http://uin-suka.ac.id/
Lelaki itu kurus. Berbaju kemeja warna biru langit bergaris-garis putih. Saat aku mampir ke gerobaknya, ada dua lelaki sebayaku yang sedang berbincang asyik dengan lelaki kurus itu. Soal namanya, aku tidak menanyakan. Apa arti nama jika hanya mengundang kekakuan? Merusak jalinan komunikasi yang telah lama mencair? Toh yang terpenting bukan 'siapa nama dia', tapi dia sebagai manusia, yang mencari nafkah untuk anaknya.
Aku hanya mendengar saja, ia bercerita menggebu-gebu soal anaknya yang genius. Perempuan, dengan skor IQ 115 saat usia taman kanak-kanak. Dan kini usianya sudah menginjak kelas 5 SD, masuk SD di umur 6,5 tahun.
Kesan pertama melihat lelaki kurus itu, aku langsung menyimpulkan: orang cerdas ini, atau alim. Ini aku timbang dari wajah yang ceria dan memancarkan cahaya. Dari penilaianku inilah, aku memutuskan untuk menjadi pendengar setia, sembari menggigit butiran nasi dan gorengan.
Lelaki kurus itu mengatakan, dirinya akan menuruti segala keinginan anak, asalkan anaknya juga mau menuruti kemauan orang tua. Semacam perjanjian kerja sama jika dalam dunia bisnis.
Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya cerdas, genius. Tapi ada satu kurangnya: terlalu bergantung pada orang tua. Manja. Kemanjaan ini yang membuat lelaki kurus itu konsultasi dengan seorang mahasiswa UAD jurusan psikologi. Ia diberi saran untuk memperlakukan ini itu. "Ya sudah, kamu sampaikan ke ibu. Ke istriku," kata lelaki kurus itu bercerita.
Dan benar, lanjutnya, anak saya sekarang mandiri mas. Kalau mau apa-apa bisa sendiri.
Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya diikutkan kegiatan ekstra: karate. Prinsipnya, anak harus berprestasi di sekolah, juga di luar sekolah. Ini yang mendorong lelaki kurus itu untuk mendukung penuh apa yang dipilih anak. Seperti perjanjian tadi, anak nurut, orang tua akan turuti apa saja kemauan anak. Dan kemauan orang tua, ingin anaknya berprestasi di dunia sekolah dan luar. Anak menyambut keinginan itu dengan tanpa ada rasa terpaksa. Sempurnalah bagunan komunikasi anak-orang tua yang ideal.
Ini saja ceritaku. Agaknya, penilaianku di awal tidak meleset begitu jauh, jika melihat upaya lelaki kurus itu bersama istrinya dalam memenuhi kebutuhan anak. Karena, sampai kapanpun, menurutku, anak hanya membutuhkan orang tua yang paham kebutuhannya untuk berkembang. Ini akan menjadi kekuatan yang besar untuk menyiapkan generasi cerdas-berprestasi yang mandiri. Meski kalau aku kritisi, lelaki kurus tersebut masih takut jika anaknya jelek nilai ulangan di sekolah. Padahal, tidak melulu angka yang dijadikan patokan prestasi dan perkembangan anak.
Angkringan Jogja 2016
Thursday, 10 November 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment