Sunday, 20 May 2018

Cuma Membaca Danarto




Judul Buku      : Adam Ma’rifat
Penulis             : Danarto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : 112 halaman

Saya merasa putus asa membaca Adam Ma’rifat-nya Danarto. Putus asa dalam konteks memahami maksud dari tulisan belio. Dibaca serius, justru bikin kepala pusing dan mata berkunang-kunang.
Untungnya, Mahfud Ikhwan berbaik hati untuk memberikan pengantarnya. Darinya, saya mendapatkan dua opsi untuk membaca bukunya Danarto; serius atau cuek. Pertama, saya coba baca buku kumpulan cerpen ini dengan cukup serius, tapi hasilnya nol; malah bikin pusing kepala. Ilustrasi yang dibikin langsung oleh penulisnya juga tidak bisa saya pahami. Kedua atau akhirnya, saya memutuskan untuk membacanya dengan cuek; bukan untuk memahami, tapi sekadar menikmati saja.
Oh, ternyata ini karya Manikebuis ...
Saya mulai tertarik membaca sastra setelah melahap buku pinjaman berjudul Bumi Manusia tulisannya Pramudya Ananta (Mas)Toer. Dari Bumi Manusianya, saya mendapatkan ‘pesan moral’ bahwa nilai seseorang adalah pada keberaniannya. Bahwa perempuan, yang digambarkan melalui sosok Nyai Ontosoroh, juga memiliki daya upaya untuk berdikari. Haram bagi perempuan model Ontosoroh untuk hidup berkalang lelaki. Ini sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap pandangan arus utama, bahwa perempuan selalu dinomorduakan, atau dalam falsafah Jawa, dijadikan sebagai konco wingking (teman belakang) yang tugasnya hanya seputar area domestik; sumur, dapur, dan kasur.
Usai baca Bumi Manusia, saya merasa terpacu untuk mencari karya serupa. Dan dalam pencarian tersebut, saya menemukan dua aliran sastra yang tak bisa akur (medio 60-an), yaitu kelompok yang mempersembahkan sastra untuk tujuan politik, dan satunya mempersembahkan seni untuk seni; atau dalam istilah lain, sastra hanyalah alat untuk menyuarakan aspirasi kaum tertindas (proletar?) dan sastra yang meyakini bahwa bentuk adalah bagian dari isi juga.
Dan, Danarto termasuk pada golongan yang kedua. Keenam cerpen yang terangkum dalam Adam Ma’rifat, adalah cerpen yang bagi saya sulit dimengerti dan memang menampilkan bentuk yang eksperimental. Benar yang dikatakan Mahfud Ikhwan, bahwa bentuk (cerpen) dalam khazanah Danarto adalah bagian dari isi itu.
Dengan maksud hanya menikmati pun, saya masih belum bisa menikmati dengan senikmat-nikmatnya. Saya masih saja terganggu dengan bentuk cerpen yang disajikan Danarto. Satu cerpen yang cukup bisa membuatku terhibur adalah yang berjudul “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat.” Cerpen ini benar-benar bisa membuat saya tertawa, terlebih pada bagian percakapan Malaikat dan anak-anak yang bersuka cita, karena melihat Malaikat itu terjaring. Begitu juga ketika anak-anak itu menantang Malaikat untuk melepaskan diri, yang ternyata juga bisa melepaskan diri, dan membuat anak-anak itu menangis.
Satu hal lagi dalam cerpen ini yang membuat saya tertarik adalah, cara Jibril dalam menjernihkan pikiran anak-anak yang tengah belajar. Ia mematukkan layang-layang ke genting, lalu membuat genting ambruk dan menurunkan hujan melalui lubang atap tersebut, yang memaksa anak-anak sekolah dan gurunya keluar, pindah belajar ke bawah pohon di atas bukit.
Saya memahami ini sebentuk sindiran bagi persepsi arus utama mengenai belajar haru di ruang kelas. Sebaliknya, belajar tidak harus terbatas di runag kelas. Bahwa anak-anak kerap mengalami kejumudan berpikir dan berimajinasi, ketika mereka dikurung dalam gedung bergenting dan berbentuk segi empat. Sebaliknya, mereka (dan juga gurunya) justru bisa lebih leluasa dalam belajar, manakala berada di lingkungan terbuka, dekat dengan alam.
Masih berbicara soal anak-anak, bahwa mereka jauh lebih mudah percaya –ketimbang orang (yang mengaku) dewasa- kepada hal-hal yang secara logika mustahil. Ini dibuktikan dengan berbondong-bondongnya mereka (tanpa didampingi gurunya –karena belio terlalu realistis) untuk menyaksikan upaya seorang lelaki untuk menjaring malaikat. Rasa keingintahuan mereka pun menuai hasil, yakni bisa menyaksikan tertangkapnya malaikat, dan mereka merasa terhibur lalu kecewa.
Ah, ternyata saya juga tergoda untuk coba-coba memaknai cerpen Danarto ini.

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 19 April 2018

Cinta yang Mengejawantah



 Judul Buku     : Gerimis di Atas Kertas
Penulis            : A. S. Rosyid
Penerbit         : Basabasi,Yogyakarta
Cetakan          : I, September 2017
Tebal              : 199 halaman
ISBN                : 978-602-6651-30-3
Sebagai pustakawan komunitas, A.S. Rosyid telah tepat mengangkat cerita tentang geliat literasi di Lombok.  Selain karena memiliki kedekatan emosional dengan cerita-cerita yang dibangun, juga boleh jadi bagian dari perjuangannya dalam menyorot geliat literasi di luar Jawa. Muluk-muluknya, ini dilakukan untuk menambal ‘catatan sejarah’ nasional yang sampai kini masih didominasi oleh narasi-narasi dari Jawa. Amat sedikit literatur yang menjadikan Indonesia bagian Tengah dan Timur sebagai bahan kajian. Dalam hal ini, A.S. Rosyid berhasil membawa lokalitas menjadi ‘catatan sejarah’ nasional.
Aku meyakini, bahwa tidak ada karya yang muncul dari ruang yang kosong. Semuanya, adalah hasil dari pengindraan penulis atas realitas lalu dalam menarasikannya dikembangkan dengan imajinasi-imajinasinya. Jangankan pegiat fiksi, sejarawan pun –yang terkesan serius- kata Kuntowijoyo membutuhkan daya imajinasi tinggi. Imajinasi tersebut digunakan untuk menarasikan fakta-fakta sejarah menjadi narasi yang sambung menyambung dan enak dibaca. Sehingga pesan sejarah sampai kepada pembaca.
Lagi-lagi, A.S. Rosyid juga berhasil membangun cerita yang mudah dipahami pembaca. Terlebih bagi pembaca-pembaca yang memiliki tingkat kebaperan tinggi, bisa tersedu-sedu ketika membaca cerita tentang cinta tak sampainya Royyan kepada Hasyim dan pendekatan yang dilakukan Tata kepada Fajar. Dan, dua cerita tersebut memiliki keterhubungan yang unik. Royyan dan Tata adalah teman SMA, sementara Fajar kenal Hasyim sebagai teman lintas komunitas.
Bedanya, cinta Royyan pada Hasyim tak sampai, karena tersandung kenangan Hasyim akan masa kecilnya bersama Ayu –yang membuat Royyan patah hati yang kemudian mencoba berdamai dengan keadaan, serta mencari Ayu untuk Hasyim –dan ketemu –dan akhirnya Hasyim dan Ayu menikah. Sementara Tata kisahnya berujung pada pernikahan, setelah berhasil ‘melepaskan’ Fajar dari rasa bersalah atas kematian pacarnya empat tahun lalu –yang kebetulan mirip dengan Tata.
Jika dua cerita pertama mengesankan ketegaran perempuan dalam mengelola cintanya, berbeda dengan cerita ketiga. Mas Bayu (laki-laki), sebagai tokoh utama, dikesankan sebagai sosok yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sebelum bertemu dengan Sastri, penjual Cakwe terenak di Kota Tua, Mas Bayu adalah jurnalis photoghrapy yang ekstrim –membahayakan nyawanya demi hasil foto yang bagus. Begitu bertemu dengan Sastri yang macak sederhana, Mas Bayu langsung jatuh cinta dan segera mengatur siasat untuk tetap bersamanya.
Maka diutarakanlah ide untuk membuat Warung Kupi Cakwe, menggandeng Sastri dan pemuda-pemudi setempat yang kebetulan kenal baik dengan Bayu. Adalah Anggik si kutu buku yang putus sekolah, Parid si barista, dan Muhammad Daya si aktivis mahasiswa, pemuda-pemuda yang diajak untuk mendirikan warung kupi tersebut. Dengan keahlian masing-masing, Warung Kupi Cakwe berkembang dengan pesat. Tidak sembarang warung kopi, tapi juga menyediakan cakwe ala Sastri, perpustakaan yang dikelola Anggik, dan tempat berdiskusi yang biasa digunakan Muhammad Daya dan teman-temannya. Dua tahun setelah warung itu berdiri, Bayu dan Sastri akhirnya menikah.
Jika kita membaca bukunya Eric Form yang berjudul Seni Mencintai (2018), akan menemukan betapa cinta –mestinya- berkembang secara produktif. Bahwa cinta itu bukan diawali dengan imbuhan di- (dicinta), melainkan me- (mencinta). Dengan kata lain, cinta selalu bisa membuat orang yang dicinta lebih produktif dan efeknya tidak hanya bisa dinikmati oleh satu-dua orang saja. Tetapi, orang-orang di sekitarnya pun ikut merasakannya. Cerita Cakwe Kota Tua adalah contoh konkrit betapa cinta bisa tumbuh dengan sedemikian produktifnya, sehingga bisa menyalurkan skill kepada sesuatu yang bernilai ekonomi dan (yang terpenting) pendidikan (luar sekolah).
Satu hal yang juga tidak kalah menariknya di sini adalah, bahwa para pegiat komunitas adalah mereka yang tidak terjebak dengan kebaperan yang  melanda remaja usia 20-an,yakni kebelet menikah. Mereka rela menjomblo sedikit lebih lama demi dedikasinya untuk negeri; yakni berjuang menggairahkan literasi. Dalam tiga cerita tersebut selalu dikisahkan anak-anak atau remaja putus sekolah karena ekonomi, tapi bisa mengakses informasi dan bacaan melalui komunitas-komunitas. Secara tidak langsung, A.S. Rosyid bisa dikatakan ingin mengajak kita supaya peduli dengan mereka yang putus sekolah. Seakan-akan, pemaknaan cinta dalam tiga kisah tersebut, tidak bisa lepas dari upaya untuk membantu anak-anak dan remaja putus sekolah untuk mendapatkan haknya.  
Imron Mustofa

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 27 March 2018

Entahlah, Katanya Kerasukan


Kemarin, kata teman, mataku merah, wajahku abu-abu, kaku. Sukanya, mengatakan yang tidak-tidak. Arogan. Juga sampai tak mau disalahkan. Mudah tersinggung dan tatapannya kosong. Aku membayangkan diri yang mengenaskan, dan hidup tanpa semangat. Kehilangan arah dan tak tau jalan pulang.

Banyak yang kena imbasnya. Salah satunya tamu dari jauh, yang di sini sebenarnya mau refreshing malah aku bikin susah tidur. Aku ajak dia ngobrol, tentang agama dan Tuhan. Padahal, aku tidak memiliki pengetahuan cukup buat ngomong agama, terlebih Tuhan. Hanya bermodal bacaan buku yang tak seberapa, dan karenanya aku disarankan mencari guru yang sreg, karena ditakutkan terjerumus. Waktu itu, entah kenapa, aku seakan menolak saran itu dengan cukup arogan, lalu memaklumi tamu tersebut sebagai keluarga santri salaf. Dengan kata lain, dalam hal pemikiran, aku rasai betul arogansiku; betapa celakanya aku.

Sebenarnya bukan kali pertama aku bicara soal agama dan Tuhan. Tapi entah apa soal, pembicaraanku tempo lalu terasa amat berbeda dan cukup nakal. Dan aku mengatakan dengan tidak ada rasa takut sama sekali. Apa aku salah? Entahlah.

Yang jelas, di setiap penjelasanku padanya, selalu terpotong di jalan. Seakan hanya ambisinya saja yang ada, tapi ilmunya nol besar. Jadi wajar jika temen baikku yang semoga bisa jadi pendamping hidup, menilaiku secara blak-blakan sebagai orang yang masih chetek ilmunya. Belum pantas bicara soal Tuhan. Dan satu hal yang membuat aku terhenyak, adalah kesimpulannya yang mengatakan bahwa aku kerasukan jin ifrit. Dia merasainya saat Minggu kita makan bersama; ia melihat diriku bermata merah, nyaris hilang warna putihnya. Pun, pandangannya amat sinis, ke siapapun dan ini jarang terjadi. Pada akhirnya, ia menjauh dan buru-buru mendekat, karena khawatir diriku kelewat batas. Istighfar, katanya menasihati. Kamu nggak usah tanya-tanya tentang Tuhan lagi!

Aku coba ingat-ingat aktivitasku tempo lalu. Mulai dari membaca novel Kain karya Jose Saramago, yang mengolok-olok Tuhan, mulai dari pembicaraanku yang tiba-tiba terpusat pada persoalan ketuhanan. Seorang resensor sebenarnya telah menegaskan, bahwa karya Kain bukan mengikis iman, bahkan sebaliknya, menguatkan iman kita. Tapi kok setelah aku baca itu, ada perubahan besar dan itu dirasakan sangat mengganggu oleh temanku yang sudah kenal 8 tahunan? Semoga ini hanya terjadi sekali saja, dan selanjutnya bisa lebih mantap lagi.

Memang Tuhan punya rencana untuk hamba-Nya, sekalipun si hamba mempertanyakan diri-Nya. Maturnuwun Gusti Pangeran.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 26 March 2018

Memaknai Hijrah Diri


Sore yang muram. Diiringi gitar dan lantunan lagu Iwan Fals. Rasa kantuk diam-diam menggoda untuk memejamkan mata, tapi pikirku menimbang aspek kesehatan dan pesan agama.

Kepeningan yang sedari tadi menempel di jidatku, perlahan terasa panas. Ceracau tak karuan meluncur dari mulut yang sulit dikunci. Entah, kata-kata yang keluar mengarah ke mana. Hanya ada satu rasa dalam menuangkannya; bahwa aku mendadak gelagapan di tengah bicara. Mendadak kehilangan arah pembicaraan.

Itu sudah biasa, dan seakan telah menjadi rutinitas. Di kala pening, semua seolah gelap dan juga suram, lalu untuk lari dari kegelapan itu, berceracaulah aku.

Energi negatif memang kerap jauh lebih tajam cakarnya, ketimbang yang positif. Cakar itu yang telah menghujam dalam, sulit untuk dicabut. Begitu dicabut, masih tetap ada bekas yang ditinggalkan.

Sementara energi positif begitu mudah hadir, tapi mudah pula perginya. Mungkinkah hadirnya energi positif itu ibarat jari yang melukiskan gambar hati di atas air? Atau seperti pisau yang mengerik batu dengan pola tertentu, sulit tapi membekas begitu lama.

Benar yang dikatakan seorang ulama yang hadir dari masa lalu; bahwa berhijrahlah, biar nanti mendapatkan banyak pengalaman dan juga pekerjaan. Hijrah seperti apa? Agaknya pertanyaan itu yang mesti diperjelas jawabannya.

Jika hijrah ala Cak Nun yang katanya dari terdampak bandara ke lokasi yang disediakan pemda, agaknya patut dipertanyakan. Dan di sini bukan hijrah model beginian yang mau kurenungkan. Tapi, hijrah yang entah, yang coba aku maknai dengan segenap keterbatasan diri.

Satu hal yang penting dari hijrah, menurutku, adalah perpindahan. Pindah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain, kalau begitu, berarti termasuk hijrah?

Tentu bisa dikatakan begitu, tapi masih ada yang kurang. Kalau masa Rasul dulu, kata Al-Fayyadl di fbnya, hijrah itu perpindahan dari suatu kondisi yang buruk ke yang lebih baik. Sebagaimana dicontohkan Rasul, yang hijrah dari Makkah karena selalu diganggu, menuju ke Madinah yang disambut meriah dengan tabuhan rebana.

Hijrah seperti inilah yang menurutku mendesak untuk dilakukan. Dari kondisi awal yang masih kurang kondusif dalam pengembangan diri, menuju kondisi yang lebih subur untuk pengembangan keterampilan.

Musuh terbesar dari hijrah itu ya rasa malas. Kalau malas masih tetap dirawat, jelas, hijrah hanya angan kosong. Tidak ada perbaikan sama sekali dalam diri. Yang jelas, tidak baik buat kesehatan masa depan.

Dari yang bicara tanpa arah, lalu ke obrolan bermakna dengan penyampaian yang sistematis. Jelas tujuan dan arah pembicaraan. Dan tegas dalam menyampaikan argumen.

Sampai sini, aku sudah paham? Tentu. Paham itu satu hal, dan mau mengamalkan itu hal lainnya. Dan itu masalah terbesarku. Lantas, bolehkah aku katakan masalahku juga masalah terbesar manusia, karena aku juga manusia?

Jogja 2018

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 25 March 2018

Memaknai Kebebasan



Aku rasa, orang dari manapun dan dari zaman apapun, merindukan yang namanya kebebasan. Kerinduan akan kebebasan pula yang menjadi spirit perjuangan manusia, dari waktu ke waktu. Bangsa Indonesia tidak mungkin akan bebas-merdeka, jika mereka tidak mengangankan kebebasan.

