Kemarin, kata teman, mataku merah, wajahku abu-abu, kaku. Sukanya, mengatakan yang tidak-tidak. Arogan. Juga sampai tak mau disalahkan. Mudah tersinggung dan tatapannya kosong. Aku membayangkan diri yang mengenaskan, dan hidup tanpa semangat. Kehilangan arah dan tak tau jalan pulang.
Banyak yang kena imbasnya. Salah satunya tamu dari jauh, yang di sini sebenarnya mau refreshing malah aku bikin susah tidur. Aku ajak dia ngobrol, tentang agama dan Tuhan. Padahal, aku tidak memiliki pengetahuan cukup buat ngomong agama, terlebih Tuhan. Hanya bermodal bacaan buku yang tak seberapa, dan karenanya aku disarankan mencari guru yang sreg, karena ditakutkan terjerumus. Waktu itu, entah kenapa, aku seakan menolak saran itu dengan cukup arogan, lalu memaklumi tamu tersebut sebagai keluarga santri salaf. Dengan kata lain, dalam hal pemikiran, aku rasai betul arogansiku; betapa celakanya aku.
Sebenarnya bukan kali pertama aku bicara soal agama dan Tuhan. Tapi entah apa soal, pembicaraanku tempo lalu terasa amat berbeda dan cukup nakal. Dan aku mengatakan dengan tidak ada rasa takut sama sekali. Apa aku salah? Entahlah.
Yang jelas, di setiap penjelasanku padanya, selalu terpotong di jalan. Seakan hanya ambisinya saja yang ada, tapi ilmunya nol besar. Jadi wajar jika temen baikku yang semoga bisa jadi pendamping hidup, menilaiku secara blak-blakan sebagai orang yang masih chetek ilmunya. Belum pantas bicara soal Tuhan. Dan satu hal yang membuat aku terhenyak, adalah kesimpulannya yang mengatakan bahwa aku kerasukan jin ifrit. Dia merasainya saat Minggu kita makan bersama; ia melihat diriku bermata merah, nyaris hilang warna putihnya. Pun, pandangannya amat sinis, ke siapapun dan ini jarang terjadi. Pada akhirnya, ia menjauh dan buru-buru mendekat, karena khawatir diriku kelewat batas. Istighfar, katanya menasihati. Kamu nggak usah tanya-tanya tentang Tuhan lagi!
Aku coba ingat-ingat aktivitasku tempo lalu. Mulai dari membaca novel Kain karya Jose Saramago, yang mengolok-olok Tuhan, mulai dari pembicaraanku yang tiba-tiba terpusat pada persoalan ketuhanan. Seorang resensor sebenarnya telah menegaskan, bahwa karya Kain bukan mengikis iman, bahkan sebaliknya, menguatkan iman kita. Tapi kok setelah aku baca itu, ada perubahan besar dan itu dirasakan sangat mengganggu oleh temanku yang sudah kenal 8 tahunan? Semoga ini hanya terjadi sekali saja, dan selanjutnya bisa lebih mantap lagi.
Memang Tuhan punya rencana untuk hamba-Nya, sekalipun si hamba mempertanyakan diri-Nya. Maturnuwun Gusti Pangeran.
Jogja 2018
Tuesday, 27 March 2018
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment