Friday, 30 December 2016

Grafomania


Grafomania

Istilah baru yang aku dapat dari bukunya Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Apa itu grafomania?

Begini contoh kasus yang dipaparkan oleh Kundera. Seorang perempuan yang menulis surat empat buah tiap hari untuk kekasihnya, bukanlah grafomaniak, ia hanyalah seorang perempuan yang sedang dimabuk cinta. Tetapi temanku yang memfoto kopi surat-surat cintanya supaya bisa diterbitkan menjadi sebuah buku, ia adalah grafomaniak.

Grafomania bukanlah keinginan kuat untuk menulis surat, diary, atau sejarah keluarga (untuk diri sendiri dan keluarga dekat); grafomania adalah keinginan untuk menulis buku (untuk mendapatkan publik pembaca yang tak dikenal).

Grafomania (obsesi menulis buku) akan pesat perkembangannya, mewabah, ketika sebuah masyarakat berkembang mencapai titik bisa menyediakan tiga syarat:
1. Tingkat kesejahteraan umum yang cukup tinggi yang memungkinkan orang mencurahkan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan tak bermanfaat.
2. Tahap atomasi sosial yang maju, dan perasaan umum yang ditimbulkan oleh pengisolasian individu.
3. Tiadanya perubahan sosial penting yang radikal dalam perkembangan internal sebuah bangsa (dalam hubungan ini aku menemukan adanya gejala di Perancis, sebuah negeri di mana tak ada apa pun yang benar-benar terjadi, prosentase penulis dua puluh satu kali lebih tinggi dibandingkan di Israel. Bibi benar waktu menyatakan tidak pernah mengalami apapun 'dari sebelah luar'. Ketiadaan rasa puas inilah, kehampaan inilah, yang memberikan tenaga pada mesin yang mendorongnya untuk menulis).

(Nah penjelasan berikutnya ini yang aku belum benar-benar bisa memahaminya)

Tapi 'akibat' mentransmisikan semacam kilas balik pada 'sebab'. Bila pengisolasian umum menyebabkan grafomania, grafomania massa itu sendiri memperkuat dan memperburuk perasaan atas pengisolasian umum. Penemuan percetakan pada mulanya mempromosikan saling pengertian. Dalam era grafomania, penulis buku mempunyai akibat yang berlawanan: setiap orang mengelilingi dirinya dengan tulisan-tulisannya sendiri, seperti dinding cermin yang memutuskan segala suara dari luar.

Aku jadi teringat perkataan seorang kawan di malam Jum'at minggu terakhir tahun 2016. Ia mengatakan bahwa di era sekarang, masing-masing orang memiliki pandangan masing-masing. Masing-masing orang mengelilingi dirinya dengan apa yang diyakini benar. Forum diskusi tidak bisa membuka lingkaran 'kedirian' itu. Sehingga, sia-sia belaka jika ada seorang yang ingin merubah pola pikir orang lain dengan argumentasinya selogis apapun. Apakah ini gejala grafomania? Oke orang-orang Indonesia tidak menulis buku, tapi ia mengelilingi dirinya dengan pandangan-pandangannya sendiri. Meminjam istilah Kundera, seperti cermin yang memutuskan segala suara dari luar.

Meski ucapan seorang kawan tadi cukup naif, karena aku merasa mudah sekali menerima hal yang baru (artinya tidak melingkari diri dengan dinding cermin). Tapi tetap saja, ini membuat otak berpikir. Pun menjadi sanksi pada pandangan diri bahwa aku bukan grafomania. Bahwa aku tidak melingkari diri dengan dinding cermin...

Diinspirasi dari Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, hal. 154-155.

Jogja H-1 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 21 December 2016

Selamat Hari Ibu




9 bulan engkau mengandungku, ibu. 2 tahun engkau menyusuiku dengan sabar. 5 tahun, engkau merawatku, dengan penuh harap kelak menjadi anak yang shaleh. 1 tahun engkau kirimkan aku, untuk belajar pengetahuan sederhana tentang garis, bentuk, dan gambar serta warna-warna. 6 tahun, engkau upayakan pendidikan dasar, sebagai bekal untuk ke jenjang selanjutnya. Waktu itu, benar-benar aku merasa bangga denganmu, ibu. Pernah di pertengahan masa 6 tahun, aku berbuat nakal padamu. Sampai aku bilang, "bunuh aku saja, ibu", lalu engkau (tanpa sengaja) membenturkan kepalaku ke tempat wudhu. Aku yakin, waktu itu engkau sangat terpukul dengan perkataan seorang anak kecil ini. Maafkan aku, ibu.

Aku sadar, insiden itu sebagai pelajaran bagiku, seorang anak kecil yang belum tahu artinya pendidikan. Belum tahu sopan santun. Dan waktu itu, aku benar-benar mendapat pelajaran yang berharga.

6 tahun pula, engkau mengirimkanku untuk belajar pendidikan agama di kecamatan sebelah. Tentu saja, dengan harapan agar aku punya pemahaman agama yang baik. Dan itu terlewati sudah.

Hingga akhirnya sampai sekarang, engkau kirimkan aku ke provinsi seberang. Tujuannya tetap sama, untuk memberikan bekal ilmu kehidupan padaku. 4,5 tahun sudah berlalu, dan aku belum juga merampungkan studiku.

Pertama yang aku pikirkan dan tak dibayangkan adalah, perasaan ibu ketika melepaskanku untuk belajar jauh dari rumah. Aku tidak tahu, karena ibu tidak cerita dan aku tidak pernah meminta ibu bercerita. Aku hanya melihat ada asa yang ibu pikulkan pada pundakku, beriring wejangan "jangan sampai tinggalkan shalat berjamaah". Dan yang terpenting, ibu selalu percaya pada apa yang aku lakukan di perantauan. Hingga kerap menerbitkan rasa bersalah dalam diri, karena belum bisa melakukan apa yang dipesankan ibu.

Kedua, perasaan ibu yang barangkali sudah ingin cepat melihat anaknya selesai studinya. Sudah 4,5 tahun, overload. Tapi dengan berbagai alasan, aku yakinkan pada ibu, bahwa aku kuliah lama karena ikut organisasi. Orang-orang yang ikut organisasi, kataku pada ibu suatu kali, lulusnya lama-lama. Yang kutakutkan bu, kataku, setelah lulus aku malah bingung, seperti yang dirasakan beberapa teman kuliah yang sudah lulus.

Selalu saja, organisasi aku jadikan alasan untuk lulus agak terlambat. Dan herannya, ibu selalu mengiyakan. Ibu selalu berada di pihakku. Ketika bapak bilang, setengah tahun skripsi kok tidak selesai-selesai. Ibu bersikap netral, tapi di lain waktu ibu mendukungku. Bukankah itu sikap yang sulit? Ketika ada bapak, untuk menjaga perasaannya, ibu seolah tidak mau ikut campur. Hingga kerap aku dan bapak berdebat.

Entah apa yang bisa aku berikan kepada ibu, untuk balas budi kebaikan ibu padaku. Aku hanyalah seorang anak, yang selamanya tidak akan bisa balas budi baik ibu. Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku persembahkan. Dan, ketaatanku padamu yang selalu diupayakan.

Karena jarak, ibu, mengajarkanku arti kerinduan. Mengajarkanku, betapa engkau sangat besar jasanya pada kehidupanku. Sebagai penyejuk ketika hati mulai gersang.

Selamat hari Ibu... Semoga ibu selalu sehat selalu dan bahagia. Dan semoga aku bisa menjadi salah satu alasan ibu untuk bahagia.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 19 December 2016

Dalam Binatangisme


Dalam Binatangisme

Sebuah pengantar:
Beberapa hal yang aku temukan dalam karya George Orwell, Binatangisme adalah:

1. Ketertindasan kaum hewan (kelas proletariat) atas manusia (kelas Borjuis pemilik modal).

Bahwa binatang merasa segenap hidupnya hanya diabdikan untuk melayani tuannya. Ia yang bekerja banting tulang, sapi produksi susu, ayam produksi telor, babi menggemukkan dirinya untuk disembelih, dan sebagainya. Mereka memproduksi, tapi hasilnya semata dinikmati tuannya, yang manusia itu..

Dari sini kemudian muncul pemberontakan. Inisoatornya adalah babi, hewan yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tujuannya, untuk menggulingkan kuasa manusia, lalu menguasai alat produksi untuk dikelola sendiri.

Dan mulailah propaganda dilancarkan. Hingga melahirkan lagu "Binatang-binatang Inggris" sebagai sumplemen penyemangat. Jika dalam komunis, mungkin kita kenal lagu 'kebangsaannya' berjudul "Internasionale".

Si Babi propagandis, karena sudah umur, mati sebelum tercetus lagu "Binatang-binatang Inggris". Namun sudah sempat berpesan, bahwa sesama binatang tidak boleh ada kasta, saling bunuh, dan saling tindas. Egaliter.

Babi Tua mati meninggalkan kader andalan dua babi: babi pertama memiliki kemampuan berpidato dan cerdas. Yang kedua, punya ambisi kuat. Mereka berdualah yang akan memimpin republik binatang, setelah pemberontakan dalam "Pertempuran Kandang Sapi", antara mereka dengan manusia, dimenangkan oleh mereka. Pemberontakan ini juga tidak bisa terlepas dari kontribusi dua babi tersebut.

Maka terbangunlah republik binatang tanpa kelas. Mereka sama-sama bekerja, untuk menggarap ladang, dan hasilnya dinikmati sendiri. Ini pun tersebar sampai ke peternakan tetangga. Sehingga, pemberontakan (meski masih soft) kian terasa. Binatang ternak banyak yang mogok kerja.

Dua babi kader andalan yang dipercaya untuk memimpin republik binatang, pada perkembangannya, banyak silang pendapat. Si cerdas dengan segala wawasannya, selalu melakukan gebrakan untuk mempermudah kerja para binatang. Sehingga, yang awalnya kerja setiap hari, bisa dipangkas menjadi 3 hari dalam seminggu (meski belum terealisasi). Sementara Si Babi Ambisius, merasa iri dan ingin tampil di depan.

Maka sampai suatu momen, ketika Si Cerdas pidato, muncullah Si Ambisius dengan membawa anjing-anjing didikannya. Anjing-anjing tersebut diperintahkan untuk menerkam Si Cerdas. Forum semakin mencekam. Dan Si Cerdas, lari terbirit-birit menghindar dari kejaran anjing. Maka, naiklah Si Ambisius di atas podium jerami, dengan dikawal anjing-anjing, disertai satu babi lagi sebagai jubirnya. Dan jadilah Si Ambisius berkuasa.

2. Manipulasi Sejarah dan Merekasaya Undang-undang
Semenjak Si Ambisius berkuasa, banyak kebijakan yang dirombak. Kian tahun, para binatang selain babi (karena buta huruf) mulai merasa ada yang tidak beres. Namun segera Si Jubir sekaligus Propagandis miliknya Si Ambisius, meredam gejolak ini dengan merekayasa sejarah.

Dengan menjelaskan bahwa apa yang diketahui oleh mereka tentang kisah heroik Si Cerdas, hanyalah siasat licik. Si Cerdas, dikisahkan ulang, sebagai binatang yang ingin sekongkol dengan manusia. Ia merencanakan sesuatu yang keji dengan ditutup-tutupi aksi heroiknya ketika memimpin dan mengatur strategi di "Pertempuran Kandang Sapi". Karena daya ingat lemah, maka para binatang percaya saja.

Pun, aturan-aturan yang telah disepakati bersama, mulai direkayasa. Yang awalnya berbunyi "Setiap binatang tidak boleh membunuh sesama binatang". Dirubah (atau tepatnya diimbuhi) menjadi "Setiap binatang tidal boleh membunuh sesama binatang tanpa sebab".

Pun dengan lagu kebangsaan, yang awalnya dinyanyikan setiap hari Minggu, dilarang keras. Alasannya, karena lagu tersebut mengandung nilai-nilai pemberontakan (bukan lagi nilai perjuangan).

3. Lain-lain

Percaya dengan apa yang aku sampaikan, sesat!!! Maka, bacalah sendiri... Mari diskusikan!

*Disampaikan dalam Garasi 21/12/2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 17 December 2016

Surga dan Neraka Hanya Ilusi (?)




"Cak, saya rasa surga neraka itu ilusi"
"Misalnya ya cak, saya di surga nikmaaat terus, lama kelamaan bosan saya. Di neraka juga disiksaaa terus, lama kelamaan kebal tubuh saya dari siksaan"

Itu disampaikan oleh seorang laki-laki asal Surabaya, saat mengikuti kegiatan rutinan Mocopat Syafaat di kediamannya Cak Nun, Kasihan, Bantul (17/12/2016). Kegiatan rutinan ini diadakan setiap tanggal 17 setiap bulan. Soal kenapa memilih tanggal 17, saya belum telusuri apa alasannya.

"Saya senang, kamu sampai berimajinasi seperti itu. Teruslah begitu, dan jangan berhenti dalam pencarianmu" kata Cak Nun.

Ia kemudian lanjutkan dengan penjelasan.

"Gini ya, kamu bisa mengatakan begitu kan karena kamu masih hidup dengan sistem nilai di sini. Hidup dengan jiwa dan jasad. Kalau sudah di Surga, nggak bakalan terpikir dalam benakmu pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Karena di sana berlaku sistem nilai yang lain"

"Terus cak, menurut saya di Surga ada batasan-batasannya. Misalnya kalau saya di surga, ingin menolong adik di neraka. Bisa dong kalau memang di Surga, segala keinginan kita dipenuhi" kata arek Surabaya tadi.

"Kamu tidak akan sempat berpikiran: wah kasihan adik saya yang di neraka. Kemudian kamu menolongnya"

Dan sebagaimana kebiasaannya, Cak Nun dengan gaya humornya yang khas, merespon pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Moment yang sungguh membahagiakan ini hadir sekira pukul 01.00 dini hari. Dengan beberapa pertanyaan khas para pencari kebenaran yang kerap berimajinasi liar. Dihantam dengan jawaban Cak Nun yang logis dan khas wejangan orang tua kepada anaknya, dengan dilumuri nilai-nilai kesufian.

*apa yang saya tuliskan, tidak pyur sama dengan perkataan Cak Nun dan laki-laki Surabaya itu. Hanya inti-intinya saja yang berhasil saya rekam.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 16 December 2016

Tentang Kehilangan


Tentang Kehilangan

"Merasa kehilangan hanya ada bila..merasa memilikinya" -Letto-

Lengkapnya aku tidak hapal. Tapi sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan Band kenamaan di Indonesia, betul-betul terjadi dan bisa kita rasakan di dunia nyata. Logika sederhananya, bagaimana mungkin kita merasa kehilangan, jika tidak pernah merasa memiliki? Kehilangan hanya ada bagi orang yang punya rasa memiliki. Itu kuncinya.

Bulan 15/12/16 aku beli buku di Shoping, salah satu lapak buku terlengkap di Jogja. Waktu itu aku beli buku "Binatangisme" karya George Orwell. Terjemahan. Yang membikin saya menarik, sebenarnya, adalah judul dan sampul. Sampulnya adalah manusia berjas dan dasi, namun kepalanya babi. Dari sampulnya saja, aku menyimpulkan ada keterkaitan antara babi dan manusia, yang dibahas dalam buku tersebut.

Aku beli dengan harga 35.000. Plus sampul plastik. Buku mulai aku lahap sekira 2 jam setelah beli, tepatnya setelah sampai di kontrakan. Dan benar yang aku duga, isinya asyik dan bercerita tentang pertanian binatang (karena judul asli bukunya adalah, Animal Farm). Hanya butuh waktu 1x24 jam untuk menyelesaikan buku tersebut.

Tepat di kampus, sekira pukul 13.30, aku rampungkan buku itu. Tamat. Aku taruh buki itu di atas meja. Bersama tas dan berkas-berkas lain milik kawan. Aku campakkan begitu saja buku tersebut, dengan keyakinan tidak akan kemana-mana (baca: hilang).

Karena urusan di kampus sudah selesai, pun kawan-kawan sudah bubar, aku memutuskan untuk ikut bubar. Dan di saat membereskan berkas serta buku yang berserak, baru sadar bahwa buku Bintangisme tidak ada di meja. Aku cari di mana-mana tidak ada. Hingga di tas kawan: hasilnya nihil.

Dalam kepala dan dada, ada gelombang berkecamuk. Ingin marah, tapi sama siapa? Pada akhirnya, ya marah sama diri sendiri. Dengan keteledoran diri. Yang tidak bisa menjaga milik sendiri, terlebih buku sebagai jendela dunia. Buku yang dibeli dari subsidi orang tua. Sial. Tak ada kata terucap, hanya geram. Pikiran melayang-layang, mencari kemungkinan-kemungkinan. Mengingat-ingat, terakhir buku tersebut diletakkan di mana atau dipegang siapa. Tapi tetap, nihil. Aku pun pulang dengan pandangan hampa. Baru satu hari yang lalu beli, kini hilang. Meski, buku sudah ditamatkan, tetap saja kehilangan ini membuatku kecewa, terpukul. Kecewa pada keteledoran diri. Tentu saja, rasa kehilangan makin besar lantaran rasa yang pernah aku miliki, yaitu rasa memiliki buku.

Tapi sudahlah. Semoga ada yang menemukan dan dibaca. Paling tidak, aku sudah melahap isinya, meski baru sekali. Barangkali nanti akan aku tuliskan penilaian terhadap buku tersebut, untuk merawat ingatan. Tentunya, di luar masa berkabung kehilangan buku. Semoga terlaksana. Semoga...

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 10 December 2016

Kucing yang Diutus



Hiks hiks...hiks hiks... Hiks hiks

"Jangan minggir-minggir mba tidurannya, nanti jatuh"

"Sudah mba, kucingnya baik-baik saja. Nggak usah kawatir"

"Dia orang mana sih?"

"Kamu bareng sama dia, mas?"

Hiks hiks.... Hiks hiks..

"Oh, ini istrinya Si Anu. Nanti saya panggilkan suaminya"

"Kasihan sekali kucingnya"

"Loh Imron, dari mudik ya?"

***

Aku melajukan motor dari arah timur dan melewati Desa Kewangunan. Sekira 100 meter di depanku, seorang perempuan mengendarai motor dengan kecepatan kurang lebih 40 km/jam.

Bukk.....

Tubuh perempuan itu mental, berguling beberapa kali di atas aspal. Aku mempercepat laju motor, lalu berhenti tepat di samping perempuan itu. Orang-orang seketika berdatangan, laki perempuan, tua muda.

Aku yang sudah berdiri di sampingnya, bingung mau berbuat apa. Mau angkat tubuh perempuan itu, terlalu gemuk: pasti berat. Tidak jauh dari tubuh perempuan itu, tergeletak kaku seekor kucing, dengan mata mendelik.

Dan untungnya, ada dua orang bapak yang sedia mengangkat tubuh itu untuk dibawah ke teras rumah. Dibaringkan. Sementara aku, cukup menggotong helm dan ponselnya yang tergeletak di aspal.


Dan kucing yang kaku itu, digotong dan diletakkan di bawah pohon. Belum mati, sedang sekarat, barangkali. Entah karena syok atau ada persendian yang retak bahkan hancur. Kucing itu hanya diam, mengatur napasnya.

Jajanan yang perempuan cantelkan di motor, hancur. Gula pasir tumpak. Susu kotak pun pecah.

Hiks hikss.. Hiks hikss

Air bening mengalir dari kedua sudut mata perempuan itu. Baju bagian belakang tersingkap, memperlihatkan gempal punggungnya. Tapi itu tidak jadi persoalan, apalagi bahan tontonan. Tidak sempat, barangkali, orang-orang memperhatikan punggung yang penutupnya tersingkap. Toh, sama-sama punya punggung.

Justru, orang-orang kemudian berbondong-bondong ke arah kucing. Memeriksa kondisi kucing yang memprihatinkan.

Semakin ramai orang berdatangan, sementara perempuan itu masih juga menangis, dengan terus berbaring. Entah dia kesakitan, ketakutan, atau malu karena disaksikan banyak orang.

Yang jelas, aku jadi berimaji: kalau aku di posisinya, apa yang aku rasakan?

Dan yang terpenting, berhati-hatilah dalam berkendara. Karena di depan mata kita, tersimpan banyak misteri yang tidak kasat mata. Termasuk, kucing yang dikirimkan Tuhan untuk memberi peringatan!!!

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Satpam Kampus


Ada yang menarik dari bapak satpam yang aku temui. Aku kenal baik dengan dia, tapi tidak tahu siapa namanya. Yang jelas, semenjak obrolan di parkiran motor di kampus, aku jadi tahu bahwa dia memiliki empat orang anak.

Anak pertama usia smp, kedua kelas 4 sd, ketiga sd entah kelas berapa, dan terakhir masih taman kanak-kanak.

Berawal dari cerita kami tentang motor, ia mulai membuka diri untuk cerita tentang dirinya.

"Saya mas, setiap harinya habis 27 ribu untuk sangu anak-anak sekolah. Yang smp 10 ribu, sd kelas empat 7 ribu, adiknya lagi 6 ribu. Dan yang di tk 4 ribu"

Belum lagi, lanjutnya, saya memelihara burung, per hari habis 5 ribu untuk pakan.

Aku, yang mencoba jadi pendengar baik, justru pusing. Dan berpikir: banyak ya kebutuhan pak satpam itu, sebagai suami sekaligus ayah.

"Kalau dipikir-pikir tidak cukup gajinya untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Gaji saya UMR Sleman, 1,5 jutaan. Tapi ya alhamdulillah mas, ada saja rejekinya"

Ia juga menceritakan, kurang lebih 50 ribu dalam sehari, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum termasuk kebutuhan mendadak anak-anaknya. Yang terkadang, barangkali, lebih besar dari uang jajan.

Aku sesekali melihat air mukanya, terlihat ceria. Seakan tidak ada beban hidup, justru masih mampu menebar tawa. Sungguh kalau dipikir, tidak masuk akal.

"Wah emang bener pak, enak jadi mahasiswa" kataku sembari terbahak.

Dan satpam itupun ikut tertawa. Mungkin karena aku singgung soal kampus, dia mendadak teringat masa lalunya saat masih bocah. Ia sering dan betah main di kampus UIN.

"Dulu sini sejuk mas. Banyak rumputnya. Banyak mahasiswa diskusi di rumput-rumput. Empuk mas rumputnya. Kalau haus bisa petik kelapa yang tumbuh di lingkungan kampus. Pepaya, mangga. Banyak dulu pohon buahnya."

Dan sejenak aku merasakan hawa panas di lingkungan uin. Pohon-pohon beton kini telah kokoh berdiri. Tidak ada ruang terbuka, yang bebas dari beton.

Demikian... Banyak yang ingin aku sampaikan, tapi sulit untuk merangkainya dalam cerita. Jadi, nikmatilah sepenggal cerita dariku ini. Meski sederhana, paling tidak bisa menjadi bukti, bahwa aku masih peduli untuk menulis. Karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasan.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 30 November 2016

Lelaki Angkringan


Sekira pukul 11.00 pm, saya mlipir ke angkringan deket SGM. Saya pesen satu nasi kucing dan satu gorengan, lalu teh anget, dan satu nasi kucing lagi plus gorengan.

