di warung makan. Juga untuk menemani ia bayar kos yang dua hari lalu ia temukan bersama kawannya. Di daerah Samirono, depan FIK. Saya jemput ia pukul 12 siang.

Di sisi lain, saya ada janji dengan kawan organisasi, untuk membicarakan soal masa depan organisasi. Jam setengah 1. Namun karena masih menemani adik, saya undur jadi jam 1.

Dengan terpaksa, saya tinggal adik di kamar kos yang baru. Yang masih kotor berdebu. Untuk menemui kawan ini.

Sekira pukul 1, saya sampai tkp. Hanya sampai jam 3 saya berbincang dengan kawan organisasi, dan secara non-formal menyerahkan kepemimpinan pada mereka. Meski mereka tak mau dan merasa tak sanggup.

Belum lagi, sore ini juga ada seorang kawan yang butuh bantuan untuk menemani temannya yang berkunjung ke Jogja. Dua orang.

Ada 4 agenda sekaligus dalam sehari. Ini memang normal bagi saya, tapi sekaligus membuat badan lunglai. Meski demikian, hanya satu rasa yang bisa tercecap; kebahagiaan. Karena sekian lama, semenjak lebaran, saya rindu dengan kesibukan semacam ini. Kesibukan yang tak seincipun memberi kesempatan otak untuk berpikir macam-macam. Terlebih yang berbau keputusasaan akan masa depan dan hidup. Sibuk memang keren!

Jogja, 10 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 9 August 2016

Aktipis



Jogja memang terkenal dengan iklim gerakannya yang kuat. Banyak mahasiswa (meski sekarang mulai berkurang) tua di kampus, karena terlalu asyik kuliah di jalanan, dengan pentungan dan sepatu polisi sebagai ganjarannya. IPK jeblok, tapi rambut sampai kumal dan beruban, terlalu memikirkan negara yang selalu mencampakkannya. Atau minimal, memikirkan organisasinya sendiri.

Mereka, orang-orang yang gemar menuntut. Menuntut keadilan pada penguasa, meski tak bisa dipungkiri (terkadang) hanya bayaran pihak tertentu semata. Mereka, orang-orang dengan idealisme tinggi dan anti kemapanan. Begadang pagi-malam-pagi di warung kopi. Dengan rokok dan secangkir air hitam-panas yang pahit.

Jangan tanya skripsi dan IPK pada mereka, karena itu menjijikan. Juga jangan ceritakan materi kuliah apa yang sudah kamu ambil, karena itu membosankan.

Ceritakanlah, penyelewengan menteri atas tugasnya. Pabrik semen yang merenggut mata pencaharian para petani. TNI yang menembaki warga pribumi, lantaran berontak untuk menuntut kesejahteraan diri.

Ajaklah, mereka untuk merumuskan sebuah gerakan. Strategi perang melawan polisi dan intel di jalanan. Antisipasi untuk tidak terprovokasi. Juga tipu muslihat agar tidak terdeteksi siapa pentolannya. Hingga atribut apa saja yang harus dibawa. Ajaklah dan bergabunglah dengan mereka, niscaya kamu akan dihargai.

Mereka haus keadilan. Memakai prespektif kritis untuk melihat rangkaian realitas. Menampik uluran tangan musuh penuh muslihat, semacam birokrat.

Jangan sekali-kali kamu ukur mereka dengan nilai angka. Jangan perdebatkan juga tampilan luar mereka. Kelakuan urakan mereka. Karena itu bagian dari representasi perlawanan mereka.

Hanya saja, tunggu saat-saat mereka akan melepas kesarjanaan. Sebagai orang linglung dan hilang arah. Meski tak semuanya. Tapi mungkin, karena merasa ada beban moral untuk merubah keadaan. Merealisasikan idealismenya agar jadi kenyataan yang indah.

Jogja, 9 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 8 August 2016

Novel Centhini 2 Gangsar R. Hayuaji


Sekira pukul 2 sore saya selesai membaca Novel Centhini 2: Perjalanan Cinta karya Gangsar R. Hayuaji, seorang penulis sastra dan esai-seni yang sudah bergelut dengan tulisan semenjak tahun 1987. Track Record ini, tentu saja menjadi salah satu alasan saya tertarik membaca karyanya. Dan memang menarik saat saya mulai membacai goresan penanya.

Ada beberapa plot cerita besar yang barangkali bisa diklasifikasikan berdasarkan tokoh-tokoh yang terkait di dalamnya. Pertama, soal permenungan Tambangraras selama satu tahun dua pulan di peraduan, lantaran ditinggal oleh kekasih hatinya, Syeikh Amongraga. Kedua, pengembaraan Syeikh Amongraga beserta santrinya, Jamal dan Jamil. Ketiga, pengembaraan kedua adik Amongraga, Jayengsari dan Rancangkapti, ditemani Buras. Keempat, kebegalan Cebolang yang penghabisan dalam pengembaraan. Kelima, kembalinya Cebolang pada Ayahnya, Syeikh Akhadiat, lantaran hatinya yang mulai sadar betapa hina dirinya. Keenam, berkumpulnya tiga saudara kandung, Amongraga, Jayengsari, dan Rancangkapti serta bertemunya Tambangraras dengan suaminya. Ketujuh, sad ending.

Pertama permenungan Tambangraras yang memilukan. Ia sama sekali tak mau merawat badannya, sehingga kurus, terlebih gaun yang dipakainya tak pernah ganti. Tal pernah keluar dari kamar, hanya berbaring di ranjang dan membisu. Sesekali saja berbincang dengan abdi setianya, Centhini. Tapi justru dari perbincangan ini, terbesit dalam benak Tambangraras untuk mengembara, mencari suaminya, Amongraga. Terlebih, kesediaan Centhini untuk menemaninya, mempertebal tekad. Hingga ia bangkit dari keterpurukan dan kembali mau merawat tubuhnya. Di tengah malam yang pekat, ia merencanakan keberangkatan mengembara dengan Centhini, dengan memakai pakaian laki-laki milik suaminya. Sebelum fajar menyingsing, mereka berdua minggat dari singgasananya.

