![]() |
| Sumber gambar: paintingofaheart.blogspot.com |
"Aku
memilih dia karena kasihan, sudah mengeluarkan banyak uang. Soal desa mau
dibawa ke mana, itu tak penting"
Ujaran
seorang simbah yang ditirukan cucunya, saat aku ajak dia berbincang soal desa.
Ini sekaligus melunturkan asumsiku bahwa orang desa memilih kepalanya karena
uang. Semakin besar uang yang kamu gelontorkan semakin banyak suara yang
memihak padamu. Itu asumsi awalku.
Tapi,
satu argumen simbah ini, benar-benar tak aku duga sebelumnya. Bukan karena uang
ia memilih kepala desa; melainkan belas kasihan dirinyalah alasannya. Memang,
uang menjadi media yang membuat masyarakat yang mendapat kucurannya merasa
belas kasihan. Tapi bukan berarti karena alasan uang, seorang memilih pemimpin.
Uang hanyalah perantara, sementara rasa belas kasihan merupakan kekuatan besar
yang dengan mudah mendorongnya untuk menjatuhkan sebuah pilihan. Belas kasihan,
yang menurutku dekat dengan semangat kemanusiaan(?)
Demi
menyelamatkan mental calon pemimpin desa, seorang simbah memberikan suaranya. Untuk
menyelamatkan financial calo pemimpin. Ini kemanusiaan. Dan tak ada yang bisa menyatukan
manusia selain kemanusiaan itu sendiri. Tapi, dalam pandanganku yang masih
berstatus mahasiswa ini, ada yang tidak tertangkap dalam diri simbah;
kemanusiaan yang lebih besar dan berjangka waktu panjang.
Tentu,
jika berangkat dari yang simbah lakukan ini, tak lain semacam menyelamatkan
satu orang, tapi mengancam keselamatan rakyat. Ini kemanusiaan, tapi
mengingkari kemanusiaan yang adil dan beradab.
Aku
sendiri tak paham apa itu kemanusiaan. Kemanusiaan itu muncul dari dalam hati
(baca: perasaan saja) atau melewati ruang pikir? Tepatnya, aku tak tahu
kemanusiaan yang sebenarnya itu seperti apa. Pikirku hanya bisa menafsirkan
bahwa kemanusiaan adalah sebentuk kepedulian yang timbul akibat belas kasihan.
Itu saja.
Dan
simbah ini telah memperjuangkan kemanusiaan(?)
Aula Dinas Kebudayaan DIY,
22 Juli 2016.

No comments:
Post a Comment