"Kayaknya bagus kalau Ahok dibom"

"Yang ngebom teroris aja, yang berani mati"

Lelaki penjual angkringan, nyerocos begitu saja, menghujani pengetahuanku tentang ahok dan aksi-aksi yang anti dengan dirinya. Saya juga melihat, dalam diri lelaki tersebut, penuh dengan amarah lantaran ujaran ahok yang dirasa menghina.

"Sebagai orang Islam ya mas, pasti tersinggung jika agamanya dihina. Apalagi Ahok non-muslim"

Dalam raut wajahnya, saya secara subyektif menilai, seolah-olah mantan pecandu. Entah miras atau narkoba. Ini saya nilai dari gerak-geriknya yang gelisah, dan sorot mata yang redup.

Ia kemudian menjelaskan dengan lihai dan seolah menguasai bahan obrolannya.

"Mas, sebenarnya bukan masalah penistaan agama saja Ahok itu. Tapi bukunya Ahok sudah ada sketsanya. Ada yang membongkarnya"

"Setelah apartemen jadi, akan dijual ke luar negeri. Kemudian dijadikan tempat untuk transaksi narkoba"

Saya hanya pasif saja mendengar apa yang lelaki itu obrolkan. Sembari sekali-kali manggut-manggut dan menguatkan apa yang ia katakan. Seperti murid yang tengah mendengar wejangan gurunya.

"Polisinya yang bodoh. Dikasih duwit, diam. Kemarin kan karena polisi kelelahan, terus disemburkanlah gas air mata itu ke massa aksi. Makanya kemarin yang dibakar kan mobil polisi"

"Yang namanya aksi, menyampaikan aspirasi, ya sah-sah saja. Bukan anarkis"

Ia lagi-lagi merujuk pada aksi 411, yang salah satu tuntutannya adalah memenjarakan Ahok.

"Mas, teh anget satu"

Dari balik punggung saya, muncul seorang laki-laki. Ia duduk sembari menunggu lelaki angkringan yang tengah meracik pesanannya. Ini saya manfaatkan untuk segera membayar apa yang sudah saya makan. Dan, yang paling penting, terbebas dari obrolan soal Ahok dan aksi-aksi tentangnya.

Jogja 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 29 November 2016

Menulis Untuk Keabadian



Masing-masing kita tentu memiliki cerita yang berbeda-beda. Cerita yang muncul dari benturan-benturan kita dengan realitas, yang kadang menyenangkan, dan kerap sekali menyakitkan. Namun, kerap cerita-cerita tersebut membusuk di kepala. Atau mungkin, terlupakan dan tertimbun dengan cerita-cerita lain yang berjubel.

Terlebih, kita yang menyandang status mahasiswa. Selain kerap (merasa) dibuat sakit hati oleh penguasa, juga memiliki  kegelisahan yang meletup-letup di dada dan kepala. Efek darah muda. Punya banyak tawaran solusi, namun mendadak linglung untuk memilih media apa yang harus digunakan untuk menyampaikannya. Melakukan demonstrasi, tidak memiliki massa yang banyak dan jadwal kuliah padat. Memilih media sosial sebagai media penyampaian aspirasi, takut terjerat pasal UU ITE yang telah banyak memakan korban. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?

Agaknya, kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh Gie. Sederhana. Ia menulis aktivitas keseharian sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang gandrung dengan keadilan, dan menceburkan diri dalam dunia aktivis. Juga Che Guevara, sang revolusioner Kuba. Ia membawa buku kecil dan pena, untuk mencatat potongan-potongan pengalaman selama melakukan gerakan revolusi. Meski mereka telah lama mati, pikiran-pikirannya beranak-pinak di setiap batok kepala siapa pun yang membaca karya mereka.

Karena itu, ada benarnya ketika Pram, dalam salah satu Tetralogi Buru-nya menulis: Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari.”

 Apa yang dikatakan oleh Pram bukanlah isapan jempol belaka. Banyak bukti yang bisa kita temukan. Bayangkan saja, jika tidak ada orang yang bersedia menceritakan sejarah masa lalu dalam bentuk tulisan kepada kita. Tentu kita selamanya tidak akan bisa mempelajari sejarah. Dan, meminjam istilah Eric Weiner (2016: , selamanya kita akan menjadi kanak-kanak, selama tidak mau mempelajari sejarah.

Begitu besar kontribusi tulisan dalam peradaban manusia. Namun, apakah hal ini sudah kita sadari sepenuhnya. Jika iya, apa langkah selanjutnya dari kesadaran tersebut, masih menjadi tugas kita bersama.

Belakangan kita amati, terlebih pasca aksi 411, banyak tulisan berseliweran di media sosial dan portal berita online. Seakan tidak mau ketinggalan, televisi juga mendatangkan pakar-pakar untuk mengupas soal aksi 411. Selalu, baik dalam media sosial maupun televisi, ada dua pihak yang berseberangan pendapat. Dan kedua-duanya, sama-sama memiliki landasan untuk menguatkan argumen masing-masing.

Jika diamati secara mendalam, rasa-rasanya kita tengah berada di medan pertempuran yang sengit. Bukan tempur dengan AK 47 atau tank, melainkan wacana. Ini bisa dibuktikan dengan berjubelnya tulisan pro-kontra terkait sebuah isu atau fenomena. Seakan-akan, masing-masing pihak ingin menggiring publik agar merapat ke barisan mereka. Semakin banyak massa, pastinya, semakin besar kekuatannya. Dan tentu, kuantitas massa sangat diperhitungkan di negara kita ini.

Saya tidak bermaksud untuk mengajak siapa saja untuk memilih satu di antara dua kelompok. Ini bukan persoalan kalah-menang, saya kira. Tapi, kembali kepada pemahaman bahwa setiap orang punya cerita, menulis adalah pekerjaan yang perlu. Di tengah pertempuran wacana tersebut, setidaknya kita memberikan warna baru dengan tulisan kita. Menghasilkan tulisan alternatif, yang lebih menyegarkan dan sarat dengan visi mulia.

Tentu saja, sebagai mahasiswa, menulis adalah kegiatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jangan hanya makalah (itu pun kerap hanya copy-paste) yang dikerjakan dengan kesungguhan, untuk mendapat angka tinggi. Tapi, perlu juga kita tuangkan gagasan kita melalui tulisan, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun populer.

Tokoh-tokoh besar masa lampau telah membuktikan, bahwa mereka tidak bisa mati hanya karena moncong bedil. Tidak binasa oleh racun yang mereka minum. Justru sebaliknya, mereka abadi dan terdengar lebih lantang suaranya, setelah direnggut kematian. Bagai virus, gagasan mereka yang terselip dalam tulisan, menjangkiti siapa saja yang membacanya. Jiwa mereka abadi, bersemayam di dada-dada generasi berikutnya.

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 10 November 2016

Cerita dari Angkringan


http://uin-suka.ac.id/
Lelaki itu kurus. Berbaju kemeja warna biru langit bergaris-garis putih. Saat aku mampir ke gerobaknya, ada dua lelaki sebayaku yang sedang berbincang asyik dengan lelaki kurus itu. Soal namanya, aku tidak menanyakan. Apa arti nama jika hanya mengundang kekakuan? Merusak jalinan komunikasi yang telah lama mencair? Toh yang terpenting bukan 'siapa nama dia', tapi dia sebagai manusia, yang mencari nafkah untuk anaknya.

Aku hanya mendengar saja, ia bercerita menggebu-gebu soal anaknya yang genius. Perempuan, dengan skor IQ 115 saat usia taman kanak-kanak. Dan kini usianya sudah menginjak kelas 5 SD, masuk SD di umur 6,5 tahun.

Kesan pertama melihat lelaki kurus itu, aku langsung menyimpulkan: orang cerdas ini, atau alim. Ini aku timbang dari wajah yang ceria dan memancarkan cahaya. Dari penilaianku inilah, aku memutuskan untuk menjadi pendengar setia, sembari menggigit butiran nasi dan gorengan.

Lelaki kurus itu mengatakan, dirinya akan menuruti segala keinginan anak, asalkan anaknya juga mau menuruti kemauan orang tua. Semacam perjanjian kerja sama jika dalam dunia bisnis.

Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya cerdas, genius. Tapi ada satu kurangnya: terlalu bergantung pada orang tua. Manja. Kemanjaan ini yang membuat lelaki kurus itu konsultasi dengan seorang mahasiswa UAD jurusan psikologi. Ia diberi saran untuk memperlakukan ini itu. "Ya sudah, kamu sampaikan ke ibu. Ke istriku," kata lelaki kurus itu bercerita.

Dan benar, lanjutnya, anak saya sekarang mandiri mas. Kalau mau apa-apa bisa sendiri.

Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya diikutkan kegiatan ekstra: karate.  Prinsipnya, anak harus berprestasi di sekolah, juga di luar sekolah. Ini yang mendorong lelaki kurus itu untuk mendukung penuh apa yang dipilih anak. Seperti perjanjian tadi, anak nurut, orang tua akan turuti apa saja kemauan anak. Dan kemauan orang tua, ingin anaknya berprestasi di dunia sekolah dan luar. Anak menyambut keinginan itu dengan tanpa ada rasa terpaksa. Sempurnalah bagunan komunikasi anak-orang tua yang ideal.

Ini saja ceritaku. Agaknya, penilaianku di awal tidak meleset begitu jauh, jika melihat upaya lelaki kurus itu bersama istrinya dalam memenuhi kebutuhan anak. Karena, sampai kapanpun, menurutku, anak hanya membutuhkan orang tua yang paham kebutuhannya untuk berkembang. Ini akan menjadi kekuatan yang besar untuk menyiapkan generasi cerdas-berprestasi yang mandiri. Meski kalau aku kritisi, lelaki kurus tersebut masih takut jika anaknya jelek nilai ulangan di sekolah. Padahal, tidak melulu angka yang dijadikan patokan prestasi dan perkembangan anak.

Angkringan Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 3 November 2016

Kita dan Ahok


Soal Aksi 4 November 2016, saya cukup apresiat dengan siapapun yang bergabung di dalamnya. Artinya, umat Islam masih punya semangat untuk mempertahankan agamanya agar tidak dilecehkan siapapun. Karena, tak lain, aksi 4 November ini sebagai respon dari ketledorannya Ahok mengutip ayat sebagai 'bahan olok-olok', yang dengan mudah menyulut emosi umat Islam. (Umat Islam emosian ya?) Oh, barangkali bukan emosi, tapi lebih kepada mempertahankan harga diri Islam. Tapi benarkah demikian? Lantas kenapa perlawanan ini mencuat mendekati pencalonan Ahok menjadi gubernur DKI?

Soal pelecehan, menurut Kiai Said Aqil Siroj dalam acara Mata Najwa (2/11/2016), ada dua macam, yaitu pelecehan secara lisan dan tindakan. Pelecehan secara lisan, barangkali bisa dicontohkan dari kasus gubernur Ahok. Sementara tindakan seperti pemusnahan umat Muslim Rohingnya di Myanmar, tragedi Allepo, dan sebagainya.

Dari dua bentuk pelecehan ini, sebenarnya mana yang sekiranya lebih tepat untuk kita lawan, untuk kita kubur dalam-dalam pelecehan tersebut. Dengan demikian, perlu kiranya kita menimbang aspek madharatnya. Penghinaan secara lisan atau tindakan yang lebih banyak mudharatnya? Tentu, kamu sudah bisa menimbang, mana yang lebih berbahaya.

