Monday, 17 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya (lanjutan)


Telah lalu tulisan mengenai kegelisahan saya soal praktik berislam di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia atau lebih spesifiknya Jawa, tempat saya lahir dan tinggal. Dalam artikel tersebut, saya memang lebih pada mengritisi umat Islam yang menilai saleh-tidaknya seseorang dari tampilan. Lebih spesifik, dari tumbuh dan dipeliharanya jenggot serta celana yang cungklang. Menurut mereka, jika umat islam memiliki tampilan demikian, otomatis 'sedikit' lebih islami dari orang yang biasa-biasa saja dalam berpakaian.

Sehingga dari pandangan semacam ini, saya menarik kesimpulan bahwa nilai Islam yang rohmatan lil'alamin justru tercoreng. Di tubuh umat Islam, justru semakin nampak garis demarkasi (sekat) yang mengotak-kotakan. Karena telah terkotak-kotak sedemikian rupa, kerapkali terjadi gesekan yang tak jarang menimbulkan percik api permusuhan. Klaim kafir juga bisa dengan mudah meluncur dari kotak-kotak tersebut. Kotak satu mengkafirkan kotak dua, sementara kotak dua menilai kotak satu kolot, pekok, dan semacamnya.

Nah, yang ingin saya tuliskan sekarang adalah, pandangan 'muslim biasa' pada muslim berjenggot dan bercelana cungklang.

Saya bercerita berdasar pada pengalaman selama menjadi mahasiswa di Jogja, terkhusus kampus Islam. Saya, yang belakangan baru menyadari mengenyam pendidikan islam (setengah wahabisme; paham wahabi) mengalami beragam gesekan, baik di kampus, organisasi, maupun lingkungan tempat saya tinggal.

Saya hidup dan berinteraksi, seringkali, dengan kawan-kawan nahdlotul ulama. Entah itu di kampus, organisasi, maupun kos/asrama. Juga dengan kawan muda Muhammadiyah, meski tidak seinten seperti dengan kawan NU. Karenanya, sedikit-banyak saya menyimak dan terlibat langsung dalam beragam obrolan, termasuk soal 'ejekan' untuk tetangga sebelah yang hobi memakai pakaian gamis-cungklang dan berjenggot lebat, serta ada dua bekas hitam di jidatnya. Jika obrolan mengarah pada tema tersebut, meriahlah jadinya.

Menurut mereka (tidak bermaksud menjeneralisir), muslim semacam itu tidak pantas untuk tinggal di Nusantara. Kalau memang mau berpenampilan demikian, ya monggo di Arab saja. Terlebih untuk mereka yang sukanya membid'ah-bid'ahkan golongan lain. Wong wajah antum saja sudah bid'ah, tidak ada di masa nabi. Tentu saja, muslim jenis ini menjadi sasaran empuk dan menjadi bulan-bulanan mereka.

Mereka tidak sepakat, atas pandangan yang mengharuskan umat islam meniru segala hal yang lahir di Arab, utamanya pakaian dan budayanya. Hanya karena Islam lahirnya di Arab.

Praktik berislam, tidak bisa lepas dari kebudayaan setempat. Coba bayangkan saja, jika umat seluruh dunia, dalam berislam harus menggunakan budaya Arab? Tentu saja itu akan menyalahi fitrah, bahwa Islam milik semua umat manusia, bukan milik bangsa Arab. Sehingga, semakin jelas bahwa untuk praktik ibadah, selalu membutuhkan warisan budaya dan adat istiadat setempat, selama itu tidak bertentangan dengan semangat Islam.

Berkait kelindan-nya Islam dan budaya tentu tidak bisa ditampik lagi. Sebagai contoh, tahlilan yang awalnya ritual masyarakat Hindu-Budha, oleh wali songo disisipi dzikir-dzikir islam untuk mengganti mantra-mantra. Sesaji yang awalnya ditujukan untuk lelembut, 'dibelokkan' dengan dibagikan pada tetangga atau peserta tahlilan.

Dari tempaan yang demikian, saya mendapat pandangan baru: bahwa tahlilan adalah satu metode wali songo untuk menyebar dakwah Islam. Sama seperti, jika kamu alumni MWI, media drum band sebagai alat penyebar dakwah, agar masyarakat memilih menyekolahkan anaknya di MWI.

Dan dari sini, saya kerap terjebak pada pandangan hitam-putih. Ejekan dan bullyan dari kawan-kawan 'di luar muslim jenggot dan celana cungklang', perlahan saya nikmati. Sehingga di setiap forum diskusi atau sebatas ngobrol santai, sering terlontar guyonan yang menjurus memojokkan muslim 'berjenggot'. Dan tentu, saya juga kerap tergiring untuk mengatakan bahwa muslim yang demikian, adalah muslim yang gagal paham. Maksudnya, memahami teks hadits sebatas teks, tidak memperhatikan sejarah atau fenomena yang menyertai dikeluarkannya hadits tersebut.

Untuk itu --pada siapapun yang membaca tulisan ini-- ada satu hal yang ingin saya minta: ajarkan saya untuk berlaku adil, sejak dalam pikiran!

Adil, dalam menilai berbagai kelompok islam, dengan tatapan kagum sebagai khazanah keilmuan, bukan dengan tatapan nyinyir dan klaim benar pada diri sendiri.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...