Kepeningan yang sedari tadi menempel di jidatku, perlahan terasa panas. Ceracau tak karuan meluncur dari mulut yang sulit dikunci. Entah, kata-kata yang keluar mengarah ke mana. Hanya ada satu rasa dalam menuangkannya; bahwa aku mendadak gelagapan di tengah bicara. Mendadak kehilangan arah pembicaraan.
Itu sudah biasa, dan seakan telah menjadi rutinitas. Di kala pening, semua seolah gelap dan juga suram, lalu untuk lari dari kegelapan itu, berceracaulah aku.
Energi negatif memang kerap jauh lebih tajam cakarnya, ketimbang yang positif. Cakar itu yang telah menghujam dalam, sulit untuk dicabut. Begitu dicabut, masih tetap ada bekas yang ditinggalkan.
Sementara energi positif begitu mudah hadir, tapi mudah pula perginya. Mungkinkah hadirnya energi positif itu ibarat jari yang melukiskan gambar hati di atas air? Atau seperti pisau yang mengerik batu dengan pola tertentu, sulit tapi membekas begitu lama.
Benar yang dikatakan seorang ulama yang hadir dari masa lalu; bahwa berhijrahlah, biar nanti mendapatkan banyak pengalaman dan juga pekerjaan. Hijrah seperti apa? Agaknya pertanyaan itu yang mesti diperjelas jawabannya.
Jika hijrah ala Cak Nun yang katanya dari terdampak bandara ke lokasi yang disediakan pemda, agaknya patut dipertanyakan. Dan di sini bukan hijrah model beginian yang mau kurenungkan. Tapi, hijrah yang entah, yang coba aku maknai dengan segenap keterbatasan diri.
Satu hal yang penting dari hijrah, menurutku, adalah perpindahan. Pindah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain, kalau begitu, berarti termasuk hijrah?
Tentu bisa dikatakan begitu, tapi masih ada yang kurang. Kalau masa Rasul dulu, kata Al-Fayyadl di fbnya, hijrah itu perpindahan dari suatu kondisi yang buruk ke yang lebih baik. Sebagaimana dicontohkan Rasul, yang hijrah dari Makkah karena selalu diganggu, menuju ke Madinah yang disambut meriah dengan tabuhan rebana.
Hijrah seperti inilah yang menurutku mendesak untuk dilakukan. Dari kondisi awal yang masih kurang kondusif dalam pengembangan diri, menuju kondisi yang lebih subur untuk pengembangan keterampilan.
Musuh terbesar dari hijrah itu ya rasa malas. Kalau malas masih tetap dirawat, jelas, hijrah hanya angan kosong. Tidak ada perbaikan sama sekali dalam diri. Yang jelas, tidak baik buat kesehatan masa depan.
Dari yang bicara tanpa arah, lalu ke obrolan bermakna dengan penyampaian yang sistematis. Jelas tujuan dan arah pembicaraan. Dan tegas dalam menyampaikan argumen.
Sampai sini, aku sudah paham? Tentu. Paham itu satu hal, dan mau mengamalkan itu hal lainnya. Dan itu masalah terbesarku. Lantas, bolehkah aku katakan masalahku juga masalah terbesar manusia, karena aku juga manusia?
Jogja 2018
No comments:
Post a Comment