Seolah tiada hari depan, rasa sakit itu hadir sedemikian rupa. Gelap lalu mengkilat bagai petir menyambar kepala. Melepuh lalu enggan untuk pecah. Panas tak mengeluarkan asap, juga api. Sekujur tubuh dirambati listrik. Senang tidak. Sedih tidak. Suka tidak. Bahagia tidak.
Jalan tanpa hasrat, gerak tanpa tujuan. Rasa diungkap tapi pikir buru-buru mencegat. Ada apa? Tak ada. Hanya gemericik amarah yang terpendam. Lalu, luapan emosi yang tertekan. Semua bercampur baur. Lebur.
Akal sulit menerima, kondisi tak biasa yang tak menghasilkan apa-apa. Bukan karena kesalahan, melainkan lebih ketakberanian untuk mengungkapkan. Diungkapkan menyayat hati, tidak diungkapkan menyakiti kepala. Hatinya yang tersayat bisa membuatnya ambruk, jasmani rohani. Kepala yang sakit, memperlentur diri untuk selalu disekap amarah. Itu setidaknya yang sampai kini aku yakini. Tak apa, asal tidak merugikan siapa-siapa.
Tapi, cukupkah hanya berhenti pada tidak merugikan apa-apa? Terkesan pasif dan pesimis. Apa kepura-puraan yang selama ini disandiwarakan itu berhasil, untuk menghasilakan hasil? Atau kepura-puraan itu yang membunuh kepekaan; lalu berjalan tanpa jiwa, datar dan tak berperasaan.
Panas. Itu mendekam di kepala. Tak hilang dalam waktu relatif lama. Benci atau amarah yang terpendam, membuatnya barangkali merasa ada perbedaan dalam diriku. Entah, sepeka apa ia menangkap gestur tubuhku atau ekspresi kepura-puraanku.
Aku hanya ingin dia menyelesaikan apa yang telah dimulai. Itu saja. Selebihnya, aku akan bahagia jika bisa melihatnya tersenyum, apalagi membuatnya tertawa. Serasa ada kekuatan gaib yang menumbuhkan ketenangan dalam diri, dan kepuasan batin.
Sebaliknya, perih jika melihatnya sedetikpun meneteskan air mata. Seakan, kegagalan telah aku lakukan dan itu yang membuatnya meneteskan air mata.
Aku sadari, dia tak mungkin tak merasa gelisah. Pasti gelisah. Tapi, ini yang membuatku merasa sedih, dia terbayang oleh kekarnya tangan biadab yang enggan membagi penanya, untuk sekadar menyoret ruang kosong antar tulisan status dan nama.
Jancuk hanya aku katakan dalam tulisan. Kenyataannya, aku terlalu pengecut untuk sekadar mengucapkannya. Terlalu kasar di sisi lain, tapi menjanjikan kebebasan di lain sisi. Maka minimal aku bisa misuh lewat tulisan, jikalau memang itu membuatku merasa lebih merdeka. Sedikit bahagia. Dan melupakan kesengsaraan yang datang mengendap-endap.
Yah. Apalagi. Itu sudah terjadi. Lalu apa lagi yang diharapkan dan dilakukan. Biarlah harapan itu miliknya, sementara aku hanya menjadi orang yang selalu memupuk harapannya, sekalipun aku juga tak tahu harapannya. Yah. Lelah. Pasti. Menyerah. Jangan. Lemah. Jangan.
Yah. Apalagi. Sudah terjadi. Jalani. Tanpa babibu. Tanpa harus menyalahkan sesuatu. Apalagi seseorang. Apalagi waktu. Apalagi Tuhan.
Sudah. Jalani. Tak perlu. Salahkan kamu. Salahkan dia. Salahkan aku. Atau salahkan kita. Atau salahkan keadaan. Semua. Biar berjalan apa semestinya. Usaha yang penting. Pikir positif kuncinya. Negatif musuhnya. Dan menyerah lonceng kematiannya.
Sudah. Bukan waktunya lagi risau. Kacau sudah biasa. Serba tertekan juga makanan sehari-hari. Untuk apa disesali?
Sudah. Hidup sekali. Kata motivator. Jadiah pemenang. Kata sosialis. Jadilah orang yang manfaat. Kata akademis. Jadilah agen of change. Asa jangan agen of celeng. Yang tainya sendiri pun diembat.
Sudah. Titik. Tanpa koma,
Jogja 2018
Friday, 9 March 2018
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment