![]() |
| sumber gambar: |
Berempat saya berkunjung ke Hutan Mangrove, daerah Pantai Logending, Kebumen. Di awal pintu masuk, per orang ditarik Rp 4.500,- untuk registrasi. Saya masuk, dan menuju terpal yang berada di tepi sungai. Di situlah, motor saya diparkir dengan harga Rp 4.000,-. Turun dari motor dan baru saja melangkah berapa meter, seorang laki-laki parubaya dengan rambut disemir orange, menyalami saya. Ia menanyakan apakah saya dan teman-teman ingin berkunjung ke hutan Mangrove.
Oiya, untuk mencapai hutan Mangrove, diperlukan perjalanan sekira 3 menit menggunakan kapal kecil bermesin, kapal nelayan. Ada dua paket yang ditawarkan. Pertama paket langsung ke track, Rp 15.000,-/orang. Kedua, paket telusur, Rp 25.000,-/orang. Jika memilih paket telusur, tentu kita bisa menikmati keindahan hutan Mangrove dari atas kapal, berkeliling. Hanya saja, waktu itu saya memilih paket kesatu, langsung ke track (jembatan di sela-sela pohon Mangrove). Alasannya cukup klasik; uang menipis.
Saya rasakan kesejukan ketika melewati jembatan kayu yang membelah perut hutan Mangrove. Di akar-akar pohon Mangrove, terlihat beberapa biota air payau hidup tenteram, tak ada yang mengusik. Ada juga beberapa ikan yang menempel di akar Mangrove, ikan yang bisa meloncat dan berjalan di daratan. Nama ikannya belum tahu, sobat bisa searching di internet. Beberapa kepiting juga terlihat sedang bersantai, mengeringkan badannya. Juga ikan-ikan kecil yang berenang bergerombol, seolah sedang menikmati keindahan dan kenyamanan yang dibawa Mangrove.
Ini luar biasa, karena baru pertama kali saya berkunjung ke sini. Pernah beberapa hari lalu, saya berkunjung ke Pantai Congot, Kulon Progo. Atau tepatnya di Jembatan Mangrove yang melintang di sela tambak udang yang kosong. Pohon-pohon Mangrove di situ memang tumbuh subur, namun air di bawahnya surut, sehingga tak terlalu sedap dipandang. Dan setelah saya main ke Mangrove Kebumen, di Logending, jauh sekali perbedaannya. Nampak jauh elegan Mangrove di Kebumen daripada di Pantai Congot Kulonprogo.
Satu hal yang membuat saya kagum, adalah kebersihannya yang di jaga. Berbeda dengan Mangrove di Kulonprogo, yang masih banyak ditemukan sampah plastik berserakan di sela-sela pohon Mangrove. Sangat disayangkan, karena keindahan Mangrove harus pudar dengan kehadiran sampah yang dibawa pengunjung.
Bukan bermaksud membandingkan, tapi sangat disayangkan jika Mangrove yang memiliki fungsi, salah satunya, mencegah abrasi, dipenuhi sampah. Padahal banyak makhluk hidup yang menggantungkan masa depannya di Mangrove.
Kembali ke Mangrove sekitar Logending. Ini nyata. Saya coba ceritakan apa yang dilihat oleh mata saya.
Sejauh mata memandang, di setiap sela Mangrove dan rute telusur kapal pengunjung yang membelah perut hutan Mangrove, tidak terlihat sampah plastik. Hanya ada sampah daun magrove dan beberapa ranting pohon, yang tentu mudah membusuk dan bisa menjadi sumber makanan biota di Mangrove. Beberapa titik jembatan juga disediakan tempat sampah.
Di tengah hutan Mangrove, ada 2 rumah kayu dan satu rumah sedang di bangun. Rumah kayu pertama, kerap digunakan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Sementara yang kedua, untuk sekadar melepas lelah, karena letaknya jauh ke dalam, tak ada akses kapal ke sana.
Saya masuk ke rumah kayu pertama. Dua lantai. Di lantai pertama, saya dapati beberapa poster soal Mangrove. Juga beberapa pihak yang berkontribusi dalam mengelola hutan tersebut.
Dari poster tersebut, saya jadi merasa ingin menanam Mangrove di pantai selatan rumah. Kebetulan ada air payau, sungai yang mengalir ke laut. Sangat cocok untuk ditanami Mangrove. Selain untuk upaya konservasi pantai selatan dari abrasi, juga menyediakan tempat refreshing berbasis lingkungan alam untuk masyarakat. Juga, jika memang berhasil, untuk menambah pendapatan warga setempat.
Bahkan sempat ada keinginan, menemui kades untuk membicarakan soal ini. Karena saya melihat potensi obyek wisata yang luar biasa. Siapapun kamu, yang punya ide, pengalaman, atau saran, tentu sangat saya tunggu. Karena bagaimanapun juga, saya jatuh cinta dengan hutan Mangrove di Logending, dan ingin memboyongnya ke Desa Waluyorejo.
Akhirul kalam, semoga dikabulkan.
Waluyorejo, 26 Juli 2016

No comments:
Post a Comment