Saturday, 10 December 2016

Satpam Kampus


Ada yang menarik dari bapak satpam yang aku temui. Aku kenal baik dengan dia, tapi tidak tahu siapa namanya. Yang jelas, semenjak obrolan di parkiran motor di kampus, aku jadi tahu bahwa dia memiliki empat orang anak.

Anak pertama usia smp, kedua kelas 4 sd, ketiga sd entah kelas berapa, dan terakhir masih taman kanak-kanak.

Berawal dari cerita kami tentang motor, ia mulai membuka diri untuk cerita tentang dirinya.

"Saya mas, setiap harinya habis 27 ribu untuk sangu anak-anak sekolah. Yang smp 10 ribu, sd kelas empat 7 ribu, adiknya lagi 6 ribu. Dan yang di tk 4 ribu"

Belum lagi, lanjutnya, saya memelihara burung, per hari habis 5 ribu untuk pakan.

Aku, yang mencoba jadi pendengar baik, justru pusing. Dan berpikir: banyak ya kebutuhan pak satpam itu, sebagai suami sekaligus ayah.

"Kalau dipikir-pikir tidak cukup gajinya untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Gaji saya UMR Sleman, 1,5 jutaan. Tapi ya alhamdulillah mas, ada saja rejekinya"

Ia juga menceritakan, kurang lebih 50 ribu dalam sehari, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum termasuk kebutuhan mendadak anak-anaknya. Yang terkadang, barangkali, lebih besar dari uang jajan.

Aku sesekali melihat air mukanya, terlihat ceria. Seakan tidak ada beban hidup, justru masih mampu menebar tawa. Sungguh kalau dipikir, tidak masuk akal.

"Wah emang bener pak, enak jadi mahasiswa" kataku sembari terbahak.

Dan satpam itupun ikut tertawa. Mungkin karena aku singgung soal kampus, dia mendadak teringat masa lalunya saat masih bocah. Ia sering dan betah main di kampus UIN.

"Dulu sini sejuk mas. Banyak rumputnya. Banyak mahasiswa diskusi di rumput-rumput. Empuk mas rumputnya. Kalau haus bisa petik kelapa yang tumbuh di lingkungan kampus. Pepaya, mangga. Banyak dulu pohon buahnya."

Dan sejenak aku merasakan hawa panas di lingkungan uin. Pohon-pohon beton kini telah kokoh berdiri. Tidak ada ruang terbuka, yang bebas dari beton.

Demikian... Banyak yang ingin aku sampaikan, tapi sulit untuk merangkainya dalam cerita. Jadi, nikmatilah sepenggal cerita dariku ini. Meski sederhana, paling tidak bisa menjadi bukti, bahwa aku masih peduli untuk menulis. Karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasan.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...