Tuesday, 20 March 2018

Ambisi Membunuh tuhan




Judul Buku      : Kain
Penulis             : Jose Saramago
Penerbit           : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan           : I, 2017
Tebal               : 190 halaman
“Aku membunuh habel karena aku tidak bisa membunuhmu, maka, dalam niat, kau juga telah mati.”
“Ya, aku paham maksudmu, tapi ajal itu dilarang untuk para allah.”
“Oh, aku tahu, tapi kalian para allah masih dapat dipersalahkan atas semua kejahatan yang dilakukan atas nama kalian atau karena kalian”
Kutipan percakapan tersebut menunjukkan bahwa Kain membunuh saudaranya, Habel, tak lain adalah upaya untuk membunuh tuhan. Kain mempersalahkan tuhan karena telah membuat hubungan mereka berdua tidak harmonis, lantaran perintahnya untuk mempersembahkan hasil bumi dan ternaknya, dan milik habellah yang diterima. Habel yang merasa lebih unggul dari Kain, lalu menyombongkan diri dan sikap inilah yang membuat Kain sakit hati. Berawal dari sinilah, Kain lalu amat benci kepada tuhan, dan karena tak menemukan cara untuk membunuh tuhan, maka ia membunuh orang yang dikasihi tuhan (yang korbannya diterima), yakni habel.
Kain, pendosa yang membunuh habel, saudaranya, menggelandang melewati setiap masa yang berbeda-beda. Ia telah dikutuk tuhan menjadi buron dan menggelandang di muka bumi. Di keningnya, ada tanda hitam yang diberikan tuhan sebagai bentuk perlindungannya sekaligus celaannya.
Dalam setiap masa, ia bertemu dengan kejadian-kejadian aneh yang justru semakin membuatnya benci kepada tuhan. Ia bertemu dengan orang bernama abraham yang diperintahkan tuhan untuk membunuh putranya sendiri, lalu tentang sebuah menara besar yang dibangun manusia yang berharap menjangkau langit dan bagaimana tuhan meratakannya dengan tanah oleh badai, tentang kota dimana laki-laki lebih suka tidur dengan laki-laki dan hukumannya berupa api serta belerang yang ditimpakan tuhan kepada mereka, tanpa memikirkan anak-anak sama sekali, tentang kerumunan besar orang di kaki gunung sinai dan pembuatan patung seekor anak sapi emas, yang dipuja orang-orang itu dan mereka dibantai karenanya, tentang kota yang berani membunuh tiga puluh enak prajurit dari sebuah pasukan israel dan pendudukannya disapu bersih hingga anak yang terakhir, dan tentang kota jericho yang dinding-dindingnya dilumat oleh gelegar sangkakala yang terbuat dari tanduk lembu jantang dan kemudian bagaimana semuanya di dalamnya dihancurkan, laki-perempuan, tua-muda, bahkan binatang ternaknya (halaman 127-138).
Kilatan kejadian itu datang begitu saja, dari masa kini ke  masa kini yang lain. Semakin hari, Kain merasa semakin benci kepada tuhan, dan membulatkan tekad untuk membunuhnya. Saat bertemu dengan malaikat yang datang terlambat untuk menggagalkan upaya abraham membunuh anaknya, Kain dituduh seorang rasionalis (halaman 86). Oleh Lilith, istri bangsawan kota yang terpikat dengan keterampilan Kain dalam memanjakannya di ranjang, dikatakan penghina tuhan (halaman 70).
Penilaian tokoh malaikat dan Lilith inilah yang menjadi dasar penilaianku atas pribadi Kain. Sebagai rasionalis, Kain dalam segala kelakuannya selalu mengedepankan akal, dan segala bentuk kejadian atau keputusan tuhan yang tidak sesuai dengan pikirannya, akan ditentangnya habis-habisan. Sebagai penghina tuhan, Kain memang cukup berani untuk menentang atau mempertanyakan letak keadilan tuhan, manakala melihat berbagai kejadian yang tidak masuk akal –terutama berkaitan dengan keputusan tuhan yang (dalam pikir kain) bertentangan dengan kemanusiaan.
Kain melihat tuhan sebagai sosok yang cacat. Dan kecacatan terbesar dari tuhan adalah rasa cemburu, ketimbang bangga kepada anak-anaknya. Ia tunduk pada rasa iri dan ia jelas tidak mau melihat siapapun bahagia (halaman 92).
Kain terus merawat kebencian itu dari waktu ke waktu, yang sebenarnya tidak bergerak maju atau mundur, melainkan silih berganti. Tidak ada masa lalu juga masa depan, yang ada hanyalah masa kini dan masa kini yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan keluarga Nuh yang tengah membuat bahtera di perbukitan. Nuh mendapat perintah dari tuhan untuk menerima Kain di bahtera tersebut, karena boleh jadi bisa memberikan manfaat. Aku lalu menggambarkan scene pertemuan Kain dengan nuh seperti yang ada dalam film Noah (2014) –yang kontroversi karena ketidakmaksuman tokoh Nuh di situ. Sebagaimana di novel Kain, film tersebut juga menggambarkan bagaimana malaikat tuhan membantu pembuatan bahtera.
Nuh mendapatkan mandat dari tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dan tiap-tiap binatang sepasang-sepasang di bahteranya –mengingat akan didatangkannya air bah dari langit dan bumi, untuk memusnahkan umat manusia yang telah rusak dan merusak bumi. Jika di film Noah, keluarga Nuh dikaruniai dua puteri kembar yang lahir dari istri anaknya yang pertama, sehingga regenerasi umat manusia bisa berjalan, amat berbeda dengan kisah dalam Kain. Bahwa satu persatu, keluarga nuh dibunuhi oleh Kain dengan cara licik. Giliran tinggal Nuh sendirian yang masih hidup, Kain memprovokasinya untuk bunuh diri, dan terbujuklah nuh.
Setelah air bah surut dan bahtera berlabuh ke daratan, tuhan memanggil-manggil nuh –dan tak ada jawaban. Justru yang muncul dari bahtera adalah Kain seorang diri. Kain mengakui telah membunuh keluarga nuh dan berhasil membujuk nuh untuk menenggelamkan diri ke air bah. Kain telah berhasil menggagalkan rencana tuhan.
Kau memang Kain, kata tuhan, yang keji dan licik, si pembunuh saudaranya sendiri. Tak sekeji dan selicik dirimu, kata Kain membalas, ingatkah anak-anak sodom?

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...