Friday, 29 July 2016

Senyuman


sumber gambar: modifikasi dua sumber

Saya punya nenek dari pihak bapak yang sudah meninggal ketika saya kelas enam SD, tahun 2006. Dari pihak ibu, saya juga punya nenek yang sampai kini Alhamdulillah masih sehat, dan paling tidak masih bisa melihat dan membuat nenek tersenyum. Senyuman yang khas.
Sementara kakek, kebetulan dari pihak ibu maupun bapak, sama-sama tidak punya. Karena sudah meninggal sejak ibu dan bapak masih usia dini, masih kecil. Jadi, saya ceritakan saja yang berkaitan dengan nenek.

Ini soal pesona senyuman seorang nenek. Saya rasakan, ketika ada nenek (dan kakek) tersenyum, seolah adem ayem tentrem.
Ini yang menjadi pertanyaan saya. Apa bedanya senyuman nenek dengan seorang gadis cantik atau remaja lelaki tampan? Tentu kamu pernah toh, lihat remaja tersenyum. Kadang kamu ungkapkan kekaguman dengan istilah; manis, senyumanmu mengalihkan perhatianku, dan sebagainya.

Jika disuruh memilih, saya kira, banyak yang menanti senyuman gadis manis ketimbang nenek yang sudah reot. Tentulah, senyuman daun muda terlihat lebih seger. Tapi jika bicara soal ketulusan, atau semacamnya, tulus mana antara mengagumi senyuman gadis atau nenek?

Saya, lelaki yang tertarik dengan gadis, ketika melihat senyumannya, ada rasa ingin memiliki secara pribadi. Saya menginginkan senyumanmu, gadis, beserta dirimu. Hal inilah yang saya rasakan ketika melihat senyuman gadis manis. Nggak nguatin.

Perasaan ingin memiliki lantaran senyuman, tentu muncul karena kita punya nafsu. Nafsu butuh pelampiasan, dan kepemilikan adalah salah satu bentuk pelampiasan nafsu. Dan senyuman gadis yang begitu manis, kerap membuat lawan jenis berimajinasi yang cukup liar. Itu senyuman gadis dan efek lingkungan yang dimunculkan.

Ingin memiliki menjadi efek yang muncul dalam diri saya, ketika melihat senyuman gadis. Berbeda efeknya ketika saya melihat senyuman seorang nenek. Rasa iba sekaligus bahagia, kerap menyusup diam-diam dalam hati, sepersekian detik setelah melihat nenek tersenyum. Sama sekali, tak ada keinginan untuk memiliki senyuman itu. Hanya mengagumi, betapa indah, terlebih yang mencipta penyebab keindahan tersebut.

Selain itu, tak ada hasrat menggebu-gebu untuk memilikinya. Karena tak ada sesuatu yang menarik dalam diri sang nenek, kecuali senyuman itu sendiri.

Mungkinkah senyuman seorang nenek adalah senyuman yang otentik; asli. Senyuman yang bisa menimbulkan munculnya sisi kemanusiaan dalam diri manusia. Siapa yang bisa menahan untuk tidak merasa iba atau adem ketika melihat nenek tersenyum.

Dan pada akhirnya, banyak istilah (meski bias gender) yang kerap muncul dari kekaguman (atau nafsu?) seorang kepada lawan jenisnya. Karena lelaki, jadi saya menggunakan sudut pandang laki-laki. Banyak yang mengagumi bahwa gadis itu senyumannya manis, menggoda, sampai tak sadar kalau celananya makin sesak.

Dan bagi saya, senyuman terindah adalah senyuman nenek. Senyuman yang mampu mendatangkan ketentraman dan rasa belas kasihan. Dan untuk membuatnya tersenyum, yang mudalah kuncinya. Mari berlomba mengukir senyuman di wajah nenek, sebelum tergoda senyuman gadis. Haha.

Waluyorejo, 29 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...