Dalam Binatangisme
Sebuah pengantar:
Beberapa hal yang aku temukan dalam karya George Orwell, Binatangisme adalah:
1. Ketertindasan kaum hewan (kelas proletariat) atas manusia (kelas Borjuis pemilik modal).
Bahwa binatang merasa segenap hidupnya hanya diabdikan untuk melayani tuannya. Ia yang bekerja banting tulang, sapi produksi susu, ayam produksi telor, babi menggemukkan dirinya untuk disembelih, dan sebagainya. Mereka memproduksi, tapi hasilnya semata dinikmati tuannya, yang manusia itu..
Dari sini kemudian muncul pemberontakan. Inisoatornya adalah babi, hewan yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tujuannya, untuk menggulingkan kuasa manusia, lalu menguasai alat produksi untuk dikelola sendiri.
Dan mulailah propaganda dilancarkan. Hingga melahirkan lagu "Binatang-binatang Inggris" sebagai sumplemen penyemangat. Jika dalam komunis, mungkin kita kenal lagu 'kebangsaannya' berjudul "Internasionale".
Si Babi propagandis, karena sudah umur, mati sebelum tercetus lagu "Binatang-binatang Inggris". Namun sudah sempat berpesan, bahwa sesama binatang tidak boleh ada kasta, saling bunuh, dan saling tindas. Egaliter.
Babi Tua mati meninggalkan kader andalan dua babi: babi pertama memiliki kemampuan berpidato dan cerdas. Yang kedua, punya ambisi kuat. Mereka berdualah yang akan memimpin republik binatang, setelah pemberontakan dalam "Pertempuran Kandang Sapi", antara mereka dengan manusia, dimenangkan oleh mereka. Pemberontakan ini juga tidak bisa terlepas dari kontribusi dua babi tersebut.
Maka terbangunlah republik binatang tanpa kelas. Mereka sama-sama bekerja, untuk menggarap ladang, dan hasilnya dinikmati sendiri. Ini pun tersebar sampai ke peternakan tetangga. Sehingga, pemberontakan (meski masih soft) kian terasa. Binatang ternak banyak yang mogok kerja.
Dua babi kader andalan yang dipercaya untuk memimpin republik binatang, pada perkembangannya, banyak silang pendapat. Si cerdas dengan segala wawasannya, selalu melakukan gebrakan untuk mempermudah kerja para binatang. Sehingga, yang awalnya kerja setiap hari, bisa dipangkas menjadi 3 hari dalam seminggu (meski belum terealisasi). Sementara Si Babi Ambisius, merasa iri dan ingin tampil di depan.
Maka sampai suatu momen, ketika Si Cerdas pidato, muncullah Si Ambisius dengan membawa anjing-anjing didikannya. Anjing-anjing tersebut diperintahkan untuk menerkam Si Cerdas. Forum semakin mencekam. Dan Si Cerdas, lari terbirit-birit menghindar dari kejaran anjing. Maka, naiklah Si Ambisius di atas podium jerami, dengan dikawal anjing-anjing, disertai satu babi lagi sebagai jubirnya. Dan jadilah Si Ambisius berkuasa.
2. Manipulasi Sejarah dan Merekasaya Undang-undang
Semenjak Si Ambisius berkuasa, banyak kebijakan yang dirombak. Kian tahun, para binatang selain babi (karena buta huruf) mulai merasa ada yang tidak beres. Namun segera Si Jubir sekaligus Propagandis miliknya Si Ambisius, meredam gejolak ini dengan merekayasa sejarah.
Dengan menjelaskan bahwa apa yang diketahui oleh mereka tentang kisah heroik Si Cerdas, hanyalah siasat licik. Si Cerdas, dikisahkan ulang, sebagai binatang yang ingin sekongkol dengan manusia. Ia merencanakan sesuatu yang keji dengan ditutup-tutupi aksi heroiknya ketika memimpin dan mengatur strategi di "Pertempuran Kandang Sapi". Karena daya ingat lemah, maka para binatang percaya saja.
Pun, aturan-aturan yang telah disepakati bersama, mulai direkayasa. Yang awalnya berbunyi "Setiap binatang tidak boleh membunuh sesama binatang". Dirubah (atau tepatnya diimbuhi) menjadi "Setiap binatang tidal boleh membunuh sesama binatang tanpa sebab".
Pun dengan lagu kebangsaan, yang awalnya dinyanyikan setiap hari Minggu, dilarang keras. Alasannya, karena lagu tersebut mengandung nilai-nilai pemberontakan (bukan lagi nilai perjuangan).
3. Lain-lain
Percaya dengan apa yang aku sampaikan, sesat!!! Maka, bacalah sendiri... Mari diskusikan!
*Disampaikan dalam Garasi 21/12/2016
Monday, 19 December 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment