Judul Buku : Kain
Penulis :
Jose Saramago
Penerbit : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan : I, 2017
Tebal : 190 halaman
“Aku membunuh
habel karena aku tidak bisa membunuhmu, maka, dalam niat, kau juga telah mati.”
“Ya, aku paham
maksudmu, tapi ajal itu dilarang untuk para allah.”
“Oh, aku tahu,
tapi kalian para allah masih dapat dipersalahkan atas semua kejahatan yang dilakukan
atas nama kalian atau karena kalian”
Kutipan
percakapan tersebut menunjukkan bahwa Kain membunuh saudaranya, Habel, tak lain
adalah upaya untuk membunuh tuhan. Kain mempersalahkan tuhan karena telah
membuat hubungan mereka berdua tidak harmonis, lantaran perintahnya untuk
mempersembahkan hasil bumi dan ternaknya, dan milik habellah yang diterima. Habel
yang merasa lebih unggul dari Kain, lalu menyombongkan diri dan sikap inilah
yang membuat Kain sakit hati. Berawal dari sinilah, Kain lalu amat benci kepada
tuhan, dan karena tak menemukan cara untuk membunuh tuhan, maka ia membunuh
orang yang dikasihi tuhan (yang korbannya diterima), yakni habel.
Kain, pendosa
yang membunuh habel, saudaranya, menggelandang melewati setiap masa yang
berbeda-beda. Ia telah dikutuk tuhan menjadi buron dan menggelandang di muka
bumi. Di keningnya, ada tanda hitam yang diberikan tuhan sebagai bentuk
perlindungannya sekaligus celaannya.
Dalam setiap
masa, ia bertemu dengan kejadian-kejadian aneh yang justru semakin membuatnya
benci kepada tuhan. Ia bertemu dengan orang bernama abraham yang diperintahkan
tuhan untuk membunuh putranya sendiri, lalu tentang sebuah menara besar yang
dibangun manusia yang berharap menjangkau langit dan bagaimana tuhan
meratakannya dengan tanah oleh badai, tentang kota dimana laki-laki lebih suka
tidur dengan laki-laki dan hukumannya berupa api serta belerang yang ditimpakan
tuhan kepada mereka, tanpa memikirkan anak-anak sama sekali, tentang kerumunan
besar orang di kaki gunung sinai dan pembuatan patung seekor anak sapi emas,
yang dipuja orang-orang itu dan mereka dibantai karenanya, tentang kota yang
berani membunuh tiga puluh enak prajurit dari sebuah pasukan israel dan
pendudukannya disapu bersih hingga anak yang terakhir, dan tentang kota jericho
yang dinding-dindingnya dilumat oleh gelegar sangkakala yang terbuat dari
tanduk lembu jantang dan kemudian bagaimana semuanya di dalamnya dihancurkan,
laki-perempuan, tua-muda, bahkan binatang ternaknya (halaman 127-138).
Kilatan
kejadian itu datang begitu saja, dari masa kini ke masa kini yang lain. Semakin hari, Kain
merasa semakin benci kepada tuhan, dan membulatkan tekad untuk membunuhnya.
Saat bertemu dengan malaikat yang datang terlambat untuk menggagalkan upaya
abraham membunuh anaknya, Kain dituduh seorang rasionalis (halaman 86). Oleh
Lilith, istri bangsawan kota yang terpikat dengan keterampilan Kain dalam
memanjakannya di ranjang, dikatakan penghina tuhan (halaman 70).
Penilaian
tokoh malaikat dan Lilith inilah yang menjadi dasar penilaianku atas pribadi
Kain. Sebagai rasionalis, Kain dalam segala kelakuannya selalu mengedepankan
akal, dan segala bentuk kejadian atau keputusan tuhan yang tidak sesuai dengan
pikirannya, akan ditentangnya habis-habisan. Sebagai penghina tuhan, Kain
memang cukup berani untuk menentang atau mempertanyakan letak keadilan tuhan,
manakala melihat berbagai kejadian yang tidak masuk akal –terutama berkaitan
dengan keputusan tuhan yang (dalam pikir kain) bertentangan dengan kemanusiaan.
Kain melihat
tuhan sebagai sosok yang cacat. Dan kecacatan terbesar dari tuhan adalah rasa cemburu,
ketimbang bangga kepada anak-anaknya. Ia tunduk pada rasa iri dan ia jelas
tidak mau melihat siapapun bahagia (halaman 92).
Kain terus
merawat kebencian itu dari waktu ke waktu, yang sebenarnya tidak bergerak maju
atau mundur, melainkan silih berganti. Tidak ada masa lalu juga masa depan,
yang ada hanyalah masa kini dan masa kini yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu
dengan keluarga Nuh yang tengah membuat bahtera di perbukitan. Nuh mendapat
perintah dari tuhan untuk menerima Kain di bahtera tersebut, karena boleh jadi
bisa memberikan manfaat. Aku lalu menggambarkan scene pertemuan Kain
dengan nuh seperti yang ada dalam film Noah (2014) –yang kontroversi karena
ketidakmaksuman tokoh Nuh di situ. Sebagaimana di novel Kain, film
tersebut juga menggambarkan bagaimana malaikat tuhan membantu pembuatan
bahtera.
Nuh
mendapatkan mandat dari tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dan tiap-tiap
binatang sepasang-sepasang di bahteranya –mengingat akan didatangkannya air bah
dari langit dan bumi, untuk memusnahkan umat manusia yang telah rusak dan
merusak bumi. Jika di film Noah, keluarga Nuh dikaruniai dua puteri kembar yang
lahir dari istri anaknya yang pertama, sehingga regenerasi umat manusia bisa
berjalan, amat berbeda dengan kisah dalam Kain. Bahwa satu persatu, keluarga
nuh dibunuhi oleh Kain dengan cara licik. Giliran tinggal Nuh sendirian yang
masih hidup, Kain memprovokasinya untuk bunuh diri, dan terbujuklah nuh.
Setelah air
bah surut dan bahtera berlabuh ke daratan, tuhan memanggil-manggil nuh –dan tak
ada jawaban. Justru yang muncul dari bahtera adalah Kain seorang diri. Kain
mengakui telah membunuh keluarga nuh dan berhasil membujuk nuh untuk
menenggelamkan diri ke air bah. Kain telah berhasil menggagalkan rencana tuhan.
Kau memang
Kain, kata tuhan, yang keji dan licik, si pembunuh saudaranya sendiri. Tak
sekeji dan selicik dirimu, kata Kain membalas, ingatkah anak-anak sodom?

No comments:
Post a Comment