Wednesday, 27 July 2016

Bapak


sumber gambar: kumpulankaryapuisi.blogspot.kr

Saya ceritakan, harapan seorang bapak yang dipikulkan pada pundak anaknya. Harapan ini yang sangat mewarnai keputusan bapak memilih lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan anaknya pada gerbang harapan tersebut. Saya patut bersyukur, karena semangat bapak untuk menjadikan anaknya sesuai harapan bapak, menjadikan saya bisa mengenyam pendidikan yang baik.

Sedikit saya ceritakan tentang bapak, biar nanti mudah mengidentifikasikan harapan bapak dari anaknya. Bapak adalah anak terakhir dari tiga bersaudara, satu-satunya anak laki-laki. Tinggal di daerah pesisir, dengan hanya seorang ibu, karena bapaknya sudah meninggal sebelum bapak bisa mengenali wajahnya.

Ibunya bapak orangnya keras dan pekerja keras. Dalam pandangan ibunya, bapak mendingan kerja saja daripada sekolah, untuk membantu perekonomian keluarga yang pas-pasan. Tapi entah apa yang membuat bapak keras kepala untuk tetap sekolah. Meski sempat berhenti dua tahun ketika kelas empat, ia tak malu melanjutkan sekolahnya. Katanya ketika bercerita kepada saya, selama dua tahun tak sekolah, ia merasa sadar bahwa pendidikan itu penting. Dari kesadaran ini, ia terdorong untuk back to school.

Tentu saja, ia menjadi murid tua di sekolahnya, SD. Bahkan oleh tetangganya kerap diejek dengan olokan "wis tua tesih sekolah bae (sudah tua masih saja sekolah)". Tapi olokan tersebut justru mempertebal iman bapak, bahwa pendidikan itu penting. Terlebih, ia memiliki cita-cita menjadi guru.

Lulus SD, bapak melanjutkan ke Madrasah Mamba'ul Ulum (MMU), setingkat SMP. Jarak sekolahnya dengan rumah sekira 5 kilo meter. Dari nama sekolahnya saja sudah kelihatan, bapak mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan agama (milik NU). Ketika kelas dua, ia bergabung dengan OSIS. Alasannya, agar bisa tidur di sekretariat.

Dari MMU, lulus, bapak melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat dengan SMA. Namun tak semudah yang dikira, sempat ada kesulitan yang membuat bapak putar otak. Untuk masuk ke PGA, bapak musti bayar Rp 60.000,-. Padahal, waktu itu bapak sama sekali tidak punya uang. Ia ceritakan kepada ibunya, bahwa ia (diam-diam) daftar PGA dan butuh biaya untuk registrasi.

Mendengar tutur anaknya, ibunya, namanya Kasini dan akrab dipanggil Sarimpi, menangis. "Lah kowe sekolah, mbayare karo apa? (Lah kamu sekolah, bayarnya pake apa?" ujarnya sesaat setelah bapak bercerita.

Bapak sempat bingung. Maka ia nekat mendatangi calon gurunya di PGA. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang padanya. Dan darinya, bapak mendapat pinjaman Rp 30.000. Dan tanpa sepengetahuan bapak, ibu Kasini menjual pedetnya (anak sapi), laku Rp 75.000,-. Uang itu bapak pakai untuk menyelesaikan registrasi. Sisanya, ia gunakan untuk membayar kos, karena jarak rumah dengan sekolahnya sekira 17 kilo meter.
Cerita bapak ini sering diulang-ulang dikisahkan pada anak-anaknya. Saya sendiri merasa salut, dengan perjuangan bapak. Ia juga kerap berujar, bahwa dirinya tidak mau melihat anaknya mengalami nasib sama dengan bapaknya. Makanya, bapak sangat memperhatikan pendidikan anaknya.

Kini, bapak menjadi guru PNS di SD Pasir, Kec. Ayah, Kab. Kebumen. Untuk jadi PNS pun, bapak menunggu 20 tahun sembari mengabdi sebagai guru honorer. Ia diangkat ketika kursi Bupati Kebumen diduduki oleh Mbak Rustriningsih. Makanya tak heran bapak sesekali pernah bercerita, bahwa mbak Rustri sangat besar jasanya pada bapak.

Saya kira dari pengalaman bapak ini, sehingga beliau begitu memperhatikan pendidikan anaknya. Juga profesinya sebagai guru PNS, mendorong bapak untuk mendorong anaknya agar menjadi guru. Buktinya, sudah dari MTs, saya 'dicekoki' bapak untuk masuk ke jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Jogja.
Sebelum saya masuk UIN, bapak menitipkan saya di MTs dan MA Wathoniyah Islamiyah (MWI) Karangduwur untuk belajar agama. Bapak memilih sekolah tersebut agar anaknya memiliki bekal agama yang kuat. Karena, waktu itu, MWI menjadi sekolah berbasis agama Islam favorit oleh sebagian kalangan.
Sebelum di MWI, bapak menyekolahkan saya di lembaga pendidikan umum, SD dan TKnya umum semua. Ini karena, menurutku, belum ada TK dan SD berbasis Islam di lingkungan saya. Kalau ada, sudah pasti bapak menyekolahkan saya di lembaga pendidikan agama Islam.

Ini yang menarik, bapak mengharap anaknya menjadi guru (agama) dengan membekali anaknya terlebih dahulu soal agama. Jadi benar-benar terencana.

Lulus MWI saya langsung mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Empat kali saya ikut, baru bisa masuk UIN. SNMPTN, SPMBPTAIN, reguler 1 dan reguler 2 UIN. Awalnya saya memilih PAI sebagai pilihan favorit. Tapi karena tak tembus, banting setir pilih PGMI di reguler 2. Dan di sela keputusasaan, saya diterima di PGMI UIN. Di lembar pengumuman, saya berada di urutan nomor empat dari 25 calon mahasiswa yang diterima.

Ijtihad bapak membuahkan hasil. Ia mampu mengantarkan anaknya untuk tetap berada di jalur pendidikan. Sekarang, tergantung saya mau diapakan ijtihad bapak ini. Saya sudah menjadi mahasiswa semester 8 di UIN, dan saya yakin bapak dan ibu sangat mengharapkan agar saya cepat-cepat wisuda. Namun sampai sekarang, judulpun belum ada.

Setiap kali saya pulang ke rumah, terlebih menjelang hari besar agama Islam ('Idul Adha) selalu bapak meminta saya untuk mencarikan materi khutbah.

Kebumen, 26 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...