Judul Buku : Gerimis di Atas Kertas
Penulis : A. S. Rosyid
Penerbit : Basabasi,Yogyakarta
Cetakan : I, September 2017
Tebal : 199 halaman
ISBN : 978-602-6651-30-3
Sebagai
pustakawan komunitas, A.S. Rosyid telah tepat mengangkat cerita tentang geliat
literasi di Lombok. Selain karena
memiliki kedekatan emosional dengan cerita-cerita yang dibangun, juga boleh
jadi bagian dari perjuangannya dalam menyorot geliat literasi di luar Jawa.
Muluk-muluknya, ini dilakukan untuk menambal ‘catatan sejarah’ nasional yang
sampai kini masih didominasi oleh narasi-narasi dari Jawa. Amat sedikit
literatur yang menjadikan Indonesia bagian Tengah dan Timur sebagai bahan kajian. Dalam
hal ini, A.S. Rosyid berhasil membawa lokalitas menjadi ‘catatan sejarah’
nasional.
Aku
meyakini, bahwa tidak ada karya yang muncul dari ruang yang kosong. Semuanya,
adalah hasil dari pengindraan penulis atas realitas lalu dalam menarasikannya
dikembangkan dengan imajinasi-imajinasinya. Jangankan pegiat fiksi, sejarawan
pun –yang terkesan serius- kata Kuntowijoyo membutuhkan daya imajinasi tinggi.
Imajinasi tersebut digunakan untuk menarasikan fakta-fakta sejarah menjadi
narasi yang sambung menyambung dan enak dibaca. Sehingga pesan sejarah sampai
kepada pembaca.
Lagi-lagi,
A.S. Rosyid juga berhasil membangun cerita yang mudah dipahami pembaca.
Terlebih bagi pembaca-pembaca yang memiliki tingkat kebaperan tinggi, bisa
tersedu-sedu ketika membaca cerita tentang cinta tak sampainya Royyan kepada
Hasyim dan pendekatan yang dilakukan Tata kepada Fajar. Dan, dua cerita tersebut
memiliki keterhubungan yang unik. Royyan dan Tata adalah teman SMA, sementara
Fajar kenal Hasyim sebagai teman lintas komunitas.
Bedanya,
cinta Royyan pada Hasyim tak sampai, karena tersandung kenangan Hasyim akan
masa kecilnya bersama Ayu –yang membuat Royyan patah hati yang kemudian mencoba berdamai
dengan keadaan, serta mencari Ayu untuk Hasyim –dan ketemu –dan akhirnya
Hasyim dan Ayu menikah. Sementara Tata kisahnya berujung pada pernikahan,
setelah berhasil ‘melepaskan’ Fajar dari rasa bersalah atas kematian pacarnya
empat tahun lalu –yang kebetulan mirip dengan Tata.
Jika
dua cerita pertama mengesankan ketegaran perempuan dalam mengelola cintanya,
berbeda dengan cerita ketiga. Mas Bayu (laki-laki), sebagai tokoh utama, dikesankan
sebagai sosok yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sebelum bertemu dengan Sastri, penjual Cakwe terenak di Kota Tua, Mas Bayu
adalah jurnalis photoghrapy yang ekstrim –membahayakan nyawanya demi hasil foto
yang bagus. Begitu bertemu dengan Sastri yang macak sederhana, Mas Bayu langsung jatuh cinta dan segera mengatur
siasat untuk tetap bersamanya.
Maka
diutarakanlah ide untuk membuat Warung Kupi Cakwe, menggandeng Sastri dan
pemuda-pemudi setempat yang kebetulan kenal baik dengan Bayu. Adalah Anggik si
kutu buku yang putus sekolah, Parid si barista, dan Muhammad Daya si aktivis
mahasiswa, pemuda-pemuda yang diajak untuk mendirikan warung kupi tersebut.
Dengan keahlian masing-masing, Warung Kupi Cakwe berkembang dengan pesat. Tidak
sembarang warung kopi, tapi juga menyediakan cakwe ala Sastri, perpustakaan
yang dikelola Anggik, dan tempat berdiskusi yang biasa digunakan Muhammad Daya
dan teman-temannya. Dua tahun setelah warung itu berdiri, Bayu dan Sastri akhirnya
menikah.
Jika
kita membaca bukunya Eric Form yang berjudul Seni Mencintai (2018), akan menemukan betapa cinta –mestinya-
berkembang secara produktif. Bahwa cinta itu bukan diawali dengan imbuhan di-
(dicinta), melainkan me- (mencinta). Dengan kata lain, cinta selalu bisa
membuat orang yang dicinta lebih produktif dan efeknya tidak hanya bisa
dinikmati oleh satu-dua orang saja. Tetapi, orang-orang di sekitarnya pun ikut
merasakannya. Cerita Cakwe Kota Tua adalah contoh konkrit betapa cinta bisa
tumbuh dengan sedemikian produktifnya, sehingga bisa menyalurkan skill kepada
sesuatu yang bernilai ekonomi dan (yang terpenting) pendidikan (luar sekolah).
Satu
hal yang juga tidak kalah menariknya di sini adalah, bahwa para pegiat
komunitas adalah mereka yang tidak terjebak dengan kebaperan yang melanda remaja usia 20-an,yakni kebelet
menikah. Mereka rela menjomblo sedikit lebih lama demi dedikasinya untuk negeri;
yakni berjuang menggairahkan literasi. Dalam tiga cerita tersebut selalu
dikisahkan anak-anak atau remaja putus sekolah karena ekonomi, tapi bisa
mengakses informasi dan bacaan melalui komunitas-komunitas. Secara tidak
langsung, A.S. Rosyid bisa dikatakan ingin mengajak kita supaya peduli dengan
mereka yang putus sekolah. Seakan-akan, pemaknaan cinta dalam tiga kisah
tersebut, tidak bisa lepas dari upaya untuk membantu anak-anak dan remaja putus
sekolah untuk mendapatkan haknya.
Imron Mustofa

No comments:
Post a Comment