Thursday, 27 October 2016

Cucu jadi Guru untuk Neneknya


Cerita dari desa pesisir, yang masyarakatnya kerap dikenal sebagai badui, jauh dari ajaran agama Islam. Dan memang tuduhan itu tak ada salahnya. Buktinya, di desa saya ini, masyarakat yang sekarang dikategorikan sebagai kakek dan nenek, banyak yang belum mengenal huruf hijaiyah. Sebagian lain juga sebatas KTP islamnya (pandangan subyektif). Dan macam-macam lah.

Nah, yang membuat saya tertarik adalah, perubahan yang terjadi selama empat tahun saya di perantauan. Pulang di bulan Oktober 2016, saya berkunjung ke mushola untuk shalat maghrib, dan setelah shalat, kok banyak ibu-ibu (nenek-nenek) yang pegang buku iqro'. Mereka berkumpul dan saling berlomba mengeja huruf-huruf hijaiyah. Apa sebenarnya yang mendorong mereka mau belajar baca iqra', dan al-qur'an di waktu tua?

Soal ini, saya tanyakan langsung ke ibu, selaku anggota majelis ngaji ibu-ibu tersebut. Saya gali layaknya wartawan partikelir (meminjam istilah warkop DKI). "Yung, kok bisa mereka mau belajar baca iqra? Sebenarnya apa sih yang mendorong mereka?" tanya saya.

Ibu, dengan tiduran, karena seharian kecapean di sawah, menjawab dengan santai, disertai senyuman yang khas nan manis. "Mereka iri dengan Majelis Ngaji Ibu-ibu di Masjid Selatan. Di Masjid Utara, juga ada pengajian khusus ibu-ibu. Nah, dari situ ada kemauan: yuh pada ngaji!"

Tidak hanya mengaji saja, mereka lumuri niat mengaji dengan semangat meletup-letup. Seakan enggan kalah denga dua majelis yang saya sebutkan tadi. Kalau dua majelis tadi hanya ngaji seminggu sekali, di mushala depan rumah saya, atas kesadaran ibu-ibu, mereka rutin tiap usai maghrib mengaji, sampai isya. Mereka kebanyakan ngaji iqra, meski oleh cucu-cucu mereka sering diolok-olok: haha, nini belum bisa baca iqra!

Selain diwarnai olok-olok para cucu, masing-masing juga punya caranya sendiri-sendiri. Menentukan metode mengaji secara mandiri, tidak dipaksa. Ada yang ngajinya lanjut terus meski belum hafal benar huruf-huruf hijaiyahnya. Hafalnya sambil jalan, katanya. Ada juga yang diulang-ulang terus, hingga hafal. Macam-macam lah. Dan yang terpenting, mereka menikmati.

Tentu saja saya sebagai angkatan muda yang kurang visioner, melihat fenomena ini dengan decak kagum. Bayangkan! Mereka, ibu-ibu yang sudah menjadi nenek 'muda', mampu mengalahkan rasa gengsi dalam diri. Mengalahkan egoisme. Saling mendukung. Dan tetap, saling tebar tawa. Jika demikian, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?

Ada kejadian menarik yang saya dengar dari ibu. Jadi, ada salah satu nenek yang belum bisa baca iqra. Dengan rendah hati, ia mengakui keterbatasannya kepada cucunya, usia taman kanak-kanak. Kebetulan cucunya ini, dititipkan di TK berbasis kurikulum agama.

Nenek tersebut, setelah mengakui keterbatasannya, lalu meminta bantuan pada cucunya untuk mengajarinya baca iqra. Cucunya, dengan bangga menyanggupi, meski ia juga masih iqra, hanya tingkatannya sudah cukup tinggi.

Di sela cucu ini mengajari ngaji neneknya, ia dipanggil bapaknya: pulang, banyak PR yang harus dikerjakan! Kira-kira begitu. Sebagai anak kecil yang taat, ia turuti kemauan bapaknya. Tapi, dengan muka yang ditekuk.

Di rumah, ia diam seribu bahasa. Ditanyai oleh orang tuanya, tak mau bersuara. Hingga di pagi harinya, ia kembali ditanya, kenapa semalaman tidak mau bicara. Wong lagi asyik ngajari nenek ngaji, malah dipanggil, kata anak kecil tersebut.

Sudahlah coba lepaskan aturan-aturan yang kaku, jika memang dibutuhkan. Belum balig bukan berarti tidak kompeten, bukan? Jika melihat kasus ini.

Dari dulu saya mendambakan kejadian semacam ini, hadir dalam kenyataan. Dan tahun 2016 bulan 10, dambaan saya datang juga. Ada cucu belum akil balig, mengajar ngaji neneknya. Ini membuktikan, betapa harmonisnya hubungan angkatan tua dan muda. Angkatan tua, dengan rendah hati memberi ruang eksperimen untuk angkatan muda. Bagi saya, ini sejarah yang langka. Ini juga, sebagai awal bongkarnya hubungan kaku antara angkatan tua dan muda. Anggapan yang melihat (dari kacamata orang tua) bahwa anak muda belum bisa apa-apa. Anak kemarin sore. Juga anggapan (dari kacamata angkatan muda) bahwa angkatan tua itu kolot, egois, eksklusif dan tidak mau menerima angkatan muda sejajar dengan mereka. Anggapan-anggapa ini, seketika buyar dengan fenomena tersebut.

Bisakah ini juga terjadi secara meluas dan massif? Saya yakin, tinggal menunggu waktu. Karena sejarah perubahan di dunia ini, selalu saja bermula dari suatu yang kecil.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...