Lantas jika sudah menimbang segi madharatnya, apa sikap kita terhadap aksi 4 November ini? Menolakkah, atau mendukung? Atau ada pilihan lain selain opsi hitam-putih ini?

Sebagaimana di awal, saya mengapresiasi bagi siapa saja yang ikut andil dalam aksi tersebut (baik yang terjun ke lapangan atau sebatas ganti DP BBM sebagai bentuk dukungan). Namun sebagaimana kebiasaan kita, menilai orang lain lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Kita dengan mudah memvonis Ahok sebagai pelaku pelecehan ayat al-Qur'an, tanpa menyadari bahwa, barangkali, di setiap langkah kita ternyata melecehkan ayat al-Qur'an. Segala kedurhakaan kita terhadap perintah Allah, adalah pelecehan. Segala bentuk pelanggaran dari kewajiban, adalah pelecehan. Lantas lebih hina mana kita dengan Ahok? Dia sebagai non-muslim, menista agama Islam dengan ucapan. Sementara kita, dengan tindakan yang dilakukan secara rutin. Sebagaimana hukum rajam yang dicitrakan dalam film 'Son of God', bahwa wanita pezina tidak berhak dirajam oleh orang pendosa. Jadi saya jadi tertarik untuk bertanya: sudah pantaskah kita menghujat Ahok?

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 1 November 2016

Buku dan Kebaruan


Buku dan Kebaruan

Mencintai aktivitas baca memang memiliki kelebihan sendiri. Di saat yang sama pula, tertimbun berlapis-lapis kekurangan. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama ini.

Semenjak MA, saya suka membaca buku. Waktu itu, Majalah Assunnah di perpustakaan menjadi kegemaran saya. Di rumah, buku kumpulan hadits juga saya bacai. Karena sifatnya praktis dan informatif, jadi tidak perlu banyak perenungan untuk memamahi hadits-hadits tersebut. Seperti disunnahkan membunuh cicak, adalah hadits yang cukup mudah untuk diamalkan. Dan berdasar pada hadits ini pula, saya ketika masih usia belasan, berburu cicak di rumah-rumah tetangga menggunakan jepret karet. Hasil tangkapan saya bawa pulang, untuk dikasihkan ke kucing piaraan.

Di kelas tiga, saya masih samar-samar ingat, saya membaca buku yang ditulis Sirajudin Abbas, soal bid'ah. Saya tanyakan hasil bacaan saya pada Pak Ahmad Marhani. "Pak, saya pernah baca, ada buku yang membagi bid'ah jadi dua; sayyiah dan khasanah. Itu gimana, Pak?" tanyaku waktu itu, di pelajaran fiqih.

"Hati-hati baca buku semacam itu. Bahkan ada yang membagi bid'ah jadi lima macam. Yang namanya bid'ah ya satu" jawabnya. Tentu saja, Pak Marhani mengacu pada hadits yang mengatakan bahwa bid'ah adalah dolalah yang muaranya neraka.

Apa yang dijelaskan beliau kemudian, saya pegang erat-erat sampai kuliah. Hingga di suatu diskusi, dan menyinggung soal bid'ah, saya bersikeras mengatakan bahwa bid'ah itu sesat. Tidak ada pembagian dalam soal bid'ah. Dan untuk meyakinkan forum pada waktu itu, saya mengatakan bahwa ada di al-qur'an ayat-ayat tentang bid'ah. Saya sampai berani mengeklaim bahwa "minkulli bid'atin dholallah wa kulla dholalatin finnaar" adalah salah satu ayat al-baqarah. (Hingga kini belum ada klarifikasi ke teman-teman diskusi, kalau saya khilaf dengan mencatut hadits tersebut bagian dari al-qur'an, semoga diampuni).

Namun lambat laun, dari berbagai bacaan (mengamati, mendengar, diskusi) saya mulai ada pencerahan. Bahwa ada berbagai pandangan soal bid'ah. Dan mereka sama-sama punya dasar kuat. Dan khazanah keilmuan ini lambat laun menggoda saya, untuk berpaling dari pandangan awal soal bid'ah. Ini yang saya sebut sebagai 'kebaruan'.

Sebagai judul tulisan ini, Buku dan Kebaruan, bahwa buku adalah media awal untuk sampai pada kebaruan. Kebaruan di sini bukan dalam artian 'dari yang tidak ada menjadi ada'. Melainkan, dari 'yang tidak tahu menjadi tahu'. Kebaruan di sini, artinya kebaruan dalam berpikir. Ini sebagai bukti bahwa perintah iqra!, bacalah!, bukanlah hoax atau bullshit. Perintah tersebut benar-benar manjur, untuk memecah tempurung pemikiran dalam kepala. Sebagaimana air yang dengan tetesan kecil, mampu menghancurkan batu.

Bacalah! bukan sebatas membaca ayat al-qur'an dan as-sunnah. Melainkan universal, menyeluruh, tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan umum. Karena sesungguhnya, secara hakikat, semua yang ada di semesta ini adalah percikan ilmu Allah, dan al-qur'an serta hadits adalah bagian dari percikan ilmu Allah yang terskripta, tercatat.

Namun hati-hati dalam membaca! Membaca, menurut saya, adalah proses yang tiada berujung. Hanya kematian yang menggugurkan proses tersebut. Dengan demikian, berhenti di tengah proses tak berkesudahan, adalah 'kesesatan' yang nyata. Artinya, kalau memang kita (aku dan kamu) sudah membaca, apapun itu, janganlah berhenti. Boleh menengok ke belakang, tapi janganlah berhenti di tengah jalan. Begitu.

Dan satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah perkataan Santriwati Pondok Pesantren Ulul Albab, Jogja. "Kak, jangan sampai baca bukunya mengalahkan baca qur'an. Kalau aku, ada waktu khusus untuk baca qur'an" katanya menasehati.

Karena bagaimanapun juga, membaca adalah pintu kebaruan berpikir, kebaruan dalam bertindak. Dan kebaruan itu, mustinya, mengarah ke hal yang lebih baik. Meski sudah ribuan tahun qur'an diturunkan, selalu saja ada 'kebaruan' di dalamnya. Karena memang, 'buku' umat manusia dan jin sepanjang masa. Bacalah, untuk masuk pada kebaruan-kebaruan!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Dikoyak Sepi



Dalam sejarah, banyak tokoh bangsa yang berjuang dalam sepi. Mengisi wawasannya dengan buku-buku berbobot dan diskusi berkualitas. Beberapa, bahkan sampai bisa menuangkan karyanya dalam bentuk buku atau gubahan puisi. Mereka berjuang dalam sepi, tapi entah dari mana semangat itu datang bertubi-tubi. Sehingga, kesepian tak mampu mengoyak diri.

Sepi, kamu tahu dan mungkin kerap merasakan, adalah rasa yang paling kejam. Ia bukan hanya menyerang akal, tapi juga hati. Sepi pula, yang barangkali mampu mendorong orang untuk mencabut jiwa dari raganya, dengan cara diperkosa.

Saya tidak bisa bayangkan seperti apa orang-orang dulu, tokoh bangsa, menghadapi sepi. Mereka diasingkan, bukan menjadi terasing, justru malah makin menguak gagasannya. Makin tajam pikir dan pekanya. Sementara saya, dan mungkin kamu juga, merasa terasing dari keramaian. Merasa sendiri di masyarakat yang selalu bergerak. Apa sebenarnya yang kurang dari kita?

Saya punya semangat juang, tapi di waktu lain semangat itu redup sama sekali. Saya juga punya misi untuk mencapai sesuatu, tapi di tengah perjalanan misi tersebut, terkoyak sepi. Sendiri. Tiada tangan yang bisa digandeng dan menggandeng. Lantas apa masalahnya sehingga itu terjadi pada saya?

Katanya, kreatifitas muncul ketika ada tekanan. Meski bisa juga sebaliknya. Apakah, jika demikian, sepi kurang kuat untuk menekan saya? Bukankah sepi sudah cukup kejam, memainkan pikiran dan perasaan? Penyair hebat, katanya lagi, juga lahir dari keadaan yang semrawud. Apakah sepi kurang semrawud untuk melahirkan pribadi-pribadi penuh ambisi dan konsisten pada jalannya? Atau ini persoalan zaman? Dulu karena teknologi internet belum ada, sehingga banyak kesempatan bersinggungan demgan orang lain. Mereka sepi di pengasingan, tapi sekaligus menemukan karib di sana. Sementara hari ini, kita ramai di dunia maya, tapi sepi dalam sosial. Perasaan dan pikiran kita, apakah digadaikan pada dunia maya bernama facebook, ig, dkk?

Jika begitu, mampuslah kau dikoyak-koyak sepi!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 27 October 2016

Cucu jadi Guru untuk Neneknya


Cerita dari desa pesisir, yang masyarakatnya kerap dikenal sebagai badui, jauh dari ajaran agama Islam. Dan memang tuduhan itu tak ada salahnya. Buktinya, di desa saya ini, masyarakat yang sekarang dikategorikan sebagai kakek dan nenek, banyak yang belum mengenal huruf hijaiyah. Sebagian lain juga sebatas KTP islamnya (pandangan subyektif). Dan macam-macam lah.

Nah, yang membuat saya tertarik adalah, perubahan yang terjadi selama empat tahun saya di perantauan. Pulang di bulan Oktober 2016, saya berkunjung ke mushola untuk shalat maghrib, dan setelah shalat, kok banyak ibu-ibu (nenek-nenek) yang pegang buku iqro'. Mereka berkumpul dan saling berlomba mengeja huruf-huruf hijaiyah. Apa sebenarnya yang mendorong mereka mau belajar baca iqra', dan al-qur'an di waktu tua?

Soal ini, saya tanyakan langsung ke ibu, selaku anggota majelis ngaji ibu-ibu tersebut. Saya gali layaknya wartawan partikelir (meminjam istilah warkop DKI). "Yung, kok bisa mereka mau belajar baca iqra? Sebenarnya apa sih yang mendorong mereka?" tanya saya.

Ibu, dengan tiduran, karena seharian kecapean di sawah, menjawab dengan santai, disertai senyuman yang khas nan manis. "Mereka iri dengan Majelis Ngaji Ibu-ibu di Masjid Selatan. Di Masjid Utara, juga ada pengajian khusus ibu-ibu. Nah, dari situ ada kemauan: yuh pada ngaji!"

Tidak hanya mengaji saja, mereka lumuri niat mengaji dengan semangat meletup-letup. Seakan enggan kalah denga dua majelis yang saya sebutkan tadi. Kalau dua majelis tadi hanya ngaji seminggu sekali, di mushala depan rumah saya, atas kesadaran ibu-ibu, mereka rutin tiap usai maghrib mengaji, sampai isya. Mereka kebanyakan ngaji iqra, meski oleh cucu-cucu mereka sering diolok-olok: haha, nini belum bisa baca iqra!

Selain diwarnai olok-olok para cucu, masing-masing juga punya caranya sendiri-sendiri. Menentukan metode mengaji secara mandiri, tidak dipaksa. Ada yang ngajinya lanjut terus meski belum hafal benar huruf-huruf hijaiyahnya. Hafalnya sambil jalan, katanya. Ada juga yang diulang-ulang terus, hingga hafal. Macam-macam lah. Dan yang terpenting, mereka menikmati.

Tentu saja saya sebagai angkatan muda yang kurang visioner, melihat fenomena ini dengan decak kagum. Bayangkan! Mereka, ibu-ibu yang sudah menjadi nenek 'muda', mampu mengalahkan rasa gengsi dalam diri. Mengalahkan egoisme. Saling mendukung. Dan tetap, saling tebar tawa. Jika demikian, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?