Soal pengembaraan Amongraga dan dua santrinya, berkutat pada gunung, hutan, dan persinggahan. Meski tujuan awal mencari dua adiknya, tapi dalam pengembaraan ia seolah terlena dengan segenap ilmu pengetahuan yang ia dapat. Amongraga dikisahkan sebagai orang yang memiliki kemampuan memahami percakapan hewan, sebagai Anglingdharma dan Nabi Sulaiman. Di kala ia tengan semadi, berkumpul beberapa jenis burung mempercakapkan dirinya. Ada dua jenis burung yang berkomentar bahwa Amongraga tidak lain hanyalah suami pengecut yang meninggalkan istrinya. Komentar tersebut membuat Amongraga berpikir dan menilai-nilai keputusannya. Jika tak tekun, tentu bosan mengikuti pengembaraan Amongraga, karena hanya berkutat pada pertapaan di gunung, goa, hutan, lalu singgah ke gubuk seseorang, sesekali bertemu sang guru. Tak ada yang baru. Maka wajar jika penceritaannya disingkat.

Sementara pengembaraan dua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti ditemani Buras, juga tidak jauh beda dengan Amongraga. Hutan, gunung, rumah 'tokoh agama' sebagai latar belakangnya. Puncaknya, mereka berdua diangkat sebagai anak oleh Syeikh Akhadiat, pemilik Padepokan dan memiliki banyak santri.

Lalu soal Cebolang, ceritanya disingkat pendek sekali. Barangkali karena ceritanya berbau porno, sebagaimana dalam serat Centhini jilid V, sehingga dipangkas. Atau mungkin karena sudah disiapkan edisi khusus mengisahkan pejalanan Cebolang. Dalam novel ini dikisahkan pertaubatan Cebolang, yang mengantarkan dirinya untuk pulang. Sesampai di rumah, ia dikejutkan dengan adanya gadis ayu yang sedang mencuci baju, mengaku sebagai anak Syeikh Akhadiat. Bertemu dengan Sang Ayah dan Ibu, ia mohon ampun. Diiringi derai air mata, anak dan orangtua diliputi kabut kebahagiaan. Hingga Cebolang meminta pada ayahnya untuk memetikkan mawar di desanya, yang tak lain adalah Rancangkapti, untuk dijadikan sebagai istri.

Beberapa hari setelah pernikahan, Jayengresmi, Rancangkapti, dan suaminya Syeikh Agungrimang, nama pemberian Akhadiat pada anaknya untuk mengganti Cebolang, meminta diri untuk mencari Amongraga.

Di lain tempat, Tambangraras beserta Centhini melewati berbagai hutan untuk mencari Amongraga. Hingga di tlatah Wanataka, ia melihat tiga sosok lelaki sedang berbincang di bawah pohon, yang tak lain adalah suaminya ditemani Jamal dan Jamil. Bertemulah sepasang merpati yang telah lama berpisah, diwarnai tangis bahagia.

Mereka lalu melanjutkan ke Tanjung Bang, dan tanpa diduga bertemulah dengan dua adiknya ditemani Buras. Amongraga, Jayengsari, dan Rancangkapti serta suaminya, ditemani Buras berbincang di gubug. Dan atas permintaan Amongraga, Centhini dijodohkan dengan Buras.

Sang Kelana telah sampai tujuan. Centhini terkungkung dalam rumah tangganya dengan Buras, meski tidak mencintainya. Sementara Amongraga dan Tambangraras berubah menjadi ulat, lalu disantap Sultan Agung dan permaisurinya. Kalau kata Pram, hal semacam 'manusia berubah menjadi ulat' merupakan kehati-hatian pujangga dalam melukiskan sebuah kejadian. Itu hanyalah simbol, yang sengaja disamarkan maknanya oleh pujangga kerajaan jawa.

Dan Jayengsari, Rancangkapti dan Syeikh Agungrimang, entah seperti apa perjalanan pengembaraanya. Nantikan saja novel selanjutnya, dengan penulis yang sama, Gangsar R. Hayuaji.

Jogja, 8 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Manusia


Saya pecinta kartun. Baik luar negeri maupun produk negara sendiri. Kini ada dua film kartun karya anak bangsa yang saya sukai, meski kualitas animasinya masih kalah dengan Jepang.

Ia adalah 'Adit dan Sopo Jarwo' dan 'Keluarga Somat'. Menarik karena saya melihat ada i'tikad baik dari pembuatnya. Karakter animasinyapun merujuk pada keadaan budaya sekitar. Animasi orangnyapun, asli orang indonesia.

Dari film animasi yang saya sebutkan pertama, saya bisa belajar tentang pelestarian permainan tradisional semacam egrang. Sementara film kedua memotret tentang kehidupan orang desa dengan segala keluguannya. Kerap bikin saya tertawa terhibur. Merasa seolah generasi Indonesia sedang bangkit dan mulai peduli dengan warisan budaya. Media film, saya pikir, juga hasil kreasi anak bangsa yang muncul dari rasa peduli tersebut. Dengan pertimbangan, ketertarikan generasi muda Indonesia akan kartun besutan Negeri Jiran, Upin & Ipin. Ini perang kebudayaan.

Entah apa yang membuat saya tertarik dengan dua film kartun ini. Ada semacam daya magis yang membuat tertarik. Kejujuran si pembuat dalam menampilakan kualitas animasi yang sederhana, ditambah skenario/alur cerita yang lugas, memotret sekelumit kehidupan orang desa yang hidup di pusaran arus modernisasi.

