Soal Aksi 4 November 2016, saya cukup apresiat dengan siapapun yang bergabung di dalamnya. Artinya, umat Islam masih punya semangat untuk mempertahankan agamanya agar tidak dilecehkan siapapun. Karena, tak lain, aksi 4 November ini sebagai respon dari ketledorannya Ahok mengutip ayat sebagai 'bahan olok-olok', yang dengan mudah menyulut emosi umat Islam. (Umat Islam emosian ya?) Oh, barangkali bukan emosi, tapi lebih kepada mempertahankan harga diri Islam. Tapi benarkah demikian? Lantas kenapa perlawanan ini mencuat mendekati pencalonan Ahok menjadi gubernur DKI?
Soal pelecehan, menurut Kiai Said Aqil Siroj dalam acara Mata Najwa (2/11/2016), ada dua macam, yaitu pelecehan secara lisan dan tindakan. Pelecehan secara lisan, barangkali bisa dicontohkan dari kasus gubernur Ahok. Sementara tindakan seperti pemusnahan umat Muslim Rohingnya di Myanmar, tragedi Allepo, dan sebagainya.
Dari dua bentuk pelecehan ini, sebenarnya mana yang sekiranya lebih tepat untuk kita lawan, untuk kita kubur dalam-dalam pelecehan tersebut. Dengan demikian, perlu kiranya kita menimbang aspek madharatnya. Penghinaan secara lisan atau tindakan yang lebih banyak mudharatnya? Tentu, kamu sudah bisa menimbang, mana yang lebih berbahaya.
Lantas jika sudah menimbang segi madharatnya, apa sikap kita terhadap aksi 4 November ini? Menolakkah, atau mendukung? Atau ada pilihan lain selain opsi hitam-putih ini?
Sebagaimana di awal, saya mengapresiasi bagi siapa saja yang ikut andil dalam aksi tersebut (baik yang terjun ke lapangan atau sebatas ganti DP BBM sebagai bentuk dukungan). Namun sebagaimana kebiasaan kita, menilai orang lain lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Kita dengan mudah memvonis Ahok sebagai pelaku pelecehan ayat al-Qur'an, tanpa menyadari bahwa, barangkali, di setiap langkah kita ternyata melecehkan ayat al-Qur'an. Segala kedurhakaan kita terhadap perintah Allah, adalah pelecehan. Segala bentuk pelanggaran dari kewajiban, adalah pelecehan. Lantas lebih hina mana kita dengan Ahok? Dia sebagai non-muslim, menista agama Islam dengan ucapan. Sementara kita, dengan tindakan yang dilakukan secara rutin. Sebagaimana hukum rajam yang dicitrakan dalam film 'Son of God', bahwa wanita pezina tidak berhak dirajam oleh orang pendosa. Jadi saya jadi tertarik untuk bertanya: sudah pantaskah kita menghujat Ahok?
Jogja 2016
Thursday, 3 November 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment