Wednesday, 14 March 2018

Nyata-nyata Kisah


Mengualatkan orang kuurungkan setelah melihat kenyataan.

Kampung dibuat gempar oleh berita penyelewengan etika dan kecelakaan, lalu dipungkasi dengan musibah kematian. Ramai-ramai, orang melakukan semacam penilaian atas keluarga yang tertimpa musibah.

"Sekeluarga begitu semua"
"Buat peringatan"
"Itu semenjak menjual sapi mati"
"Aku ikut ngangkutnya ke mobil, tapi tak menerima bayaran"
"Untungnya besar-besar. Tiga kali. Tiga kali juga kena musibah. Yang ketiga malah dikunjungi kematian"

Masing mulut ingin mengeluarkan isi kepalanya. Dengan rujukan mulut-mulut pula. Dan segera saja, hujatan diam-diam tapi terdengar cukup santer, mulai mewarnai udara kampung, bercampur bau tanah dan keringat petani.

"Itu sudah jadi ganjarannya, salah siapa mabuk-mabukan"

Krik krik jangkrik sudah tak terdengar lagi. Memang dari awal tidak berkerik. Tapi suara orang-orang kampung tiada matinya, menembus pekat malam yang tak dingin-dingin amat.

Ceritanya, cerita orang-orang kampung itu di suatu obrolan, dan kebetulan aku masuk ke peserta pasifnya, musibah itu bermula setelah si bapak menjual sapi yang telah mati. Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan menjual, tapi lebih pada menerima tawaran dari seseorang untuk menjual bangkai sapinya. Padahal, para tetangga sudah membuatkan untuk si sapi, liang lahat. Tapi mau apa, orang pemiliknya memutuskan untuk jual bangkai itu.

Denger-denger, bangkai sapi yang tengah mengandung itu laku 2,6 juta. Sebagian uangnya dibagi ke tetangga sebelah yang membantu. Selebihnya dipakai entah untuk apa. Yang pasti, menyambung hidup butuh uang.

Dipikir-pikir, Tuhan memang suka bercanda dengan hambaNya yang kebanyakan -meminjam istilah Gus Dur- hamba amatir. Buktinya, setelah menjual daging bangkai sapi, lalu Tuhan memberinya keuntungan cukup besar buat ternaknya. Tapi, pada saat itu pula, Tuhan mengambilnya dengan jalan yang lucu; penjualnya tertipu dan rugi 25 sak pakan ternak. Entah, aku belum tahu per saknya berapa harganya. Ceritanya sih, orang itu menandatangai kwitansi (yang artinya sudah membayar?) transaksi pakan ternak tapi ditunggu-tunggu barangnya tidak datang. Satu.

Bulan berikutnya, Tuhan pun ngasih keuntungan yang cukup besar dari hasil ternaknya. Kali ini, si peternak mau beli motor dan memang sudah transfer uangnya. Dia beli via online. Apesnya, dan ini pasti kerjaan Tuhan yang Maha Asyik, motornya tak kunjung datang. 13 juta hangus tiada sisa. Dua.

Bulan berikutnya, sama. Tuhan selalu berbaik hati padanya, dan dikasihlah keuntungan melimpah, bahkan katanya yang terbesar dari sebelum-sebelumnya. Sebagian keuntungannya lalu dipakai buat pesta oleh satu puteranya. Dan pesta tak lengkap tanpa alkohol, dan mabuklah ia bersama teman-temannya.

Dalam kondisi mabuk, ia pulang dengan dibonceng teman yang juga mabuk. Naik motor. Dan di sinilah kejadian puncaknya; tanpa faktor apapun selain alkohol, motor yang ditungganginya oleng dan pengendaranya mencium aspal. Itu terjadi tengah malam, sekira pukul 12. Keduanya, yang ditemukan entah oleh siapa, dibawa ke rumah sakit.

Si pengendara, wajahnya, katanya, babak belur dan tak sadarkan diri. Sementara yang dibonceng, yang sedang aku ceritakan ini, tak ada luka luar yang tampak serius. Hanya lecet biasa yang kelihatan sedikit ganjil.

"Saya cuma liat motornya, orangnya udah nggak ada" kata temannya yang pesta bareng, saat pulang melewati jalan yang sama. Dari dia aku tahu, meski tak tanya, mereka pesta 6 orang. Kebetulan yang celaka ini tak ada yang mengenakan helm. Dan memang sudah biasa begitu; helm dipakai kalo keluar daerah.

Sekitar pukul 5 sore, saat aku pulang dari sawah cari rumput buat sapi, ibu mengabarkan berita duka itu. "Besok aku layad (ziarah)" kataku.

Di rumah duka, yang awalnya aku bermaksud ikut menyolati, urung. Aku memilih duduk-duduk di halaman belakang rumah, dengan beberapa pemuda yang menghisap kretek. Aku diam dan nyaris tanpa bicara; cuma mendengarkan mereka cerita tentang kejadian itu. Di sinilah aku tahu banyak.

"Ya itulah, kalo aturan dari Kitab Langit dilanggar!" Kata lelaki tua yang kelihatannya seperti kaum, yang dipercaya ngurus jenazah. "Peringatan: Alkohol membunuhmu!" Lanjutnya.

Aku menyungging senyum, pun beberapa pemuda di situ yang jelas, tak asing dengan alkohol.

Seperti serigala yang haus darah, aku menajamkan mata untuk mengamati wajah-wajah orang kampung. Bagi yang ditinggal mati, amat kelihatan muka sayunya, menanggung beban derita tiada terkira. Sampai nyamukpun dengan takdzim menyedot darah di tanganku, barangkali juga tengah meresapi suasana duka di sekitarnya. Aku coba mengelus nyamuk itu, tak juga terbang dan terusik. Justru menikmati seolah bayi yang sedang dibelai. Aku biarkan, hingga perut hitamnya berona merah darah dan gendut, lalu terbang setelah kenyang.

Aku berdiri, lalu menuju ke halaman depan; jenazah mau diberangkatkan, dan aku amat tertarik untuk ikut ke tanah kubur.

Sepulang dari tanah kubur, aku basuh kaki-tangan lalu duduk bersama ibu.

"Kasihan, ya. Semoga dosanya diampuni. Dia anak ragil yang paling baik, makanya bosnya juga sayang sama dia."

"Dia tidak dimasakin ibu. Kakak-kakaknyalah yang merawat dan memberinya suntikan kasih"

"Kakaknya tadi bisa sampai tanah kubur?"

"Bisa" jawabku.

"Si ibu jatuh lemas lunglai, begitu tak ada yang memapahnya"

"Kamu jadi pergi ke rumah temen?"

"Nanti juga bisa, bu"

"Motornya aku pakai buat belanja ya?"

"Ya, bu. Ati-ati"

Seperginya ibu ke pasar, aku langsung ambil hape dan menuliskan kisah ini. Sengaja aku samarkan, demi menjaga hati dan perasaan yang tengah berduka.

Dia sudah pulang kepada pemilik sebenarnya. Wadahnya, serahkan saja kepada belatung, pasukan Tuhan yang oleh manusia dinilai menjijikan, tapi memiliki tugas yang amat mulia.

Kebumen 2018
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...