Kebebasan adalah spirit, yang bisa melepas belenggu apapun. Tapi, satu hal yang berlaku pada semua hal, tidak boleh melekat pada istilah apapun. Jika satu hal itu melekat, dampaknya jadi buruk. Satu hal yang aku maksud adalah ekstrem atau bisa juga diartikan berlebihan.

Kebebasan, jika telah ditegaskan posisinya dengan imbuhan ekstrim, tentu alamat kiamat bagi kemerdekaan. Kebebasan akan kehilangan nilainya. Pun, akan membawa malapetaka tiada berkesudahan bagi umat manusia.

Kalau menyimak Kahlil Gibran dalam Sang Nabi-nya, jika kita ingin bebas, tak perlu lah bicarakan kebebasan. Pembicaraan tentang kebebasan justru membuat diri kita tak bebas. Definisi adalah belenggu dari hakikat.

Tapi, aku rasa benar yang dikatakan Kahlil Gibran. Aku memaknai ungkapannya sebagai pesan untuk mencapai kebebasan yang sebenarnya tidak ada, tapi bisa dinikmati. Bahwa baiklah oleh sebagian orang, tidak perlu memaknai kebebasan, cukup merasakan kebebasan itu. Tapi bagi sebagian lainnya, perbincangan tentang kebebasan sampi membuat diri berpeluh dan juga merasa resah.

Aku termasuk golongan kedua, yang mencoba untuk membicarakan tentang kebebasan. Diriku yang lebih menggunakan logika dan sulit menggunakan rasa, perbincangan tentang kebebasan menjadi menarik.

Tiga batasan dalam kebebasan yang aku baca dari buku Fikih Tata Negara adalah: (1) kebebasan itu tidak menodai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk terhotmat, (2) tidak mengganggu hak orang lain, dan (3) tidak melawan aturan, baik aturan syariat ataupun hasil kesepakatan bersama, selama bernilai baik dan tidak bertentangan dengan syariat. (hal 57)

Aku coba meraba-raba pesan yang ingin disampaikan tiga batasan kebebasan tersebut. Yang pertama, otakku langsung tertuju pada praktik feminisme Barat, utamanya yang gemar telanjang dada sebagai bentuk ekspresi kebebasan. Bagiku yang lahir dan tumbuh di lingkungan dan kebudayaan Islam, ekspresi tersebut keterlaluan. Islam telah mengajarkan kepada perempuan untuk menutu bagian vital tersebut. Jangankan bertelanjang, terlihat gundukannya di balik bajunya saja dilarang. Dan inilah yang menurutku dikatakan "menodai harkat dan martabat manusia". Contoh lain belum aku temukan.

Yang kedua, ini jauh lebih mudah untuk mencerna. Kebebasan kita dibatasi dengan kebebasan orang lain. Bukan merupakan kebebasan jika ekspresi kita melanggar hak orang lain. Kita tak dibebaskan untuk menyakiti orang lain, karena orang lain berhak hidup aman.

Nah, yang ketiga, jauh lebih mudah untuk menemukan contohnya. Justru, contoh itu ada dalam diriku. Yaitu, kegemaran menerobos lampu merah, dan segera tancap gas jika lampu sudah kuning. Ini contoh paling sederhana, dalam pemaknaan "melawan aturan".

Yang jelas, jika memang kita memosisikan kebebasan untuk kepatuhan diri kepada Ilahi, tak perlu susah-susah mendefinisikan batasan-batasannya. Setiap ekspresi kebebasan yang itu sesuai dengan hati, sreg jika dilakukan, sudah cukup untuk menjadi rem dari kebebasan yang ekstrim. Nah, persoalannya, kita memang tahu di luar kepala aturan-aturan itu, tapi punya seribu dua cara pula untuk melanggar aturan itu. Yah, manusia... manusia... ya cukup ditertawakan saja.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 24 March 2018

Dongeng Sebelum Tidur



Pada suatu pagi dini hari, di kafe yang ramai dikunjungi mahasiswa, tergeletaklah dua sosok bayangan di pojok. Mereka berdua duduk layaknya manusia, berhadap-hadapan. Yang satu memegang handphone, satunya lagi digenggam handphone. Entah kesepakatan apa yang membuat keduanya sama-sama melepas dan melepaskan diri dari handphone, atau lebih mudahnya gawai lah. Mulailah, bercerita.

Suatu hari yang muram, muncullah sekelompok minoritas yang merasa diri memiliki kuasa. Mereka coba menyebarkan virus yang bisa meluluhlantakkan negara dalam sekedip mata. Virus bagi mereka jauh lebih mulia dibanding obat penuh bahan kimia, apalagi antibodi yang juga hasil dari rekayasa virus agar bisa saling menyerang.

Awalnya penyebaran virus itu dikekang, tapi semenjak antibodinya tumbang, menyebarlah ia. Ia mulai menjalar ke semua tubuh, dan mulai menginfeksi antibodi yang ada. Maka jadilah tubuh itu penuh luka.

Suatu kali, si penebar virus juga bercerita. Mereka bersemangat menebar virus, karena dengan virus itu, mereka semakin eksis. Mereka lalu dianggap berjasa menernak virus. Tubuh yang sakit karena virus mereka jauh lebih disukai ketimbang tubuh hari ini yang masih cukup bugar.

Suatu kali yang sama dengan obrolan virus tadi, si antibodi juga sedang berunding. Mereka sadar diri mereka ternyata melemah, dan membuat tubuh mudah ambruk. Karena kaget dengan perubahan yang begitu terasa mendadak, untuk memusnahkan virusnya dengan jalan yang sama seperti virus itu mematikan tubuh secara perlahan. Jadilah tidak ada bedanya antibodi dengan virus.

Di pojok kafe, bayang-bayang yang dua itu lamat-lamat mulai dengan rutinitas masing-masing. Yang satu menggenggam hape, satunya digenggam gawai.

Lalu, tamat....

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 20 March 2018

Ambisi Membunuh tuhan




Judul Buku      : Kain
Penulis             : Jose Saramago
Penerbit           : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan           : I, 2017
Tebal               : 190 halaman
“Aku membunuh habel karena aku tidak bisa membunuhmu, maka, dalam niat, kau juga telah mati.”
“Ya, aku paham maksudmu, tapi ajal itu dilarang untuk para allah.”
“Oh, aku tahu, tapi kalian para allah masih dapat dipersalahkan atas semua kejahatan yang dilakukan atas nama kalian atau karena kalian”
Kutipan percakapan tersebut menunjukkan bahwa Kain membunuh saudaranya, Habel, tak lain adalah upaya untuk membunuh tuhan. Kain mempersalahkan tuhan karena telah membuat hubungan mereka berdua tidak harmonis, lantaran perintahnya untuk mempersembahkan hasil bumi dan ternaknya, dan milik habellah yang diterima. Habel yang merasa lebih unggul dari Kain, lalu menyombongkan diri dan sikap inilah yang membuat Kain sakit hati. Berawal dari sinilah, Kain lalu amat benci kepada tuhan, dan karena tak menemukan cara untuk membunuh tuhan, maka ia membunuh orang yang dikasihi tuhan (yang korbannya diterima), yakni habel.
Kain, pendosa yang membunuh habel, saudaranya, menggelandang melewati setiap masa yang berbeda-beda. Ia telah dikutuk tuhan menjadi buron dan menggelandang di muka bumi. Di keningnya, ada tanda hitam yang diberikan tuhan sebagai bentuk perlindungannya sekaligus celaannya.
Dalam setiap masa, ia bertemu dengan kejadian-kejadian aneh yang justru semakin membuatnya benci kepada tuhan. Ia bertemu dengan orang bernama abraham yang diperintahkan tuhan untuk membunuh putranya sendiri, lalu tentang sebuah menara besar yang dibangun manusia yang berharap menjangkau langit dan bagaimana tuhan meratakannya dengan tanah oleh badai, tentang kota dimana laki-laki lebih suka tidur dengan laki-laki dan hukumannya berupa api serta belerang yang ditimpakan tuhan kepada mereka, tanpa memikirkan anak-anak sama sekali, tentang kerumunan besar orang di kaki gunung sinai dan pembuatan patung seekor anak sapi emas, yang dipuja orang-orang itu dan mereka dibantai karenanya, tentang kota yang berani membunuh tiga puluh enak prajurit dari sebuah pasukan israel dan pendudukannya disapu bersih hingga anak yang terakhir, dan tentang kota jericho yang dinding-dindingnya dilumat oleh gelegar sangkakala yang terbuat dari tanduk lembu jantang dan kemudian bagaimana semuanya di dalamnya dihancurkan, laki-perempuan, tua-muda, bahkan binatang ternaknya (halaman 127-138).
Kilatan kejadian itu datang begitu saja, dari masa kini ke  masa kini yang lain. Semakin hari, Kain merasa semakin benci kepada tuhan, dan membulatkan tekad untuk membunuhnya. Saat bertemu dengan malaikat yang datang terlambat untuk menggagalkan upaya abraham membunuh anaknya, Kain dituduh seorang rasionalis (halaman 86). Oleh Lilith, istri bangsawan kota yang terpikat dengan keterampilan Kain dalam memanjakannya di ranjang, dikatakan penghina tuhan (halaman 70).
Penilaian tokoh malaikat dan Lilith inilah yang menjadi dasar penilaianku atas pribadi Kain. Sebagai rasionalis, Kain dalam segala kelakuannya selalu mengedepankan akal, dan segala bentuk kejadian atau keputusan tuhan yang tidak sesuai dengan pikirannya, akan ditentangnya habis-habisan. Sebagai penghina tuhan, Kain memang cukup berani untuk menentang atau mempertanyakan letak keadilan tuhan, manakala melihat berbagai kejadian yang tidak masuk akal –terutama berkaitan dengan keputusan tuhan yang (dalam pikir kain) bertentangan dengan kemanusiaan.
Kain melihat tuhan sebagai sosok yang cacat. Dan kecacatan terbesar dari tuhan adalah rasa cemburu, ketimbang bangga kepada anak-anaknya. Ia tunduk pada rasa iri dan ia jelas tidak mau melihat siapapun bahagia (halaman 92).
Kain terus merawat kebencian itu dari waktu ke waktu, yang sebenarnya tidak bergerak maju atau mundur, melainkan silih berganti. Tidak ada masa lalu juga masa depan, yang ada hanyalah masa kini dan masa kini yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan keluarga Nuh yang tengah membuat bahtera di perbukitan. Nuh mendapat perintah dari tuhan untuk menerima Kain di bahtera tersebut, karena boleh jadi bisa memberikan manfaat. Aku lalu menggambarkan scene pertemuan Kain dengan nuh seperti yang ada dalam film Noah (2014) –yang kontroversi karena ketidakmaksuman tokoh Nuh di situ. Sebagaimana di novel Kain, film tersebut juga menggambarkan bagaimana malaikat tuhan membantu pembuatan bahtera.
Nuh mendapatkan mandat dari tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dan tiap-tiap binatang sepasang-sepasang di bahteranya –mengingat akan didatangkannya air bah dari langit dan bumi, untuk memusnahkan umat manusia yang telah rusak dan merusak bumi. Jika di film Noah, keluarga Nuh dikaruniai dua puteri kembar yang lahir dari istri anaknya yang pertama, sehingga regenerasi umat manusia bisa berjalan, amat berbeda dengan kisah dalam Kain. Bahwa satu persatu, keluarga nuh dibunuhi oleh Kain dengan cara licik. Giliran tinggal Nuh sendirian yang masih hidup, Kain memprovokasinya untuk bunuh diri, dan terbujuklah nuh.
Setelah air bah surut dan bahtera berlabuh ke daratan, tuhan memanggil-manggil nuh –dan tak ada jawaban. Justru yang muncul dari bahtera adalah Kain seorang diri. Kain mengakui telah membunuh keluarga nuh dan berhasil membujuk nuh untuk menenggelamkan diri ke air bah. Kain telah berhasil menggagalkan rencana tuhan.
Kau memang Kain, kata tuhan, yang keji dan licik, si pembunuh saudaranya sendiri. Tak sekeji dan selicik dirimu, kata Kain membalas, ingatkah anak-anak sodom?

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 14 March 2018

Nyata-nyata Kisah


Mengualatkan orang kuurungkan setelah melihat kenyataan.

Kampung dibuat gempar oleh berita penyelewengan etika dan kecelakaan, lalu dipungkasi dengan musibah kematian. Ramai-ramai, orang melakukan semacam penilaian atas keluarga yang tertimpa musibah.

"Sekeluarga begitu semua"
"Buat peringatan"
"Itu semenjak menjual sapi mati"
"Aku ikut ngangkutnya ke mobil, tapi tak menerima bayaran"
"Untungnya besar-besar. Tiga kali. Tiga kali juga kena musibah. Yang ketiga malah dikunjungi kematian"

Masing mulut ingin mengeluarkan isi kepalanya. Dengan rujukan mulut-mulut pula. Dan segera saja, hujatan diam-diam tapi terdengar cukup santer, mulai mewarnai udara kampung, bercampur bau tanah dan keringat petani.

"Itu sudah jadi ganjarannya, salah siapa mabuk-mabukan"

Krik krik jangkrik sudah tak terdengar lagi. Memang dari awal tidak berkerik. Tapi suara orang-orang kampung tiada matinya, menembus pekat malam yang tak dingin-dingin amat.

Ceritanya, cerita orang-orang kampung itu di suatu obrolan, dan kebetulan aku masuk ke peserta pasifnya, musibah itu bermula setelah si bapak menjual sapi yang telah mati. Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan menjual, tapi lebih pada menerima tawaran dari seseorang untuk menjual bangkai sapinya. Padahal, para tetangga sudah membuatkan untuk si sapi, liang lahat. Tapi mau apa, orang pemiliknya memutuskan untuk jual bangkai itu.

Denger-denger, bangkai sapi yang tengah mengandung itu laku 2,6 juta. Sebagian uangnya dibagi ke tetangga sebelah yang membantu. Selebihnya dipakai entah untuk apa. Yang pasti, menyambung hidup butuh uang.

Dipikir-pikir, Tuhan memang suka bercanda dengan hambaNya yang kebanyakan -meminjam istilah Gus Dur- hamba amatir. Buktinya, setelah menjual daging bangkai sapi, lalu Tuhan memberinya keuntungan cukup besar buat ternaknya. Tapi, pada saat itu pula, Tuhan mengambilnya dengan jalan yang lucu; penjualnya tertipu dan rugi 25 sak pakan ternak. Entah, aku belum tahu per saknya berapa harganya. Ceritanya sih, orang itu menandatangai kwitansi (yang artinya sudah membayar?) transaksi pakan ternak tapi ditunggu-tunggu barangnya tidak datang. Satu.

Bulan berikutnya, Tuhan pun ngasih keuntungan yang cukup besar dari hasil ternaknya. Kali ini, si peternak mau beli motor dan memang sudah transfer uangnya. Dia beli via online. Apesnya, dan ini pasti kerjaan Tuhan yang Maha Asyik, motornya tak kunjung datang. 13 juta hangus tiada sisa. Dua.

Bulan berikutnya, sama. Tuhan selalu berbaik hati padanya, dan dikasihlah keuntungan melimpah, bahkan katanya yang terbesar dari sebelum-sebelumnya. Sebagian keuntungannya lalu dipakai buat pesta oleh satu puteranya. Dan pesta tak lengkap tanpa alkohol, dan mabuklah ia bersama teman-temannya.

Dalam kondisi mabuk, ia pulang dengan dibonceng teman yang juga mabuk. Naik motor. Dan di sinilah kejadian puncaknya; tanpa faktor apapun selain alkohol, motor yang ditungganginya oleng dan pengendaranya mencium aspal. Itu terjadi tengah malam, sekira pukul 12. Keduanya, yang ditemukan entah oleh siapa, dibawa ke rumah sakit.

Si pengendara, wajahnya, katanya, babak belur dan tak sadarkan diri. Sementara yang dibonceng, yang sedang aku ceritakan ini, tak ada luka luar yang tampak serius. Hanya lecet biasa yang kelihatan sedikit ganjil.

"Saya cuma liat motornya, orangnya udah nggak ada" kata temannya yang pesta bareng, saat pulang melewati jalan yang sama. Dari dia aku tahu, meski tak tanya, mereka pesta 6 orang. Kebetulan yang celaka ini tak ada yang mengenakan helm. Dan memang sudah biasa begitu; helm dipakai kalo keluar daerah.

Sekitar pukul 5 sore, saat aku pulang dari sawah cari rumput buat sapi, ibu mengabarkan berita duka itu. "Besok aku layad (ziarah)" kataku.

Di rumah duka, yang awalnya aku bermaksud ikut menyolati, urung. Aku memilih duduk-duduk di halaman belakang rumah, dengan beberapa pemuda yang menghisap kretek. Aku diam dan nyaris tanpa bicara; cuma mendengarkan mereka cerita tentang kejadian itu. Di sinilah aku tahu banyak.

"Ya itulah, kalo aturan dari Kitab Langit dilanggar!" Kata lelaki tua yang kelihatannya seperti kaum, yang dipercaya ngurus jenazah. "Peringatan: Alkohol membunuhmu!" Lanjutnya.

Aku menyungging senyum, pun beberapa pemuda di situ yang jelas, tak asing dengan alkohol.

Seperti serigala yang haus darah, aku menajamkan mata untuk mengamati wajah-wajah orang kampung. Bagi yang ditinggal mati, amat kelihatan muka sayunya, menanggung beban derita tiada terkira. Sampai nyamukpun dengan takdzim menyedot darah di tanganku, barangkali juga tengah meresapi suasana duka di sekitarnya. Aku coba mengelus nyamuk itu, tak juga terbang dan terusik. Justru menikmati seolah bayi yang sedang dibelai. Aku biarkan, hingga perut hitamnya berona merah darah dan gendut, lalu terbang setelah kenyang.

