Saturday, 15 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya


Soal keislaman, saya memang tidak terlalu paham dan belum mendalami sampai ke akar-akarnya. Keterbatasan kemampuan berbahasa Arab, juga kekurang gairahan dalam mempelajari Islam juga menjadi kendala serius, yang sebenarnya tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak belajar.

Meski demikian, diri ini tak kuasa untuk menahan agar tidak ikut berkomentar terkait keislaman. Persoalan islam dan penganutnya, serta keberagaman pemahaman soal Islam, membuat gatal mulut ini untuk tetap bungkam. Gatal juga rasanya, tangan ini untuk tetap diam, tidak berbuat apa-apa, sementara perdebatan dan klaim kafir kerap terlontar antar umat Islam. Sungguh tidak mengasyikkan jika ini dibiarkan bergulir begitu saja. Adanya, perpecahan antar umat Islam terus menganga, dan otomatis, cita-cita ukhuwah islamiyah jauh panggang dari api.

Islam, sebagaimana pesannya dalam al-qur'an, adalah agama rahmatan lil'alamin. Diturunkan di Arab lewat perantara Malaikat Jibril kepada nabi yang ummi, Nabi Muhammad saw. Sebagaimana agama-agama sebelumnya, Islam juga memiliki kitab suci bernama al-qur'an. Ia (baca: al-qur'an) merupakan firman Gusti Allah sebagai petunjuk manusia dalam menjalani hidup sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Karena sifatnya yang tak lekang oleh zaman, al-qur'an menjelaskan segala persoalan dan prinsip hidup secara universal.

Ini yang saya tahu tentang Islam. Selain al-qur'an, umat Islam juga diperintahkan untuk mengikuti sunnah rasul. Karena rasul, adalah teladan terbaik umat, maka muslim baik sudah sepantasnya menirunya.

Islam yang awalnya turun di Arab, lambat tapi pasti tersebar di setiap penjuru dunia. Yang tentu saja, secara budaya dan adat istiadat juga beragam. Sehingga, sering kita jumpai meski sesama muslim, tapi beberapa gerakan shalat maupun pakaian 'kebanggaan' yang berbeda. Di Arab identik dengan pakaian jubah atau gamis. Sementara di Indonesia, sarung, peci, dan baju koko menjadi ciri khas. Begitu banyak perbedaan yang terjadi.

Namun yang menjadi pertanyaan saya di sini adalah: apa alasan seseorang mengatakan bahwa yang tidak memakai gamis dan berjenggot, atau berjilbab besar bagi perempuan, kurang Islami? Dan kenapa kesalehan seseorang kerap diukur dari lama atau sering-tidaknya ia ke masjid?

Untuk yang pertama, adalah mereka yang melakukan 'itiba' pada sebuah hadits. Karena ada hadits yang mengatakan demikian, maka dilakukanlah dengan penuh harap mendapat ganjaran atau ridha Allah. Okelah, saya tidak menyalahkan bagi mereka yang demikian. Itu adalah baik, karena niatnya adalah untuk mencari ridha Allah. Akan tetapi yang sama sekali tidak menyenangkan, ketika mereka menyalahkan (atau minimal memandang nyinyir) muslim di luar mereka. Menganggap, muslim yang hanya memakai kaos dan celana jeans kurang islami dibanding mereka yang memakai jubah, jilbab besar maupun berjenggot. Untuk mereka yang demikian, saya mengatakan rasa patut mengingatkan: lebih baik antum hidup di jaman nabi saja sana! Atau di Arab saja!

Bukankah ada beberapa hadits (atau bahkan semuanya?) yang dikeluarkan untuk merespon fenomena yang terjadi saat itu? Yang jika dikaji lebih mendalam, makna dari hadits tersebut bukanlah teks yang disabdakan, melainkan nilai di balik teks tersebut. Ibarat memilih jilbab, bukan bahan atau modelnya yang jadi pertimbangan utama, melainkan fungsinya. Kita juga barangkali masih ingat, bahwa sebaik-baik pakaian muslim bukanlah gamis, atau jilbab besar atau cadar, melainkan takwa. Jelas bukan? Masih (merasa) tidak malu menatap nyinyir atau bahkan menyalahkan muslim yang dengan kaos dan jeans atau semacamnya? Masih manyap untuk mengatakan kurang islami, atau bahkan 'kurang' mengikuti sunnah rasul pada lelaki muslim yang tidak berjenggot?

Sementara untuk pertanyaan kedua, bisa kita jadikan bahan permenungan. Kita juga bisa merenungkan hakikat manusia sebagai 'makhluk yang tiga'. Maksudnya, sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Dan tentu saja, secara logika, ajaran Islam yang begitu sempurna, akan menggarap tiga aspek tersebut.

Sebagai makhluk individu dan bertuhan, manusia diberikan pegangan berupa tuntunan beribadah semacam shalat, puasa, dan setingkatnya, untuk memetik buahnya dalam bentuk pahala di alam akhirat. Sementara manusia sebagai makhluk sosial, adalah tingkatan lanjutan, menurut saya, setelah manusia selesai dengan dirinya dan Tuhan. Di setiap 'ibadah individu', terselip semangat untuk melakukan perubahan di masyarakat. Ibadah puasa, misalnya, merupakan bentuk pelatihan dari Gusti Allah untuk hamba-Nya, agar menahan diri dari perbuatan buruk (misal dalam konteks sosial: korupsi, fitnah, dll) dan menghiasi diri dengan kebaikan (misal: bergabung dengan rakyat memperjuangkan tanahnya dari gusuran konglomerasi yang kejam dan menindas). Bukankah, jika Islam dan ajarannya dipahami demikian, berdampak baik bagi kehidupan di dunia? Menjadi spirit penganutnya untuk tetap berjuang, melawan pemerasan, penindasan, dan perlakuan tidak adil siapapun. Juga, sebagai amunisi penghancur kemiskinan. Tidak hanya menjanjikan ganjaran yang abstrak pada penganutnya: itupun mereka dapat setelah melalui proses kematian dulu.

Dari sini, apa masih berlaku ikon 'muslim taat' adalah mereka yang rajin ke masjid? Coba kita pikirkan bersama-sama. Karena Islam adalah luhur, tentu tidak akan pernah sampai hari kiamat memunculkan penindasan, keegoisan, dan kehancuran di muka bumi. Yang ada hanyalah, penganut yang memahami Islam secara sempit, hanya akan melahirkan kebencian antar golongan, yang muaranya adalah kehancuran.

Dan Bung Karno, dalam hal ini berpesan: gali apinya (Islam), bukan abunya!!!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...