Ini ciri khas indonesia; tidak muluk-muluk. Atau mungkin karena keterbatasan kreatifitas generasi muda? Atau bisa juga, karena pertimbangan pasar, apa yang ditampilkan dalam tv sebatas kulit budaya indonesia saja? Tidak menyentuh tataran filosofis atau hakikat dari suatu hal. Saya pikir-pikir kok puyeng juga ya. Ah, mungkin masyarakat sudah lelah dengan persoalan hidup, terlebih laku pemerintahnya yang korup! Sehingga, kejelian generasi muda menangkap kebutuhan masyarakat akan hiburan. Dimunculkanlah dua film animasi yang mengangkat identitas bangsa dibalut humor, sehingga masyarakat bisa menertawakan diri sendiri, yang terwakili dengan beberapa karakter dalam film.

Sebenarnya, saya memilih 'Manusia' sebagai judul, untuk memaparkan unsur-unsur yang membentuknya. Tapi karena keterbatasan atau kepuyengan kepala saya, sehingga melenceng ke pemaparan soal film animasi anak bangsa. Biarlah, untuk sekarang saya ikuti kemauan pikiran, yang tidak ingin dikekang oleh batasan-batasan tema dengan segala kaidah kepenulisannya.

Hanya saja, akan saya utarakan saja suatu hal yang baru saya baca. Bahwa, manusia, dalam Sastra (ilmu) Jendra Hayuningrat, terdiri dari lima anasir (saya pikir ini bentuk jamak dari kata unsur). Empat dari lima unsur tersebut adalah Air, tanah, api, dan angin. Keempat anasir ini akan menggumpal menjadi daging dan tulang, darah atau roh, napas atau nyawa, serta nafsu-nafsi yang menyatu padu dalam rahim ibu.

Sementara yang kelima, adalah Nurillah yang ditiupkan pada gumpalan tersebut. Unsur kelima inilah yang membedakan jati diri setiap manusia.

Sastra Jendra Hayuningrat ini diwejangkan pada anak kedua Sunan Giri, Jayengsari pada tengah malam yang sunyi, oleh Ayah angkatnya, Syeikh Akhadiat.

Demikian asal-usul manusia, yang dalam perkembagannya mampu berkreasi menghasilkan karya fenomenal, termasuk animasi 'Adit & Sopo Jarwo' dan 'Keluarga Somat'.

Wejangan Syeikh Akhadiat ini sejenak mengusik ingatan saya pada pelajaran Tauhid kelas 2 MTs. Bahwa dalam al-Qur'an, juga dijelaskan secara rinci, pembentukan janin dalam rahim. Saya juga jadi berpikir, asal-usul manusia dalam Sastra Jendra Hayuningrat (pasti) terwarnai ajaran Islam. Mengingat, yang mewejangkan tak lain adalah Kiai yang memiliki banyak santri.

Dalam menulis saya sering melenceng dari tujuan atau rancangan awal. Dan, tulisan ini sebagai salah satu buktinya. Jika bermanfaat, ambil saja. Bila bak sampah, buang dan kubur saja. Demikianlah!!

Sastra Jendra Hayuningrat saya nukil dari Buku Centhini 2, karya Gangsar R. Hayuaji terbitan Diva Press Jogja.

Jogja, 8 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Pandawa dan Kurawa


Kedua adik Syeikh Amongraga, Jayengsari dan Rancangkapti bersama pengawalnya, Buras, melakukan pengembaraan panjang. Melewati berbagai gunung dan lembah.

Hingga sampai ke tlatah Dieng, mereka menemukan beberapa candi yang tak lain menggambarkan lima Pandawa. Ada Candi Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Tiga nama pertama merupakan anak Pandu dengan istrinya, Kunthi. Sementara dua nama terakhir lahir dari rahim Madrim.

Buras, pengawal dua anak Sunan Giri atau Raden Paku, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, soal karakter masing-masing Pandawa.

Kepada Rancangkapti, ia tanya tiga nama pertama. Dengan Bismillah, Rancangkapti menjelaskan.

Yudistira adalah anak sulung Pandu dengan Kunti. Ia penjelmaan Dewa Yana, bijaksana dan tak punya musuh. Kepribadian tinggu dan suka mengampuni musuh yang sudah menyerah.

Bima memiliki wajah tersangar di antara Pandawa. Ia memiliki tangan dan lengan yang kuat. Meski demikian, ia baik hatinya. Kegemarannya makan menjadi ia dapat julukan Werkudara.

Arjuna adalah anak bungsu dari pasangan Pandu dan Kunthi. Ia lihai menyusun strategi perang. Penjelmaan Dewa Indra, sang dewa perang. Ia juga punya nama lain, di antaranya Janaka karena memiliki panah pasopati.

Sedangkan Nakula dan Sadewa adalah anak kembar pasangan Pandu dan Madrin. Mereka adalah jelmaan Dewa Aswin, Dewa kembar. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Kunti mengasuh mereka.

Nakula memiliki keahlian memainkan pedang. Gemar sekali ia membantu kakak-kakaknya (Yudistira, Bima, Arjuna). Sementara Sadewa memiliki sifat rajin dan bijaksana, serta memiliki keahlian di bidang ilmu astronomi.

Pandawa lahir, sebagai penyeimbang Kurawa. Dalam lingkaran hitam-putin zin-yang, sebagai penyeimbang. Sementara Kurawa lahir dari ambisi Gandari yang menginginkan seratus anak. Hamil, tapi betapa kesal Gandari karena tak lahir-lahir. Hingga perut hamilnya dipukul-pukul, lahirlah segumpal daging. Segumpal daging tersebut dipotong hingga seratus bagian. Dimasukkan kendi lalu ditanam satu tahun, lahirlah seratus Kurawa. Lahir dari ambisi jahat Gandari, jadilah mereka tumbuh dengan karakter rakusnya. 99 diantaranya menjadi korban Perang Baratayuda. Tumbal Padang Kuruksetra.