Ada kejadian menarik yang saya dengar dari ibu. Jadi, ada salah satu nenek yang belum bisa baca iqra. Dengan rendah hati, ia mengakui keterbatasannya kepada cucunya, usia taman kanak-kanak. Kebetulan cucunya ini, dititipkan di TK berbasis kurikulum agama.

Nenek tersebut, setelah mengakui keterbatasannya, lalu meminta bantuan pada cucunya untuk mengajarinya baca iqra. Cucunya, dengan bangga menyanggupi, meski ia juga masih iqra, hanya tingkatannya sudah cukup tinggi.

Di sela cucu ini mengajari ngaji neneknya, ia dipanggil bapaknya: pulang, banyak PR yang harus dikerjakan! Kira-kira begitu. Sebagai anak kecil yang taat, ia turuti kemauan bapaknya. Tapi, dengan muka yang ditekuk.

Di rumah, ia diam seribu bahasa. Ditanyai oleh orang tuanya, tak mau bersuara. Hingga di pagi harinya, ia kembali ditanya, kenapa semalaman tidak mau bicara. Wong lagi asyik ngajari nenek ngaji, malah dipanggil, kata anak kecil tersebut.

Sudahlah coba lepaskan aturan-aturan yang kaku, jika memang dibutuhkan. Belum balig bukan berarti tidak kompeten, bukan? Jika melihat kasus ini.

Dari dulu saya mendambakan kejadian semacam ini, hadir dalam kenyataan. Dan tahun 2016 bulan 10, dambaan saya datang juga. Ada cucu belum akil balig, mengajar ngaji neneknya. Ini membuktikan, betapa harmonisnya hubungan angkatan tua dan muda. Angkatan tua, dengan rendah hati memberi ruang eksperimen untuk angkatan muda. Bagi saya, ini sejarah yang langka. Ini juga, sebagai awal bongkarnya hubungan kaku antara angkatan tua dan muda. Anggapan yang melihat (dari kacamata orang tua) bahwa anak muda belum bisa apa-apa. Anak kemarin sore. Juga anggapan (dari kacamata angkatan muda) bahwa angkatan tua itu kolot, egois, eksklusif dan tidak mau menerima angkatan muda sejajar dengan mereka. Anggapan-anggapa ini, seketika buyar dengan fenomena tersebut.

Bisakah ini juga terjadi secara meluas dan massif? Saya yakin, tinggal menunggu waktu. Karena sejarah perubahan di dunia ini, selalu saja bermula dari suatu yang kecil.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 25 October 2016

Muslim Materialis dalam Masyarakat Industrial



Indonesia yang begitu ‘hijau’, membentuk budaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dengan jalur bercocok tanam. Namun, seiring berkembangnya teknologi, sekira di abad ke-20, Indonesia mau tidak mau mendapat gempuran dari perkembangan negara-negara maju (negara industrial) di dunia. Terlebih, menyangkut persoalan ‘pemenuhan kebutuhan hidup’, cukup besar perubahannya

Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada lahan, kian terusik. Sehingga, perlu kiranya untuk membicarakan beberapa hal yang menyangkut masyarakat yang telah mengalami industrialisasi. Sebab, mengatakan bahwa kita tidak berkepentingan mengimplikasikan bahwa kita tidak terkena akibat-akibatnya yang buruk, adalah tidak realistis.
            Nilai-nilai Masyarakat Industrial

Ada perbedaan nilai-nilai mendasar yang berlaku dalam masyarakat non-industrial  dan industrial. Dan secara umum, nilai-nilai tersebut dibagi menjadi dua, yaitu nilai formal dan non formal. Menurut Jock Young, ada tujuh nilai formal yang berkembang dalam masyarakat industrial: (1) kesenangan yang tertunda, (2) perencanaan kerja atau tindakan masa datang, (3) tunduk kepada aturan-aturan birokratis, (4) kepastian, pengawasan yang banyak kepada detail, sedikit kepada pengarahan, (5) rutin, dapat diramalkan, (6) sikap instrumental kepada kerja, dan (7) kerja keras yang produktif dinilai sebagai kebaikan.

Ketujuh nilai tersebut yang mendasari berjalannya masyarakat Industrial. Penekanan pada banyaknya hasil produksi, membikin ‘mesin penggerak’, dalam hal ini manusia, untuk bekerja lebih keras lagi. Sehingga, dalam masyarakat Industri, manusia akan berharga ketika memiliki skill dan kekuatan fisik, untuk menjalankan sebuah produksi di pabrik, misalnya.

Rutinitas kerja buruh yang demikian membentuk imajinasi kebebasan dalam diri buruh. Karena bagaimanapun, jika kita bicara soal manusia yang ideal, maka mereka yang merasa bebas, dalam artian bisa menjadi tuan pada dirinya sendiri, masuk ke dalam kategori tersebut. Maka, kerap terjadi buruh bekerja hanya untuk mengumpulkan modal agar bisa menikmati waktu berlibur di akhir pekan. Menikmati hidup layaknya manusia.

Pembangunan pabrik-pabrik di lahan produktif maupun peralihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, merupakan indikator yang mudah kita jumpai, untuk sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia tengah merangkak, menuju masyarakat Industrial. Ini sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi dan alat produksi, dan kebutuhan manusia yang kian menggunung.

Industrialisasi memang bertujuan untuk kemakmuran. Kemakmuran secara materi, untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Namun, kemakmuran tersebut butuh tumbal yang tidak sedikit; yaitu kemanusiaan itu sendiri.
            Keberislaman yang Materialis
Muhammad Al-Fayyadz, dalam islambergerak.com, menuliskan betapa penting peranan agama Islam dalam menyikapi persoalan seperti ini. Terlebih, melihat praktik berislam yang kerap memunggungi rasa keadilan. Menurutnya, ada tiga elemen yang musti diperhatikan dalam kegiatan ekonomi, yaitu produksi, distribusi/transaksi, dan konsumsi.

Absennya perhatian pada ranah produksi sebagai ranah darimana komoditas dan hasil kerja diolah, menjadi suatu ilusi fatamorgana bahwa komoditas itu ada dengan sendirinya, seolah-olah tidak lahir dari perampasan atas tenaga kerja buruh. Yang halal untuk dijualbelikan dan dikonsumsi (ranah distribusi dan konsumsi) tidak pernah ditelusuri sampai ranah produksinya; benarkah produk itu dihasilkan tanpa mengambil hak pekerjanya?

Untuk itu, agar Islam dapat membela kembali kepentingan kelompok yang tertindas dan terpinggirkan, kita membutuhkan keberislaman yang materialis. Ia adalah keberislaman yang bertolak dari kondisi-kondisi sosial yang konkret, yang digugah oleh ketimpangan, kesenjangan, dan kontradiksi antara “yang seharusnya” dan “yang senyatanya”.

 Keberislaman yang materialis adalah bentuk keberagaman yang progresif. Sebagai bentuk keberagaman, ia memiliki pendekatan yang khusus dalam memaknai keimanan dan keislaman –keimanan dan keislaman tak cukup diyakini dan diamalkannya, tapi juga mendorongnya mengubah kondisi keumatan yang obyektif. Seorang Muslim yang materialis tidak puas dengan shalat lima waktu dan berzakat, sampai menyadari bahwa shalat dan zakatnya membawa dampak signifikan bagi perbaikan hidup masyarakat. Dalam menjalankan syariat Islam, ia percaya bahwa syariat itu, jika sungguh-sungguh membawa rahmat, ia tidak akan melibatkan unsur eksploitatif atau merugikan sesama. Ia tidak berhaji dari uang perolehan tunggakan gaji buruh, atau hasil menjual lahan yang menjadi tempat bergantung hidup keluarga miskin. Ia berhaji dengan hasil keringatnya sendiri.

Dikliping dari:
Madjid, Nurcholish. Islam dan Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1999.
Artikel berjudul “Membangun Keberislaman yang Meterialis: Arah Perjuangan Ekonomi-Politik Islam Progresif” karya Muhammad Al-Fayyad.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 24 October 2016

Kesurupan



Minggu, 23 Oktober 2016 di Masjid UNY, sekira pukul 13.30-an, saya bermaksud membasuh tangan untuk shalat. Menjejakkan kaki ke masjid, samar-samar saya dengar suara orang melantunkan ayat al-qur'an dengan dirubung banyak orang. Tertarik dan kebetulan saya juga mau ke situ, saya cari sumber suaranya.

Seorang laki-laki gemuk dijaga dan dipegangi empat laki-laki. Ia berteriak tak karuan. Tubuhnya basah diguyur air kran. Dan waktu itu saya baru pertama kali menyaksikan: orang kesurupan. Ia yang kesurupan berteriak, ini jinnya di ketek. Sontak salah satu di antara empat lelaki yang menjaganya, menusuk-nusuk keteknya dengan dua jari, sembari komat-kamit. Sementara yang ditusuk, menjerit menggelikan dan berhasil membuat yang hadir di situ tertawa dalam ketakutan. Tertawa karena tingkah lucu (teriakannya lucu banget) orang yang kesurupan. Takut, karena mereka sadar, sedang berhadapan dengan jin yang merasuk. Atau lebih tepatnya, mungkin, khawatir atas nasib lelaki yang kesurupan jika jinnya tidak keluar segera.

Ada hal unik yang saya tangkap dari kasus tersebut. Yaitu, bahwa empat orang yang berikhtiar mengeluarkan jin tersebut, secara penampilan sangat 'islami' (arabis?). Mereka memakai gamis, suara pas melantunkan ayat al-qur'an merdu, dan sepertinya fasih. Tapi anehnya, dengan sekian atribut yang ada, tetap saja tidak berpengaruh pada keluarnya jin dalam tubuh inangnya. Adakah yang kurang dari mereka, para pengusir jin dari inangnya?

Saya, pada waktu itu, tersenyum geli (jahat, sinis, meremehkan?) bahwa tidak ada kaitannya apa yang nampak dalam tubuh seseorang, terhadap ampuhnya mantra yang dikeluarkan meski dengan dzikir-dzikir kepada Allah. Seorang awam, ibaratnya, tentu beda kualitas 'makbulnya' doa, dibanding mereka orang-orang shaleh. Saya malah tertarik untuk membandingkan, mereka empat laki-laki tersebut, masih kalah dengan paranormal yang biasa nampang di tivi, dalam hal mengusir jin dari dalam tubuh. Apa mereka, paranormal yang dengan mantra-mantranya mengusir jin, bisa dikata lebih 'shaleh' dari empat laki-laki tersebut? Entahlah, karena yang bisa menilai shaleh tidaknya, hanya Yang Kuasa yang mampu. Sebagai hamba Sang Khalik, kita hanya mampu menilai apa-apa yang nampak.

Sekira 15 menit saya menyaksikan, atau mungkin setengah jam, belum usai bergulatan mereka berempat melawan jin yang merasuk laki-laki gemuk tadi. Saya ceritakan ini pada seorang sahabat, malah ia jawab kira-kira begini: "itu dibohongi jin. Mana ada jin merasuk ke ketek. Adanya ya di punggung. Nggak paham mereka," katanya

Dan saya juga jadi ingat dengan wejangannya Cak Kus, ketua majelis yang konsen mengkaji sufi-nya Jalaludin Rumi. Bahwa empat orang tersebut (dan saya juga termasuk) sepertinya masuk pada maqom seseorang ketika masih bergantian antara nafsu menang dan orang itu yang menang. Sehingga wajar, jika mengeluarkan jin dari dalam tubuh saudarany kewalahan. Karena, tidak ada koneksi yang lancar plus jernih dengan Sang Khalik.

Kejadian tersebut juga membuktikan, betapa kita masih berlomba-lomba mendapat sanjungan dan menghindari celaan, dengan cara jaga penampilan luar dan sering luput memberi nutrisi batin. Ini persoalan kita bersama, dan solusinya ada dalam diri masing-masing individu.

Kasus kesurupan di UNY ini, sungguh berharga untuk dilewatkan atau hanya dijadikan tontonan. Karena, Allah dengan lembutnya, menyelipkan pelajaran berharga dalam kejadian tersebut.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 17 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya (lanjutan)


Telah lalu tulisan mengenai kegelisahan saya soal praktik berislam di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia atau lebih spesifiknya Jawa, tempat saya lahir dan tinggal. Dalam artikel tersebut, saya memang lebih pada mengritisi umat Islam yang menilai saleh-tidaknya seseorang dari tampilan. Lebih spesifik, dari tumbuh dan dipeliharanya jenggot serta celana yang cungklang. Menurut mereka, jika umat islam memiliki tampilan demikian, otomatis 'sedikit' lebih islami dari orang yang biasa-biasa saja dalam berpakaian.

Sehingga dari pandangan semacam ini, saya menarik kesimpulan bahwa nilai Islam yang rohmatan lil'alamin justru tercoreng. Di tubuh umat Islam, justru semakin nampak garis demarkasi (sekat) yang mengotak-kotakan. Karena telah terkotak-kotak sedemikian rupa, kerapkali terjadi gesekan yang tak jarang menimbulkan percik api permusuhan. Klaim kafir juga bisa dengan mudah meluncur dari kotak-kotak tersebut. Kotak satu mengkafirkan kotak dua, sementara kotak dua menilai kotak satu kolot, pekok, dan semacamnya.

Nah, yang ingin saya tuliskan sekarang adalah, pandangan 'muslim biasa' pada muslim berjenggot dan bercelana cungklang.

Saya bercerita berdasar pada pengalaman selama menjadi mahasiswa di Jogja, terkhusus kampus Islam. Saya, yang belakangan baru menyadari mengenyam pendidikan islam (setengah wahabisme; paham wahabi) mengalami beragam gesekan, baik di kampus, organisasi, maupun lingkungan tempat saya tinggal.

Saya hidup dan berinteraksi, seringkali, dengan kawan-kawan nahdlotul ulama. Entah itu di kampus, organisasi, maupun kos/asrama. Juga dengan kawan muda Muhammadiyah, meski tidak seinten seperti dengan kawan NU. Karenanya, sedikit-banyak saya menyimak dan terlibat langsung dalam beragam obrolan, termasuk soal 'ejekan' untuk tetangga sebelah yang hobi memakai pakaian gamis-cungklang dan berjenggot lebat, serta ada dua bekas hitam di jidatnya. Jika obrolan mengarah pada tema tersebut, meriahlah jadinya.

Menurut mereka (tidak bermaksud menjeneralisir), muslim semacam itu tidak pantas untuk tinggal di Nusantara. Kalau memang mau berpenampilan demikian, ya monggo di Arab saja. Terlebih untuk mereka yang sukanya membid'ah-bid'ahkan golongan lain. Wong wajah antum saja sudah bid'ah, tidak ada di masa nabi. Tentu saja, muslim jenis ini menjadi sasaran empuk dan menjadi bulan-bulanan mereka.

Mereka tidak sepakat, atas pandangan yang mengharuskan umat islam meniru segala hal yang lahir di Arab, utamanya pakaian dan budayanya. Hanya karena Islam lahirnya di Arab.

Praktik berislam, tidak bisa lepas dari kebudayaan setempat. Coba bayangkan saja, jika umat seluruh dunia, dalam berislam harus menggunakan budaya Arab? Tentu saja itu akan menyalahi fitrah, bahwa Islam milik semua umat manusia, bukan milik bangsa Arab. Sehingga, semakin jelas bahwa untuk praktik ibadah, selalu membutuhkan warisan budaya dan adat istiadat setempat, selama itu tidak bertentangan dengan semangat Islam.

Berkait kelindan-nya Islam dan budaya tentu tidak bisa ditampik lagi. Sebagai contoh, tahlilan yang awalnya ritual masyarakat Hindu-Budha, oleh wali songo disisipi dzikir-dzikir islam untuk mengganti mantra-mantra. Sesaji yang awalnya ditujukan untuk lelembut, 'dibelokkan' dengan dibagikan pada tetangga atau peserta tahlilan.

Dari tempaan yang demikian, saya mendapat pandangan baru: bahwa tahlilan adalah satu metode wali songo untuk menyebar dakwah Islam. Sama seperti, jika kamu alumni MWI, media drum band sebagai alat penyebar dakwah, agar masyarakat memilih menyekolahkan anaknya di MWI.

Dan dari sini, saya kerap terjebak pada pandangan hitam-putih. Ejekan dan bullyan dari kawan-kawan 'di luar muslim jenggot dan celana cungklang', perlahan saya nikmati. Sehingga di setiap forum diskusi atau sebatas ngobrol santai, sering terlontar guyonan yang menjurus memojokkan muslim 'berjenggot'. Dan tentu, saya juga kerap tergiring untuk mengatakan bahwa muslim yang demikian, adalah muslim yang gagal paham. Maksudnya, memahami teks hadits sebatas teks, tidak memperhatikan sejarah atau fenomena yang menyertai dikeluarkannya hadits tersebut.

Untuk itu --pada siapapun yang membaca tulisan ini-- ada satu hal yang ingin saya minta: ajarkan saya untuk berlaku adil, sejak dalam pikiran!

Adil, dalam menilai berbagai kelompok islam, dengan tatapan kagum sebagai khazanah keilmuan, bukan dengan tatapan nyinyir dan klaim benar pada diri sendiri.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 15 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya


Soal keislaman, saya memang tidak terlalu paham dan belum mendalami sampai ke akar-akarnya. Keterbatasan kemampuan berbahasa Arab, juga kekurang gairahan dalam mempelajari Islam juga menjadi kendala serius, yang sebenarnya tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak belajar.

Meski demikian, diri ini tak kuasa untuk menahan agar tidak ikut berkomentar terkait keislaman. Persoalan islam dan penganutnya, serta keberagaman pemahaman soal Islam, membuat gatal mulut ini untuk tetap bungkam. Gatal juga rasanya, tangan ini untuk tetap diam, tidak berbuat apa-apa, sementara perdebatan dan klaim kafir kerap terlontar antar umat Islam. Sungguh tidak mengasyikkan jika ini dibiarkan bergulir begitu saja. Adanya, perpecahan antar umat Islam terus menganga, dan otomatis, cita-cita ukhuwah islamiyah jauh panggang dari api.

Islam, sebagaimana pesannya dalam al-qur'an, adalah agama rahmatan lil'alamin. Diturunkan di Arab lewat perantara Malaikat Jibril kepada nabi yang ummi, Nabi Muhammad saw. Sebagaimana agama-agama sebelumnya, Islam juga memiliki kitab suci bernama al-qur'an. Ia (baca: al-qur'an) merupakan firman Gusti Allah sebagai petunjuk manusia dalam menjalani hidup sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Karena sifatnya yang tak lekang oleh zaman, al-qur'an menjelaskan segala persoalan dan prinsip hidup secara universal.

Ini yang saya tahu tentang Islam. Selain al-qur'an, umat Islam juga diperintahkan untuk mengikuti sunnah rasul. Karena rasul, adalah teladan terbaik umat, maka muslim baik sudah sepantasnya menirunya.

Islam yang awalnya turun di Arab, lambat tapi pasti tersebar di setiap penjuru dunia. Yang tentu saja, secara budaya dan adat istiadat juga beragam. Sehingga, sering kita jumpai meski sesama muslim, tapi beberapa gerakan shalat maupun pakaian 'kebanggaan' yang berbeda. Di Arab identik dengan pakaian jubah atau gamis. Sementara di Indonesia, sarung, peci, dan baju koko menjadi ciri khas. Begitu banyak perbedaan yang terjadi.

Namun yang menjadi pertanyaan saya di sini adalah: apa alasan seseorang mengatakan bahwa yang tidak memakai gamis dan berjenggot, atau berjilbab besar bagi perempuan, kurang Islami? Dan kenapa kesalehan seseorang kerap diukur dari lama atau sering-tidaknya ia ke masjid?

Untuk yang pertama, adalah mereka yang melakukan 'itiba' pada sebuah hadits. Karena ada hadits yang mengatakan demikian, maka dilakukanlah dengan penuh harap mendapat ganjaran atau ridha Allah. Okelah, saya tidak menyalahkan bagi mereka yang demikian. Itu adalah baik, karena niatnya adalah untuk mencari ridha Allah. Akan tetapi yang sama sekali tidak menyenangkan, ketika mereka menyalahkan (atau minimal memandang nyinyir) muslim di luar mereka. Menganggap, muslim yang hanya memakai kaos dan celana jeans kurang islami dibanding mereka yang memakai jubah, jilbab besar maupun berjenggot. Untuk mereka yang demikian, saya mengatakan rasa patut mengingatkan: lebih baik antum hidup di jaman nabi saja sana! Atau di Arab saja!

Bukankah ada beberapa hadits (atau bahkan semuanya?) yang dikeluarkan untuk merespon fenomena yang terjadi saat itu? Yang jika dikaji lebih mendalam, makna dari hadits tersebut bukanlah teks yang disabdakan, melainkan nilai di balik teks tersebut. Ibarat memilih jilbab, bukan bahan atau modelnya yang jadi pertimbangan utama, melainkan fungsinya. Kita juga barangkali masih ingat, bahwa sebaik-baik pakaian muslim bukanlah gamis, atau jilbab besar atau cadar, melainkan takwa. Jelas bukan? Masih (merasa) tidak malu menatap nyinyir atau bahkan menyalahkan muslim yang dengan kaos dan jeans atau semacamnya? Masih manyap untuk mengatakan kurang islami, atau bahkan 'kurang' mengikuti sunnah rasul pada lelaki muslim yang tidak berjenggot?

Sementara untuk pertanyaan kedua, bisa kita jadikan bahan permenungan. Kita juga bisa merenungkan hakikat manusia sebagai 'makhluk yang tiga'. Maksudnya, sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Dan tentu saja, secara logika, ajaran Islam yang begitu sempurna, akan menggarap tiga aspek tersebut.

Sebagai makhluk individu dan bertuhan, manusia diberikan pegangan berupa tuntunan beribadah semacam shalat, puasa, dan setingkatnya, untuk memetik buahnya dalam bentuk pahala di alam akhirat. Sementara manusia sebagai makhluk sosial, adalah tingkatan lanjutan, menurut saya, setelah manusia selesai dengan dirinya dan Tuhan. Di setiap 'ibadah individu', terselip semangat untuk melakukan perubahan di masyarakat. Ibadah puasa, misalnya, merupakan bentuk pelatihan dari Gusti Allah untuk hamba-Nya, agar menahan diri dari perbuatan buruk (misal dalam konteks sosial: korupsi, fitnah, dll) dan menghiasi diri dengan kebaikan (misal: bergabung dengan rakyat memperjuangkan tanahnya dari gusuran konglomerasi yang kejam dan menindas). Bukankah, jika Islam dan ajarannya dipahami demikian, berdampak baik bagi kehidupan di dunia? Menjadi spirit penganutnya untuk tetap berjuang, melawan pemerasan, penindasan, dan perlakuan tidak adil siapapun. Juga, sebagai amunisi penghancur kemiskinan. Tidak hanya menjanjikan ganjaran yang abstrak pada penganutnya: itupun mereka dapat setelah melalui proses kematian dulu.

Dari sini, apa masih berlaku ikon 'muslim taat' adalah mereka yang rajin ke masjid? Coba kita pikirkan bersama-sama. Karena Islam adalah luhur, tentu tidak akan pernah sampai hari kiamat memunculkan penindasan, keegoisan, dan kehancuran di muka bumi. Yang ada hanyalah, penganut yang memahami Islam secara sempit, hanya akan melahirkan kebencian antar golongan, yang muaranya adalah kehancuran.

Dan Bung Karno, dalam hal ini berpesan: gali apinya (Islam), bukan abunya!!!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saya dan Srikandi-srikandi Kahyangan


Sehari saya di rumah, sekira dua minggu yang lalu, tidak dilewatkan begitu saja tanpa momen yang berarti. Sehari satu malam, artinya tidak ada banyak waktu yang bisa saya gunakan untuk ngobrol dari hati ke hati dengan keluarga, bapak dan ibu maksudnya. Terlebih, kesibukan bapak sebagai guru kelas di SD, menyita waktu pagi untuk duduk bersama. Pulang jam setengah 2 sore, istirahat sejenak langsung pergi ke sawah, cari makan sapi. Hari itu kebetulan bapak punya tanaman kacang tanah yang sekira seminggu lagi akan panen, namun keburu dilanda banjir, hingga menggenang dan membuat biji kacang tanah muda busuk. Dan pohon yang mulai membusuk dan bau inilah, yang oleh bapak dengan cepat-cepat diselamatkan, untuk pakan sapi. Tentu saja, karena kebetulan saya di rumah, diminta untuk membantu.

Rencana awal saya pulang, sebenarnya, untuk menceritakan sebuah rahasia besar yang saya simpan sejak Mei. Karena alasan menjaga perasaan orang tua, berkali-kali saya urungkan niat untuk menceritakannya. Dan di hari yang saya rencanakan untuk bercerita, gagal, lantaran kondisi bapak yang kecapaian yang dalam ukuran saya kurang tepat untuk mendengar cerita rahasia ini. Jadi, saya putuskan untuk diam, menemani ibu di dapur saat menyiapkan masakan untuk bapak nanti kalau sudah pulang. Dari sini saya mulai bisa bicara dari hati ke hati dengan ibu, meski tetap, rahasia saya di bulan Mei belum dibongkar.

Satu hal yang saya tanyakan kepada ibu: kenapa saya memiliki sifat lembut dan cenderung keperempuan-perempuanan. Dari suara pun, saya lembut. Gerak tubuh juga saya sadari ketika di MA, agak gemulai. Dari sini saya minta 'pertanggungjawaban' ibu untuk menjelaskan: kenapa bisa begini?

Tapi sebelum ibu menjawab dan menjelaskan, saya menebak-nebak bahwa karakter saya ini terbentuk dari lingkungan. Dari orang-orang yang sewaktu saya kecil, secara tidak sadar membentuk karakter anak kecil yang mereka 'emong'.

Dan memang tidak meleset, ibu justru mengamini apa yang saya kira-kirakan. Ia sebut satu per satu orang-orang yang hadir, ikut andil mengasuh saya sewaktu kecil. Ada Yu Yuni, Yu Sri, Yu Nur, Yu Ani, Yu Anti, Yu Turasih, Yu Mar, dan Kang Tri. Dari sekian banyak yang ibu sebut, hanya satu laki-laki yang menebar kasih sayangnya pada saya. Ia adalah Kang Tri. Selain dia, perempuan semuanya. Di rumahpun, saya diasuh oleh Ibu dan nenek, sementara bapak mencari nafkah di luar, dan sekali-kali mengajari ilmu agama. Dari sini, semakin jelas betapa besar pengaruh pengasuh saya di waktu kecil. Srikandi-srikandi yang hadir di masa kecil saya, mewariskan kelembutan mereka pada saya yang kini telah berkepala dua.

Yu Yuni, kini telah memiliki dua anak, satu laki-laki sekolah di SD dan setunya perempuan usia dini. Untuknya, saya sangat berterima kasih. Meski, kata orang, secara agama kurang, tapi bagaimanapun, ia sudah mewarnai dan ikut andil membentuk karakter saya. Saya berhutang budi pada dia. Dan sampai kapan pun, saya optimis tidak bakal bisa membalas budi Yu Yuni. Hanya doa, semoga keluarga kecilnya bahagia dan diberi kemudahan oleh Yang Kuasa.

Yu Sri juga sama. Ia adalah tetangga saya yang rumahnya tepat berada di samping kanan rumah saya. Kini telah berkeluarga dan memiliki satu anak laki-laki. Sehat saya kira anak Yu Sri. Semoga saja, segala yang pernah ia bagikan pada saya saat kecil, dibalas dengan ganjaran baik yang setimpal.

Yu Nur, sudah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan, serta berprofesi sebagai guru di SD depan rumah saya. Apapun yang ia suntikkan saat saya kecil, semoga bermetamorfosa menjadi kebaikan, yang entah mencari inangnya di tubuh anak perempuannya, dirinya, suaminya, maupun keluarganya. Yang jelas, saya yakin bahwa Yang Kuasa, sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang Yu Nur lakukan.

Yu Ani, adalah anak dari kakak laki-laki ibu saya. Ia saudara kembar Yu Anti. Potongan memori yang masih saya ingat adalah, kerap di akhir pekan, mereka berdua berkunjung ke rumah saya naik sepeda. Jarak rumah mereka dengan rumah saya adalah 7 km. Sungguh mengagumkan, bukan, perjuangan mereka?

Kini, mereka berdua telah berkeluarga dan masing-masing memiliki dua anak laki-laki. Yu Anti, membuka kursus bahasa inggris di rumahnya dan menjadi kepala sekolah di SMP Muhammadiyah di daerahnya. Suaminya, menjadi tukang kredit perabotan rumah tangga.

Sementara Yu Ani, juga sama membuka les bahasa inggris di rumahnya. Dalam perkembangannya, ia buka les baca-tulis untuk anak usia dini dan SD kelas bawah, kalau saya tidak salah. Dan suaminya, Taung, punya usaha jualan kambing. Mereka berdua sama-sama berkarya untuk menegakkan bangunan rumah tangga agar bertambah kokoh. Bukan dari segi materi saja, aspek spiritual juga mereka bangun, dengan ikut majelis ataupun menitipkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Ini yang membuat mereka berdua hidup dalam keharmonisan.

Yu Turasih, adalah anak dari kakak perempuan bapak saya. Ia memiliki (kalau tidak salah) empat anak. Tiga laki-laki, satu perempuan yang merupakan anak pertama. Kepribadiannya bagus, selalu diwarnai dengan kelemahlembutan. Peka dan peduli dengan nasib saudara. Persis sekali dengan ibunya, kakak perempuan bapak, yang menangis ketika melihat bapak terbaring di rumah sakit lantaran kecapean selama kurang lebih 15 hari. Saya berterima kasih pada Yu Turasih, karena kelembutan hatinya sedikit banyak berpengaruh pada kepribadian saya.

Yu Mar, adalah anak dari kakak perempuan bapak yang nomor dua. Bapak adalah tiga bersaudara, dan ia adalah anak terakhir. Kini, Yu Mar telah bersuami dan memiliki satu anak perempuan. Namanya Eza dan cukup dekat dengan saya. Rumahnya, sekira delapan rumah di samping kanan rumah saya. Jadi kerap bertemu jika saya sedang di rumah. Suaminya, Mijan, mencari nafkah di Negeri Jiran, di perkebunan bunga. Sementara Yu Mar, merangkai bulu mata untuk disetor ke pabrik. Entah dulu ketika saya masih kecil apa yang Yu Mar 'ajarkan' pada saya. Yang jelas, saya berterima kasih pada dia karena telah mengisi masa kecil saya.

Terakhir, adalah Kang Tri. Ia adalah satu-satunya orang laki-laki yang dekat dengan saya di waktu kecil. Kata Ibu, dari sekian tetangga laki-laki, Kang Tri lah yang paling suka dengan anak kecil. Maka wajar, jika ia mengisi masa kecil saya dan menghabiskan waktu untuk bermain dengan saya.

Lantas ketika Ibu telah selesai menceritakan orang-orang yang pernah mengasuh saya di masa kecil, spontan saya bertanya: kok bisa, ya, bu mereka mau meluangkan banyak waktu untuk mengasuh saya?

"Soalnya di masa kamu kecil, di lingkungan sini belum banyak anak kecil" kata ibu kemudian.

Saya pun merenung-renungkan, betapa menyedihkannya diri saya jika tidak ada mereka. Benar memang, di lingkungan saya, teman sejawat jarang sekali. Kalau tidak di atas saya umurnya, ya jauh di bawah saya. Sehingga, tidak ada teman bermain kecuali dengan mereka. Baru menginjak usia SD, saya punya beberapa teman; yang kebanyakan jauh di bawah saya umurnya.

Karenanya, saya sangat berterima kasih pada siapapun yang pernah singgah dan mengukir kenangan di waktu kecil. Saya yakin, mereka adalah 'lingkungan' yang membentuk kepribadian saya. Hingga kini saya baru menyadari, betapa tersiksanya belum bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Saya dengan sifat malunya, jarang sekali mengunjungi mereka dan menghibur putra-putri mereka, menjadi teman bermain bagi anak-anak mereka sebagaimana mereka menemani saya dulu. Menyapapun saya canggung, dan merasa kecil hati. Entah apa yang sekarang ada di pikiran mereka. Semoga saja, mereka mau memaafkan saya meski secara langsung saya belum mengutarakan permohonan maaf. Saya hanya bisa berharap dan (semoga bisa) berdoa untuk mereka: semoga diberi kebahagiaan. Untuk siapapun yang pernah mengasuh saya juga, yang belum saya ketahui, semoga kalian bahagia. Terima kasih, karena kalian telah membekali saya bekal untuk merespon tantangan hidup yang kian berat. Semoga saja, entah kapan waktunya, saya bisa mengabdikan diri pada kalian, atau keturunan kalian agar bisa hidup bahagia layaknya manusia. Juga, bisa membahagiakan siapa saja yang punya hubungan dengan kalian. Semoga...

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 13 October 2016

Telah Lama Terbengkelai


Memulai pekerjaan yang telah lama terbengkelai adalah sesuatu yang sulit. Ibarat mengecat dinding rumah, yang tidak selesai lantaran catnya habis, lalu beberapa waktu kemudian diselesaikan dengan membeli cat sejenis di toko cat. Meski secara kasat mata sama, tapi setelah dioleskan ke dinding, dengan jelas tampak perbedaannya. Karena, kode cat yang berbeda.

Demikian juga yang saya rasakan setelah sekian lama tidak bersinggungan dengan dunia tulis menulis. Sekira satu bulan sudah berhenti menulis. Selain laptop yang raip diambil pencuri, juga lingkungan kurang mendukung. Ini cukup berhasil mengintimidasi semangat saya dalam menulis untuk tetap bertahan.

Sekira 3 hari yang lalu, saya diminta kawan untuk mengisi rubrik buletin yang ia terbitkan. Judulnya sederhana: pers mahasiswa sebagai penunjang akademik. Namun hingga ini saya tulis, belum rampung bahkan tersentuh pun tidak judul tersebut. Saya masih bingung mau mulai dari mana. Juga outline tulisan tersebut, sama sekali belum ada bayangan. Ini yang membuat tulisan belum digarap, selain fasilitas pribadi yang kurang memadai: tidak ada laptop. Padahal, dateline tinggal sehari lagi: tanggal 14 Oktober 2016.