Aku berdiri, lalu menuju ke halaman depan; jenazah mau diberangkatkan, dan aku amat tertarik untuk ikut ke tanah kubur.

Sepulang dari tanah kubur, aku basuh kaki-tangan lalu duduk bersama ibu.

"Kasihan, ya. Semoga dosanya diampuni. Dia anak ragil yang paling baik, makanya bosnya juga sayang sama dia."

"Dia tidak dimasakin ibu. Kakak-kakaknyalah yang merawat dan memberinya suntikan kasih"

"Kakaknya tadi bisa sampai tanah kubur?"

"Bisa" jawabku.

"Si ibu jatuh lemas lunglai, begitu tak ada yang memapahnya"

"Kamu jadi pergi ke rumah temen?"

"Nanti juga bisa, bu"

"Motornya aku pakai buat belanja ya?"

"Ya, bu. Ati-ati"

Seperginya ibu ke pasar, aku langsung ambil hape dan menuliskan kisah ini. Sengaja aku samarkan, demi menjaga hati dan perasaan yang tengah berduka.

Dia sudah pulang kepada pemilik sebenarnya. Wadahnya, serahkan saja kepada belatung, pasukan Tuhan yang oleh manusia dinilai menjijikan, tapi memiliki tugas yang amat mulia.

Kebumen 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 13 March 2018

Desa yang Surga, Bukan Kota


Desa. Begitu aku sebut kata desa, artinya merujuk ke kampung halaman saya. Bukan istilah yang diartikan secara umum, yang tentu akan rumit dan tak cukup diwakilkan dengan satu kata.

Surga. Begitu aku sebut kata surga, artinya merujuk ke kampung halaman dalam angan-angan saya. Bukan istilah yang diartikan secara umum, yang tentu akan rumit dan tak cukup diwakilkan dengan satu kata.

Surga. Desa. Begitu aku sebut kedua kata itu dalam sekali napas, artinya ada keterkaitan antar istilah dan juga pengalaman pribadi yang aku alami. Dan baru aku sadari, bahwa kedudukan desa dibanding surga, meski jauh berbeda, tapi ada kesamaan kecil nan sederhana.

Jika surga dikatakan dipenuhi sungai yang mengalir, di samping rumahku ada sungai. Buah di surga juga tinggal metik, begitu juga di belakang rumahku. Karena aku tak merasa menanam dan merawat, toh pohon itu berbuah pada akhirnya. Memupuk pun tidak. Murni, pohon itu dirawat alam, yang anehnya dirusak manusia.

Sampai sini sudah jelas ya, ketersambungan antara surga di angan dan cerita di buku, dengan desa yang akan aku ceritakan, yang merupakan desaku. Bukan desa dalam artian kumpulan dari rukun warga atau rukun tetangga, bukan. Itu terlalu luas bagiku yang jarang keluar rumah. Tapi, bagian desa terkecil yang sebenarnya menjadi jantung masa depan desa itu sendiri, yakni keluarga.

Baiklah, sekarang mari ikuti aku untuk memperbesar pemaknaan atas istilah keluarga. Karena kuperlebar makna keluarga, boleh dong aku sebut keluarga sebagai desa. Jadi, dari sini sampai seterusnya, aku sebut keluarga dengan kata desa.

Begini. Lagi-lagi aku ragu untuk menuliskan kisahku. Takut kalau-kalau hanya menjadi sampah yang tak sedap dibaca. Tapi, aku juga ragu untuk tidak menceritakan, takut tak kehilangan bukti bahwa di suatu kali aku bisa mengatakan desa, surga. Dan akhirnya, aku menepis keraguan yang terakhir, dan mengabaikan keraguan pertama. Tak apalah, pikirku, jika memang nanti ceritaku tak sedap dipandang, apalagi dibaca.

Aku menemukan surga di desaku, setelah sekian lama tinggal di kota. Untuk apa kalau bukan menimba ilmu, sebagaimana pesan orang tua. Pun dalam perjalanannya, aku mulai menikmatinya dan mulai kecanduan. Jadilah aku lupa diri; yang di waktu tertentu melenakan dari ingatanku tentang desa yang surga itu.

Aku justru menikmati surga itu, setelah sekian lama aku tinggalkan.  Jarak telah mengajarkanku arti keindahan, dan kenikmatan. Surga yang ada di anganku, bukan cuma indah, tapi juga bisa dinikmati. Itu yang terpenting.

Tapi, sebenarnya, ada juga pertanyaan yang mengusik. Jika surgaku di desa, atau surga desaku, atau surga garis miring desa, baru bisa dinikmati setelah sekian lama ditinggal, mungkinkah aku akan diserang rasa bosan jika berlama-lama menempatinya. Dengan kata lain, surga yang aku rindukan pindah ke kota.

Bukankah masuk akal, kenapa Adam dikeluarkan dari surga? Jangan-jangan Tuhan memang sengaja mengeluarkan Adam dari surga, sebelum ia merasa bosan. Dan kedurhakaan adam atas Penciptanya memang skenarioNya, sebagai pelajaran pertama bagi manusia bahwa setiap keputusan selalu ada ganjarannya. Baik diganjar kebaikan, buruk diganjar keburukan.

Setelah adam dan anak keturunannya dibuat lelah oleh kegersangan dunia, barulah surga yang dulu pernah dicicipi nenek moyang kita terasa memanggil-manggil dengan kerinduan yang mendalam. Diangan nikmat, diimpikan pun bikin semangat.

Ah, kok malah ngelantur. Kan aku sudah janji mau menceritakan desa yang surga itu. Desa yang bukan desa sebagaimana dipahami sebagai desa, tetapi desa yang kecil yakni keluarga, lalu diperbesar lagi menjadi desa mini. Oh desa oh surga.  Oh oh segala oh. Yang takjub yang bikin kejut. Oh oh yang bergairah yang juga bikin tak berselera. Dan segala oh di jagat raya.

Desa surga. Surga desa. Begitu sulitnya membedakan kalian berdua. Adakah yang mengangankan surga sebagaimana gersangnya kehidupan kota???

Kebumen 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 12 March 2018

Bela Diri


Hari ini cukup panas. Bukan cuaca, tapi hawa yang mengeram di kepala. Saat-saat seperti inilah yang tidak kusuka. Aku merasa terkungkung, tapi entah apa yang mengungkung dan bagaimana caranya keluar dari kungkungan tak dikenal itu.

Mungkinkah, berjubel nutrisi yang kuserap dari buku, menjejal-jejal ingin dikeluarkan tapi lisan kelu, mendadak kaku? Atau barangkali momen traumatis yang membuatku belepotan dalam berkata dan berargumen? Yah, mungkin saja.

Satu hal yang aku sadari; bahwa rutinitasku membosankan dan tak ada interaksi dengan lingkungan baru. Inikah sebentuk siksaan yang nyata itu? Dimana diri merasa rendah lalu melihat orang lain lebih tinggi. Atau melihat diri diliputi mendung lalu menikmati cahaya yang memancar dalam diri seseorang. Ini sulit dijelaskan. Dan memang, ini pula yang membuatku sulit menemukan solusi yang tepat.

Banyak sekali hal yang menjadi misteri. Semakin banyak tahu, semakin sadar bahwa diri tidak tahu banyak. Terlebih jika diri tak pernah tahu lebih banyak, merasa hari hanya ada hari ini, esok? Suram.

Ini bukan soal umur atau apa. Ada faktor lain yang membuat kurang bisa menikmati napas yang telah dikasih cuma-cuma. Soal umur, toh banyak yang seumuranku jauh lebih menderita. Ada pula, orang yang lebih tua dariku, juga bernasib sial dan dikoyak sepi. Giliran ada orang yang lebih tua dariku dan dia meraih sukses, buru-buru aku hibur diri bahwa itu memang sudah waktunya.

Itulah kecerdikan diri, membohongi diri. Diri yang mestinya terpacu, justru kian melipir turun dari jalan aspal dan merasa puas dengan jalan itu. Merasa nyaman, lalu mati dalam senyuman yang dipaksakan.

Soal apa lagi kiranya, yang bisa menerbitkan senyum. Tak ada, selain diri yang abstrak yang ada dalam diri. Selebihnya; sulit.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 11 March 2018

Uang Membeli Kebahagiaan?


Uang. Satu kata yang kini mulai dipuja. Di mana-mana, tak ada hari tanpa bicarakan uang. Dengan uang, kata seseorang, bisa membeli kebahagiaan. Benarkah?

Benar. Aku merasai betul, dengan uang aku bisa merasa bahagia. Dengan uang aku bisa memberi kejutan ke seseorang, atau membantu kesulitan teman, atau meminjamkan ke teman untuk keperluan hidup sehari-hari. Bukankah betul, bahwa uang bisa membeli kebahagiaan?