Demikianlah, Pandawa dan Kurawa. Keseimbangan alam dalam pusaran zin-yang. Maka, sampai bumi hancurpun, Pandawa dan Kurawa tetap hidup..

Jogja, 8 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 7 August 2016

Dewa Ruci dan Bima


Sepertinya sudah menjadi ciri khas cerita jawa yang sarat dengan hadirnya dewa-dewi dalam pertapaan seorang hamba. Cerita itu dibungkus melalui pewayangan, yang kemudian ditampilkan dengan kulit bermotif macam-macam rupa dengan dalang sebagai penggeraknya. Biasanya, ditampilkan dalam acara-acara besar semacam khitanan, pernikahan, maupun tasyukuran desa.

Adalah bima, yang sedang mencari pencerahan di tepi samudra, ditemui Dewa Ruci. Sejatinya, Bima tak tahu menahu soal apa tujuan ia bertapa. Hanya menjalankan perintah, dari Dahyang Durna, untuk mencari air suci, tirta pawirta.

Merasa bodoh dengan apa yang dilakukan, Bima meminta wejangan pada Dewa Ruci. Dan, inilah wejangannya, yang tak lekang oleh waktu dan akan mengantar pelakunya pada kesuksesan.
Sabar, anakku! Betapa berat cobaan hidup
Ingat pesanku ini senantiasa!
Jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu!
Jangan menyuap sebelum mencicipi!
Tahu hanya berawal dari bertanya
Bisa berpangkal dari meniru
Sesuatu terwujud hanya dari tindakan
Jangan seperti orang gunung membeli emas
Mendapati besi kuning sudah disangka emas
Bila tanpa dasar, bakti membuta bisa menyesatkan.
.............
Cahaya empat adalah warna hati
Hitam, merah, dan kuning
Adalah penghalang cipta yang kekal
Hitam melambangkan nafsu amarah
Merah nafsu angkara
Kuning nafsu memiliki
Hanya putih yang bisa membawa ke budi jatmika
Dan sanggup menerima sasmita alam
Namun, ia selalu terhalangi oleh ketiga warna lainnya
Hanya sendiri tanpa teman melawan ketiga musuh abadi
Hanya bisa menang dengan bantuan sang sukma
Adalah nugraha bila putih bisa kau menangkan
Pada saat itu, dirimu mampu menembus segala batas tanpa belajar
..........
Jangan perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api
Bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu!
Perbuatlah, jangan hanya mempercakapkannya!
Jalankan sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita!
Jangan pernah punya sesembahan lain selain Sang Maha Luhur

Bima yang haus dengan wejangan dan tersesat dalam gulita ketololan, tercerahkan sudah. Hanya satu kunci dari semua wejangan; laksanakan sepenuh hati.

Wejangan yang termuat dalam sajak, diadaptasi dari wejangan Dewa Ruci kepada Bima versi Banyumasan.

Sumber bacaan: Hayuaji, Gangsar R. 2010. Centhini 2; Perjalanan Cinta. Yogyakarta: Diva Press.

Jogja, 7 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 6 August 2016

Tebing Beksi Jogja



Pukul satu lebih 30 menitan, saya bersama teman berkunjung ke tempat wisata di sekitar Candi Ijo, daerah Sleman. Namanya Tebing Beksi. Bebatuan tinggi yang memiliki daya tarik luar biasa bagi generasi selfie dan poto-poto. Sanget recomended bagi kamu yang ingin segera ganti DP atau foto profil fb. Juga untuk yang sekadar ingin melepas penat dan menghirup udara segar. Serta, untuk memanjakan mata memandang indahnya Jogja dari ketinggian tebing, cukup dengan menghadap barat.

Soal alamat pastinya, cukup banyak situs internet yang sudah menjabarkan. Silahkan bisa dicek.

Kali pertama saya berkunjung, dihadang oleh pengelola setempat, untuk menarik uang parkir dan retribusi seikhlasnya. Saya membatin, ini awal pembangunan objek wisata, wajar kalau belum ada standar retribusi. Tentu, beberapa waktu ke depan, akan ada tarif tetap bagi setiap pengunjung.

Dibuat (terbuat?) dari bekas tambang batu, barangkali. Terlihat dari bentuk arsitek yang membentuk tebing. Tangga-tangga yang menghubungkan dasar dengan puncak tebing juga terlihat alami, dengan pahatan.

Saya membatin; ini dia, kejelian warga dalam melihat potensi wisata. Tentu, pemaksimalan Tebing Beksi sebagai tempat wisata, memiliki banyak manfaat. Selain sebagai tambahan pemasukan warga sekitar atau desa, juga untuk melestarikan keberadaan tebing. Tentu saja, ini mengurangi pasokan pada pembeli. Namun, bisa menyelamatkan lingkungan sekitar. Bayangkan saja jika tebing Beksi ini habis ditambang?

Warga setempat sudah mengupayakan pelestarian Tebing Beksi. Untuk siapa lagi kalau bukan pengunjung, dari berbagai daerah. Hanya saja, entah karena tak diajari unggah-ungguh atau memang sudah jadi kebiasaan, masih banyak sampah yang berserakan; botol mineral, bungkus snack ringan, dan tissue. Padahal, tong sampah ya sudah ada. Kurang apalagi coba? Akhirnya, seindah apapun tempat wisata, selama berpengunjung tentu akan ada sampah yang dibawa. Kecuali, ada sanksi tegas untuk si pembuang sampah. Karena butuh waktu yang lama, bukan, membentuk karakter 'buang sampah pada tempatnya'?

Jogja, 6 Agustus
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Homo di Serat Centhini


Senja saya bersama teman berkunjung ke perpustakaan kota Jogja. Bingung mau baca buku apa, hingga teringat bahwa saya belum rampung baca novel Centhini.

Saya coba cari di mesin pencarian, maka ketemulah Novel Centhini yang pernah saya baca. Mengejutkan, selain novel juga ada sekitar 5 jilid serat Centhini terjemahan UGM. Mulai dari jilid 5 ke atas. Dari novel yang saya baca, banyak kutipan langsung dari serat Centhini jilid V, VII, dan VIII dalam bentuk tembang. Ini yang membuat saya sedikit nyambung dengan tembang-tembang dalam serat Centhini jilid V.

Jika di novel yang saya baca, menceritakan 40 harmal (hari-malam) pengantin Tambangraras dan Amongraga. Di dalamnya sangat diwarnai dengan pitutur dan wejangan sang suami pada istrinya di atas ranjang, yang diintip centhini dari luar kamarnya. Kehidupan ranjang yang mengagumkan.

Saya bandingkan dengan serat Centhini V memang ada cerita demikian. Namun yang mengagumkan, saya menemukan kehidupan sang priyayi yang memiliki penyimpangan orientasi seksual; biseksual. Ia adalah Ki Adipati.

Diceritakan, bahwa Ki Adipati mengadakan acara sulap, yang diisi oleh Mas Cabolang. Sulap juga diiringi dengan gamelan dan tarian. Yang dalam tarian tersebut, ada satu sahabat Cabolang, Niwitri, lelaki yang didandani layaknya perempuan.

Gemulai dan keterampilan Niwitri dalam menari, membuat Ki Adipati terpesona. Juga parasnya yang cantik, menjadi daya tarik sendiri. Hingga bermalam-malam, terjadilah adegan ranjang dengan Niwitri (dan Cabolang) yang membuat Ki Adipati lupa pada istri dan selir-selirnya.

Ini sebagai bukti bahwa di tanah Jawa, abad ke-18, masyarakat jawa sudah tak asing dengan orientasi seks menyimpang.

Sulit untuk menuliskan rekaman yang beberapa saat tadi sempat disimpan. Berseliweran dalam kelapa, beragam persoalan. Dari amanah dalam organisasi, musibah yang telah lama saya rahasiakan pada orang tua, soal kuliah dan ketakutan masa depan campur aduk jadi satu. Bikin puyeng kepala dan beku pikirnya.

Jogja, 6 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Semedi


Ada pertanyaan, kenapa orang terdahulu memiliki kesaktian atau daya linuwih, terutama orang-orang Jawa? Tokoh Wali Songo misal, yang dalam cerita-cerita masyarakat bisa mengerti apa yang sedang dipikirkan orang. Juga pujangga Jawa kuno semacam Ranggawarsito, yang seolah bisa meramal masa depan dan sudah banyak yang menjadi kenyataan (entah karena otak atik gatuk atau memang benar adanya demikian).

Adalah Syeikh Amongraga, anak pertama Sunan Giri yang melalui pengembaraan panjang, mendapat ilmu segala macam. Utamanya, ilmu olah batin dan hidup serta mati. Awalnya bernama Jayengresmi, Jaya ing saresmi yang artinya jago di atas ranjang (saresmi=senggama), berubah menjadi Amongraga, yang artinya kurang lebih orang yang mampu momong raganya, mengendalikan diri.

Kerap sekali dalam cerita pengembaraannya, Amongraga mampir dan menetap di goa ataupun puncak gunung berhari-hari. Ketakjuban dari segala keindahan alam dan makhluk-Nya, ia respon dengan rasa syukur tiada henti. Ketika dalam perjalanan menemukan Wit Ringin Sungsang (pohon beringin bersilang), ia berhenti dan mengamati 5 burung yang bertengger diatasnya, dan seolah ada sabda yang terbawa kicauan burung tersebut. Ia mampu mendengar alam, karena telah menyatu dengan alam.

Ditemani dua santrinya, Amongraga terus berkelana, mencari kedua adiknya setelah 40 hari bersama istrinya, Tambangraras.

Pengelanaan yang sarat dengan menjelajah alam, membuat Amongraga dewasa dan kian bijak. Bahkan menjadi manusia linuwih, yang banyak ilmunya. Utamanya, karena dia sudah mempelajari Islam, ilmu soal syariat, tarikat, Hakikat, dan makrifat.

Melalui semedi, laku priatin di tempat sunyi, membuat orang jawa kuno tajam pikirnya, peka perasaannya dan luas wawasannya. Ini yang lambat laun hilang di dalam diri kita. Slogan timw is money berhasil menggerus kita dari identitas jawanya, semedi/merenung/kontemplasi, memahami alam. Malahan, kini goa dan gunung hanya dijadikan asesoris pelengkap backgound foto agar lebih indah. Padahal, dua tempat ini dulu menjadi tempat 'sakral' yang sangat dijaga kesuciannya. Kini, sampah berserakan di dua tempat ini, oleh generasi muda yang entah tahu atau tidak, sadar atau tidak, kian hari merusak lingkungan. Dan tentu, membuat alam murka.

Jogja, 6 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 5 August 2016

Tertipu


Senja hari di Waroeng Steak, saya, pertama kalinya, mencicipi menu serba steak. Tentu, bersama satu teman lainnya.

Di sela menunggu hidangan tersaji, saya asyik memperhatikan sekitar. Di parkiran depan berjajar rapi beragam jenis mobil mewah. Di samping warung, dua deret motor juga rapi terparkir. Ditunggui satu tukang parkir yang gendut perutnya, dengan kaos warna hitam. Tas kecil, terlihat melilit menyilang dada-perutnya.

Sementara di dalam warung, cukup ramai dengan pelanggan yang tengah makan maupun baru memesan. Tiga langkah dari tempat duduk saya, berkumpul ibu-ibu (sosialita?) yang asyik berbincang, dengan dandanan 'necis' tentunya. Mungkin, batin saya, mereka istri-istri pejabat.

