Monday, 24 October 2016
Kesurupan
Minggu, 23 Oktober 2016 di Masjid UNY, sekira pukul 13.30-an, saya bermaksud membasuh tangan untuk shalat. Menjejakkan kaki ke masjid, samar-samar saya dengar suara orang melantunkan ayat al-qur'an dengan dirubung banyak orang. Tertarik dan kebetulan saya juga mau ke situ, saya cari sumber suaranya.
Seorang laki-laki gemuk dijaga dan dipegangi empat laki-laki. Ia berteriak tak karuan. Tubuhnya basah diguyur air kran. Dan waktu itu saya baru pertama kali menyaksikan: orang kesurupan. Ia yang kesurupan berteriak, ini jinnya di ketek. Sontak salah satu di antara empat lelaki yang menjaganya, menusuk-nusuk keteknya dengan dua jari, sembari komat-kamit. Sementara yang ditusuk, menjerit menggelikan dan berhasil membuat yang hadir di situ tertawa dalam ketakutan. Tertawa karena tingkah lucu (teriakannya lucu banget) orang yang kesurupan. Takut, karena mereka sadar, sedang berhadapan dengan jin yang merasuk. Atau lebih tepatnya, mungkin, khawatir atas nasib lelaki yang kesurupan jika jinnya tidak keluar segera.
Ada hal unik yang saya tangkap dari kasus tersebut. Yaitu, bahwa empat orang yang berikhtiar mengeluarkan jin tersebut, secara penampilan sangat 'islami' (arabis?). Mereka memakai gamis, suara pas melantunkan ayat al-qur'an merdu, dan sepertinya fasih. Tapi anehnya, dengan sekian atribut yang ada, tetap saja tidak berpengaruh pada keluarnya jin dalam tubuh inangnya. Adakah yang kurang dari mereka, para pengusir jin dari inangnya?
Saya, pada waktu itu, tersenyum geli (jahat, sinis, meremehkan?) bahwa tidak ada kaitannya apa yang nampak dalam tubuh seseorang, terhadap ampuhnya mantra yang dikeluarkan meski dengan dzikir-dzikir kepada Allah. Seorang awam, ibaratnya, tentu beda kualitas 'makbulnya' doa, dibanding mereka orang-orang shaleh. Saya malah tertarik untuk membandingkan, mereka empat laki-laki tersebut, masih kalah dengan paranormal yang biasa nampang di tivi, dalam hal mengusir jin dari dalam tubuh. Apa mereka, paranormal yang dengan mantra-mantranya mengusir jin, bisa dikata lebih 'shaleh' dari empat laki-laki tersebut? Entahlah, karena yang bisa menilai shaleh tidaknya, hanya Yang Kuasa yang mampu. Sebagai hamba Sang Khalik, kita hanya mampu menilai apa-apa yang nampak.
Sekira 15 menit saya menyaksikan, atau mungkin setengah jam, belum usai bergulatan mereka berempat melawan jin yang merasuk laki-laki gemuk tadi. Saya ceritakan ini pada seorang sahabat, malah ia jawab kira-kira begini: "itu dibohongi jin. Mana ada jin merasuk ke ketek. Adanya ya di punggung. Nggak paham mereka," katanya
Dan saya juga jadi ingat dengan wejangannya Cak Kus, ketua majelis yang konsen mengkaji sufi-nya Jalaludin Rumi. Bahwa empat orang tersebut (dan saya juga termasuk) sepertinya masuk pada maqom seseorang ketika masih bergantian antara nafsu menang dan orang itu yang menang. Sehingga wajar, jika mengeluarkan jin dari dalam tubuh saudarany kewalahan. Karena, tidak ada koneksi yang lancar plus jernih dengan Sang Khalik.
Kejadian tersebut juga membuktikan, betapa kita masih berlomba-lomba mendapat sanjungan dan menghindari celaan, dengan cara jaga penampilan luar dan sering luput memberi nutrisi batin. Ini persoalan kita bersama, dan solusinya ada dalam diri masing-masing individu.
Kasus kesurupan di UNY ini, sungguh berharga untuk dilewatkan atau hanya dijadikan tontonan. Karena, Allah dengan lembutnya, menyelipkan pelajaran berharga dalam kejadian tersebut.
Jogja 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment