Monday, 12 September 2016

Gradasi




Setiap perayaan Idul Adha, budaya di dukuh saya adalah makan-makan setelah memotong hewan kurban. Biasanya, acara makan-makan setelah daging kurban sudah mulai 'ditimbang' dan didata orang-orang yang akan diberi jatah. Adapun menu andalan, gulai kambing dan sambel kacang.

Perayaan yang jatuh pada hari senin kemarin, juga tak jauh beda dengan tahun lalu. Menu makanan tetap saja. Hanya saja, jumlah hewan kurban sapi yang berubah. Dulu satu, kemarin dua.

Saya bersama beberapa lelaki lintas umur makan kloter kedua. Setelah bergelut dengan daging kambing ya baunya kambing banget.

Seusai makan saya diajak tetangga untuk merampungkan pekerjaan: membagi daging kurban. Tapi siapa sangka, saya ditahan Kecup (sebut saja begitu). Kecup adalah tetangga saya yang cukup terkenal kesupelannya. Karena karakternya ini, banyak orang kenal dia.

Saya tahu bahwa ia memiliki jiwa seni tinggi ketika mendengar pengalaman hidupnya di tanah rantau. Ceritanya, ia bekerja di percetakan di Semarang. Percetakan tersebut mendapat order untuk memperbanyak soal ujian dari SD hingga sertifikasi guru.

Ia dipercaya bosnya karena kinerjanya bagus. Hingga akhirnya, ia diberi kesempatan untuk kuliah gratis selama dua tahun. Merasa kesempatan tak datang dua kali, barangkali, ia ambil tawaran itu. Ia pilih jurusan grafika.

Ia jelaskan perpaduan warna di setiap desain pakaian, rumah, hingga daun. Dan yang membuat saya tertarik sekaligus kagum adalah penjelasannya tentang desain warna pada daun.

Allah, kata Kecup, memang menciptakan daun dengan gradasi warna yang pas. Coba kamu cari daun. Daun ini (sambil memetik daun tanaman hias) warna hijau, gradasi di tengahnya hijau muda. Nggak mungkin merah. Karena hijau gradasinya ya tidak jauh dari warna tersebut.

Saya berpikir, kok bisa sampai Kecup berpikiran sampai situ. Perpaduan warna yang Allah ajarkan melalui daun.

Saya juga jadi sadar, bahwa Kecup yang secara tampilan biasa-biasa dan sikapnya kerap tak mencerminkan 'keislamannya' (dalam artian Islam kearab-araban) ternyata memiliki permenungan mendalam. Ia, tentu saja melewati tangga berpikir dan kontemplasi yang panjang, sehingga sampai kepada Hakikat, bahwa satu-satunya sumber ilmu adalah Allah, Sang Khalik. Proses berpikir dan bermenungnya Kecup bahkan sampai pada pola gradasi warna yang ternyata sengaja Allah selipkan dalam karya-karyanya. Dan Kecup berhasil melihat pada dedaunan yang memiliki kekhasan warna. Gradasi daun ini kemudian (seakan-akan) oleh Kecup dijadikan pedoman untuk memadukan warna dalam beberapa hal, seperti pakaian, desain inferior dan ekferior rumah.

Satu pertemuan di hari penuh berkah, yang mampu membuat mataku bisa melihat agak lebar. Terima kasih Gusti Allah. Terima kasih Kecup..

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...