Wednesday, 21 December 2016

Selamat Hari Ibu




9 bulan engkau mengandungku, ibu. 2 tahun engkau menyusuiku dengan sabar. 5 tahun, engkau merawatku, dengan penuh harap kelak menjadi anak yang shaleh. 1 tahun engkau kirimkan aku, untuk belajar pengetahuan sederhana tentang garis, bentuk, dan gambar serta warna-warna. 6 tahun, engkau upayakan pendidikan dasar, sebagai bekal untuk ke jenjang selanjutnya. Waktu itu, benar-benar aku merasa bangga denganmu, ibu. Pernah di pertengahan masa 6 tahun, aku berbuat nakal padamu. Sampai aku bilang, "bunuh aku saja, ibu", lalu engkau (tanpa sengaja) membenturkan kepalaku ke tempat wudhu. Aku yakin, waktu itu engkau sangat terpukul dengan perkataan seorang anak kecil ini. Maafkan aku, ibu.

Aku sadar, insiden itu sebagai pelajaran bagiku, seorang anak kecil yang belum tahu artinya pendidikan. Belum tahu sopan santun. Dan waktu itu, aku benar-benar mendapat pelajaran yang berharga.

6 tahun pula, engkau mengirimkanku untuk belajar pendidikan agama di kecamatan sebelah. Tentu saja, dengan harapan agar aku punya pemahaman agama yang baik. Dan itu terlewati sudah.

Hingga akhirnya sampai sekarang, engkau kirimkan aku ke provinsi seberang. Tujuannya tetap sama, untuk memberikan bekal ilmu kehidupan padaku. 4,5 tahun sudah berlalu, dan aku belum juga merampungkan studiku.

Pertama yang aku pikirkan dan tak dibayangkan adalah, perasaan ibu ketika melepaskanku untuk belajar jauh dari rumah. Aku tidak tahu, karena ibu tidak cerita dan aku tidak pernah meminta ibu bercerita. Aku hanya melihat ada asa yang ibu pikulkan pada pundakku, beriring wejangan "jangan sampai tinggalkan shalat berjamaah". Dan yang terpenting, ibu selalu percaya pada apa yang aku lakukan di perantauan. Hingga kerap menerbitkan rasa bersalah dalam diri, karena belum bisa melakukan apa yang dipesankan ibu.

Kedua, perasaan ibu yang barangkali sudah ingin cepat melihat anaknya selesai studinya. Sudah 4,5 tahun, overload. Tapi dengan berbagai alasan, aku yakinkan pada ibu, bahwa aku kuliah lama karena ikut organisasi. Orang-orang yang ikut organisasi, kataku pada ibu suatu kali, lulusnya lama-lama. Yang kutakutkan bu, kataku, setelah lulus aku malah bingung, seperti yang dirasakan beberapa teman kuliah yang sudah lulus.

Selalu saja, organisasi aku jadikan alasan untuk lulus agak terlambat. Dan herannya, ibu selalu mengiyakan. Ibu selalu berada di pihakku. Ketika bapak bilang, setengah tahun skripsi kok tidak selesai-selesai. Ibu bersikap netral, tapi di lain waktu ibu mendukungku. Bukankah itu sikap yang sulit? Ketika ada bapak, untuk menjaga perasaannya, ibu seolah tidak mau ikut campur. Hingga kerap aku dan bapak berdebat.

Entah apa yang bisa aku berikan kepada ibu, untuk balas budi kebaikan ibu padaku. Aku hanyalah seorang anak, yang selamanya tidak akan bisa balas budi baik ibu. Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku persembahkan. Dan, ketaatanku padamu yang selalu diupayakan.

Karena jarak, ibu, mengajarkanku arti kerinduan. Mengajarkanku, betapa engkau sangat besar jasanya pada kehidupanku. Sebagai penyejuk ketika hati mulai gersang.

Selamat hari Ibu... Semoga ibu selalu sehat selalu dan bahagia. Dan semoga aku bisa menjadi salah satu alasan ibu untuk bahagia.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...