Buku dan Kebaruan
Mencintai aktivitas baca memang memiliki kelebihan sendiri. Di saat yang sama pula, tertimbun berlapis-lapis kekurangan. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama ini.
Semenjak MA, saya suka membaca buku. Waktu itu, Majalah Assunnah di perpustakaan menjadi kegemaran saya. Di rumah, buku kumpulan hadits juga saya bacai. Karena sifatnya praktis dan informatif, jadi tidak perlu banyak perenungan untuk memamahi hadits-hadits tersebut. Seperti disunnahkan membunuh cicak, adalah hadits yang cukup mudah untuk diamalkan. Dan berdasar pada hadits ini pula, saya ketika masih usia belasan, berburu cicak di rumah-rumah tetangga menggunakan jepret karet. Hasil tangkapan saya bawa pulang, untuk dikasihkan ke kucing piaraan.
Di kelas tiga, saya masih samar-samar ingat, saya membaca buku yang ditulis Sirajudin Abbas, soal bid'ah. Saya tanyakan hasil bacaan saya pada Pak Ahmad Marhani. "Pak, saya pernah baca, ada buku yang membagi bid'ah jadi dua; sayyiah dan khasanah. Itu gimana, Pak?" tanyaku waktu itu, di pelajaran fiqih.
"Hati-hati baca buku semacam itu. Bahkan ada yang membagi bid'ah jadi lima macam. Yang namanya bid'ah ya satu" jawabnya. Tentu saja, Pak Marhani mengacu pada hadits yang mengatakan bahwa bid'ah adalah dolalah yang muaranya neraka.
Apa yang dijelaskan beliau kemudian, saya pegang erat-erat sampai kuliah. Hingga di suatu diskusi, dan menyinggung soal bid'ah, saya bersikeras mengatakan bahwa bid'ah itu sesat. Tidak ada pembagian dalam soal bid'ah. Dan untuk meyakinkan forum pada waktu itu, saya mengatakan bahwa ada di al-qur'an ayat-ayat tentang bid'ah. Saya sampai berani mengeklaim bahwa "minkulli bid'atin dholallah wa kulla dholalatin finnaar" adalah salah satu ayat al-baqarah. (Hingga kini belum ada klarifikasi ke teman-teman diskusi, kalau saya khilaf dengan mencatut hadits tersebut bagian dari al-qur'an, semoga diampuni).
Namun lambat laun, dari berbagai bacaan (mengamati, mendengar, diskusi) saya mulai ada pencerahan. Bahwa ada berbagai pandangan soal bid'ah. Dan mereka sama-sama punya dasar kuat. Dan khazanah keilmuan ini lambat laun menggoda saya, untuk berpaling dari pandangan awal soal bid'ah. Ini yang saya sebut sebagai 'kebaruan'.
Sebagai judul tulisan ini, Buku dan Kebaruan, bahwa buku adalah media awal untuk sampai pada kebaruan. Kebaruan di sini bukan dalam artian 'dari yang tidak ada menjadi ada'. Melainkan, dari 'yang tidak tahu menjadi tahu'. Kebaruan di sini, artinya kebaruan dalam berpikir. Ini sebagai bukti bahwa perintah iqra!, bacalah!, bukanlah hoax atau bullshit. Perintah tersebut benar-benar manjur, untuk memecah tempurung pemikiran dalam kepala. Sebagaimana air yang dengan tetesan kecil, mampu menghancurkan batu.
Bacalah! bukan sebatas membaca ayat al-qur'an dan as-sunnah. Melainkan universal, menyeluruh, tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan umum. Karena sesungguhnya, secara hakikat, semua yang ada di semesta ini adalah percikan ilmu Allah, dan al-qur'an serta hadits adalah bagian dari percikan ilmu Allah yang terskripta, tercatat.
Namun hati-hati dalam membaca! Membaca, menurut saya, adalah proses yang tiada berujung. Hanya kematian yang menggugurkan proses tersebut. Dengan demikian, berhenti di tengah proses tak berkesudahan, adalah 'kesesatan' yang nyata. Artinya, kalau memang kita (aku dan kamu) sudah membaca, apapun itu, janganlah berhenti. Boleh menengok ke belakang, tapi janganlah berhenti di tengah jalan. Begitu.
Dan satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah perkataan Santriwati Pondok Pesantren Ulul Albab, Jogja. "Kak, jangan sampai baca bukunya mengalahkan baca qur'an. Kalau aku, ada waktu khusus untuk baca qur'an" katanya menasehati.
Karena bagaimanapun juga, membaca adalah pintu kebaruan berpikir, kebaruan dalam bertindak. Dan kebaruan itu, mustinya, mengarah ke hal yang lebih baik. Meski sudah ribuan tahun qur'an diturunkan, selalu saja ada 'kebaruan' di dalamnya. Karena memang, 'buku' umat manusia dan jin sepanjang masa. Bacalah, untuk masuk pada kebaruan-kebaruan!
Jogja 2016
Tuesday, 1 November 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment