Sunday, 11 March 2018
Cerita Perseduluran
Malam itu, hujan turun dengan lebatnya. Lelaki 20-an tahun buru-buru memarkir motornya, lalu masuk dengan jaket dinasnya. Ia kebetulan tidak membawa jas hujan. Karenanya, jaket dan sebagian celananya basah. Pasti, ia kedinginan.
Masuk lalu menanggalkan jaketnya dan mencantelkannya di cantelan. Celana panjangnya pun ditanggalkan, menyisakan kolor. Ia mulai cerita.
Ada order empat jus dari seorang lelaki. Aku carikan penjual jus sesuai pesanan, tapi tidak ketemu. Aku kasih alternatif pada penjual jus lainnya, dan lelaki itu mengiyakan.
Aku pesen empat jus itu. Begitu aku buka gadget, lelaki itu membalas, "mas, jusnya sudah datang. Saya ini lagi makan jus". Lalu lelaki itu membatalkan orderan. Padahal, jus sedang dibikin. Mau membatalkan ke penjual jus juga tidak mungkin. Ya mau gimana lagi, untung saja baru dua. Jadi yang satu aku minum sendiri, sisanya aku kasihkan ke bapak-bapak di jalan.
Satu lagi, pelanggan yang order sate kambing. Ia mengirimkan alamat warung sate tersebut. Tapi ternyata yang dikasihkan alamat rumah penjualnya, bukan warungnya. Aku ngomong ke dia, dan dianya minta maaf. Lalu mengirimkan alamat warungnya. Sesampainya di warung itu, ternyata satenya tinggal enam tusuk. Aku pesan lalu laporan ke pemesan, dan si pemesan mau membatalkan pesanan. Karena sudah telanjur aku beli, dia -barangkali karena nggak enak- mengurungkan niatnya. Aku habis 35 ribuan waktu itu. Tapi saat aku antarkan pesanan itu, si pemesan yang laki-laki itu meminta maaf dan memberikan bayaran lebih; 50 ribu.
Dua hal yang kontras. Satu pemesan terkesan tidak bertanggung jawab, bahkan tak peduli dengan jerih payah temanku ini. Satunya lagi, dengan tetap mempertimbangkan untung-ruginya temanku ini, lalu memberinya bonus. Persoalan bonus itu sebagai bentuk rasa iba atau penghargaan atas kerja kerasnya, entahlah. Toh itu persoalan hati yang sulit diraba-raba.
Dan, ada pula yang karena alamat yang dikasihkan pemesan kurang jelas, lalu si driver menyarankan untuk membatalkan. Dan, memang dibatalkan.
Aku memang tak terlalu tahu soal ojek online. Seumur-umur belum pernah pakai jasanya; kecuali tiga kali, itupun bukan aku yang memesannya, dan bukan motor tapi mobil.
Yah. Begitulah kerasnya hidup. Di satu sisi putih, lainnya hitam. Beruntung bagi kamu yang bisa memperlakukan mereka sama. Dan bisa melihat kesamaan di balik warna yang kontras.
Sampai sekarang, aku percaya pentingnya tali perseduluran dan mesti harus tetap dijaga. Minimal, kita bisa berbagi cerita dengan dulur-dulur, yang hari ini amatlah mahal.
Jogja 2018
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment