Sehari saya di rumah, sekira dua minggu yang lalu, tidak dilewatkan begitu saja tanpa momen yang berarti. Sehari satu malam, artinya tidak ada banyak waktu yang bisa saya gunakan untuk ngobrol dari hati ke hati dengan keluarga, bapak dan ibu maksudnya. Terlebih, kesibukan bapak sebagai guru kelas di SD, menyita waktu pagi untuk duduk bersama. Pulang jam setengah 2 sore, istirahat sejenak langsung pergi ke sawah, cari makan sapi. Hari itu kebetulan bapak punya tanaman kacang tanah yang sekira seminggu lagi akan panen, namun keburu dilanda banjir, hingga menggenang dan membuat biji kacang tanah muda busuk. Dan pohon yang mulai membusuk dan bau inilah, yang oleh bapak dengan cepat-cepat diselamatkan, untuk pakan sapi. Tentu saja, karena kebetulan saya di rumah, diminta untuk membantu.
Rencana awal saya pulang, sebenarnya, untuk menceritakan sebuah rahasia besar yang saya simpan sejak Mei. Karena alasan menjaga perasaan orang tua, berkali-kali saya urungkan niat untuk menceritakannya. Dan di hari yang saya rencanakan untuk bercerita, gagal, lantaran kondisi bapak yang kecapaian yang dalam ukuran saya kurang tepat untuk mendengar cerita rahasia ini. Jadi, saya putuskan untuk diam, menemani ibu di dapur saat menyiapkan masakan untuk bapak nanti kalau sudah pulang. Dari sini saya mulai bisa bicara dari hati ke hati dengan ibu, meski tetap, rahasia saya di bulan Mei belum dibongkar.
Satu hal yang saya tanyakan kepada ibu: kenapa saya memiliki sifat lembut dan cenderung keperempuan-perempuanan. Dari suara pun, saya lembut. Gerak tubuh juga saya sadari ketika di MA, agak gemulai. Dari sini saya minta 'pertanggungjawaban' ibu untuk menjelaskan: kenapa bisa begini?
Tapi sebelum ibu menjawab dan menjelaskan, saya menebak-nebak bahwa karakter saya ini terbentuk dari lingkungan. Dari orang-orang yang sewaktu saya kecil, secara tidak sadar membentuk karakter anak kecil yang mereka 'emong'.
Dan memang tidak meleset, ibu justru mengamini apa yang saya kira-kirakan. Ia sebut satu per satu orang-orang yang hadir, ikut andil mengasuh saya sewaktu kecil. Ada Yu Yuni, Yu Sri, Yu Nur, Yu Ani, Yu Anti, Yu Turasih, Yu Mar, dan Kang Tri. Dari sekian banyak yang ibu sebut, hanya satu laki-laki yang menebar kasih sayangnya pada saya. Ia adalah Kang Tri. Selain dia, perempuan semuanya. Di rumahpun, saya diasuh oleh Ibu dan nenek, sementara bapak mencari nafkah di luar, dan sekali-kali mengajari ilmu agama. Dari sini, semakin jelas betapa besar pengaruh pengasuh saya di waktu kecil. Srikandi-srikandi yang hadir di masa kecil saya, mewariskan kelembutan mereka pada saya yang kini telah berkepala dua.
Yu Yuni, kini telah memiliki dua anak, satu laki-laki sekolah di SD dan setunya perempuan usia dini. Untuknya, saya sangat berterima kasih. Meski, kata orang, secara agama kurang, tapi bagaimanapun, ia sudah mewarnai dan ikut andil membentuk karakter saya. Saya berhutang budi pada dia. Dan sampai kapan pun, saya optimis tidak bakal bisa membalas budi Yu Yuni. Hanya doa, semoga keluarga kecilnya bahagia dan diberi kemudahan oleh Yang Kuasa.
Yu Sri juga sama. Ia adalah tetangga saya yang rumahnya tepat berada di samping kanan rumah saya. Kini telah berkeluarga dan memiliki satu anak laki-laki. Sehat saya kira anak Yu Sri. Semoga saja, segala yang pernah ia bagikan pada saya saat kecil, dibalas dengan ganjaran baik yang setimpal.
Yu Nur, sudah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan, serta berprofesi sebagai guru di SD depan rumah saya. Apapun yang ia suntikkan saat saya kecil, semoga bermetamorfosa menjadi kebaikan, yang entah mencari inangnya di tubuh anak perempuannya, dirinya, suaminya, maupun keluarganya. Yang jelas, saya yakin bahwa Yang Kuasa, sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang Yu Nur lakukan.
Yu Ani, adalah anak dari kakak laki-laki ibu saya. Ia saudara kembar Yu Anti. Potongan memori yang masih saya ingat adalah, kerap di akhir pekan, mereka berdua berkunjung ke rumah saya naik sepeda. Jarak rumah mereka dengan rumah saya adalah 7 km. Sungguh mengagumkan, bukan, perjuangan mereka?
