Dari judulnya, tentu sudah bisa ditebak bahasan isinya mengarah ke mana. Dalam beberapa bab, yang membuat saya tertarik adalah bab soal pencarian Tuhan (dalam Islam disebut Allah).
Ada empat teori yang lahir dari perjalanan manusia dalam mencari Tuhan-nya, dzat metafisik yang memiliki kuasa di atas kuasa.
Pertama adalah teori KOSMOLOGI. Teori kosmologi memandang bahwa adanya alam semesta sebagai bukti bahwa Tuhan itu ada. Logikanya, setiap yang ada tentu ada yang mengadakan. Kelanjutan teori ini juga mengaitkan dengan sistem gerak, dimana sesuatu yang bergerak pasti ada yang menggerakkan. Gerakan ke-10, misalnya, digerakkan oleh penggerak 9, gerakan 9 oleh penggerak 8, dan seterusnya sampai pada penggerak terakhir yang tidak mungkin digerakkan, karena ia berdiri dan bergerak dengan tanpa batas, maka penggerak inilah yang oleh manusia disebut Tuhan.
Kedua, teori TELEOLOGI. Sebenarnya, kata Perdamaian dalam bukunya, teori teleologi sebagai kelanjutan dari kosmologi. Bahwa adanya sesuatu menunjukkan adanya kesengajaan dalam pengadaannya. Karena faktor kesengajaan ini, tentu, di setiap kejadian di alam semesta, mengandung maksud dan tujuan serta hikmah tertentu. Karenanya, hanya yang mengadakanlah yang paham maksud hakikinya sebuah penciptaan. Ia adalah Tuhan. Semenatara posisi manusia di sini, hanya meraba-raba dan berupaya sekeras mungkin untuk memahami (bukan mengetahui) hikmah, maksud, atau tujuan sesuatu diadakan/diciptakan. Oleh karena itu, pembuktian keberadaan Tuhan berdasar teori ini mengantar manusia pada rasa syukur atas apa yang diadakan Sang Kuasa.
Ketiga, teori ONTOLOGI. Memang, kata penulis buku, teori ini jarang sekali dipakai oleh orang awam. Hanya pemilir ulung dan filosof yang mampu menerapkan teori ini. Bahwa kesempurnaan sesuatu adalah sebagai pertanda adanya yang lebih sempurna, dan kesempurnaan yang lebih menunjukkan bukti wujudnya merupakan pijakan teori ini. Kesempurnaan di atas segala kesempurnaan, merujuk pada wujud Sang Maha Sempurna, Gusti Allah SWT (atau istilah universalnya; Tuhan).
Keempat atau terakhir, adalah teori MORAL. Bahwa wujud Tuhan dapat dibuktikan dalam jiwa manusia, sehingga manusia kenal kewajiban-kewajibannya. Penggagas teori ini adalah Immanuel Kant. Darimana seseorang dapat tunduk pada kebenaran seandainya timbangan kebenaran tidak ada pada jiwanya?
Lebih mudahnya, penulis buku mencontohkan kasus tentang kehidupan dua manusia (Si A dan Si B) dalam satu masa. Si A, misal, membunuh Si B, lalu Si A dapat hidup lama dan berjaya bahkan dapat beribadah dengan baik. Sementara Si B tidak bisa menambah amalannya, karena telah mati. Kasus ini, tentunya, tidak adil jika tak ada yang mengadakan pengadilan yang jujur dan adil, sehingga Si A mesti mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan Si B dapat menuntut tindakan Si A. Pembuat pengadilan itu (dalam islam disebut kampung akhirat; hari pembalasan) mestilah yang lebih mulia dan agung dari Si A dan Si B. Dialah, Tuhan Yang Maha Agung dan Bijak.
Tentu, masih banyak teori semacamnya yang dianut manusia untuk mencari kekuatan yang ada di luar diri manusia. Seperti, adanya fitrah bertuhan dan pengalaman hidup manusia selama hidupnya. Dalam sejarahnya, manusia secara alami merasa ada kekuatan besar di luar dirinya. Kekuatan yang mampu mendatangkan bencana sekaligus kemakmuran. Kekuatan tersebut lalu disimbolkan dengan Dewa-dewa atau semacamnya. Dan manusia, dengan segala keterbatasannya, merasa perlu bersandar pada dewa-dewa tersebut, atau kekuatan besar di luar dirinya. Petani punya (simbol) Dewi Sri. Kejawen punya Sang Hyang Widi, yang semuanya itu merujuk pada kekuatan (berdasar rasa manusia) di luar dirinya yang lebih dahsyat.
Demikian yang saya dapat dari membaca buku beliau Dosen UIN Suska Riau. Ia dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang secara keilmuan (harusnya) mumpuni untuk membicarakan persoalan akidah. Sehingga, saya rasa, tak ada salahnya saya bacai buku ini. Karena hidup adalah proses mencari. Dan membaca sebagai salah satu medianya. Bahkan, merupakan titah dari Sang Kuasa yang termuat dalam Kitab-Nya. Iqra!!! Iqra!!! Iqra!!! Bismirabbika alladzii khalaq!!
Sumber: Perdamaian. Akidah; Implementasinya dalam Kehidupan Modern. Solo: Pustaka Iltizam.
Jogja 2016