Sepersekian detik kemudian, datang dua ibu berjilbab dan satu ibu dengan pakaian biasa serta anak kecil dalam gendongannya. Sontak, melihat ibu yang menggendong anak tersebut (yang jauh berbeda dari segi tampilan pakaian dan segala yang nampak dari istri-istri pejabat), saya sibuk mencari uang receh di saku. Saya juga sempat heran, kok ada orang semacam ini di warung yang mewah.

Lama saya perhatikan, dan ternyata ibu-ibu tersebut tak lain adalah bagian dari salah satu istri-istri pejabat. Ia juga dipesankan makanan; dia baby sister. Saya mendadak merasa sangat bersalah, telah menganggap dirinya sebagai pengemis, hanya karena tampilannya.

Sekaligus, saya juga merasa iba dan bangga padanya. Iba, karena sudah menua tapi masih mengasuh anak (yang mungkin) bukan anak ataupun cucu kandung. Bangga, karena ketahanan dia dalam bekerja. Untuk majikan (ini pandangan subyektif saya) juga kagum saya. Pasalnya, ia tak malu mengajak ibu pengasuh anaknya untuk ikut berkumpul dengan rekan-rekannya.

Hanya yang membuat saya merasa bersalah sampai kini adalah, saya telah melihat sebelah mata orang hanya karena tampilannya. Juga, secara tak langsung, sudah menghinakan orang tersebut. Semoga bisa lebih mawas diri. Semoga!

Jogja, 5 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 4 August 2016

Kebudayaan Jawa


Untuk belajar budaya Jawa, saya merasakan sangat kesulitan. Tentu, karena saya hidup di era yang jauh dari peradaban Jawa kuno, yang masih banyak pujangga jawa berkarya. Terlebih, virus modernisasi dan sayatan kolonialisme kian memudarkan budaya jawa dari yang empunya. Karena bagaimanapun juga, sejarah (peradaban, adat-istadat, dsb) adalah milik sang pemenang. Yang kalah, tinggallah bersama tanah, terkubur dan membusuk tiada bekas.

Saya tidak sedang mengatakan kalau kebudayaan jawa kalah tarung dengan modernisasi. Tapi, yang empunya, lamat-lamat meski sadar ataupun tidak, kian kehilangan selera untuk nguri-uri kebudayaan Jawa. Kiblatnya bukan leluhur atau nenek moyang lagi, melainkan Negara Barat yang antah berantah.

Budaya jawa tetap masih ada, tersimpan rapi berkat kegigihan pujangga dan orang pintar masa lalu. Hanya saja, jarang sekali generasi milenium mau mempelajari dan kemudian menjadikan sebagai pegangan hidup. Terlebih, tingginya nilai sastra dalam setiap kawruh yang terselip dalam tembang, suluk, serat dan sebagainya. Hingga lengkaplah sudah, rintangan yang harus dilalui oleh generasi milenium untuk mempelajarinya.

Maaf, maaf, saya malah nglantur dan sok tahu. Padahal baru saja baca satu-dua buku soal jawa, itupun bukan buku babon. Maaf, maaf!

Saya hanya merasa takjub, dan lumayan tercerahkan ketika membacai buku tentang cerita budaya jawa. Banyak terkandung nilai luhur laku manusia, juga nasehat bijak bestari dari para guru. Kemelaratan rakyat kecil juga justru membuat saya takjub, karena serbaketerbatasan mereka tertutup oleh budaya 'mangan ora mangan sing penting kumpul'. Sukanya main gotong royong. Yang tak bisa sumbang tenaga, sumbang makanan. Yang tidak bisa sumbang keduanya, sumbang doa. Menakjubkan, bukan, masyarakat jawa ini? Ya, meski banyak juga lakon buruk masyarakat jawa, terlebih para priyayi.

Jawa adalah jati diri. Orang jawa tentu sudah seharusnya belajar tinggalan kebudayaan jawa. Entah kamu beragama Islam, Kristen, Hindu, dan sebagainya. Tapi kmu juga harus ingat, bahwa jawa adalah identitas.

Tidak perlu seluruh budaya jawa diterapkan. Karena dunia selalu menggelinding, apa salahnya untuk mengambil yang baik, melepas yang buruk.

Jika kamu orang Islam, ya jangan sampai kehilangan jawanya. Tak perlu pakai pakaian negara yang diberkahi dengan turunnya Islam padanya. Kita, kata Cak Nun, orang Jawa yang beragama Islam. Sementara berislam tidak bisa lepas, dalam hal praktiknya, dari adat-budaya setempat. Jangan dikira negara Arab, muasal Islam berkembang, lebih mulia daripada Jawa. Kan sudah dibilang, Allah itu hanya melihat ketakwaan seseorang (sebuah negara?), bukan identitas atau semacamnya yang sifatnya kulitnya.

Berislam di jawa memang mengasyikkan, demikian pikirku saat membaca sebagian sangat kecil hikayat ulama jawa tempo doeloe. Beberapa berasal dari luar jawa, misal Jeddah, tapi bisa meleburkan diri ke dalam masyarakat. Maka, aneh bukan, jika ada orang jawa yang sukanya meniru tampilan orang Arab, dan melihat dengan sinis (ahli bid'ah, kafir) bagi tetangganya yang berbeda praktik ibadahnya?

Dan saya melihat pada masa lalu, masyarakat hidup guyub-rukun meski beda pandangan. Itu di Jawa. Dan saya rasa, di tempat lain juga demikian, dengan adat-budaya yang khas pula. Saya belum bisa merasakan itu semua, karena keterbatasan dan sempitnya wawasan saya. Jadi, mari belajar!

Jogja, 4 Agustus 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Centhi Centhini


sumber gambar: m.pojokpitu.com

Meski sudah berkali-kali diceritakan, Centhini selalu menggoda saya menggerakkan jari-jari untuk mengetik. Saya jadi tak tahan untuk membayangkan, secantik-seanggun apakah Centhini itu? Meski centhi, pembantu, tapi tetap saja pesonanya tak kalah dengan bandaranya, Tambangraras. Bahkan, ketika perayaan pernikahan Bendaranya dengan Amongraga, dan Centhini juga ikut mendampingi serta dirias layaknya pengantin, para tamu mengira pengantinnya kembar. Tentu saja, bisa dipastikan, seelok apakah sosok ciptaan Tuhan ini (atau mungkin imajinasi masyarakat jawa?).

Tapi bukan itu, sebenarnya, yang membuat saya kagum. Okelah, sebagai laki-laki, saya punya dorongan suka kepada lawan jenis. Rasa suka saya juga kerap (bahkan selalu?) timbul dari paras ayu, kemudian menyusul laku yang menawan. Namun, yang terakhir inilah yang saya kagumi dari sosok Centhini.

Centhini, dari kelas sosial, jelas ia masuk kelas bawah, pembantu, tak punya hak memiliki dirinya sendiri. Dari segi umur (meski tak disebutkan umur berapa), ia masih dalam awal-awal masa pubertas, remaja labil. Selain itu, ia juga hidup dikelilingi perempuan bangkotan, yang kasar dan jorok serta ceplas ceplos omongannya.

Ia merupakan centhi, dari bendara Tambangraras dan Amongraga sebagai suaminya. Selain itu, ia juga centhi bagi Bendara Nyi Malarsih, ibunda Tambangraras.

Centhini diberi tugas oleh Nyi Malarsih untuk menunggui pengantin. Juga dipesan untuk menceritakan saresminya pengantin oleh perempuan bangkotan di dapur. Selain itu, ia juga dimintai bantuan oleh Suratin, lelaki kemayu yang ingin melamar Ni Sumbaling, centhi sekaligus teman Centhini. Ditambah, ia juga diminta untuk menjaga rahasia dari Amongraga.

Banyak hal yang ia dengar dari bilik pengantin tidak diceritakan kepada Nyi Malarsih saat diminta melapor. Juga apa yang menjadi keinginan Suratin melamar Sumbaling, tidak ia umbar-umbar. Bahkan, saat ia sampaikan niatan Suratin tersebut, dibalut dengan ungkapan candaan kepada Sumbaling, dan ditanggapi dengan penolakan, ia tak langsung mengatakan pada Suratin. Barangkali, takut patah hati.

Soal rahasia Amongraga yang akan meninggalkan istrinya, juga tidak ia ceritakan. Ini semata, dalam pandangan saya, bukan karena tugas. Melainkan, budi luhur Centhini yang mampu mengukur mana konsumsi pribadi dan mana konsumsi umum. Juga, mampu mengukur akibat yang terjadi, jika suatu hal ia katakan dengan jujur.

Dan kenapa juga banyak orang yang memberikan amanah kepada Centhini? Seperti Amongraga, Nyi Malarsih, Suratin, dan ibu-ibu dapur. Lihatlah,  Centhini mampu menjadi figur yang dipercaya lintas kelas; priyayi dan centhi atau pembantu. Tentu saja, sekali lagi, karena laku amanahnya.

Menjadi jelas, bahwa amanah tak kenal kelas sosial. Amanah akan semakin menumpuk ketika seseorang punya laku jujur dan dapat dipercaya. Tapi tunggu dulu, saya ingat, bahwa Centhini (meski centhi) juga punya posisi istimewa; sahabat Tambangraras, bendaranya. Ini artinya?

Jogja, 4 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Centhini Menggugat


Sumber gambar: dievegge.deviantart.com

Ditugaskan 40 hari 40 malam untuk menjaga pengantin, Centhini banyak mengalami pergolakan batin. Tak lain, karena wejangan Syekh Amongraga kepada istrinya, Niken Tambangraras, yang juga dikuping oleh Niken Centhini. Ini karena, setiap malam selama 40 hari, Centhini selalu menunggui pengantin di depan pintu kamar mereka. Terlelap pun, Centhini tetap di tempatnya, tak berpindah meski terkadang menginginkannya.

Wejangan Syekh Amongraga, membuat Centhini menyimpan banyak pertanyaan di kepala. Adat-istiadat, pandangan masyarakat Jawa terhadap relasi laki-laki dan perempuan, yang menempatkan perempuan sebagai barang atau sederajat dengan binatang piaraan, hanya sebagai penyenang laki-laki, digugatnya dalam diam. Ia diam, lantaran posisi dirinya sebagai centhi, pembantu yang tak memiliki hak memilih, sekalipun memilih dirinya sendiri. Tak ada waktu, selain untuk mengabdi pada bendaranya. Demikianlah kehidupan Centhini.

Selama tugas menunggui pengantin, Centhini banyak belajar. Sudah pernah saya tuliskan bukan? Bahwa Centhini dikatakan perawan kencur, anak wingi sore, yang belum bisa membuang ingus sendiri. Ia masih polos, terlebih soal kehidupan pengantin dan ilmu soal hidup serta mati. Hanya saja, siapa sangka, Centhini yang polos itu tajam pikirannya, tinggi rasa ingin tahunya, atau dalam istilah sekarang; kritis. Meski, tetap saja, apa yang ada dalam pikirannya tak semuanya dituangkan melalui suara, karena ia merasa ada batasan-batasan yang tak bisa dilanggar. Ia juga tahu akan posisinya, sebagai centhi, hingga tak ada keberanian untuk berpendapat di hadapan orang lain, terlebih bendaranya.

Ia polos tapi punya potensi. Tentu kamu pernah mendengar, bahwa mencipta lebih mudah daripada merubah. Membikin goresan di kanvas yang polos/bersih, tentu lebih mudah ketimbang merubah goresan yang sudah ada. Ini yang terjadi dalam diri Centhini. Ia polos dan punya kesempatan untuk membercaki kepolosannya dengan segenap pengetahuan yang meluncur dari mulut Syeikh Amongraga.

Setiap malam, selalu saja ada pertanyaan yang baru. Ia pun kebingungan sendiri, karena tak setiap pertanyaan memiliki jawaban. Bahkan, sekalipun ia memiliki jawaban, akan timbul pertanyaan baru. Centhini kian puyeng, dan bertanya-tanya soal pertanyaan dan jawaban. Tapi, tanpa terasa, Centhini yang polos kian mahir dalam berpikir filosofis. Ini juga yang membuat ia tajam pikir, peka terhadap realitas sekitar.

Barangkali inilah hakekat menuntut ilmu. Mengosongkan pikiran, menerima sekian yang didengar, lantas mengolahnya sendiri. Tidak hanya wejangan Syeikh Amongraga, manusia linuwih saja yang ia tampung. Ni Mbok Daya, centhi sekaligus orang tua Centhini, juga ia dengarkan. Tak ada batasan, berguru dengan priyayi maupun centhi, kacung. Dalam khazanah bahasa Arab, ada istilah 'lihat apa yang diucapkan, bukan siapa yang mengucapkan'. Ini yang barangkali diamalkan Centhini, meski mungkin ia tidak menyadari.

Wejangan demi wejangan berdesak-desakan dalam kepala. Yang tentu, butuh disalurkan. Dari wejangan ini pula, Centhini mulai mempertanyakan segala hal. Semangat yang ia bawa, adalah keadilan. Ia memegang wejangan Seikh Amongraga, yang mengatakan bahwa laki- laki dan perempuan sama derajatnya. Tak ada yang berhak memperalat satu di antara keduanya.

Dalam budaya Jawa memang kental sekali sistem patriarkhi; laki-laki di atas perempuan, dalam hal kuasa. Centhini menggugat ini. Meski, dalam diam. Ia menggugat, meski belum bisa secara vulgar. Ini wajar, karena ia sangat diwarnai didikan jawa (didikan centhi) yang tidak berhak atas tubuhnya sendiri. Semakin baik pengabdian seorang centhi, semakin mulialah ia. Itulah kehidupan seorang centhi.

Apakah centhi tak berhak memilih pendamping hidup? Begitu yang dipikir Centhini. Dan pikiran semacam ini, dirasa tabu waktu itu.

Gugatan demi gugatan dipendam dalam-dalam oleh Centhini. Meski, gugatan ini lambat laun membikin Centhini kian berani. Terlebih, Centhini mendapat tempat istimewa; menemani (dan mengintip) pengantin. Ini karena hubungannya dengan bandara Tambangraras yang seolah saudara sendiri.

Di akhir-akhir menuju malam ke-40, beberapa kali Centhini ditemui Seikh Amongraga setelah ia membuai istrinya agar tidur. Berdua saja, Centhini dengan Syeikh Amongraga, membicarakan soal yang sangat rahasia. Ia diceritai, bahwa suatu saat, Syeikh Amongraga akan minggat dari pelukan istrinya, dari desanya, Wanamarta. Ia minggat, untuk berkelana mencari kedua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti, yang menjadi buron Mataram.

Mendengar cerita tersebut, Centhini gelisah. Bimbang antara menceritakan ke orang lain atau tidak. Di satu sisi, ia diminta Seikh Amongraga untuk merahasiakan dan menceritakan di saat yang tepat. Tapi di sisi lain, tak kuasa kiranya Centhini jika melihat bendaranya ditinggal suaminya. Tentu akan sedih sekali, karena bendaranya itu telah beberapa kali menolak lelaki yang melamarnya, hingga dilewati oleh kedua adiknya menikah, Jayengwesthi dan Jayengraga. Bendaranya itu menunggu sosok lelaki yang alim, dan jatuhlah pilihannya pada Syeikh Amongraga, sang pengelana antah berantah yang awalnya bernama Jayengresmi. Tentu saja, bendaranya itu sangat mencintai suaminya. Sungguh-sungguh cinta.

Hingga di malam ke-40, tepatnya di tengah malam, Syeikh Amongraga pamit untuk minggat, meski oleh istrinya tak diizinkan. Karenanya, Syeikh Amongraga menunggu istrinya tidur, dan kemudian pergi saat pagi menjelang fajar.

Dan saat Tambangraras terjaga, ia sudah tak mendapati suaminya di sisinya lagi. Tentu saja, ia terpukul dan pingsan. Mendadak, warga desa Wanamarta terguncang perasaannya, dan turut menangis merasakan kepedihan Tambangraras ditinggal suaminya.

Centhini, yang tak lain adalah 'belahan jiwa' Tambangraras, kecewa dengan keputusan suami bendaranya untuk pergi. Ia bahkan menyamakan Syeikh Amongraga, manusia linuwih, seperti laki-laki pada umumnya. Tak mengerti perasaan perempuan. Hanya mementingkan kepentingan sendiri, sekalipun meninggalkan istri.

Hanya saja, saya jadi tak tahan untuk bertanya; penting manakah, meninggalkan istri untuk mencari adik-adik kandungnya, atau tetap bersama istri, melupakan adik-adik kandungnya? Atau, mengutip pertanyaan Centhini, kenapa Syeikh Amongraga tak terus terang saja, meminta bantuan warga Wanamarta untuk mencari adiknya? Tentu saja, barangkali, karena Syeikh Amongraga tak ingin terjadi apa-apa pada warga Wanamarta.

Tapi apapun alasan Syeikh Amongraga, tetap di mata Centhini; Amongraga sama seperti lelaki lainnya, egois!!

Sumber bacaan: Wirodo, Sunardian. 2009. Centhini; Sebuah Novel Panjang. Yogyakarta: Diva Press.

Jogja, 4 Agustus 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...