Tuesday, 13 March 2018

Desa yang Surga, Bukan Kota


Desa. Begitu aku sebut kata desa, artinya merujuk ke kampung halaman saya. Bukan istilah yang diartikan secara umum, yang tentu akan rumit dan tak cukup diwakilkan dengan satu kata.

Surga. Begitu aku sebut kata surga, artinya merujuk ke kampung halaman dalam angan-angan saya. Bukan istilah yang diartikan secara umum, yang tentu akan rumit dan tak cukup diwakilkan dengan satu kata.

Surga. Desa. Begitu aku sebut kedua kata itu dalam sekali napas, artinya ada keterkaitan antar istilah dan juga pengalaman pribadi yang aku alami. Dan baru aku sadari, bahwa kedudukan desa dibanding surga, meski jauh berbeda, tapi ada kesamaan kecil nan sederhana.

Jika surga dikatakan dipenuhi sungai yang mengalir, di samping rumahku ada sungai. Buah di surga juga tinggal metik, begitu juga di belakang rumahku. Karena aku tak merasa menanam dan merawat, toh pohon itu berbuah pada akhirnya. Memupuk pun tidak. Murni, pohon itu dirawat alam, yang anehnya dirusak manusia.

Sampai sini sudah jelas ya, ketersambungan antara surga di angan dan cerita di buku, dengan desa yang akan aku ceritakan, yang merupakan desaku. Bukan desa dalam artian kumpulan dari rukun warga atau rukun tetangga, bukan. Itu terlalu luas bagiku yang jarang keluar rumah. Tapi, bagian desa terkecil yang sebenarnya menjadi jantung masa depan desa itu sendiri, yakni keluarga.

Baiklah, sekarang mari ikuti aku untuk memperbesar pemaknaan atas istilah keluarga. Karena kuperlebar makna keluarga, boleh dong aku sebut keluarga sebagai desa. Jadi, dari sini sampai seterusnya, aku sebut keluarga dengan kata desa.

Begini. Lagi-lagi aku ragu untuk menuliskan kisahku. Takut kalau-kalau hanya menjadi sampah yang tak sedap dibaca. Tapi, aku juga ragu untuk tidak menceritakan, takut tak kehilangan bukti bahwa di suatu kali aku bisa mengatakan desa, surga. Dan akhirnya, aku menepis keraguan yang terakhir, dan mengabaikan keraguan pertama. Tak apalah, pikirku, jika memang nanti ceritaku tak sedap dipandang, apalagi dibaca.

Aku menemukan surga di desaku, setelah sekian lama tinggal di kota. Untuk apa kalau bukan menimba ilmu, sebagaimana pesan orang tua. Pun dalam perjalanannya, aku mulai menikmatinya dan mulai kecanduan. Jadilah aku lupa diri; yang di waktu tertentu melenakan dari ingatanku tentang desa yang surga itu.

Aku justru menikmati surga itu, setelah sekian lama aku tinggalkan.  Jarak telah mengajarkanku arti keindahan, dan kenikmatan. Surga yang ada di anganku, bukan cuma indah, tapi juga bisa dinikmati. Itu yang terpenting.

Tapi, sebenarnya, ada juga pertanyaan yang mengusik. Jika surgaku di desa, atau surga desaku, atau surga garis miring desa, baru bisa dinikmati setelah sekian lama ditinggal, mungkinkah aku akan diserang rasa bosan jika berlama-lama menempatinya. Dengan kata lain, surga yang aku rindukan pindah ke kota.

Bukankah masuk akal, kenapa Adam dikeluarkan dari surga? Jangan-jangan Tuhan memang sengaja mengeluarkan Adam dari surga, sebelum ia merasa bosan. Dan kedurhakaan adam atas Penciptanya memang skenarioNya, sebagai pelajaran pertama bagi manusia bahwa setiap keputusan selalu ada ganjarannya. Baik diganjar kebaikan, buruk diganjar keburukan.

Setelah adam dan anak keturunannya dibuat lelah oleh kegersangan dunia, barulah surga yang dulu pernah dicicipi nenek moyang kita terasa memanggil-manggil dengan kerinduan yang mendalam. Diangan nikmat, diimpikan pun bikin semangat.

Ah, kok malah ngelantur. Kan aku sudah janji mau menceritakan desa yang surga itu. Desa yang bukan desa sebagaimana dipahami sebagai desa, tetapi desa yang kecil yakni keluarga, lalu diperbesar lagi menjadi desa mini. Oh desa oh surga.  Oh oh segala oh. Yang takjub yang bikin kejut. Oh oh yang bergairah yang juga bikin tak berselera. Dan segala oh di jagat raya.

Desa surga. Surga desa. Begitu sulitnya membedakan kalian berdua. Adakah yang mengangankan surga sebagaimana gersangnya kehidupan kota???

Kebumen 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...