Kini, mereka berdua telah berkeluarga dan masing-masing memiliki dua anak laki-laki. Yu Anti, membuka kursus bahasa inggris di rumahnya dan menjadi kepala sekolah di SMP Muhammadiyah di daerahnya. Suaminya, menjadi tukang kredit perabotan rumah tangga.
Sementara Yu Ani, juga sama membuka les bahasa inggris di rumahnya. Dalam perkembangannya, ia buka les baca-tulis untuk anak usia dini dan SD kelas bawah, kalau saya tidak salah. Dan suaminya, Taung, punya usaha jualan kambing. Mereka berdua sama-sama berkarya untuk menegakkan bangunan rumah tangga agar bertambah kokoh. Bukan dari segi materi saja, aspek spiritual juga mereka bangun, dengan ikut majelis ataupun menitipkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Ini yang membuat mereka berdua hidup dalam keharmonisan.
Yu Turasih, adalah anak dari kakak perempuan bapak saya. Ia memiliki (kalau tidak salah) empat anak. Tiga laki-laki, satu perempuan yang merupakan anak pertama. Kepribadiannya bagus, selalu diwarnai dengan kelemahlembutan. Peka dan peduli dengan nasib saudara. Persis sekali dengan ibunya, kakak perempuan bapak, yang menangis ketika melihat bapak terbaring di rumah sakit lantaran kecapean selama kurang lebih 15 hari. Saya berterima kasih pada Yu Turasih, karena kelembutan hatinya sedikit banyak berpengaruh pada kepribadian saya.
Yu Mar, adalah anak dari kakak perempuan bapak yang nomor dua. Bapak adalah tiga bersaudara, dan ia adalah anak terakhir. Kini, Yu Mar telah bersuami dan memiliki satu anak perempuan. Namanya Eza dan cukup dekat dengan saya. Rumahnya, sekira delapan rumah di samping kanan rumah saya. Jadi kerap bertemu jika saya sedang di rumah. Suaminya, Mijan, mencari nafkah di Negeri Jiran, di perkebunan bunga. Sementara Yu Mar, merangkai bulu mata untuk disetor ke pabrik. Entah dulu ketika saya masih kecil apa yang Yu Mar 'ajarkan' pada saya. Yang jelas, saya berterima kasih pada dia karena telah mengisi masa kecil saya.
Terakhir, adalah Kang Tri. Ia adalah satu-satunya orang laki-laki yang dekat dengan saya di waktu kecil. Kata Ibu, dari sekian tetangga laki-laki, Kang Tri lah yang paling suka dengan anak kecil. Maka wajar, jika ia mengisi masa kecil saya dan menghabiskan waktu untuk bermain dengan saya.
Lantas ketika Ibu telah selesai menceritakan orang-orang yang pernah mengasuh saya di masa kecil, spontan saya bertanya: kok bisa, ya, bu mereka mau meluangkan banyak waktu untuk mengasuh saya?
"Soalnya di masa kamu kecil, di lingkungan sini belum banyak anak kecil" kata ibu kemudian.
Saya pun merenung-renungkan, betapa menyedihkannya diri saya jika tidak ada mereka. Benar memang, di lingkungan saya, teman sejawat jarang sekali. Kalau tidak di atas saya umurnya, ya jauh di bawah saya. Sehingga, tidak ada teman bermain kecuali dengan mereka. Baru menginjak usia SD, saya punya beberapa teman; yang kebanyakan jauh di bawah saya umurnya.
Karenanya, saya sangat berterima kasih pada siapapun yang pernah singgah dan mengukir kenangan di waktu kecil. Saya yakin, mereka adalah 'lingkungan' yang membentuk kepribadian saya. Hingga kini saya baru menyadari, betapa tersiksanya belum bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Saya dengan sifat malunya, jarang sekali mengunjungi mereka dan menghibur putra-putri mereka, menjadi teman bermain bagi anak-anak mereka sebagaimana mereka menemani saya dulu. Menyapapun saya canggung, dan merasa kecil hati. Entah apa yang sekarang ada di pikiran mereka. Semoga saja, mereka mau memaafkan saya meski secara langsung saya belum mengutarakan permohonan maaf. Saya hanya bisa berharap dan (semoga bisa) berdoa untuk mereka: semoga diberi kebahagiaan. Untuk siapapun yang pernah mengasuh saya juga, yang belum saya ketahui, semoga kalian bahagia. Terima kasih, karena kalian telah membekali saya bekal untuk merespon tantangan hidup yang kian berat. Semoga saja, entah kapan waktunya, saya bisa mengabdikan diri pada kalian, atau keturunan kalian agar bisa hidup bahagia layaknya manusia. Juga, bisa membahagiakan siapa saja yang punya hubungan dengan kalian. Semoga...
Jogja 2016