Judul Buku : Kamu Sedang
Membaca Tulisan Ini
Penulis : Eko
Triono
Penerbit : Basabasi,
Yogyakarta
Cetakan : I,
Desember 2017
Tebal : 220
halaman
ISBN :
978-602-6651-67-9
Ini kali kedua saya mendapat buku gratis, setelah duduk manis
sembari mendengarkan ceramah penulisnya yang menggebu-gebu. Bedanya, kali
pertama saya mengikuti forumnya Mohamad Sobary di UGM, dan mendapat dua buku
kumpulan esai kebudayaannya yang menuruku cukup bergizi. Buku pertama Makamkan
Dirimu Di Tanah Tak Dikenal dan kedua Semar Gugat di Temanggung. Dalam
ceramahnya di hadapan puluhan audiens, saya jadi tahu bahwa ia memutuskan untuk
istirahat di usia tua dari hiruk pikuk keramaian, menikmati pensiunan. Darinya
pula saya jadi tahu, dan ada kaitannya dengan buku kedua yang saya sebutkan,
bahwa ia memutuskan menghisap kretek setelah mendampingi petani-petani tembakau
di Temanggung, yang melawan pemerintah yang dirasa kurang adil dengan jalan
kebudayaan. Bagi Sobary, menghisap kretek (bukan pake istilah rokok) adalah
sikap politiknya.
Adapun kali kedua, saya mendapat buku gratis setelah menikmati
ceramah Eko Triono dipandu gadis muda yang ceria. Saya lalu membayangkan Eko
Triono yang kata Anton Kurnia dalam pengantar buku dikatakan “muda dalam arti
jalannya masih panjang untuk mengukir lebih banyak karya dan prestasi”, sebagai
seorang yang “kepalanya tak cukup untuk menampung imajinasinya”. Terlihat
sekali dari gerak-gerik dan senyum yang ditebar ke siapapun, termasuk pada saya
yang belum ia kenal. Pun amat kentara jika diamati dari ulasannya yang menggebu-gebu
dan indie banget.
Karena telah mengenal penulisnya, sebagaimana dikatakan Daruz
(penulis kumcer Sifat Baik Daun) dengan mengutip pendapat seorang
penulis, saya termasuk pembaca yang “tidak
bersih” dalam menilai buku. Saya tidak bisa melepaskan penilaian buku Kamu
Sedang Membaca Tulisan Ini dengan pribadi Eko Triono yang saya amati
beberapa kali.
Saya tentu saja memiliki hubungan yang dekat dengan Eko, karena
seusai acara, ia telah membuat cerita baru dengan saya. Eko menulis di halaman
3 buku “u/ Imron, Jangan takut, jangan malu. Kau akan menjadi seseorang”.
Cerita itu tidak bisa ditemukan di buku Kamu Sedang Mambaca Tulisa Ini yang
ia tulis selain buku yang saya pegang. Sepersekian detik setelah Eko mengukir
cerita dengan saya, langsung saja merasa diri ini diseru: Kamu sedang
membaca tulisan ini. Dan, kamu akan mengikuti apa saja yang diminta dari
pikiranmu.
Buku gratis yang ada tanda tangan penulisnya lalu saya bacai secara
acak. Dan memang, semuanya saya baca, tapi beberapa yang panjang tidak
diselesaikan, karena sebuah alasan. Dari pembacaan secara acak, lalu
disinkronkan dengan ulasan penulisnya, saya memahami bahwa Eko ingin semua
orang tidak minder dalam menuliskan sebuah karya, dan juga insaf bahwa yang
dikatakan cerita (pendek) bukan hanya tulisan yang terpampang di koran. Karena
setiap karya tulis, oleh Eko, adalah cerita. Apapun bentuknya. Termasuk
peringatan yang muncul setelah kita membuka konten dewasa di internet, itupun
cerita.
Dari 26 judul cerita, ada dua cerita yang saya sukai dalam buku ini. Pertama adalah
cerita yang berjudul Cerita dalam Resep Membuat Hantu, kedua Cerita
dalam Ulangan Harian Kita. Dua cerita ini pula yang beberapa kali saya
kampanyekan kepada teman akrab di forum-forum santai. Dua cerita ini
seakan-akan juga akrab dalam kehidupan saya. Yang pertama, saya merasa akrab
jika dikaitkan dengan isu 65; dimana PKI dan komunisme berhasil diracik
sedemikian rupa sehingga menjadi hantu yang amat menakutkan. Adapun yang kedua,
amat akrab dengan lingkungan sekolah saya waktu belum kuliah, yang menurut saya
kurang toleran dengan perbedaan, utamanya masalah agama.
Adapun cerita yang paling tidak saya sukai adalah Atirec Malad
Mukuh Kilabret. Kenapa? Karena saya kesulitan membacanya. Itu saja
alasannya. Jadi, untuk cerita tersebut saya hanya membaca judulnya dan satu-dua
kalimat setelahnya.
Lalu apa hubungannya Mohamad Sobary dengan Eko Triono? Jelas ada
bagi saya. Mereka berdua sama-sama memberikan bukunya secara gratis.
Saya juga jadi mengenal perbedaan yang prinsipil antara “rokok” dan
“kretek” dari yang pertama. Adapun yang kedua, saya mendapat pencerahan
mengenai cerita dan apa yang disebut cerita, dan bagaimana caranya membuat
cerita, dan apa saja yang bisa dijadikan cerita. Dan yang terpenting –yang saya
tidak mendapatkannya dari yang pertama- adalah jabat tangan dan senyuman dari
yang kedua. [Imron Mustofa]

No comments:
Post a Comment