Atau mungkin tawaran saya untuk diri sendiri soal alur tulisan yang kelak digarap begini saja: nilai-nilai plus yang didapat mahasiswa yang ikut lembaga pers mahasiswa. Sebelum bagian ini, perlu juga dilengkapi dengan sedikit seluk beluk dan heroisme pers mahasiswa dalam sejarah gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu. Kemudian, sebagai penutup, diulas keuntungan yang didapat untuk mereka yang sudah menjadi alumni pers mahasiswa: misalnya di dunia kerja punya daya tawar tinggi, di masyarakat bisa lebih terbuka melihat kompleksitas problem sosial-ekonomi, atau mungkin, di kampus dulu, menjadi dikenal oleh dosen dan dianggap 'lebih' dari mahasiswa lain. Di samping dijelaskan juga fungsinya, sebagai agent of change...

Ya, ya, mungkin tawaran ini bisa segera saya garap. Menarik. Terima kasih, diriku. Semoga Tuhan selalu memberi petunjuk padamu wahai diriku. Semoga!

Bujang 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 11 October 2016

Demisioner


Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Demisioner adalah keadaan tanpa kekuasaan. Misalnya pengurus yang telah menyerahkan segenap tugas-tugasnya pada organisasi hingga dilantik pengurus baru. Itulah arti demisioner dalam kbbi.

Namun yang ingin saya tulis bukan makna dari kata. Malainkan, lebih kepada kebiasaan organisasi yang menyebut mantan pengurus sebagai demisioner hingga habis masa jabatan pengurus baru. Ini juga sebagai salah satu fenomena salah kaprah, yang tentu dalam budaya masyarakat kita merupakan hal biasa dan lumrah.

Sebelum pengurus baru dilantik, ada tahapan yang perlu dilalui. Dan sejauh pengetahuan saya, setelah pimpinan terpilih dalam forum kongres, segera membentuk struktur organisasi. Ini agae tidak terjadi kekosongan kinerja anggota begitu lama. Bentukan struktur organisasi, diikuti dengan pengajuan surat keputusan (SK) kepada fakultas (jika organ intra fakultas). Biasanya, memakan waktu satu bulan lebih. Bahkan pernah saya mengajukan SK bulan Mei, September baru bisa diambil.

Setelah SK jadi, lagi-lagi agar organisasi tidak terlalu lama dengan kekosongan kegiatan, segera diadakan pelantikan, disusul dengan rapat kerja (raker) yang anggotanya merupakan seluruh pengurus. Dalam forum raker ini, satu periode kepengurusan dipertaruhkan. Semakin matang penggodogan raker, semakin berpotensi organisasi bisa berjalan dengan baik, tanpa tumpang tindih jobdes antar divisi.

Namun perlu diingat, sebelum pelantikan dan raker, ada satu tahapan lagi yang perlu diselesaikan, yaitu upgrading. Upgrading bertujuan agar tiap-tiap pengurus tahu nilai-nilai yang diperjuangkan organisasi, serta pola kerja dan hubungan antar divisi. Tentu saja, ini akan efektif ketika struktur organisasi sudah terbentuk (meski SK belum turun).

Sebagaimana saya sebutkan bahwa salah kaprah penyebutan demisioner sudah mendarah daging di beberapa organisasi. Meski demikian, tidak berarti fungsi demisioner sia-sia begitu saja. Di satu sisi memang salah kaprah, tapi di sisi lain ada tuntutan untuk mengawal pengurus baru sampai pada pelantikan. Dan tahapan-tahapan di atas, adalah bagian dari tanggung jawab demisioner juga untuk mengawal agar secepatnya organisasi bisa difungsikan sesuai fungsi dan tujuannya. Selamat berproses, kawan!!!

Ini coretan sederhana, yang sama sekali jauh dari kata sempurna. Selain kbbi, tidak ada refrensi yang dijadikan rujukan, selain pengalaman pribadi.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 13 September 2016

Bisikan Menantu


Minggu besok, ada tetangga saya yang menikah. Berbagai persiapan telah dimulai jauh-jauh hari. Termasuk, meminta bantuan tetangga untuk jadi jubus (tukang bantu). Juga beberapa sarahan sudah disiapkan untuk diserahkan calon pengantin putri.

Namun moment yang seharusnya diliputi awan bahagia tiba-tiba mendung. Mendung meski belum pecah menjadi petir dan hujan.

Mendung itu datang dari orang tua calon pengantin yang secara etika, oleh menantunya (karena orang tua tersebut punya 3 anak, dan Minggu besok pernikahan terakhir kali untuk keluarga tersebut) dipandang kurang baik. Sehingga, tetangga yang dimintai bantuan merasa 'kurang diuwongke'. Karena, cara memohon bantuannya tidak langsung ke rumahnya, melainkan di mesjid maupun warung yang ia miliki. Ini, yang secara etika kurang baik dalam pandangan menantunya.

Menantunya juga bercerita, bahwa dirinya ketika dinikahkan dengan anaknya merasa kurang puas dengan 'mas kawinnya'. Bukan persoalan mewah atau tidak, tapi besar mas kawin biasanya (menurut saya) menjadi tolok ukur seberapa besar suami menghormati dan menghargai istri. Ini yang oleh menantu tersebut tidak dirasakan ketika dirinya menikah.

Belajar dari pengalaman tersebut, si menantu tidak mau terulang pada bakal calon istri kakak suaminya. Terlebih, calon istrinya orang berpendidikan, magister hukum. Tentunya, pernikahan dan segalanya harus 'setingkat lebih tinggi' dari dirinya dulu.

Ia juga mengakui, dirinya agak kecewa dengan perayaan pernikahannya dulu. Namun ia pendam dalam-dalam, dan tak mau terulang pada siapapun. Terlebih kakak suaminya.

Namun lagi-lagi, suara menantu tak ada tajinya. Bagai angin berlalu saja.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 12 September 2016

Gradasi




Setiap perayaan Idul Adha, budaya di dukuh saya adalah makan-makan setelah memotong hewan kurban. Biasanya, acara makan-makan setelah daging kurban sudah mulai 'ditimbang' dan didata orang-orang yang akan diberi jatah. Adapun menu andalan, gulai kambing dan sambel kacang.

Perayaan yang jatuh pada hari senin kemarin, juga tak jauh beda dengan tahun lalu. Menu makanan tetap saja. Hanya saja, jumlah hewan kurban sapi yang berubah. Dulu satu, kemarin dua.

Saya bersama beberapa lelaki lintas umur makan kloter kedua. Setelah bergelut dengan daging kambing ya baunya kambing banget.

Seusai makan saya diajak tetangga untuk merampungkan pekerjaan: membagi daging kurban. Tapi siapa sangka, saya ditahan Kecup (sebut saja begitu). Kecup adalah tetangga saya yang cukup terkenal kesupelannya. Karena karakternya ini, banyak orang kenal dia.

Saya tahu bahwa ia memiliki jiwa seni tinggi ketika mendengar pengalaman hidupnya di tanah rantau. Ceritanya, ia bekerja di percetakan di Semarang. Percetakan tersebut mendapat order untuk memperbanyak soal ujian dari SD hingga sertifikasi guru.

Ia dipercaya bosnya karena kinerjanya bagus. Hingga akhirnya, ia diberi kesempatan untuk kuliah gratis selama dua tahun. Merasa kesempatan tak datang dua kali, barangkali, ia ambil tawaran itu. Ia pilih jurusan grafika.

Ia jelaskan perpaduan warna di setiap desain pakaian, rumah, hingga daun. Dan yang membuat saya tertarik sekaligus kagum adalah penjelasannya tentang desain warna pada daun.

Allah, kata Kecup, memang menciptakan daun dengan gradasi warna yang pas. Coba kamu cari daun. Daun ini (sambil memetik daun tanaman hias) warna hijau, gradasi di tengahnya hijau muda. Nggak mungkin merah. Karena hijau gradasinya ya tidak jauh dari warna tersebut.

Saya berpikir, kok bisa sampai Kecup berpikiran sampai situ. Perpaduan warna yang Allah ajarkan melalui daun.

Saya juga jadi sadar, bahwa Kecup yang secara tampilan biasa-biasa dan sikapnya kerap tak mencerminkan 'keislamannya' (dalam artian Islam kearab-araban) ternyata memiliki permenungan mendalam. Ia, tentu saja melewati tangga berpikir dan kontemplasi yang panjang, sehingga sampai kepada Hakikat, bahwa satu-satunya sumber ilmu adalah Allah, Sang Khalik. Proses berpikir dan bermenungnya Kecup bahkan sampai pada pola gradasi warna yang ternyata sengaja Allah selipkan dalam karya-karyanya. Dan Kecup berhasil melihat pada dedaunan yang memiliki kekhasan warna. Gradasi daun ini kemudian (seakan-akan) oleh Kecup dijadikan pedoman untuk memadukan warna dalam beberapa hal, seperti pakaian, desain inferior dan ekferior rumah.

Satu pertemuan di hari penuh berkah, yang mampu membuat mataku bisa melihat agak lebar. Terima kasih Gusti Allah. Terima kasih Kecup..

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 8 September 2016

Eksistensi


Apa jadinya jika musisi ataupun master of ceremony (mc) dengan ketrampilannya tak mampu membius penonton untuk mengikuti apa yang keluar dari mulutnya. Atau gerakan isyarat yang tak diikuti oleh gerak tubuh maupun suara penonton. Tentu, sakit dan sia-sia ia berdiri di panggung.

Memang benar, hidup soal eksistensi. Sulit, untuk tangan kanan menyembunyikan kebaikan pada tangan kiri. Bahkan kerap, dengan isyarat halus, merangsang tangan kiri agar tahu apa yang telah tangan kanan perbuat.

Eksistensi soal pengakuan. Kau ada karena ada yang mengakui. Dan pengakuan itu ada prasyaratnya. Kata orang, kalau tak bisa berprestasi, maka jadilah berbeda. Agaknya ini prasyarat yang musti dipenuhi siapapun yang tak mau sirna eksistensinya dan tetap diakui sebagai 'yang ada'.

Musisi diakui karena keterampilannya memainkan irama. Merangkai kata menjadi lagu dengan musik sebagai iringannya. Ini artinya, prestasi. Atau mungkin, karena mau tampil beda? Begitu juga dengan MC yang selalu bereksperimen sehingga mampu membuat penonton tertawa bahagia atau geli.

Sementara tokoh-tokoh yang berani tampil beda, justru tak memiliki tarikan napas panjang. Hanya selang beberapa detik saja setelah dirinya menunjukkan eksistensinya sebagai 'yang beda', sebilah pisau, atau peluru atau setrum bahkan sianida, dengan ganas memisahkan nyawa dengan raganya. Ini saya lihat ada dalam diri Udin, Munir, Salim Kancil, dan pahlawan-pahlawan di zaman perjuangan. Mereka tampil beda, maka wajar jika hingga kini, meski raganya sudah mengatu dengan tanah, keberadaannya tetap terjaga. Bahkan diam-diam menjelma jadi manusia baru, yang siap berjuang untuk tampil beda. Beda, saya pikir, di zaman korupsi-kolusi-nepotisme jama'ah, adalah sikap tegas. Karena, begitu sikap itu muncul ke permukaan, segera moncong senapan mengarah tepat di tengah pelipis: headshot!!!

Jadi, silahkan pilih! Berprestasi atau tampil beda, untuk mengukuhkan eksistensi diri. Yang jelas, jika tak punya nyali lebih, jangan coba pilih yang kedua..

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...