Jangan kau tanyakan kebahagiaan dengan perspektif hakikat, karena siapa orangnya yang bisa menjawab. Apa pernah kamu sampai kepada rasa bahagia yang hakiki? Kalau aku, jujur, masing bingung. Bukan lagi pertanyaan; bahagia yang hakiki seperti apa? Melainkan; bagaimana rasanya kebahagiaan yang hakiki?

Syukur kalo kau bisa merasakan bahagia hakiki. Aku juga mau, dibagi kebahagiaan hakiki yang kau rasakan. Jangan dikasih tau! Cukup, berbagilah denganku bahagia hakiki itu. Jangan kau jelaskan fungsi-fungsi uang; tapi bagilah, biar bisa sama-sama merasakan citarasa uang.

Jadi, aku tak ragu lagi untuk mencari uang. Karena uang bisa membeli kebahagiaan. Ingin bahagia, carilah uang sebanyak-banyaknya.

Catat ya: UANG BISA MEMBELI KEBAHAGIAAN!!

Baik agar lebih mudah, aku ceritakan saja pengalaman dan sedikit analisis sederhanaku. Pernah aku menonton film kartun; lupa judulnya. Di situ, ada quotes yang menarik bagiku, soal kebahagiaan. "Bahagia itu bukan apa yang kita masukkan, tetapi ada dalam diri". Itu untuk counter doktrin atas pakem yang telah ada; bahwa kelas masyarakat hanya akan bahagia jika memakan kaum lainnya.

Membelanjakan uang, dengan begitu, bisa membuat orang bahagia. Uang membeli kebahagiaan, tapi nilai uang tidak. Cukup sampai pada sebentuk uang saja, tanpa ada embel-embel nilai dan nominalnya.

Ini yang menarik. Bahwa uang mampu membeli kebahagiaan, yang ironisnya, tanpa disadari, telah ada dalam diri masing-masing. Kamu bisa bersedekah, itu butuh uang; dan ketika punya dan mampu bersedekah, kau akan merasa bahagia.. begitu.

Keputusan ini tidak bersifat final, jadi sewaktu-waktu pemahaman seseorang tentang uang dan kebahagiaan bisa berubah. Sesuai kebutuhan.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cerita Perseduluran




Malam itu, hujan turun dengan lebatnya. Lelaki 20-an tahun buru-buru memarkir motornya, lalu masuk dengan jaket dinasnya. Ia kebetulan tidak membawa jas hujan. Karenanya, jaket dan sebagian celananya basah. Pasti, ia kedinginan.

Masuk lalu menanggalkan jaketnya dan mencantelkannya di cantelan. Celana panjangnya pun ditanggalkan, menyisakan kolor. Ia mulai cerita.

Ada order empat jus dari seorang lelaki. Aku carikan penjual jus sesuai pesanan, tapi tidak ketemu. Aku kasih alternatif pada penjual jus lainnya, dan lelaki itu mengiyakan.

Aku pesen empat jus itu. Begitu aku buka gadget, lelaki itu membalas, "mas, jusnya sudah datang. Saya ini lagi makan jus". Lalu lelaki itu membatalkan orderan. Padahal, jus sedang dibikin. Mau membatalkan ke penjual jus juga tidak mungkin. Ya mau gimana lagi, untung saja baru dua. Jadi yang satu aku minum sendiri, sisanya aku kasihkan ke bapak-bapak di jalan.

Satu lagi, pelanggan yang order sate kambing. Ia mengirimkan alamat warung sate tersebut. Tapi ternyata yang dikasihkan alamat rumah penjualnya, bukan warungnya. Aku ngomong ke dia, dan dianya minta maaf. Lalu mengirimkan alamat warungnya. Sesampainya di warung itu, ternyata satenya tinggal enam tusuk. Aku pesan lalu laporan ke pemesan, dan si pemesan mau membatalkan pesanan. Karena sudah telanjur aku beli, dia -barangkali karena nggak enak- mengurungkan niatnya. Aku habis 35 ribuan waktu itu. Tapi saat aku antarkan pesanan itu, si pemesan yang laki-laki itu meminta maaf dan memberikan bayaran lebih; 50 ribu.

Dua hal yang kontras. Satu pemesan terkesan tidak bertanggung jawab, bahkan tak peduli dengan jerih payah temanku ini. Satunya lagi, dengan tetap mempertimbangkan untung-ruginya temanku ini, lalu memberinya bonus. Persoalan bonus itu sebagai bentuk rasa iba atau penghargaan atas kerja kerasnya, entahlah. Toh itu persoalan hati yang sulit diraba-raba.

Dan, ada pula yang karena alamat yang dikasihkan pemesan kurang jelas, lalu si driver menyarankan untuk membatalkan. Dan, memang dibatalkan.

Aku memang tak terlalu tahu soal ojek online. Seumur-umur belum pernah pakai jasanya; kecuali tiga kali, itupun bukan aku yang memesannya, dan bukan motor tapi mobil.

Yah. Begitulah kerasnya hidup. Di satu sisi putih, lainnya hitam. Beruntung bagi kamu yang bisa memperlakukan mereka sama. Dan bisa melihat kesamaan di balik warna yang kontras.

Sampai sekarang, aku percaya pentingnya tali perseduluran dan mesti harus tetap dijaga. Minimal, kita bisa berbagi cerita dengan dulur-dulur, yang hari ini amatlah mahal.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 9 March 2018

Anna Karenina Tolstoy; Cinta yang Penuh Hasrat



Kau boleh merencanakan menikah dengan siapa saja, tapi kau tidak bisa memaksakan cintamu untuk siapa. Kira-kira seperti itulah perkataan Sujiwo Tejo. Dan seperti itu pula kisah yang terjalin dalam novel Tolstoy yang berjudul Anna Karenina.

Dalam novel tersebut dijelaskan betapa ikatan perkawinan bukanlah lembaga sakral yang bisa membungkus cinta seseorang. Pernikahan yang berawal dari ketidakcintaan, tak bisa langgeng. Tergambar dari kehidupan rumah tangga Anna dengan Karenin. Meski secara materi tercukupi, tapi tidak dengan batinnya. Anna begitu tersiksa memiliki suami yang bukan pilihannya, meski ia telah memiliki satu anak lelaki. Justru, Anna tertarik dengan Vronsky yang sebenarnya akan dijodohkan dengan Kitty, anak seorang bangsawan. Dan Vronsky pun membalas cintanya Anna, yang lalu lanjut dengan hubungan tanpa ikatan formal, namun bisa membuat keduanya bahagia. Ada kedamaian ketika Anna bersama Vronsky, yang itu tidak ia dapatkan dari suaminya.

Cinta yang beringas. Karenin pada akhirnya tahu bahwa istrinya memiliki ketertarikan kepada Vronsky. Bahkan, Anna sendiri yang memproklamirkan ketidaksukaannya dengan suami, dan cintanya kepada Vronsky. Bayangkan bagaimana rasanya jika kamu sebagai suami, mendapati istrimu tertarik dengan lelaki lain dan mengakuinya di hadapanmu tanpa rasa berdosa?

Karenin sebagai lelaki yang telah berumur pun, tak bisa menahan gemuruh amarahnya. Ia tidak langsung menampar istri atau menceraikannya, justru malah mempertahankannya dari perceraian. Ia sebagai pejabat terkemuka, tidak mau citranya tercoreng hanya karena perceraian. Dan yang lebih penting adalah, dengan tidak menceraikan Anna, Karenin bisa menyiksa istrinya dan juga kekasih gelapnya dengan hubungan tanpa status selain selingkuhan.

Ini berhasil dan membuat kebahagiaan Anna dan Vronsky berantakan. Sebagai pecinta ekstrim, Anna enggan jauh dari Vronsky. Vronsky yang awalnya menjadi komandan pasukan perang berkuda, juga terpaksa keluar dari jabatannya bahkan menolak promosinya, demi kekasih gelapnya.

Cinta yang dulu menggebu, lambat laun dirasa kian luntur oleh Anna. Vronsky seolah selalu menghindar dari Anna. Karena Vronsky sadar bahwa mencinta juga butuh pekerjaan, untuk mengepulkan asap dapurnya. Tapi Anna yang pecemburu selalu curiga dengan gelagat Vronsky, yang kadang beberapa hari tidak pulang ke rumahnya. Oiya, mereka berdua melarikan diri, dan Anna tetap membawa status suami Karenin.

Kecewa. Merasa ditinggalkan. Dan sudah tidak dicintai. Maka suatu kali percekcokan antar mereka meletus. Vronsky yang bermaksud menjenguk ibunya di desa untuk memberikan uang, tidam diizinkan Anna. Tapi Vronsky memaksa pergi.

Seperginya Vronsky, Anna benar-benar merasa sendirian dan ketakutan. Ia kalut. Kirim surat lewat kurir, tapi kereta sudah berangkat dan kurir tak bisa menyampaikan surat Anna ke kekasihnya. Anna lalu memutuskan untuk pergi menjemput sang kekasih. Ia meminta sais untuk mengantarnya ke stasiun.

Seturunnya dari gerbong kereta, Anna diserang kebingungan yang akut. Ia tak tahu harus bagaimana. Hilang arah tujuannya. Dan ia teringat tragedi dimana ia bersama Vronsky baru bertemu; ada seorang petugas tua yang menabrakkan diri ke kereta. Ia juga teringat mimpi buruknya dengan petani tua. Lalu ia terbesit, jika memang Vronsky sudah tidak mencintainya lagi, ia tidak boleh bahagia. Ia harus menderita. Maka Anna pun memutuskan untuk menabrakkan tubuhnya ke kereta dan matilah ia.

Vronsky yang tahu kenekatan istrinya, merasa lemas tak berdaya. Ia benar-benar merasa kehilangan dan semangat hidupnga kian redup. Perang Rusia melawan Turki lalu digunakannya untuk jalan menyusul Anna.

Sementara Kitty yang patah hati, menikah dengan Levin dan mereka hidup bahagia dengan satu buah hatinya.

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

&#$4@skfoak


Seolah tiada hari depan, rasa sakit itu hadir sedemikian rupa. Gelap lalu mengkilat bagai petir menyambar kepala. Melepuh lalu enggan untuk pecah. Panas tak mengeluarkan asap, juga api. Sekujur tubuh dirambati listrik. Senang tidak. Sedih tidak. Suka tidak. Bahagia tidak.

Jalan tanpa hasrat, gerak tanpa tujuan. Rasa diungkap tapi pikir buru-buru mencegat. Ada apa? Tak ada. Hanya gemericik amarah yang terpendam. Lalu, luapan emosi yang tertekan. Semua bercampur baur. Lebur.

Akal sulit menerima, kondisi tak biasa yang tak menghasilkan apa-apa. Bukan karena kesalahan, melainkan lebih ketakberanian untuk mengungkapkan. Diungkapkan menyayat hati, tidak diungkapkan menyakiti kepala. Hatinya yang tersayat bisa membuatnya ambruk, jasmani rohani. Kepala yang sakit, memperlentur diri untuk selalu disekap amarah. Itu setidaknya yang sampai kini aku yakini. Tak apa, asal tidak merugikan siapa-siapa.

Tapi, cukupkah hanya berhenti pada tidak merugikan apa-apa? Terkesan pasif dan pesimis. Apa kepura-puraan yang selama ini disandiwarakan itu berhasil, untuk menghasilakan hasil? Atau kepura-puraan itu yang membunuh kepekaan; lalu berjalan tanpa jiwa, datar dan tak berperasaan.

Panas. Itu mendekam di kepala. Tak hilang dalam waktu relatif lama. Benci atau amarah yang terpendam, membuatnya barangkali merasa ada perbedaan dalam diriku. Entah, sepeka apa ia menangkap gestur tubuhku atau ekspresi kepura-puraanku.

Aku hanya ingin dia menyelesaikan apa yang telah dimulai. Itu saja. Selebihnya, aku akan bahagia jika bisa melihatnya tersenyum, apalagi membuatnya tertawa. Serasa ada kekuatan gaib yang menumbuhkan ketenangan dalam diri, dan kepuasan batin.

Sebaliknya, perih jika melihatnya sedetikpun meneteskan air mata. Seakan, kegagalan telah aku lakukan dan itu yang membuatnya meneteskan air mata.

Aku sadari, dia tak mungkin tak merasa gelisah. Pasti gelisah. Tapi, ini yang membuatku merasa sedih, dia terbayang oleh kekarnya tangan biadab yang enggan membagi penanya, untuk sekadar menyoret ruang kosong antar tulisan status dan nama.

Jancuk hanya aku katakan dalam tulisan. Kenyataannya, aku terlalu pengecut untuk sekadar mengucapkannya. Terlalu kasar di sisi lain, tapi menjanjikan kebebasan di lain sisi. Maka minimal aku bisa misuh lewat tulisan, jikalau memang itu membuatku merasa lebih merdeka. Sedikit bahagia. Dan melupakan kesengsaraan yang datang mengendap-endap.

Yah. Apalagi. Itu sudah terjadi. Lalu apa lagi yang diharapkan dan dilakukan. Biarlah harapan itu miliknya, sementara aku hanya menjadi orang yang selalu memupuk harapannya, sekalipun aku juga tak tahu harapannya. Yah. Lelah. Pasti. Menyerah. Jangan. Lemah. Jangan.

Yah. Apalagi. Sudah terjadi. Jalani. Tanpa babibu. Tanpa harus menyalahkan sesuatu. Apalagi seseorang. Apalagi waktu. Apalagi Tuhan.

Sudah. Jalani. Tak perlu. Salahkan kamu. Salahkan dia. Salahkan aku. Atau salahkan kita. Atau salahkan keadaan. Semua. Biar berjalan apa semestinya. Usaha yang penting. Pikir positif kuncinya. Negatif musuhnya. Dan menyerah lonceng kematiannya.

Sudah. Bukan waktunya lagi risau. Kacau sudah biasa. Serba tertekan juga makanan sehari-hari. Untuk apa disesali?

Sudah. Hidup sekali. Kata motivator. Jadiah pemenang. Kata sosialis. Jadilah orang yang manfaat. Kata akademis. Jadilah agen of change. Asa jangan agen of celeng. Yang tainya sendiri pun diembat.

Sudah. Titik. Tanpa koma,

Jogja 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 20 February 2018

Ketika Alkudus Dibicarakan



Judul Buku      : Alkudus
Penulis             : Asef Saeful Anwar
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : I, April 2017
Begitu menerima Kitab Alkudus, aku langsung dibingungkan dengan angka kecil yang ditulis pada pojok atas di setiap permulaan kalimat. Awalnya aku pikir merujuk ke catatan kaki, yang sejurus kemudian pikirku dipatahkan setelah mata tertumbuk ke ruang kosong bagian bawah lembar-lembarnya.
Berpikir sejenak, lalu dapatlah cukup pencerahan, bahwa angka itu adalah urutan ayat Kitab Alkudus. Aku juga secara tiba-tiba mulai menyadari, bahwa yang aku baca bukanlah buku ‘sembarangan’, melainkan kitab suci sebuah agama bernama Kaib, yang memiliki utusan perempuan bernama Erelah Sang Utusan. Berawal dari sini, aku kemudian memperlakukan buku tersebut layaknya kitab suci beneran, yang tentu dalam membacanya juga semacam menelanjangi terjemahan kitab suciku.
Berpuluh lembar aku bacai, lalu sampai kepada halaman 31 ayat 1. Di situ Tuhan bertanya kepada Erelah Sang Utusan, “Masihkah kamu (Erelah) tiada percaya bahwa manusia pertama adalah seorang lelaki?” Lalu ayat pertama itu dilanjut dengan penjelasan dari pertanyaan itu; bahwa Tuhan tidak melihat jenis kelamin, melainkan sebagai manusia.
Ayat itu pula yang aku jadikan status WhatsApp. Dengan sebelumnya aku tampilkan pula sinopsis kitab Alkudus.
Kutipan ayat halaman 31 direspon oleh seorang kawan di kampung, yang kini tengah kerja di Jakarta. Ia kerja di perkantoran, lalu menanyakan, “Maksudnya apa mas?”
“Ini kutipan dari buku mirip al-Qur’an; Alkudus” kataku.
“Oh, aku nggak paham. Miskin buku mas”
“Beli buku, mas”
“Di sini bukunya mahal-mahal”
“Sini main ke Jogja. Di sini murah-murah”
Dia sepantaran denganku, dan juga teman SD selama 6 tahun. Hidup di daerah pesisir pantai selatan, dengan mata pencaharian orang tuanya petani dan pembuat gula jawa. Karena tak ingin melepaskan kesempatan membantu orang tua, di sisi lain juga ingin mengenyam pendidikan tinggi, ia kuliah di kampus kabupatennya. Jadi bisa ditempuh dengan nglaju.
Sependek yang aku tahu, naik-turun gunung lebih ia sukai ketimbang membaca buku. Entah apa alasannya. Yang jelas, di daerahnya (dan daerahku juga tentunya), buku menjadi barang mahal. Sabit, cangkul, caping, dan celana kolor lebih dikenal daripada himpunan lembaran kertas bertuliskan tinta, yang untuk mendapatkannya pun mahalnya bukan main.
Komentar lain mempertanyakan tentang sinopsis buku, yang di dalamnya dituliskan utusan perempuan, Erelah Sang Utusan. Satu pertanyaan ia lontarkan; itu buku apa kak? Aku jelaskan apa adanya, dan dijawabnya; bacaanmu memang selalu berat-berat ya kak (padahal biasa aja). Aku lanjut penjelasannya, mengenai gebrakan penulis buku yang mendobrak pakem; bahwa nabi itu dinarasikan sebagai ‘jabatan’ yang hanya bisa disematkan pada laki-laki.
“Kok berani ya kak yang nulis!” katanya kemudian.
Dia juga sepantaran denganku, dan kebetulan satu almamater di kampus. Pernah juga seorganisasi. Jadi, sedikit banyak aku kenal karakternya yang memang berpotensi sensitif ketika menemukan hal yang tidak lumrah (antimainstream). Dan Kitab Alkudus masuk ke dalam hal yang anti mainstream.
Satu komentar lagi masuk; tapi karena ia penulis, jadi responnya sekadar emotikon yang sulit dimaknai apa maksudnya.
Sekali waktu ngopi dengan kawan di Cafe Basabasi, ia menyeletuk setelah melihat gambar buku Alkudus di dinding; Aku penasaran dengan Alkudus. Aku jelaskan yang sejurus kemudian direspon; tak kira semacam kitabnya orang Kristen. Barangkali, nama kitab tersebut yang menjadi dasar penilaian kawan ini, yang memang lekat dengan term yang kerap dipake dalam agama Kristen.
Satu hal yang aku tangkap dari berbagai komentar yang berhasil kurekam dalam benak. Bahwa keputusan menulis buku mirip-mirip al-Qur’an, penyajian dan diksi-diksinya, dianggap sebagai keputusan yang berani. Apalagi bagi mereka yang tak terbiasa dengan wacana-wacana nakal, terlebih juga bagi mereka yang gemar mengulik kesalahan orang lain hanya karena beda pandangan agama; buku ini bisa disesatkan dan penulisnya dikafirkan.
Karenanya, buku ini bersifat segmented, yang hanya bisa diterima dan dinikmati kalangan terbatas. Dinilai dan diadili sebagai karya sastra yang mencoba menyajikan hal baru dalam kesusastraan Indonesia. Secara pribadi, aku baru pertama kali membaca buku dengan konsep kitab suci.
Bisa dikatakan, ajaran yang dibawa Erelah dalam Alkudus merupakan ‘ajaran alternatif’ sebagai penyeimbang pemahaman sejumlah umat beragama yang menyimpang. Bahwa telah menjadi rahasia umum, dalam tubuh Islam, banyak yang memiliki orientasi masuk surga, lalu mengorbankan sedikit kesenangannya di dunia untuk mencapainya. Lupa, bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang mestinya dituju, bukan surga-Nya.
Pun dijelaskan, keturunan yang merasa unggul dan menggunakan dalil untuk merebut tanah yang dijanjikan. Keturunan Sakih, yang mendaku diri telah dijanjikan untuk menempati Tanah Para Nabi, yakni tanah Wawut (halaman 134). Membaca bagian ini, aku langsung teringat konflik di Yerusalem, yang dipenuhi kepentingan, baik politik maupun agama.
Terlepas dari kualifikasi mufasir yang rigid, Alkudus bisa dimaknai sebagai ‘tafsir alternatif’ atas ajaran-ajaran kitab suci Samawi –dalam hal ini al-Qur’an. Bahwa Asef Saeful Anwar ingin menyampaikan ajaran-ajaran yang diyakininya sebagai kebenaran, dalam bentuk ‘kitab suci’ baru –dengan perubahan di sana sini (utamanya konsep nabi yang digambarkan seorang perempuan, di samping laki-laki).
Mungkinkah penulis tercetus membuat Alkudus sebagai jawaban atas tantangan al-Qur’an atas orang-orang Arab waktu itu, agar membuat ayat yang sama dengan al-Qur’an; mampukah?
Dan satu lagi pertanyaannya, jika Erelah Sang Utusan adalah ‘Nabi’, dan ‘Tuhan’ yang memiliki Alkudus adalah ‘Tuhan’, lalu siapa Asef Saeful Anwar, yang menulis Alkudus ini? [Imron Mustofa]


Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 10 January 2018

Dapet Buku Bergizi (Gratis) Dari Penulisnya



Judul Buku      : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini
Penulis             : Eko Triono
Penerbit           : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan           : I, Desember 2017
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-6651-67-9
Ini kali kedua saya mendapat buku gratis, setelah duduk manis sembari mendengarkan ceramah penulisnya yang menggebu-gebu. Bedanya, kali pertama saya mengikuti forumnya Mohamad Sobary di UGM, dan mendapat dua buku kumpulan esai kebudayaannya yang menuruku cukup bergizi. Buku pertama Makamkan Dirimu Di Tanah Tak Dikenal dan kedua Semar Gugat di Temanggung. Dalam ceramahnya di hadapan puluhan audiens, saya jadi tahu bahwa ia memutuskan untuk istirahat di usia tua dari hiruk pikuk keramaian, menikmati pensiunan. Darinya pula saya jadi tahu, dan ada kaitannya dengan buku kedua yang saya sebutkan, bahwa ia memutuskan menghisap kretek setelah mendampingi petani-petani tembakau di Temanggung, yang melawan pemerintah yang dirasa kurang adil dengan jalan kebudayaan. Bagi Sobary, menghisap kretek (bukan pake istilah rokok) adalah sikap politiknya.
Adapun kali kedua, saya mendapat buku gratis setelah menikmati ceramah Eko Triono dipandu gadis muda yang ceria. Saya lalu membayangkan Eko Triono yang kata Anton Kurnia dalam pengantar buku dikatakan “muda dalam arti jalannya masih panjang untuk mengukir lebih banyak karya dan prestasi”, sebagai seorang yang “kepalanya tak cukup untuk menampung imajinasinya”. Terlihat sekali dari gerak-gerik dan senyum yang ditebar ke siapapun, termasuk pada saya yang belum ia kenal. Pun amat kentara jika diamati dari ulasannya yang menggebu-gebu dan indie banget.
Karena telah mengenal penulisnya, sebagaimana dikatakan Daruz (penulis kumcer Sifat Baik Daun) dengan mengutip pendapat seorang penulis, saya  termasuk pembaca yang “tidak bersih” dalam menilai buku. Saya tidak bisa melepaskan penilaian buku Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini dengan pribadi Eko Triono yang saya amati beberapa kali.
Saya tentu saja memiliki hubungan yang dekat dengan Eko, karena seusai acara, ia telah membuat cerita baru dengan saya. Eko menulis di halaman 3 buku “u/ Imron, Jangan takut, jangan malu. Kau akan menjadi seseorang”. Cerita itu tidak bisa ditemukan di buku Kamu Sedang Mambaca Tulisa Ini yang ia tulis selain buku yang saya pegang. Sepersekian detik setelah Eko mengukir cerita dengan saya, langsung saja merasa diri ini diseru: Kamu sedang membaca tulisan ini. Dan, kamu akan mengikuti apa saja yang diminta dari pikiranmu.
Buku gratis yang ada tanda tangan penulisnya lalu saya bacai secara acak. Dan memang, semuanya saya baca, tapi beberapa yang panjang tidak diselesaikan, karena sebuah alasan. Dari pembacaan secara acak, lalu disinkronkan dengan ulasan penulisnya, saya memahami bahwa Eko ingin semua orang tidak minder dalam menuliskan sebuah karya, dan juga insaf bahwa yang dikatakan cerita (pendek) bukan hanya tulisan yang terpampang di koran. Karena setiap karya tulis, oleh Eko, adalah cerita. Apapun bentuknya. Termasuk peringatan yang muncul setelah kita membuka konten dewasa di internet, itupun cerita.
Dari 26 judul cerita, ada dua cerita yang saya sukai dalam buku ini. Pertama adalah cerita yang berjudul Cerita dalam Resep Membuat Hantu, kedua Cerita dalam Ulangan Harian Kita. Dua cerita ini pula yang beberapa kali saya kampanyekan kepada teman akrab di forum-forum santai. Dua cerita ini seakan-akan juga akrab dalam kehidupan saya. Yang pertama, saya merasa akrab jika dikaitkan dengan isu 65; dimana PKI dan komunisme berhasil diracik sedemikian rupa sehingga menjadi hantu yang amat menakutkan. Adapun yang kedua, amat akrab dengan lingkungan sekolah saya waktu belum kuliah, yang menurut saya kurang toleran dengan perbedaan, utamanya masalah agama.
Adapun cerita yang paling tidak saya sukai adalah Atirec Malad Mukuh Kilabret. Kenapa? Karena saya kesulitan membacanya. Itu saja alasannya. Jadi, untuk cerita tersebut saya hanya membaca judulnya dan satu-dua kalimat setelahnya. 
Lalu apa hubungannya Mohamad Sobary dengan Eko Triono? Jelas ada bagi saya. Mereka berdua sama-sama memberikan bukunya secara gratis.

Saya juga jadi mengenal perbedaan yang prinsipil antara “rokok” dan “kretek” dari yang pertama. Adapun yang kedua, saya mendapat pencerahan mengenai cerita dan apa yang disebut cerita, dan bagaimana caranya membuat cerita, dan apa saja yang bisa dijadikan cerita. Dan yang terpenting –yang saya tidak mendapatkannya dari yang pertama- adalah jabat tangan dan senyuman dari yang kedua.  [Imron Mustofa]
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...